NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Tamu yang Tak Terduga

​Langkah kaki Vanya bergema di lorong sunyi lantai teratas Jacob Tower. Hatinya masih bergemuruh setelah rangkaian kejadian pagi ini—mulai dari pesan beruntun Devan hingga insiden pemukulan di apartemen Sesilia. Ia butuh ketenangan. Ia butuh duduk di kursi kebesarannya dan menenggelamkan diri dalam angka-angka agar emosinya bisa mereda.

​Vanya mendorong pintu ruangannya yang berat. Namun, langkahnya langsung terhenti.

​Di sana, membelakangi pintu, berdiri seorang pria tinggi gagah. Pria itu berdiri menghadap kaca besar yang menampilkan panorama langit yang indah. Bahunya lebar, postur tubuhnya sangat tegak, memancarkan wibawa yang tenang namun mendominasi ruangan tersebut.

​"Siapa Anda? Bagaimana Anda bisa masuk ke ruangan saya tanpa izin?" tanya Vanya dengan nada dingin dan tegas, khas seorang pimpinan.

​Pria itu terdiam sejenak, lalu perlahan-lahan memutar tubuhnya. Cahaya matahari yang masuk dari balik kaca membuat siluetnya tampak dramatis, hingga wajahnya terlihat jelas. Sepasang mata yang teduh namun tajam menatap Vanya dengan kerinduan yang mendalam.

​"Lama nggak ketemu, Vanya?" suara itu rendah, stabil, dan begitu familiar.

​Vanya mematung. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak tak percaya melihat sosok di depannya. "Bara?"

​Tanpa aba-aba, seolah seluruh pertahanan "Keangkuhan" yang ia bangun selama empat tahun terakhir runtuh seketika, Vanya berlari. Ia tidak peduli lagi pada martabatnya sebagai Direktur Utama. Ia menghambur ke pelukan pria itu, memeluknya dengan sangat erat seolah takut sosok di depannya hanyalah halusinasi.

​Vanya menangis. Tangisannya pecah, bahunya berguncang hebat. Tangannya yang kecil mulai memukul-mukul dada bidang Bara dengan penuh kekesalan yang bercampur rindu.

​"Tega banget! Katanya mau balik lagi secepatnya, tahunya sampai empat tahun baru pulang! Kamu tahu nggak gimana rasanya sendirian di sini?!" ucap Vanya di sela isaknya.

​Bara Jacob adalah putra dari adik mendiang Pak Davit Jacob. Berbeda dengan keluarga Jacob yang penuh intrik, keluarga Bara sudah lama menetap di Amerika Serikat. Bara sendiri adalah seorang Dokter Bedah yang sangat berprestasi di sana. Namun, bagi Vanya, Bara adalah satu-satunya anggota keluarga Jacob yang memperlakukannya seperti manusia, bukan sekadar bidak catur bisnis.

​Bara membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia membiarkan Vanya menumpahkan seluruh air matanya di dadanya, mengabaikan jas mahalnya yang kini basah.

​"Maaf, Vanya... maafkan aku," bisik Bara sambil mengelus rambut Vanya dengan lembut. "Waktu itu ibuku benar-benar mengurungku. Dia tahu aku ingin kembali untuk membantu mu. Dia mengambil pasporku, mengawasiku setiap detik agar aku tidak kembali ke rumah Paman Davit. Aku baru benar-benar bisa lepas setelah menyelesaikan spesialis bedahku."

​Vanya masih belum melepaskan pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Bara, menghirup aroma maskulin yang bersih dan samar aroma antiseptik—aroma yang selalu membuatnya merasa aman. Selama empat tahun pernikahannya yang hambar dengan Devan, ia tidak pernah merasakan kedamaian seperti ini.

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar.

​"Vanya! Aku mau bicara soal kejadian tadi pagi—"

​Kalimat Devan terputus di udara. Ia mematung di ambang pintu. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya istrinya, wanita yang selalu bersikap dingin dan kaku padanya, kini sedang memeluk erat seorang pria asing dengan wajah yang basah oleh air mata.

​"Ist... HEI!" Devan berteriak, suaranya menggelegar penuh amarah. Ia berlari mendekat dan langsung menarik bahu Vanya dengan kasar agar terlepas dari pelukan pria itu.

​Vanya tersentak, ia hampir terjatuh jika Bara tidak segera menahan pinggangnya dengan sigap. Devan berdiri di depan Vanya, menatap pria asing itu dengan tatapan membunuh. Namun, begitu pria itu mendongak dan menatap balik, nyali Devan sedikit menciut.

​"Bara?" Devan bergumam, suaranya berubah dari marah menjadi terkejut luar biasa.

​Ia mengenali pria ini. Bagaimana mungkin ia lupa? Bara Jacob, sepupunya yang dulu selalu menjadi "anak emas" di mata ayahnya. Pria yang dulu juga selalu memberikan perhatian lebih—bahkan cenderung berlebihan—pada Vanya sebelum pernikahan bisnis itu terjadi.

​"Sedang apa kau di sini?!" tanya Devan dengan nada bicara yang masih meninggi, namun ada getaran kegelisahan di sana.

​Bara merapikan kerah bajunya dengan tenang. Ia menatap Devan dari atas ke bawah, seolah sedang mendiagnosis seorang pasien yang tidak punya harapan sembuh.

​"Halo, Devan," ucap Bara dengan senyum tipis yang terasa sangat meremehkan. "Sepertinya sopan santunmu belum membaik meski sudah menjadi 'asisten magang', ya?"

​"Jangan bawa-bawa posisiku di sini! Aku tanya, kenapa kau kembali? Dan kenapa kau memeluk istriku?!" Devan menunjuk-nunjuk wajah Bara.

​Bara melangkah satu langkah lebih dekat. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Devan harus sedikit mendongak. Atmosfer di ruangan itu mendadak menjadi sangat panas.

​"Aku kembali karena aku mendengar ada seorang wanita hebat yang sedang menderita di tangan pria yang tidak tahu cara menghargainya," jawab Bara tenang, matanya melirik ke arah Vanya yang masih mencoba mengatur napasnya. "Dan soal memeluk... sepertinya kau salah lihat, Devan. Vanya-lah yang memelukku. Itu artinya, dia menemukan kenyamanan yang tidak pernah dia dapatkan darimu."

​"KAU!" Devan melayangkan kepalan tangannya, namun dengan gerakan cepat yang terlatih sebagai dokter bedah yang memiliki refleks tajam, Bara menangkap pergelangan tangan Devan di udara.

​"Jangan gunakan otot di depanku, Devan. Simpan tenagamu untuk memperbaiki Jacob Group yang hampir hancur ini," bisik Bara, lalu melepaskan tangan Devan dengan sentakan halus.

​Vanya berdiri di antara mereka, wajahnya kini sudah kembali dingin, meski matanya masih kemerahan. "Cukup, Devan! Bara datang ke sini sebagai tamu pribadiku. Dan dia juga memiliki hak karena dia adalah pemegang saham dari pihak keluargamu di Amerika."

​"Vanya, kamu membelanya?!" Devan menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Dia ini pria lain! Dia—"

​"Dia keluargamu juga, Devan! Dan dia jauh lebih peduli padaku daripada kamu selama empat tahun ini!" potong Vanya tajam. "Sekarang, kembali ke mejamu. Aku punya urusan penting yang harus dibicarakan dengan Bara."

​"Tapi—"

​"Keluar, Devan!" perintah Vanya tanpa bantahan.

​Devan mundur selangkah, menatap Vanya dan Bara bergantian dengan perasaan hancur yang tak tergambarkan. Ia merasa seperti orang asing di ruangannya sendiri. Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, ia berbalik dan keluar dari ruangan, membanting pintu dengan sangat keras.

​Di dalam ruangan, Bara menatap Vanya dengan lembut. "Dia tidak berubah, ya? Masih seperti anak kecil."

​Vanya hanya menghela napas panjang, ia duduk di kursinya dengan lemas. "Kenapa kamu harus pulang saat semuanya sedang serumit ini, Bara?"

​Bara berjalan mendekat, duduk di kursi di hadapan Vanya. "Justru karena rumit, aku harus pulang. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi keluarga Jacob sendirian lagi, Vanya. Aku sudah menjadi dokter bedah yang sukses, aku sudah punya segalanya untuk melindungimu. Termasuk... membawamu pergi dari sini jika kau mau."

​Vanya terdiam, menatap jendela besar di sampingnya. Kehadiran Bara adalah sebuah oase, namun ia tahu, kembalinya sang sepupu akan menjadi badai baru yang jauh lebih besar bagi rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk.

​Di luar ruangan, Devan berdiri bersandar di pintu, mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih. Rasa cemburunya pada Billy Hutama atau pria mana pun tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa takutnya pada Bara. Karena ia tahu, di hati Vanya, ada satu ruang yang sejak dulu hanya milik Dokter Bedah itu

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!