NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Trimester Dua dan Tantangan Tak Kasat Mata

​Memasuki bulan kelima kehamilannya, Arumi mulai merasakan perubahan fisik yang nyata. Perutnya yang dulu rata kini tampak membuncit dengan anggun di balik gaun-gaun longgar berbahan sutra yang dipilihkan Adrian. Namun, seiring dengan tumbuhnya nyawa di rahimnya, tantangan yang dihadapi Arumi bukan lagi sekadar mual di pagi hari atau rasa lelah yang menghimpit. Tantangan itu kini datang dari dunia luar—dunia yang masih belum sepenuhnya menerima kehadiran "si istri pengganti" di puncak takhta keluarga Pramoedya.

​Pagi itu, Arumi sedang duduk di perpustakaan rumah barunya, mencoba menyelesaikan draf novel keempatnya. Namun, konsentrasinya terpecah saat asisten rumah tangganya masuk membawa sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim.

​"Mbak Arumi, ini ada kiriman paket dari kurir di depan. Katanya penting," ujar asisten itu sopan.

​Arumi membukanya dengan rasa ingin tahu. Di dalamnya bukan berisi naskah atau kontrak buku, melainkan kumpulan foto-foto lama. Foto-foto Adrian bertahun-tahun lalu, jauh sebelum mengenal Siska, apalagi dirinya. Di foto itu, Adrian tampak tertawa lepas—sesuatu yang jarang ia lakukan dulu—bersama seorang wanita cantik berambut pirang dengan latar belakang kota Paris.

​Di bawah tumpukan foto itu, ada selembar catatan kecil: “Apakah kamu benar-benar berpikir pria sekaku itu bisa mencintaimu tanpa syarat? Dia hanya mencari pelarian dari luka yang aku tinggalkan. Nikmati waktumu sebagai 'pengganti', Arumi. Karena yang asli selalu punya cara untuk kembali.”

​Arumi menarik napas panjang. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun ia tidak membiarkan rasa panik menguasainya. Ia mengusap perutnya yang mulai menegang.

"Tenang, Nak. Ini hanya angin lewat," bisiknya pada janin dalam kandungannya.

​Ia menyadari bahwa keberhasilannya sebagai penulis dan posisinya sebagai nyonya Pramoedya mulai memicu dengki. Namun, Arumi bukan lagi gadis pemalu yang bisa diintimidasi dengan foto masa lalu.

Arumi meletakkan foto-foto itu di atas meja jati kerjanya. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar perpustakaan seolah mempertegas kontras antara masa lalu Adrian yang penuh warna di Paris dan kehidupan tenang yang mereka bangun di sini. Wanita di foto itu—si rambut pirang dengan tawa yang begitu lepas—memang cantik. Ada aura kemandirian dan kelas sosial yang memancar kuat, jenis kecantikan yang mungkin dulu menjadi standar ideal bagi seorang Adrian Pramoedya.

Namun, Arumi tidak merasakan sesak napas yang biasa dialami tokoh-tokoh dalam novel romansa saat menemukan masa lalu suaminya. Sebaliknya, ia justru merasakan sedikit rasa iba. Bukan pada dirinya sendiri, tapi pada wanita yang mengirimkan foto-foto ini.

"Siapa pun kamu," gumam Arumi pelan sambil merapikan kembali foto-foto itu ke dalam amplop, "kamu sedang mencoba menjual barang yang sudah lama kedaluwarsa."

Ia berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke taman belakang. Di bawah sana, pohon kamboja yang mereka tanam bersama Adrian mulai menampakkan kuncupnya. Arumi mengusap perutnya lagi. Gerakan halus dari dalam rahimnya seolah menjadi pengingat bahwa realitas yang ia miliki sekarang jauh lebih bernyawa daripada selembar kertas glossy dari masa lalu.

Sore harinya, saat Adrian pulang, Arumi tidak langsung menyodorkan amplop itu. Ia menunggu sampai mereka selesai makan malam dan duduk bersantai di sofa ruang tengah. Adrian sedang sibuk dengan tabletnya, meninjau laporan mingguan, sementara Arumi menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

"Mas," panggil Arumi lembut.

"Ya, Sayang?" Adrian meletakkan tabletnya, memberikan perhatian penuh—sesuatu yang kini menjadi prioritasnya setiap kali mereka berdua.

"Tadi ada paket cokelat datang. Isinya foto-foto Mas saat di Paris. Dengan seorang wanita berambut pirang."

Tubuh Adrian sedikit menegang. Ia terdiam sejenak, tatapannya menerawang ke arah langit-langit. Arumi bisa merasakan perubahan ritme napas suaminya. Bukan napas rasa bersalah, melainkan napas seseorang yang dipaksa mengingat luka yang sudah lama kering.

"Clara," bisik Adrian. "Namanya Clara."

Arumi tetap tenang. "Dia tampak sangat bahagia di sana. Mas juga."

Adrian menoleh, menatap Arumi dengan intensitas yang dalam. Ia meraih tangan Arumi, mengecup jemarinya satu per satu. "Itu sepuluh tahun yang lalu, Arumi. Sebelum aku mengenal Siska, sebelum aku terjebak dalam ekspektasi keluarga yang kaku. Dia adalah cinta pertamaku, tapi dia juga orang yang mengajariku bahwa janji setia bisa patah hanya karena tawaran hidup yang lebih mewah di Eropa."

Adrian menarik napas panjang, suaranya terdengar lebih mantap. "Dia meninggalkanku di malam aku berencana melamarnya. Sejak saat itu, aku menutup diri. Aku menjadi pria robot yang kamu kenal di awal pernikahan kita. Aku pikir, dengan mengandalkan kontrak dan logika, aku tidak akan pernah terluka lagi."

Arumi tersenyum kecil, mengusap pipi Adrian yang kini terasa lebih hangat. "Tapi sepertinya dia ingin kembali, Mas. Ada catatan kecil di sana. Dia bilang 'yang asli selalu punya cara untuk kembali'."

Adrian mendengus remeh. "Dia salah besar. Dalam hidup ini, tidak ada yang namanya 'asli' atau 'pengganti' jika bicara soal hati. Yang ada hanyalah siapa yang memilih untuk tinggal saat semuanya berantakan. Dan kamu, Arumi... kamu tidak menggantikan siapa pun. Kamu menciptakan tempat baru yang tidak pernah ada sebelumnya."

Adrian bangkit sebentar, mengambil amplop itu dari meja, dan tanpa ragu menyobeknya menjadi potongan-potongan kecil di depan Arumi.

"Jangan biarkan masa laluku mengganggu tidurmu, atau pertumbuhan anak kita," tegas Adrian. "Besok, aku akan meminta tim keamanan untuk memperketat akses pengiriman ke rumah ini. Aku tidak ingin ada sampah masuk ke surga kecil kita."

Namun, tantangan "tak kasat mata" itu tidak berhenti pada kiriman foto. Dunia luar, terutama kalangan sosialita dan mitra bisnis Pramoedya, mulai berbisik. Rumor tentang kemunculan Clara—yang dikabarkan baru saja bercerai dan kembali ke Jakarta—menjadi santapan empuk di arisan-arisan mewah.

Beberapa hari kemudian, Arumi diundang ke acara peluncuran yayasan seni milik salah satu kerabat Adrian. Awalnya ia ingin menolak karena merasa lelah, tapi Adrian meyakinkannya.

"Tunjukkan pada mereka siapa Nyonya Pramoedya yang sesungguhnya. Bukan dengan amarah, tapi dengan kelasmu sebagai seorang penulis."

Arumi memilih mengenakan gaun sutra berwarna sage green yang menjuntai indah, menonjolkan perutnya yang mulai membuncit dengan elegan. Ia tidak memakai riasan berlebihan, hanya polesan tipis yang mempertegas gurat kedewasaannya.

Saat memasuki aula acara, ia bisa merasakan mata-mata yang mengintai. Bisik-bisik halus merambat di antara denting gelas sampanye.

"Itu dia, istrinya. Kasihan ya, kudengar Clara sudah kembali ke Jakarta."

"Yah, namanya juga istri pengganti. Mana mungkin bisa bersaing dengan cinta pertama yang berkelas seperti Clara."

Arumi tetap melangkah dengan dagu tegak. Di sudut ruangan, ia melihat sosok yang ia kenali dari foto: Clara. Wanita itu tampak memukau dengan gaun merah menyala yang menantang. Ia sedang dikelilingi oleh beberapa sosialita, tertawa dengan cara yang persis sama seperti di foto Paris itu.

Clara menyadari kehadiran Arumi. Ia melepaskan diri dari kerumunannya dan berjalan mendekat dengan langkah penuh percaya diri.

"Jadi, ini dia wanita yang berhasil menjinakkan Adrian dengan... kehamilan?" tanya Clara, suaranya cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar mereka. Tatapannya tertuju pada perut Arumi dengan nada merendahkan.

Arumi tersenyum tenang, sebuah senyum yang ia asah dari ribuan jam riset karakter dalam novelnya. "Selamat malam, Mbak Clara. Saya Arumi. Dan anak ini bukan alat untuk menjinakkan, tapi buah dari kebahagiaan yang mungkin belum pernah Mbak rasakan bersama Adrian."

Wajah Clara sedikit mengeras, tapi ia segera menguasai diri. "Jangan terlalu percaya diri, Sayang. Adrian itu pria yang mencintai estetika dan kebebasan. Rumah tangga dan popok bayi akan membuatnya bosan dalam sekejap. Kamu hanyalah fase 'penebusan dosa' baginya setelah apa yang terjadi dengan kakakmu."

"Mungkin benar Adrian mencintai estetika," balas Arumi dengan suara yang stabil namun tajam.

"Itulah sebabnya dia memilih saya. Karena kecantikan yang hanya ada di permukaan akan memudar seiring waktu, tapi kecerdasan dan kesetiaan adalah investasi jangka panjang yang sangat ia hargai sekarang. Dan soal 'fase', saya rasa fase masa lalu Mas Adrian sudah berakhir sepuluh tahun lalu di Paris. Sekarang, kami sedang menulis bab-bab masa depan."

Beberapa orang di sekitar mereka mulai mengangguk setuju, terkesan dengan ketenangan Arumi. Clara tampak kehilangan kata-kata sejenak. Ia tidak menyangka wanita yang dianggapnya "gadis rumahan" ini memiliki lidah sepedas kritikus sastra.

"Kita lihat saja seberapa lama tulisanmu itu bertahan, Arumi," desis Clara sebelum berbalik pergi dengan langkah angkuh.

Malam itu, dalam perjalanan pulang, Arumi merasa sangat lelah. Perutnya terasa sedikit kencang, mungkin karena tekanan emosional yang ia tahan selama acara. Adrian yang menyadari kegelisahan istrinya segera menggenggam tangan Arumi.

"Kamu hebat tadi. Aku mendengar dari beberapa kolega bagaimana kamu menghadapi Clara," bisik Adrian bangga.

"Aku hanya lelah, Mas. Lelah dengan label 'pengganti' ini. Kapan orang-orang akan berhenti membandingkanku dengan masa lalumu atau dengan Kak Siska?"

Adrian menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi dan teduh. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Arumi sepenuhnya. Di bawah temaram lampu jalan, tatapan Adrian tampak begitu tulus.

"Arumi, dengarkan aku. Dunia akan selalu punya label untuk diberikan. Mereka menyebutku CEO yang dingin, mereka menyebutmu istri pengganti. Tapi di dalam rumah kita, di dalam perpustakaan kita, label itu tidak berlaku. Kamu adalah dunianya Abimanyu—ya, aku sudah memikirkan nama itu untuk anak laki-laki kita kelak—dan kamu adalah pusat gravitasi hidupku."

"Abimanyu?" Arumi tersenyum kecil di tengah rasa lelahnya.

"Iya. Artinya sang pejuang yang gagah berani. Dia akan tumbuh kuat karena memiliki ibu sepertimu. Ibu yang tidak pernah lari meski ribuan foto masa lalu dilemparkan ke wajahnya."

Adrian mengecup kening Arumi, lalu beralih mencium perut Arumi yang membuncit. "Anak Ayah, jangan dengarkan orang-orang di luar sana ya. Ibumu adalah tokoh utama yang paling hebat di hidup Ayah."

Rasa kencang di perut Arumi perlahan meluruh. Ia menyadari bahwa tantangan tak kasat mata dari dunia luar memang akan selalu ada, tapi selama fondasi di dalam rumahnya sekuat ini, tidak ada satu pun bayang-bayang masa lalu yang bisa meruntuhkan kebahagiaannya.

Trimester kedua ini memang membawa tantangan fisik yang berat, namun juga memberikan Arumi sebuah kekuatan baru. Ia bukan lagi sekadar menulis cerita; ia sedang menjalani cerita yang jauh lebih indah dari fiksi mana pun. Dan bagi Arumi, itu sudah lebih dari cukup untuk menghadapi apa pun yang akan dikirimkan takdir dalam amplop cokelat berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!