NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESTA DI ATAS LUKA

Pagi ini, kampus Universitas Nusantara tampak lebih sibuk dari biasanya. Ada festival tahunan yang sedang dipersiapkan di lapangan utama. Stand-stand makanan, panggung musik, dan riuh rendah tawa mahasiswa seolah menjadi kontras yang menyakitkan bagi Clarissa.

Ia turun dari mobil dengan bantuan kacamata hitam yang lebih gelap dari kemarin. Tubuhnya terasa seperti gumpalan timah yang berat. Setiap langkah yang ia ambil menuntut energi yang luar biasa. Namun, begitu ia melihat The Diamonds mendekat, ia segera menegakkan punggungnya. Bahunya dibusungkan, dagunya diangkat tinggi.

"Clar, lo pucat banget. Pakai foundation merk apa sih? Kok nggak glowy kayak biasanya?" tanya Sherly sambil menatap wajah Clarissa dari dekat.

Clarissa mendengus, berpura-pura kesal. "Ini tren baru, muted look. Lo aja yang kurang update," jawabnya pedas. Ia tidak boleh terlihat lemah. Sedikit saja ia menunjukkan celah, kekuasaannya akan runtuh.

"Ngomong-ngomong, lo lihat si Maya?" Bianca menyeringai jahat. "Dia lagi di stand jurusan hukum sama Adrian. Kayaknya mereka makin lengket setelah kejadian 'banjir' kemarin."

Darah Clarissa mendidih, namun rasa sakit di sendi-sendinya jauh lebih terasa. "Ayo ke sana. Gue perlu kasih dia sedikit hiburan pagi."

Clarissa melangkah menuju stand hukum. Di sana, Adrian sedang membantu Maya menata buku-buku untuk bazar. Mereka terlihat sangat serasi, tertawa kecil seolah dunia hanya milik berdua.

"Wah, pahlawan kita lagi kerja bakti rupanya," suara Clarissa melengking, memotong suasana romantis itu.

Adrian menoleh, wajahnya langsung berubah dingin. "Mau apa lagi lo, Clar? Pergi. Jangan bikin keributan di sini."

"Gue nggak bikin keributan, Adrian. Gue cuma mau beli buku," Clarissa mengambil sebuah buku secara acak, lalu menjatuhkannya ke lantai yang berdebu. "Ups, licin. Sama kayak harga diri cewek ini, gampang banget jatuh ke tangan cowok orang."

"Clarissa, cukup!" Adrian membentak, suaranya menarik perhatian mahasiswa di sekitar mereka. "Kenapa lo harus se-jahat ini? Lo pikir dengan mem-bully Maya, gue bakal suka sama lo? Nggak, Clar. Yang ada gue makin muak!"

Clarissa merasakan dadanya sesak. Bukan karena marah, tapi karena jantungnya mulai berdetak tidak beraturan—gejala anemia akut akibat penyakitnya. Ia merasa pandangannya mulai goyang. Titik-titik hitam muncul di depan matanya.

"Gue nggak butuh rasa suka lo!" Clarissa berteriak, suaranya mulai gemetar. "Gue cuma mau semua orang tahu posisi mereka! Dan lo, Maya, lo cuma sampah beasiswa yang nggak pantes ada di dekat Adrian!"

Tiba-tiba, Clarissa merasakan sensasi hangat yang tidak asing mengalir dari hidungnya. Ia panik. Jangan sekarang. Jangan di depan mereka.

"Clar, lo..." Maya menutup mulutnya, menunjuk wajah Clarissa dengan ekspresi ngeri.

Clarissa menyentuh hidungnya. Merah. Darah itu menetes ke baju mahalnya yang berwarna putih. Mahasiswa di sekitar mulai berbisik, beberapa mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam.

"Lihat! Si Ratu Bully kena karma!"

"Gila, itu darahnya banyak banget!"

Clarissa terengah. Ia menatap Adrian yang kini tampak bingung antara benci dan khawatir. Namun, sebelum Adrian sempat mendekat, Clarissa tertawa kencang. Tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan gila.

"Kenapa? Kalian kaget lihat darah biru gue?" Clarissa mengusap darah itu ke pipinya, membuatnya terlihat seperti karakter film horor yang cantik namun hancur. "Ini cuma mimisan karena gue kurang tidur mikirin gimana cara buat hidup kalian makin susah!"

Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia mengabaikan panggilan The Diamonds. Ia terus berlari sampai ia menemukan gudang belakang panggung yang sepi.

Di dalam gudang yang gelap dan berdebu, Clarissa ambruk di atas tumpukan kursi kayu. Ia terbatuk-batuk hebat hingga dadanya terasa seperti terbakar. Darah tak berhenti mengalir dari hidungnya, bahkan sekarang mulai merembes dari sela-sela giginya.

"Tuhan... tolong... jangan sekarang..." ia merintih, memeluk dirinya sendiri di lantai yang kotor.

Ia meraba tasnya, mencari obat pereda nyeri, namun tasnya tertinggal di stand tadi. Clarissa menangis dalam kesunyian. Inilah puncaknya. Ia merasa nyawanya ditarik perlahan melalui tulang-tulangnya yang rapuh.

Tiba-tiba, pintu gudang terbuka. Sinar matahari masuk dengan tajam, menyilaukan mata Clarissa yang mulai sayu.

"Clarissa?"

Itu suara Bastian. Kakak kembarnya berdiri di sana, awalnya dengan wajah marah, namun seketika berubah menjadi pucat pasi saat melihat pemandangan di depannya. Adiknya, sang ratu kampus yang selalu tampil sempurna, kini tergeletak di lantai dengan baju bersimbah darah dan wajah yang hancur karena air mata.

"Clar! Apa yang terjadi?!" Bastian berlari dan mengangkat kepala adiknya ke pangkuannya. "Siapa yang lakuin ini sama lo? Siapa yang berani pukul lo?!"

Clarissa menggeleng lemah. Suaranya hanya berupa bisikan tipis. "Nggak ada, Bas... Nggak ada..."

"Banyak banget darahnya, Clar! Kita ke rumah sakit sekarang!" Bastian mencoba menggendong Clarissa, namun Clarissa menahan lengannya dengan sisa tenaga yang ada.

"Percuma, Bas..." Clarissa tersenyum pahit, air matanya jatuh mengenai tangan Bastian. "Gue... gue kena leukemia stadium 3. Gue bakal mati sebentar lagi."

Bastian mematung. Waktunya seolah berhenti. Kalimat itu lebih menghancurkan daripada ribuan bentakan ayahnya. "Lo... lo bercanda, kan? Lo cuma mau cari perhatian gue, kan? Clar, ini nggak lucu!"

"Gue nggak bercanda, Bas. Gue cuma... gue cuma mau lo jangan benci gue lagi sebelum gue pergi. Gue nggak pilih buat lahir dan bikin Mama meninggal..." Clarissa terbatuk lagi, kali ini darah membasahi kemeja Bastian.

Bastian memeluk adiknya dengan sangat erat, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Ia terisak kencang. "Maafin gue, Clar... Maafin gue... Lo harus bertahan, dengerin gue?! Lo harus bertahan!"

Di kejauhan, suara musik festival kampus terdengar riuh, merayakan kehidupan. Namun di gudang yang dingin itu, seorang kakak sedang meratapi adiknya yang perlahan meredup, menyadari bahwa kebenciannya selama ini hanyalah kesia-siaan di hadapan maut yang sudah mengetuk pintu.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!