NovelToon NovelToon
Cinta Di Langit Tajmahal

Cinta Di Langit Tajmahal

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:632
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨

AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.

Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.

Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: PERJUANGAN YANG TAK MENGHAKIKAN

Siang itu, matahari bersinar sangat terik menyengat kulit. Namun, Aaryan tidak peduli. Ia terus berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai, masuk ke satu gedung perkantoran, lalu keluar lagi, dan pindah ke gedung lainnya.

Ia membawa berkas lamaran kerja yang sudah disiapkan dengan rapi. Wajahnya yang tampan terlihat sedikit lelah, keringat membasahi dahi, namun matanya tetap menyala penuh semangat.

PERUSAHAAN PERTAMA

Aaryan masuk dengan percaya diri ke sebuah perusahaan besar. Ia menyerahkan berkasnya kepada resepsionis dan menunggu panggilan wawancara.

Namun, saat bertemu dengan HRD, pria paruh baya itu hanya melirik sekilas CV-nya lalu mendengus sinis.

"Maaf Tuan Singhania... pengalaman kerja Anda terlalu 'tinggi' dan spesifik. Kami butuh orang yang mau bekerja keras dari bawah, bukan mantan CEO yang mungkin saja manja dan tidak tahan tekanan," ucapnya meremehkan.

"Maaf, kami tidak bisa menerima Anda. Terima kasih sudah datang."

Hati Aaryan terasa perih, tapi ia menelan ego itu. Ia tersenyum sopan dan mengucapkan terima kasih lalu keluar.

"Tidak apa-apa, Aaryan. Masih banyak tempat lain," bisiknya menyemangati diri sendiri.

 

PERUSAHAAN KEDUA

Di tempat kedua, situasinya sedikit berbeda. Penerimaannya ramah, tapi saat melihat riwayat pendidikannya dan pengalamannya...

"Wah, Anda sangat berkualifikasi sekali, Tuan. Terlalu berlebihan malah untuk posisi staf biasa yang kami butuhkan ini," ucap manajernya dengan ragu.

"Kami khawatir... kalau kami terima, nanti Anda akan merasa bosan atau merasa rendah diri karena gajinya tidak sebanding dengan kemampuan Anda. Kami takut Anda tidak akan betah lama-lama."

"Jadi... maaf sekali ya. Kami harus menolak lamaran Anda."

Lagi-lagi Aaryan harus pulang dengan tangan kosong. Kali ini rasanya lebih berat. Ditolak bukan karena kurang mampu, tapi karena dianggap TERLALU BAGUS dan terlalu berkelas untuk pekerjaan itu.

Aaryan duduk sebentar di tepi trotoar, meminum air mineral sederhana yang dibelinya. Ia menghela napas panjang.

"Susah sekali ya ternyata... Padahal aku sudah siap kerja apa saja, siap gaji berapa saja. Tapi kenapa sulit sekali?" gumamnya pelan.

Rasa putus asa mulai menyelinap. Ia teringat wajah Maheera yang tersenyum bahagia menunggunya di rumah.

"Tidak boleh menyerah! Aku harus berhasil! Demi Maheera! Demi masa depan kita!"

Ia mengusap keringat di wajahnya, merapikan bajunya yang sedikit kusut, lalu berdiri tegak kembali.

"Ayo, satu lagi! Yang terakhir ini, semoga ada jalan!"

 

PERUSAHAAN KETIGA

Aaryan melangkah masuk ke sebuah gedung perkantoran yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat rapi dan modern. Ini adalah sebuah perusahaan perdagangan ekspor-impor.

Dengan hati-hati, ia menyerahkan berkasnya. Ia mencoba bersikap sangat rendah hati, sangat sopan, dan menunjukkan bahwa ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini, apa pun posisinya.

Sang Manajer, seorang pria berkacamata bernama Mr. Sharma, membaca CV Aaryan dengan teliti. Wajahnya berubah terkejut, lalu kagum, lalu bingung.

"Maaf... Tuan Aaryan Singhania? Apakah ini benar data Anda?" tanya Mr. Sharma memastikan.

"Benar, Pak. Itu semua pengalaman saya yang sebenarnya," jawab Aaryan tenang.

"Tapi... Anda pernah menjadi CEO perusahaan raksasa? Anda lulusan universitas terbaik? Kenapa Anda mau melamar di perusahaan kami yang kecil ini dengan posisi sebagai Manajer Administrasi dengan gaji standar?" tanya Mr. Sharma heran.

Aaryan menatap mata pria itu dengan sangat tulus dan serius.

"Karena saya sedang memulai lembaran baru dalam hidup saya, Pak. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa berdiri di atas kaki sendiri dengan kemampuan saya, bukan karena nama keluarga atau harta orang tua."

"Saya tidak peduli gajinya besar atau kecil. Yang penting pekerjaannya halal, dan saya bisa bekerja dengan sungguh-sungguh. Saya siap bekerja keras, siap belajar hal baru, dan siap mengabdi pada perusahaan ini selama saya diterima."

Suara Aaryan terdengar mantap, berwibawa, namun penuh kerendahan hati.

Mr. Sharma terdiam sejenak, menatap wajah muda di hadapannya itu. Ia bisa melihat ketulusan dan semangat yang luar biasa dari mata pria itu.

Ia tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangannya.

"Bagus! Saya suka dengan jawaban Anda!" seru Mr. Sharma antusias.

"Selamat, Tuan Aaryan! Anda kami TERIMA!"

Deg!

Jantung Aaryan seakan berhenti berdetak sesaat. Matanya membelalak tak percaya.

"B-Benarkah, Pak? Saya diterima?!" tanyanya hampir tak percaya.

"Benar sekali!" jawab Mr. Sharma mantap. "Dengan otak dan pengalaman sehebat Anda, saya yakin perusahaan kami justru akan sangat beruntung memilikimu. Anggap saja ini awal yang baru. Selamat bergabung!"

"ALHAMDULILLAHHH!!!"

Aaryan tidak bisa menahan rasa bahagianya. Ia merasa seolah beban berat di pundaknya hilang seketika. Ia mengucapkan syukur berkali-kali dalam hati.

Terima kasih Tuhan... Engkau masih memberiku kesempatan.

Ia bersalaman erat dengan Mr. Sharma dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru.

"Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih! Saya janji saya tidak akan mengecewakan Bapak! Saya akan bekerja sebaik mungkin!" ucap Aaryan penuh semangat.

 

Saat keluar dari gedung itu, langkah Aaryan terasa sangat ringan dan melayang. Matahari yang tadi terasa panas, kini terasa begitu hangat dan menyenangkan.

Ia berhasil! Ia diterima!

Meskipun gajinya mungkin tidak sepersepuluh dari gajinya dulu, meski posisinya bukan bos besar lagi... tapi bagi Aaryan, ini adalah kemenangan terbesar!

Ini adalah bukti bahwa ia masih bisa! Masih berguna! Dan masih bisa mencari nafkah sendiri!

Dengan senyum lebar yang tak pernah pudar, ia berjalan cepat menuju halte bus.

"Tunggu aku, Sayangku... malam ini aku pulang membawa kabar baik! Dan membawa uang pertamaku buat kamu pegang!"

PERUSAHAAN KETIGA

Aaryan melangkah masuk ke sebuah gedung perkantoran yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat rapi, bersih, dan modern. Ini adalah sebuah perusahaan perdagangan ekspor-impor yang cukup terkenal dengan manajemen yang baik.

Dengan hati-hati dan penuh kerendahan hati, ia menyerahkan berkasnya kepada resepsionis. Ia mencoba bersikap sangat sopan, sangat rendah hati, dan menunjukkan bahwa ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini, apa pun posisinya, asalkan halal dan baik.

Tak lama kemudian, ia dipanggil masuk ke ruangan manajer.

Di sana, duduk seorang pria berkacamata bernama Mr. Sharma, yang terlihat bijaksana dan tegas. Ia membaca CV Aaryan dengan teliti, halaman demi halaman. Wajahnya berubah dari biasa saja, menjadi kaget, lalu menjadi sangat kagum, dan akhirnya bingung.

"Maaf... Tuan Aaryan Singhania? Apakah ini benar data Anda?" tanya Mr. Sharma memastikan sambil menunjuk kertas di tangannya.

"Benar sekali, Pak. Itu semua pengalaman dan kemampuan saya yang sebenarnya," jawab Aaryan tenang dan mantap.

"Tapi... ini luar biasa! Anda pernah menjadi CEO perusahaan raksasa? Anda lulusan universitas terbaik di luar negeri? Anda ahli di bidang keuangan dan manajemen?" Mr. Sharma semakin tak percaya. "Lalu... kenapa Anda mau melamar di perusahaan kami yang kecil ini dengan posisi sebagai Manajer Administrasi dengan gaji standar? Kenapa tidak cari yang lebih besar lagi?"

Pertanyaan itu keluar dengan nada heran.

Aaryan menatap mata pria itu dengan sangat tulus, dalam, dan serius.

"Karena saya sedang memulai lembaran baru dalam hidup saya, Pak," jawab Aaryan pelan namun berwibawa. "Saya ingin membuktikan pada dunia dan pada diri sendiri, bahwa saya bisa berdiri di atas kaki sendiri dengan kemampuan saya, bukan karena nama besar keluarga atau harta orang tua saya."

"Saya tidak peduli gajinya besar atau kecil. Yang penting pekerjaannya halal, dan saya bisa bekerja dengan sungguh-sungguh. Saya siap bekerja keras, siap belajar hal baru, siap memulai dari nol lagi, dan siap mengabdi pada perusahaan ini selama saya diterima."

"Saya butuh kesempatan, Pak. Hanya itu yang saya minta."

Suara Aaryan terdengar begitu mantap, begitu dewasa, dan begitu menyentuh hati.

Mr. Sharma terdiam sejenak. Ia menatap wajah muda di hadapannya itu dalam-dalam. Ia bisa melihat ketulusan, semangat juang, dan karakter yang kuat dari mata pria itu. Ini bukan orang biasa, ini orang yang sedang diuji takdir dan sedang berjuang keras.

Dengan senyum lebar yang tulus, Mr. Sharma akhirnya mengulurkan tangannya ke arah Aaryan.

"Bagus! Saya suka sekali dengan jawaban dan mentalitas Anda!" seru Mr. Sharma antusias.

"Selamat, Tuan Aaryan! Anda kami TERIMA!"

Deg!

Jantung Aaryan seakan berhenti berdetak sesaat. Matanya membelalak lebar tak percaya, mulutnya sedikit terbuka.

"B-Benarkah, Pak? Saya... saya diterima? Serius?!" tanyanya hampir tak percaya, suaranya sedikit bergetar menahan haru yang luar biasa.

"Benar sekali!" jawab Mr. Sharma mantap sambil mengangguk-angguk. "Dengan otak, pengalaman, dan mental sehebat Anda, saya yakin perusahaan kami justru akan sangat beruntung memilikimu. Anggap saja ini awal yang baru. Selamat bergabung, Tuan Aaryan!"

"ALHAMDULILLAHHH!!! YA ALLAH MAHA BESAR!!!"

Aaryan tidak bisa menahan rasa bahagia yang meluap-luap di dadanya. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Beban berat yang menimpa pundaknya selama ini seakan hilang terbawa angin seketika.

Ia bersalaman erat dengan Mr. Sharma dengan tangan yang gemetar hebat karena haru dan bahagia.

"Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih banyak! Saya janji saya tidak akan mengecewakan Bapak! Saya akan bekerja sebaik mungkin! Saya akan buktikan bahwa Bapak tidak salah memilih saya!" ucap Aaryan tak henti-henti berterima kasih.

 

Saat keluar dari gedung itu, langkah Aaryan terasa sangat ringan, sangat melayang, dan penuh semangat. Matahari yang tadi terasa panas menyengat, kini terasa begitu hangat dan menyenangkan bagai membelai wajahnya.

Ia berhasil! Ia diterima!

Meskipun gajinya mungkin tidak sepersepuluh dari gajinya dulu, meski posisinya bukan bos besar lagi... tapi bagi Aaryan, ini adalah kemenangan terbesar!

Ini adalah bukti bahwa ia masih bisa! Masih berguna! Dan masih bisa mencari nafkah sendiri!

Dengan senyum lebar yang tak pernah pudar, ia berjalan cepat menuju halte bus.

"Tunggu aku, Sayangku... malam ini aku pulang membawa kabar baik! Dan membawa uang pertamaku buat kamu pegang!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!