NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Payung Kuning dan Dinding yang Retak

Enam bulan berlalu sejak malam di mana Pak Dirga pulang membawa kresek berisi martabak manis dan harapan baru. Kehidupan di rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter itu perlahan mulai menemukan ritmenya kembali. Tidak ada lagi tunggakan sewa yang membuat mereka terancam diusir, dan tidak ada lagi hari-hari di mana Anandara harus membagi satu butir telur menjadi dua untuk mengganjal perut.

Di sudut ruang depan, Pak Dirga menyulap sebuah daun pintu bekas yang disanggah dengan balok kayu menjadi meja gambar daruratnya. Setiap malam, di bawah temaram lampu bohlam kuning yang berayun ditiup angin dari celah ventilasi, suara gesekan pensil mekanik dan penggaris segitiga di atas kertas kalkir menjadi melodi pengantar tidur bagi Anandara. Ayahnya bekerja bagai orang kesetanan. Posisi barunya sebagai kepala tim drafter di perusahaan Pak Mirza menuntut dedikasi tinggi, dan Pak Dirga menjawabnya dengan menyerahkan seluruh sisa tenaga dan waktunya.

Anandara yang kini mengenakan sepatu hitam baru—tanpa sol yang menganga dan tanpa ikatan karet gelang—sering kali terbangun di tengah malam hanya untuk melihat punggung ayahnya yang membungkuk di atas meja gambar. Tidak jarang, gadis kecil itu diam-diam membuatkan secangkir kopi hitam dan meletakkannya di dekat siku ayahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu kembali tidur.

Kehidupan mereka membaik, ya. Namun, keheningan di antara mereka tetap sama. Rumah itu masih terasa dingin. Trauma akibat pengkhianatan Bu Riri masih menggantung pekat di udara, menyumbat saluran emosi antara ayah dan anak itu. Mereka saling menyayangi dengan cara yang rapuh, takut jika terlalu banyak bicara akan membuka luka yang belum sepenuhnya mengering.

Di sekolah, pertahanan diri Anandara justru semakin tebal. Ia memusatkan seluruh sisa ruang di otaknya untuk menyerap ilmu pengetahuan. Nilai-nilainya selalu sempurna. Namun, sehebat apa pun ia membangun dinding es di sekelilingnya, ada satu orang yang dengan keras kepala terus membenturkan dirinya ke dinding itu setiap hari, mencoba meruntuhkannya dengan palu godam bernama keceriaan.

Sinta.

Siang itu, awan mendung menggantung rendah di langit kota. Angin bertiup cukup kencang, membawa aroma tanah basah yang menyengat melalui jendela ruang kelas 1-B SMP Harapan Bangsa. Pak Wawan, guru Biologi yang terkenal dengan kumis tebal dan suara baritonnya, baru saja membagikan lembar tugas kelompok.

"Baik, anak-anak. Tugas membuat herbarium dari daun-daun monokotil dan dikotil ini harus dikerjakan berpasangan. Bapak beri waktu satu minggu," suara Pak Wawan menggelegar ke penjuru ruangan. "Pasangannya sudah Bapak tentukan berdasarkan nomor urut absen agar adil. Absen ganjil berpasangan dengan absen genap di bawahnya. Mengerti?"

Terdengar seruan protes dari berbagai sudut kelas.

"Yah, Pak! Kok ditentuin sih? Saya mau sama Kiera aja!" rajuk Jesica sambil memutar-mutar pulpen mahalnya.

"Tidak ada bantahan, Jesica. Belajar bekerja sama dengan siapa saja adalah bagian dari pendidikan," potong Pak Wawan tegas. "Sekarang, cari pasangan kalian masing-masing sesuai daftar absen."

Anandara menghela napas pendek. Ia mengecek nomor urut absennya. Ia berada di urutan ke-empat. Berarti ia harus berpasangan dengan absen nomor tiga. Mata tajamnya menelusuri papan absensi yang tertempel di dinding dekat papan tulis.

Absen nomor tiga: Sinta Maharani.

Sebelum Anandara sempat mencerna informasi itu, sebuah kursi ditarik dengan suara berderit yang menyilukan telinga. Sinta sudah mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Anandara dengan cengiran lebar yang memamerkan deretan gigi gingsulnya.

"Takdir, Nanda! Ini namanya takdir yang tertulis di bintang-bintang!" seru Sinta sambil mengangkat kedua tangannya ke udara seolah merayakan kemenangan. "Semesta aja dukung kita buat jadi bestie, apalagi Pak Wawan."

"Ini hanya kebetulan matematis dari sistem pengurutan abjad," jawab Anandara datar, merapikan buku-buku catatannya. "Kapan kita kerjakan?"

"Nanti sepulang sekolah! Kita cari daun-daunnya di taman kota, terus kita keringin, terus kita tempel di buku gambar yang bagus. Eh, tapi ngerjainnya di mana, ya? Rumah gue lagi berisik banget, nyokap lagi arisan keluarga, banyak sepupu gue yang masih balita suka ngacak-ngacak barang," cerocos Sinta tanpa jeda. Mata bulatnya kemudian menatap Anandara dengan penuh harap. "Kita ngerjain di rumah lo aja, ya? Boleh, ya? Ya? Ya?"

Gerakan tangan Anandara terhenti. Jantungnya berdegup satu ketukan lebih cepat. Rumah? Kontrakan sempit, pengap, dengan atap seng dan kasur lipat yang terlihat langsung dari ruang tamu? Tempat di mana ayahnya bekerja keras sebagai drafter dengan fasilitas seadanya? Ia tidak pernah membawa siapa pun ke sana. Bukan karena ia malu miskin—ia sudah pernah menegaskan pada ayahnya bahwa ia tidak pernah malu menjadi miskin. Namun, kontrakan itu adalah ruang pribadinya, satu-satunya tempat persembunyiannya dari dunia luar yang kejam. Membawa Sinta ke sana sama saja dengan membiarkan orang lain melihat sisa-sisa reruntuhan hidupnya.

"Tidak bisa," tolak Anandara cepat. "Rumahku tidak cocok untuk mengerjakan tugas. Terlalu kecil."

"Yaelah, Nanda! Kita ini mau ngerjain herbarium daun, bukan mau ngerakit pesawat Boeing 747! Nggak butuh tempat seluas lapangan bola, kan?" Sinta memanyunkan bibirnya. "Lagian, gue penasaran pengen lihat rumah lo. Gue janji deh nggak bakal berisik. Gue bawain cemilan juga. Nyokap gue baru bikin bolu kukus pandan, enak banget sumpah!"

Anandara menatap Sinta dengan dahi berkerut. Ia mencari jejak rasa kasihan atau niat mengejek di mata gadis itu, namun tidak ada apa-apa di sana selain ketulusan dan antusiasme khas anak-anak.

"Rumahku sangat kecil, Sinta. Dan panas. Kau pasti tidak akan betah," ucap Anandara mencoba memberikan peringatan terakhir.

"Wah, pas banget! Kebetulan gue hari ini lagi kedinginan, butuh yang hangat-hangat," balas Sinta dengan logika ngawurnya yang membuat Anandara nyaris memutar bola mata. "Udah, deal ya! Pulang sekolah kita langsung meluncur ke istana lo!"

Bel pulang sekolah berbunyi bersamaan dengan tetes hujan pertama yang menghantam bumi. Dalam waktu kurang dari lima menit, rintik-rintik itu berubah menjadi hujan deras yang membabi buta. Sebagian besar siswa tertahan di koridor, menunggu jemputan atau menunggu hujan reda.

Anandara berdiri di ambang pintu gerbang sekolah, menatap nanar ke arah tirai air yang turun dari langit. Hujan selalu berhasil membawanya kembali ke malam jahanam itu. Suara gemuruhnya seperti memutar ulang pita kaset rusak di kepalanya: tawa ibunya dengan pria asing, gelas plastik yang jatuh berguling, teriakan ayahnya, dan suara pintu ditutup. Tanpa sadar, Anandara meremas ujung rok seragamnya. Tubuhnya sedikit bergetar, hawa dingin merayap naik dari ujung kakinya, mencekik lehernya hingga ia kesulitan bernapas.

Trauma itu datang lagi, menyiksa dalam diam.

Tiba-tiba, sebuah payung lipat berwarna kuning cerah mekar tepat di atas kepalanya, menghalangi pandangannya dari langit yang kelabu. Warna kuning itu begitu kontras, memotong lamunan kelamnya secara paksa.

"Ayo, Tuan Putri! Kereta kencana kita sudah siap berangkat menembus badai!"

Anandara menoleh. Sinta berdiri di sampingnya, memegang gagang payung kuning itu sambil tersenyum lebar. Rintik hujan menciprat ke bahu seragam Sinta, namun gadis itu tampaknya sama sekali tidak peduli.

"Kamu bawa payung?" tanya Anandara dengan suara sedikit serak, berusaha menetralkan kembali detak jantungnya.

"Gue kan peramal cuaca andal. Udah kerasa dari pagi hidung gue gatal, tanda-tanda mau hujan badai," canda Sinta. Ia menarik pergelangan tangan Anandara. "Ayo buruan! Kata lo rumah lo deket, kan? Bisa jalan kaki? Kalau nungguin hujannya reda, keburu lumutan kita di sini."

Anandara membiarkan dirinya ditarik masuk ke bawah perlindungan payung kuning itu. Mereka berjalan bersisian, menembus genangan air di trotoar. Sinta terus berceloteh sepanjang jalan. Ia menceritakan tentang tukang cilok di depan gerbang yang pelit ngasih saus, tentang kucingnya yang mencuri ikan tongkol, dan tentang sinetron yang ditonton ibunya semalam. Suara Sinta yang berisik entah bagaimana berhasil meredam suara gemuruh guntur di langit.

Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun lalu, Anandara berjalan di bawah hujan tanpa merasa seolah dunia akan kiamat.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit melewati gang-gang sempit, mereka tiba di depan sebuah bangunan petak berdinding batako yang belum diplester sempurna. Atap sengnya terlihat berkarat di beberapa bagian.

"Kita sampai," ucap Anandara, suaranya terdengar lebih kaku dari biasanya. Ia menyiapkan mentalnya untuk melihat ekspresi terkejut atau jijik dari wajah Sinta.

Sinta menutup payungnya dan mengibaskan airnya. Ia menatap bangunan kontrakan itu sejenak, lalu melangkah masuk saat Anandara membukakan pintu kayunya yang sudah lapuk.

Di dalam, ruangan itu remang-remang karena hanya mengandalkan cahaya dari luar. Ada meja gambar besar yang memenuhi sepertiga ruangan, sebuah tikar pandan yang digulung di sudut, dan tirai kain yang membatasi area dapur. Bau kertas kalkir, kopi, dan sedikit aroma apak menyambut mereka.

Sinta berdiri di tengah ruangan. Matanya menyapu sekeliling.

Anandara berdiri di dekat pintu dengan tegang. Ayo, katakan sesuatu. Ejek rumahku. Katakan ini kandang, bukan rumah, batin Anandara menantang.

"Wah..." Sinta akhirnya bersuara, memecah keheningan. Ia berjalan mendekati meja gambar Pak Dirga dan melihat lembaran kertas yang penuh dengan garis-garis presisi dan angka-angka rumit. "Ini bapak lo yang gambar, Nan?"

"Ya," jawab Anandara singkat.

"Gila! Keren banget!" Mata Sinta berbinar-binar penuh kekaguman yang tulus. "Ini sih udah kayak gambar arsitek di film-film luar negeri itu! Rapi banget. Kok bapak lo bisa sih gambar garis lurus banyak begini nggak pake penggaris melenceng? Gue aja disuruh ngegaris buku tulis aja masih belok-belok."

Anandara tertegun. Ia tidak menyangka itu reaksi yang akan keluar dari mulut Sinta. Tidak ada komentar tentang ruangannya yang sempit. Tidak ada komentar tentang atap sengnya. Sinta hanya melihat apa yang berharga di ruangan itu: karya keras ayahnya.

"Bapakku seorang drafter," Anandara menjelaskan, nada suaranya perlahan melembut tanpa ia sadari. "Dulu dia insinyur yang punya perusahaan sendiri. Sekarang dia sedang merintis kembali."

"Pantesan anak perempuannya pinter banget. DNA jeniusnya ngalir deras ternyata," puji Sinta sambil menurunkan tas punggungnya dan duduk bersila di lantai begitu saja, seolah ia berada di ruang tamu rumahnya sendiri yang beralaskan karpet tebal. "Ayo sini, keluarin daun-daun yang tadi kita pungutin di jalan. Kita mulai operasinya!"

Anandara meletakkan tasnya dan duduk di seberang Sinta. Mereka mulai menyusun daun-daun basah itu di atas kertas koran bekas untuk dikeringkan. Selama bekerja, Sinta mengeluarkan kotak bekal berisi potongan bolu pandan dan memaksa Anandara memakannya.

"Bapak lo pulangnya jam berapa, Nan?" tanya Sinta sambil sibuk menempelkan selotip di tangkai daun singkong.

"Sore. Tergantung apakah pekerjaannya di kantor sudah selesai atau belum. Kenapa?"

"Nggak apa-apa. Pengen salim aja sama bapak lo. Sekalian nawarin bolu pandan buatan nyokap gue. Kata nyokap, kalau main ke rumah temen harus sopan sama orang tuanya," celoteh Sinta. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap Anandara. "Lo cuma tinggal berdua aja sama bapak lo, kan? Semenjak... nyokap lo pergi?"

Anandara menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan daun mangga. Hatinya kembali berdesir mendengarnya. Ia mengangguk pelan, tanpa menatap mata Sinta. "Ya."

"Nanda," Sinta memanggil dengan nada yang tidak biasa. Tidak ada nada bercanda di sana, hanya keseriusan yang membuat Anandara akhirnya mendongak. "Gue mungkin nggak ngerti seberapa sakitnya ditinggal ibu lo dengan cara kayak gitu. Hidup gue gampang, keluarga gue berisik tapi utuh. Gue nggak pernah ngerasain lapar atau pakai sepatu yang bolong."

Anandara menelan ludah. Ia tidak suka dikasihani. Ia bersiap untuk kembali membangun dinding pertahanannya.

Namun Sinta melanjutkan kata-katanya. "Tapi, gue mau lo tahu satu hal. Lo nggak sendirian lagi sekarang. Lo punya bapak lo yang keren banget kerjanya, dan lo punya gue. Teman yang paling bawel sedunia." Sinta tersenyum, sebuah senyuman hangat yang anehnya menjalar ke sudut-sudut beku di hati Anandara. "Jadi, kalau lo lagi capek jadi anak yang kuat, kalau lo lagi pengen nangis tapi gengsi sama bapak lo... lo bisa nangis di depan gue. Gue jamin nggak akan ada yang tahu."

Kalimat itu sederhana, tapi efeknya bagi Anandara luar biasa. Selama tiga tahun, ia memaksa dirinya menjadi karang yang tegar untuk ayahnya. Ia melarang dirinya menangis karena air mata adalah simbol kelemahan yang ia benci dari masa lalunya. Namun mendengar Sinta menawarkannya sebuah tempat untuk menjadi 'lemah', pertahanan Anandara goyah.

Matanya terasa panas, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia buru-buru menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut lurusnya.

"Kau terlalu banyak bicara, Sinta," gumam Anandara, suaranya sedikit bergetar, berusaha mati-matian menahan agar air matanya tidak jatuh. "Daunnya akan layu sebelum kita sempat menempelkannya kalau kau terus mengoceh."

Sinta tertawa pelan, pura-pura tidak menyadari bahu Anandara yang sedikit menegang. "Iya, iya, Tuan Putri Es. Kita lanjut ngerjainnya."

Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan tawa—kebanyakan tawa Sinta, dan senyum tipis Anandara yang mulai sering muncul. Kontrakan yang biasanya sepi dan suram itu, sore itu terasa sedikit lebih terang, seolah-olah payung kuning yang dibawa Sinta tidak hanya menahan hujan di luar, tapi juga menghalau awan mendung di dalam rumah itu.

Menjelang magrib, pintu depan terbuka. Pak Dirga masuk dengan wajah lelah, namun matanya langsung membesar melihat ada sepatu kets putih tertata rapi di sebelah sepatu hitam Anandara.

"Assalamualaikum," ucap Pak Dirga.

"Waalaikumsalam! Eh, Bapak udah pulang!" Sinta yang pertama kali menyahut. Ia buru-buru berdiri, merapikan rok seragamnya, dan menghampiri Pak Dirga untuk mencium tangannya dengan takzim. "Sore, Om. Kenalin, saya Sinta, teman sebangkunya Nanda. Maaf ya, Om, saya numpang ngerjain tugas di sini. Habisnya Nanda pintar banget, kalau saya ngerjain sendiri pasti dapet nilai C dari Pak Wawan."

Pak Dirga tertegun sejenak, lalu tawa renyah meluncur dari bibirnya. Ia melirik ke arah Anandara yang masih duduk bersila, pura-pura sibuk merapikan buku gambar. Selama ini, Anandara tidak pernah membawa teman ke rumah. Melihat keceriaan Sinta, hati Pak Dirga menghangat.

"Oh, tentu saja tidak apa-apa, Nak Sinta. Justru Om senang Nanda ada temannya di rumah," kata Pak Dirga ramah. "Sudah makan? Om tadi beli sate ayam di depan gang. Ayo kita makan sama-sama sebelum sate ini dingin."

Mata Sinta langsung berbinar-binar mendengarnya. "Wah, kebetulan banget, Om! Cacing di perut saya udah demo dari tadi nuntut hak asasi makanan."

Malam itu, meja kecil di ruang depan kontrakan itu menjadi saksi bisu dari sebuah perubahan kecil namun monumental dalam hidup Anandara. Ia duduk di sana, memakan sate ayam, mendengarkan ayahnya tertawa lepas menanggapi celotehan konyol Sinta tentang guru-guru di sekolah.

Anandara memperhatikan wajah Sinta yang belepotan bumbu kacang. Ia meresapi suasana hangat yang tiba-tiba memenuhi ruangan pengap itu. Dinding es yang ia bangun begitu tinggi selama tiga tahun terakhir, hari ini secara resmi retak. Ada cahaya yang masuk melalui celah retakan itu, menerangi ruang hampanya.

Di dalam hatinya, Anandara mulai mengakui satu hal. Sinta bukanlah sekadar teman sebangku yang berisik. Sinta adalah orang pertama di luar ayahnya yang berhasil menembus pertahanannya tanpa menyakitinya. Dan diam-diam, gadis dengan masa lalu yang penuh luka itu berharap, semoga Sinta tidak akan pernah meninggalkannya seperti ibunya.

Semoga Sinta bisa terus menjadi payung kuningnya di setiap badai yang akan datang. Karena tanpa ia sadari, Sinta perlahan telah bertransformasi menjadi sebuah 'rumah' baru bagi jiwanya. Sebuah tempat di mana ia bisa berteduh tanpa takut dikhianati. Setidaknya, itulah yang ia yakini saat itu, jauh sebelum badai lain bernama cinta masa remaja datang menghantam pondasi persahabatan mereka di masa depan.

Bersambung...!

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!