Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Hamil Dan Harapan Palsu.
Kabar itu datang di pagi hari.
Nirmala keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Bukan marah. Bukan datar. Tapi sesuatu yang aku tidak langsung bisa baca, sesuatu yang agak bingung dan agak kaget dan agak tidak siap.
Dia taruh alat tes di meja tanpa bilang apa-apa. Dua garis.
Aku menatapnya.
Lama.
Dua garis itu kecil saja, tipis, di atas plastik putih yang murah, tapi rasanya seperti sesuatu yang sangat besar sedang berdiri di depanku dan menunggu reaksiku. Dadaku penuh dengan sesuatu yang tidak bisa aku terjemahkan langsung, campur aduk antara sesuatu yang hangat dan sesuatu yang takut dan sesuatu yang sangat ingin percaya ini nyata.
"Beneran?" Suaraku keluar aneh.
Nirmala mengangguk. Masih dengan wajah yang belum sepenuhnya memutuskan mau jadi ekspresi apa.
Aku tidak bilang apa-apa lagi.
Aku ke kamar. Gelar sajadah. Sujud.
Dan di sujud itu aku menangis. Bukan nangis kecil atau nangis yang ditahan. Tapi nangis yang keluar sendiri, yang tidak diminta, yang datang dari tempat yang sudah sangat lama menunggu sesuatu seperti ini untuk bisa jadi alasan.
Anakku. Aku akan punya anak.
Darah dagingku. Seseorang yang akan memanggil aku Ayah. Seseorang yang kehadirannya di dunia ini dimulai dari aku, dari tangan yang kapalan ini, dari punggung yang sudah bertahun-tahun menanggung beban yang bukan miliknya, dan sekarang akan ada sesuatu yang tumbuh dari semua itu.
Aku menangis sampai sajadahnya basah di bagian dahi.
Lalu aku angkat kepala. Lap muka. Dan satu hal yang langsung muncul di kepalaku adalah: aku harus kerja lebih keras.
Mulai hari itu, aku bangun lebih pagi.
Jam tiga setengah subuh, shalat tahajud, lalu langsung ke dapur untuk mulai adonan cilok. Butuh waktu sekitar dua jam untuk semua persiapan sebelum berangkat, dan kalau aku mau tambah variasi menu seperti yang sudah aku rencanakan dari bulan lalu, butuh lebih dari itu.
Hari pertama aku buat adonan di dapur, Nirmala tidak keluar dari kamar.
Hari kedua juga.
Hari ketiga, jam empat kurang, waktu aku masih menguleni adonan, pintu kamar terbuka.
"Berisik."
Satu kata. Mata masih setengah tertutup, rambut berantakan, nada yang tidak mengajak diskusi.
"Maaf, suaranya kekecilan ya? Aku coba lebih pelan."
"Bau tepungnya nyebarin ke mana-mana. Bikin mual."
"Oh, maaf, aku buka jendela dapur supaya—"
"Pokoknya ganggu."
Pintu ditutup.
Aku berdiri di dapur dengan tangan masih penuh adonan, menatap pintu yang baru saja ditutup itu, dan mencoba menemukan penjelasan yang masuk akal.
Hamil. Trimester pertama. Mual. Sensitif terhadap bau. Sensitif terhadap suara. Itu semua wajar. Itu semua masuk akal secara medis. Aku pernah baca sekilas tentang ini dari artikel yang muncul waktu aku cari informasi soal kehamilan di ponselku malam-malam.
Wajar. Ini wajar.
Aku ambil baskom adonanku, kompor kecil portabel, dan semua perlengkapan yang perlu, dan pindah ke teras.
Teras luar rumah. Di pagi hari yang masih gelap, dengan lampu teras yang wattnya kecil dan nyalanya agak kedap-kedip, aku duduk di sana dan melanjutkan adonan.
Dingin di pagi hari masuk dari semua arah. Angin kampung yang belum ada penghalangnya jam segitu, langsung ke kulit tangan yang basah dari adonan, langsung ke leher yang tidak tertutup apapun karena aku tidak sempat ambil jaket.
Aku teruskan menguleni.
Satu pagi. Dua pagi. Seminggu. Dua minggu.
Teras itu jadi tempatku bekerja sebelum subuh. Sudah bawa selimut kecil untuk ditaruh di bahu kalau terlalu dingin. Sudah tahu posisi duduk yang paling nyaman di lantai teras yang dingin itu. Sudah hafal kapan lampu teras kedap-kedipnya makin parah dan harus disenter ponsel sebagai tambahan cahaya.
Aku tidak protes.
Setiap kali ada dorongan untuk bilang sesuatu, untuk menyuarakan bahwa ini tidak nyaman, bahwa kerja jam tiga pagi di teras dalam dingin bukan hal yang mudah, aku tekan kembali ke bawah. Karena dia hamil. Karena ini wajar. Karena ini sementara. Karena nanti setelah trimester pertama selesai pasti akan lebih baik.
Aku terus bilang itu ke diri sendiri.
Tapi makin ke sini aku makin susah membedakan mana yang memang hormonal dan mana yang sudah dari dulu ada tapi baru sekarang tidak punya alasan untuk ditutup-tutupi lagi.
Kata-katanya makin tajam.
Bukan cuma soal adonan pagi. Bukan cuma soal bau atau suara. Tapi soal apapun. Soal aku pulang sepuluh menit lebih lambat dari biasanya. Soal aku lupa beli satu bahan yang dia minta. Soal aku menjawab pertanyaannya dengan nada yang katanya tidak enak padahal aku sendiri tidak merasa ada yang berbeda dari caraku bicara.
Dan Wida.
Wida yang sekarang sudah sembilan tahun. Yang sudah cukup besar untuk memahami pola. Yang sudah cukup lama tinggal di rumah ini untuk tahu bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan waktu mood Mamanya sedang tertentu. Yang belajar sangat cepat bahwa di rumah ini, yang boleh marah hanya satu orang.
Aku melihatnya belajar itu.
Melihat cara Wida menyesuaikan diri, cara dia membaca ruangan sebelum masuk, cara dia memilih waktu untuk bertanya sesuatu ke Mamanya, cara dia langsung mencari aku dengan mata waktu suasana mulai berubah karena dia tahu aku yang akan meredam.
Dan setiap kali aku melihat itu, ada sesuatu yang bergerak di dadaku yang tidak bisa aku beri nama yang enak.
Suatu malam aku berbaring di kasur, Nirmala sudah tidur di sebelah, Wida sudah tidur di kamarnya, dan aku menatap langit-langit rumah ini yang sudah dua bulan lebih jadi langit-langitku tapi masih terasa asing, masih terasa seperti milik orang lain yang aku tumpang sebentar.
Aku ambil ponsel.
Buka kontak.
Nama Ibu ada di sana. Bu Ati. Dengan foto profil yang Agung yang masangkan beberapa bulan lalu, foto Ibu di teras rumah dengan senyum yang tidak dibuat-buat, senyum yang hanya muncul waktu beliau tidak tahu sedang difoto.
Aku menatap foto itu lama.
Sangat lama.
Jari jempolku ada di atas tombol telepon. Satu kali tekan dan lima detik kemudian suara beliau akan ada di telingaku. Suara yang aku hafal setiap nadanya. Suara yang paling konsisten ada dari aku lahir sampai sekarang. Suara yang tidak pernah sekalipun mengucapkan kata-kata seperti yang belakangan ini sering aku dengar.
Tapi aku tidak menekan tombol itu.
Aku taruh ponsel di dada. Menatap langit-langit lagi.
Belum siap.
Belum siap menelepon dan mendengar suaranya dan tahu pasti bahwa beliau akan langsung tahu dari cara aku bicara bahwa sesuatu tidak beres. Belum siap mendengar beliau diam sebentar dengan cara yang berbicara lebih dari kata-kata. Belum siap mengakui, bahkan cuma ke diri sendiri lewat suara Ibu, bahwa firasat itu benar.
Kalau aku tidak mengucapkannya, mungkin belum sepenuhnya nyata.
Mungkin masih bisa diperbaiki.
Mungkin trimester pertama ini akan selesai dan semuanya akan berubah.
Mungkin.
Aku taruh ponsel di meja kecil. Tutup mata.
Di luar jendela, suara kampung malam yang sudah sepi. Di dalam kamar, napas Nirmala yang teratur di sebelahku.
Aku berbaring di tengah-tengahnya, tidak tidur, tidak jaga, di tempat yang tidak sepenuhnya terasa milikku, dengan satu pertanyaan yang tidak berani aku jawab sendiri masih mengambang di langit-langit yang asing itu.
Sampai kapan aku akan terus bilang ini wajar?
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain