NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Retakan Dibalik Topeng

Hasil kuis Fisika Pak Bambang dibagikan dua hari kemudian. Suasana kelas XI MIPA 1 mendadak senyap saat guru bertubuh tegap itu membanting tumpukan kertas ke atas meja. Pak Bambang tidak banyak bicara, namun tatapannya yang tajam menyapu seisi ruangan, membuat Sarah yang duduk di barisan sebelah Cinta menciut.

"Hanya ada dua orang yang mendapatkan nilai sempurna," suara Pak Bambang berat dan menggema.

"Cinta, seperti biasa. Dan... Rian."

Bisikan halus langsung menjalar seperti api di atas rumput kering. Semua kepala menoleh ke arah bangku paling pojok. Rian tetap pada posisinya yaitu bersandar malas dengan satu tangan menyangga dagu. Ia tidak tampak bangga, tidak juga terkejut. Seolah-olah nilai seratus di salah satu mata pelajaran tersulit adalah sesuatu yang bisa ia ambil sambil memejamkan mata.

Cinta menoleh sedikit ke arah Rian. Ada rasa tidak percaya yang bergejolak di dadanya. Ia telah belajar hingga tengah malam untuk materi itu, sementara ia yakin betul Rian tidak membuka buku sama sekali selama pelajaran.

"Bagaimana bisa?" gumam Cinta tanpa sadar.

Rian yang mendengar gumaman itu hanya menoleh tipis. Ia mengambil kertas kuisnya yang diberikan Pak Bambang. Kertas yang penuh dengan coretan perhitungan cepat yang efisien lalu melipatnya menjadi dua.

"Matematika adalah bahasa alam, Cinta. Kamu tidak perlu menghafal aturan untuk mengerti bahasa, kan?" jawab Rian dingin, sebelum kembali menatap ke luar jendela.

Kalimat itu membuat Cinta terdiam. Bagi Cinta, nilai sempurna adalah bukti kepatuhan. Namun bagi Rian, itu tampak seperti sekadar formalitas yang membosankan.

Jam istirahat tiba, namun kali ini Cinta tidak langsung menuju kantin. Ia memiliki tugas sebagai sekretaris OSIS untuk mengecek ketersediaan buku di gudang belakang perpustakaan. Saat ia melewati koridor sepi yang menuju ke arah taman belakang sekolah, ia mendengar suara gaduh dari balik tembok bangunan olahraga.

"Jadi ini jagoan dari Jakarta?"

Langkah Cinta terhenti. Ia mengenali suara itu. Itu adalah suara Dimas, kapten tim basket sekolah yang dikenal memiliki temperamen tinggi dan sering merasa terancam jika ada murid laki-laki baru yang menarik perhatian siswi-siswi.

Cinta mengintip. Di sana, Rian berdiri dikelilingi oleh Dimas dan dua temannya. Rian tidak tampak takut. Ia justru terlihat sangat bosan, menyandarkan punggungnya pada tembok gudang dengan tangan di dalam saku celana.

"Aku tidak punya urusan dengan kalian," ucap Rian datar.

"Tapi kami punya urusan denganmu. Kamu pikir dengan nilai kuis seratus dan motor besar itu kamu bisa jadi pusat perhatian di sini?" Dimas maju, mencengkeram kerah kemeja Rian yang sudah berantakan.

"Sekolah ini punya aturan. Dan kamilah yang menentukan siapa yang boleh bersinar."

Jantung Cinta berdegup kencang. Ia tahu ia harus memanggil guru, tapi kakinya seolah terpaku. Ia ingin melihat bagaimana Rian bereaksi. Apakah rumor tentang dia yang suka berkelahi itu benar?

Rian menurunkan tangan Dimas dari kerah bajunya dengan gerakan yang sangat lambat namun bertenaga. "Aturanmu tidak ada di buku pedoman sekolah. Dan jujur saja, aku tidak tertarik pada apa yang kamu bicarakan. Itu melelahkan."

"Sombong sekali kamu!" Dimas sudah mengangkat kepalan tangannya.

"Berhenti!"

Cinta tidak tahu dari mana keberanian itu muncul. Ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan buku catatan OSIS yang didekap erat di dada. Wajahnya pucat, tapi matanya menatap tajam ke arah Dimas.

"Dimas, apa yang kamu lakukan? Aku akan melaporkan ini ke ruang kesiswaan sekarang juga kalau kamu tidak segera pergi," ancam Cinta dengan suara yang sedikit bergetar.

Dimas mendengus, menurunkan tangannya sambil menatap Cinta dengan sinis. "Ah, si kutu buku pelindung orang baru. Beruntung kamu punya tameng, Rian. Ayo pergi."

Begitu Dimas dan rombongannya menjauh, keheningan menyelimuti area belakang gudang itu. Cinta mengatur napasnya yang memburu. Ia menoleh ke arah Rian, berharap melihat rasa terima kasih di mata cowok itu.

Namun, yang ia dapati justru tatapan tajam dan dingin. "Siapa yang memintamu ikut campur?" tanya Rian. Suaranya terdengar lebih kasar dari biasanya.

Cinta terperangah. "Aku baru saja menyelamatkanmu dari masalah besar, Rian! Dimas itu bisa saja memukulmu, dan kamu bisa dikeluarkan di minggu pertama sekolah kalau membalasnya."

Rian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Cinta bisa mencium kembali aroma parfum kayu yang kini bercampur dengan bau debu dan keringat. "Aku tidak butuh diselamatkan, Cinta. Terutama oleh seseorang yang hidupnya hanya berisi ketakutan akan aturan."

"Aku tidak takut! Aku hanya peduli pada ketertiban!" balas Cinta.

Rian tertawa hambar. "Kamu peduli karena kamu tidak tahu cara menghadapi kekacauan. Kamu menggunakan aturan sebagai tembok untuk bersembunyi dari kenyataan bahwa dunia ini tidak seindah buku pelajaranmu."

Rian melangkah melewati Cinta, namun berhenti tepat di samping telinganya. "Jangan pernah mengikutiku lagi."

Cinta berdiri mematung. Kata-kata Rian seperti sembilu yang menyayat egonya. Ia ingin marah, tapi ada bagian kecil di hatinya yang merasa bahwa apa yang dikatakan Rian ada benarnya. Selama ini, ia memang selalu merasa aman di dalam keteraturan. Dan Rian, dengan segala kekacauan yang dibawanya, adalah ancaman terbesar bagi rasa aman itu.

Sore itu terasa lebih lembap. Cinta memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia pergi ke pinggir pantai yang tak jauh dari sekolah, tempat favoritnya untuk mencari inspirasi tulisan. Ia duduk di sebuah bangku kayu tua, membuka laptop, dan mencoba melanjutkan draf novel digitalnya.

Namun, jemarinya hanya diam di atas keyboard. Pikirannya terus berputar pada kejadian siang tadi. Ia mulai mengetik sebuah karakter baru yaitu seorang laki-laki yang memiliki mata sedingin es tapi bicara tentang rumah yang bukan bangunan. Tanpa sadar, ia sedang menulis tentang Rian.

"Jadi ini yang kamu lakukan kalau tidak sedang mengatur orang?"

Cinta hampir saja menjatuhkan laptopnya. Ia menoleh dan menemukan Rian berdiri di belakangnya, tanpa motor, tanpa teman, hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana sekolahnya. Rambutnya yang berantakan tertiup angin laut.

"Kenapa kamu selalu muncul tiba-tiba?" tanya Cinta, berusaha menutupi keterkejutannya.

Rian tidak menjawab. Ia justru duduk di atas pasir di depan bangku Cinta, menatap ke arah ombak yang bergulung.

"Aku sering ke sini. Tempat ini satu-satunya yang tidak menuntutku untuk menjadi apa pun."

Cinta menutup laptopnya. Rasa penasaran mengalahkan rasa kesalnya. "Apa yang terjadi di Jakarta, Rian? Kenapa kamu pindah ke tempat kecil seperti ini?"

Rian terdiam cukup lama, hanya suara deburan ombak yang mengisi kekosongan di antara mereka. Untuk pertama kalinya, aura intimidasi yang biasanya mengelilingi Rian terasa memudar, digantikan oleh kesunyian yang berat.

"Kamu membaca berita itu, kan?" tanya Rian tanpa menoleh. "Tentang murid yang melawan anak pejabat."

Cinta mengangguk pelan. "Aku melakukan riset."

Rian tersenyum miris. "Dia merundung seorang siswi beasiswa hingga siswi itu mencoba mengakhiri hidupnya. Pihak sekolah menutup mata karena ayah anak itu adalah penyumbang dana terbesar. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Aku mematahkan hidungnya di depan seluruh sekolah."

Cinta menahan napas. Ia membayangkan Rian yang berdiri sendirian melawan sistem yang tidak adil.

"Dan hasilnya?" tanya Cinta lirih.

"Hasilnya, aku adalah masalahnya. Bukan dia.

Ayahku mengirimku ke sini, ke rumah lama almarhum kakek, agar aku tidak membuat malu nama keluarga lagi. Di mata mereka, aku hanyalah anak nakal yang tidak bisa dikendalikan. Mereka tidak peduli dengan alasannya."

Cinta menatap punggung Rian yang tampak tegap namun rapuh. Label pemberontak yang ia berikan kini terasa tidak adil. Rian bukan mengacaukan ketenangan yaitu ia sedang melawan ketenangan palsu yang menutupi kebusukan.

"Kenapa kamu memberitahuku?" tanya Cinta.

Rian menoleh, menatap mata Cinta dengan intensitas yang membuat gadis itu lupa cara bernapas. "Karena kamu memberikan buku tulis itu. Dan karena kamu adalah satu-satunya orang yang memandangku dengan rasa marah yang tulus, bukan dengan rasa takut atau pemujaan yang bodoh."

Rian berdiri, membersihkan pasir dari celananya. "Besok, pastikan kamu duduk di kursi itu lagi. Aku butuh seseorang yang mengingatkanku kalau aturan itu ada, meskipun aku mungkin akan tetap melanggarnya."

Sebelum Cinta sempat membalas, Rian sudah melangkah pergi menyusuri garis pantai, menghilang di balik keremangan senja.

Ia menyadari bahwa Rian adalah sebuah topeng yang retak, dan di balik retakan itu, ada sebuah kebenaran yang jauh lebih kompleks dari sekadar catatan Fisika atau peringkat satu kelas. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cinta merasa bahwa melanggar aturan hanya sedikit mungkin tidak akan seburuk yang ia bayangkan.

...****************...

Keesokan paginya di sekolah, atmosfer terasa sedikit berbeda. Saat Cinta masuk ke kelas, ia melihat Rian sudah duduk di bangkunya. Di atas mejanya, buku tulis pemberian Cinta terbuka. Rian sedang menulis sesuatu dengan serius.

Cinta duduk di sampingnya, mencoba bersikap biasa saja. "Sedang apa?"

Rian tidak menutup bukunya. Ia justru menggesernya ke arah Cinta. Di sana, di halaman kedua, Rian tidak menulis catatan Fisika. Ia menggambar sebuah sketsa pantai saat senja, dengan seorang gadis yang duduk di bangku kayu sambil memangku laptop.

Sketsa itu begitu detail dan hidup.

"Kamu... kamu bisa menggambar?" tanya Cinta takjub.

"Aku punya banyak waktu untuk melihat dunia saat aku tidak mendengarkan guru," jawab Rian dengan nada yang kembali santai, hampir mendekati ejekan namun terasa lebih hangat.

Cinta tersenyum, kali ini bukan senyuman tersembunyi. "Gambarnya bagus. Tapi tetap saja, kamu harus mencatat materi hari ini."

Rian memutar pulpennya, seringai tipis muncul di wajahnya. "Siap, Ibu Sekretaris."

Di barisan sebelah, Sarah memperhatikan interaksi itu dengan mata membelalak dan mulut terbuka. Ia belum pernah melihat Cinta tersenyum seperti itu pada seorang laki-laki.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!