NovelToon NovelToon
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:674.1k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.

Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.

"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."

"Dasar tidak waras!"

"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."

Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.

"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"

Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehancuran Baru Untuk Raka

Zira akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman Raka hari itu. Bukan untuk menetap, melainkan untuk menuntaskan apa yang telah dimulai. Kayden, dengan sikap protektifnya yang tidak terbantahkan, memaksa untuk mengantar. Kini, Zira duduk di kursi penumpang mobil mewah Kayden, menatap jalanan London yang basah oleh sisa hujan. Perasaan gugup itu nyaris hilang, berganti dengan rasa hampa yang pekat, sisa-sisa kenangan sepuluh tahun yang sebentar lagi akan menjadi debu sejarah.

"Nanti kamu akan bertemu pengacaraku, dia yang akan mengurus semua rincian perceraian ini denganmu," ucap Kayden sambil fokus memegang kemudi. Suaranya berat, namun memberikan rasa aman yang selama ini tidak Zira sadari ia butuhkan.

"Hm ... menurutmu, kapan waktu yang tepat bagiku untuk bicara pada Bunda dan Ayah?" tanya Zira pelan, beralih menatap wajah samping Kayden yang tegas.

Kayden menghela napas panjang, matanya melirik Zira sejenak melalui spion tengah. "Lebih baik kamu bicarakan sekarang. Semakin lama kamu memendamnya, semakin berat beban itu di pundakmu."

"Aku belum siap," lirih Zira. Suaranya bergetar hebat, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku ... aku takut, Kay."

Mendengar getaran ketakutan dalam suara Zira, Kayden segera menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Zira. Tangan besarnya meraih wajah Zira, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. Saat satu tetes air mata jatuh, Kayden dengan lembut menghapusnya menggunakan ibu jari, memberikan kekuatan melalui tatapan yang tak tergoyahkan.

"Apa yang perlu kamu takutkan? Malu karena rumah tanggamu hancur? Atau takut Ayah dan Bunda akan memarahimu? Tidak mungkin, Zira. Dengar, mereka pasti akan sangat kecewa pada Raka, bukan padamu. Kamu adalah anak mereka, kesayangan mereka sejak kecil. Untuk apa kamu takut? Kamu memang sudah dewasa, sudah menjadi seorang istri, tapi di mata mereka ... kamu tetaplah Zira kecil yang selalu merengek ingin ditemani tidur saat petir datang," ucap Kayden dengan intonasi yang menenangkan.

Zira terdiam, kata-kata Kayden meresap dalam sanubarinya. Benar, kedua orang tuanya pasti akan berdiri di garis terdepan untuk mendukungnya. Ia merasa malu karena merasa gagal, namun Kayden benar, di rumah utama, ia tetaplah putri kecil mereka.

"Kamu ingat apa yang Ayah katakan tepat di hari pernikahanmu sepuluh tahun lalu?" tanya Kayden, mencoba membangkitkan ingatan Zira.

"Perkataan Ayah?" Zira tampak bingung.

Kayden mengangguk kecil. "Ayah bilang pada Raka di depan altar, 'Mungkin sekarang cintamu ke putriku sangat penuh. Tapi tak menutup kemungkinan tiba-tiba cinta itu surut. Ketika hal itu terjadi, tolong kembalikan putri saya secara terhormat dan baik-baik. Jangan sakiti dia hanya karena cintamu sudah habis untuknya.'"

Zira mencebikkan bibirnya, tumpah sudah air mata yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis tersedu-sedu, membuat Kayden menghela napas kasar dan langsung menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Zira membasahi kemejanya, membiarkan wanita itu menumpahkan segala sesak sampai napasnya kembali teratur. Setelah merasa tenang, Zira menarik diri dan menatap Kayden dengan senyum tipis yang mulai kembali menghiasi bibirnya.

"Aku akan keluar hari ini dari rumah itu. Nanti ... tolong carikan aku rumah yang nyaman, ya?" ucap Zira.

Kayden tersenyum misterius, ada kilatan jenaka di matanya. "Ngapain cari rumah baru? Kan ada rumahku. Kita bisa ... living together, bukan? Di London sini hal seperti itu legal dan bisa dilakukan," ucapnya yang seketika membuat mata Zira membulat sempurna karena terkejut.

"Kaaaaay! Jangan mulai deh!"

"Hahaha, bercanda, Sayang. Aku tidak akan membiarkan reputasimu rusak," tawa Kayden pecah.

"Tapi ... aku setuju!" pekik Zira tiba-tiba dengan nada menantang.

Tawa Kayden langsung surut seketika, digantikan dengan mulut yang menganga lebar. Ia tak menyangka Zira akan memberikan jawaban seberani itu.

.

.

.

.

Sementara itu, di sebuah supermarket kelas atas, Raka tengah menemani Ivy untuk membeli berbagai keperluan. Mereka berdiri di depan kasir dengan troli yang penuh sesak oleh susu kehamilan premium, vitamin, dan berbagai kebutuhan rumah lainnya.

"Ada lagi yang ketinggalan?" tanya Raka sambil mengeluarkan dompet kulitnya.

"Itu saja. Tapi nanti setelah ini, kita mampir ke butik sebentar boleh? Aku ingin beli beberapa pakaian baru," ucap Ivy manja.

Kening Raka mengerut dalam, ada rasa jengah yang mulai merayap. "Bukannya baru kemarin kamu belanja baju?"

"Ada model baru yang ingin aku beli, Raka," rengek Ivy lagi.

Raka memutar bola matanya malas dan menghela napas panjang. Pikirannya mendadak melayang pada sosok istrinya. "Zira tidak pernah meminta beli ini-itu padaku," batin Raka. Ia baru menyadari hal tersebut sekarang. Selama sepuluh tahun, Zira hampir tidak pernah meminta materi darinya. Bahkan, Raka seringkali harus memaksa memberikan uang tambahan atau perhiasan yang berakhir dengan penolakan halus dari Zira karena wanita itu merasa sudah cukup dengan apa yang ia miliki.

"Totalnya 450 Poundsterling, Tuan," ucap sang kasir.

Raka memberikan kartu kredit hitamnya. Kasir itu menggeseknya di mesin EDC, namun tiba-tiba wanita itu mengernyitkan dahi dan menoleh pada Raka.

"Maaf, Tuan. Kartu ini tidak bisa digunakan. Ada keterangan declined," ucap sang kasir sopan.

"Enggak bisa? Coba cek lagi," Raka bingung. Ia mengambil kartu itu dan memberikan kartu lainnya dari bank yang berbeda. "Coba yang ini."

Kasir itu mencoba kembali, namun hasilnya tetap sama. Raka mulai panik dan mencoba memberikan kartu ketiga, keempat, hingga kartu terakhirnya, namun semuanya ditolak oleh mesin. Raka merasa frustrasi sekaligus malu di depan antrean yang mulai memanjang.

"Tunggu sebentar," ucap Raka pada Ivy. Ia bergerak menjauh dari kasir untuk menelepon, sementara Ivy tertunduk malu karena orang-orang di sekitar mulai menatapnya dengan pandangan sinis dan bisikan-bisikan pedas.

Raka segera menghubungi seseorang yang ia yakini menjadi dalang di balik kemacetan finansialnya.

"Maaa! Mama memblokir semua kartu ATM dan kartu kreditku?!" tanya Raka dengan nada kesal begitu telepon diangkat.

"Ya. Dan Mama akan membukanya lagi hanya setelah wanita itu kamu usir dari rumah dan kamu kembali pada Zira. Kamu pikir Mama sudi menukar menantu kelas atas seperti Zira dengan wanita kasta rendahan yang hanya bermodalkan rahim seperti dia? Oh ayolah, Raka. Mama ingin cucu, tapi Mama tidak sudi jika cucu itu lahir dari rahim wanita murahan yang menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri," ucap Anggi dengan suara dingin yang tak terbantahkan dari seberang telepon.

Raka memejamkan matanya, menahan amarah yang meledak di dada. "Ma, aku dan dia tidak akan menikah! Aku hanya bertanggung jawab pada bayinya! Aku dan Zira akan terus bersama, aku sedang berusaha memperbaikinya!"

"Siapa bilang kamu masih punya kesempatan?" suara Anggi terdengar meremehkan. "Mertuamu, Ayah Zira sudah menghubungi Mama tadi pagi. Dan dengan sangat tegas ... dia memintamu untuk melepaskan putrinya sekarang juga. Dia sudah tahu semuanya, Raka."

Degh!

Dunia Raka seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup kencang dengan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "A-apa?! Ayah Zira ... sudah tahu?"

"Ya. Bersiaplah, Raka. Kamu baru saja kehilangan segalanya demi sesuatu yang tidak berharga," ucap Anggi sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Raka berdiri mematung di tengah supermarket, memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menoleh ke arah kasir, di mana Ivy masih menunggunya dengan wajah menuntut, tanpa menyadari bahwa badai kehancuran baru saja meratakan seluruh hidup Raka.

__________________

Maaaap kawan, kemarin perjalanan balik jakarta karena gak netap di jawa lagi huhu🤧 jadi baru bisa up sekarang, mabuk perjalanan juga astaga🤧

1
bunda n3
aku pun berharap semoga ada keajaiban
Dcy Sukma
Vier udh sembuh dr anti bakterinya y..😄
udh ga segan lg gendong anak org..
Ita rahmawati
itulah keuntungannya nikah SM yg udah dewasa dn berpengalaman 😂
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 iya byk drama si zay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aduuuhhhh si lebay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lilik Lailiyah
dikit amat thor
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketus amat zay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
reaksi zayra adalah reaksi ku ke suami ketika aku bilang enggak dan di anggap enggak beneran 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hahaha xavier udah kayak suami aku, bukan modelan yg bakal begging gt bagi dia ya dia udah nanya atau nawarin kalo di jawab enggak ya bagi dia literally enggak 😆
Asri Indah Nur 'Aini
pliiissss lah Thor, Zira udah banyak sedihnya dari kecil, jangan dibikin sedih lagi hanya gegara masalalunya bang Kay yang ga jelas itu 😭
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: bukan sedih cuma lagi akting berdlama dia ditinggal bulan madu Papanya mantan berondong karatan🤣biasa jiwa anak-anak nya keluar pengen diperhatikan juga makanya caper dia kak🤣
total 1 replies
Hanima
👍👍
nuraeinieni
kenapa tdk jujur saja sih kay,ntar zira tau,jadi masalah.
Hasanah Purwokerto
Haish...kirain dilepas,,ternyata oh..ternyata...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Zira malu malu harimau...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Nessa
akhirnya si brondong g perjaka lagi 😆😆🤪
Nessa
jangan jadi pelakor y sop cinta g bisa di paksakan 😁🤭
Nessa
napa g jujur aja sih kay 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!