Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Layar ponsel itu memantulkan cahaya biru di wajah Adella yang pucat. Hasil pencariannya tidak langsung membuahkan hasil yang gamblang. Nama "Adwan" terlalu umum, dan pria itu tampaknya cukup cerdik untuk membersihkan jejak digitalnya. Namun, Adella bukan gadis biasa; ia tahu bahwa di internet, tidak ada yang benar-benar hilang jika kita tahu di mana harus mencari.
Ia mengubah kata kuncinya. Ia mencari berdasarkan lokasi sekolah Pak Adwan sebelumnya yang sempat ia dengar dari gosip para guru: SMA Tunas Bangsa, Kota B.
Sebuah artikel berita lokal dari tiga tahun lalu muncul di baris bawah.
"Guru Berprestasi Mundur Mendadak Setelah Siswi Hilang Misterius."
Jantung Adella berdegup kencang. Ia mengklik tautan itu. Artikelnya tidak menyebutkan nama sang guru secara langsung, hanya inisial "A". Diceritakan bahwa seorang siswi kelas 11 menghilang setelah jam pelajaran tambahan. Kasus itu ditutup karena kurangnya bukti, dan tak lama kemudian, guru muda yang menjadi mentor siswi tersebut mengundurkan diri dengan alasan "kesehatan keluarga".
Adella teringat foto dengan coretan tinta merah di bawah meja Pak Adwan tadi. Apakah itu dia? Apakah itu gadis yang hilang?
"Adella? Belum pulang?"
Suara itu bukan dari Pak Adwan. Adella tersentak dan segera memasukkan ponselnya ke saku rok. Ia menoleh dan melihat Pak Satpam sekolah sedang mengunci gerbang samping.
"Eh, iya Pak. Ini mau jalan ke depan," jawab Adella dengan senyum tipis yang tampak lugu.
"Hati-hati, Nduk. Sudah sore, mendung lagi. Tadi Pak Adwan pesan ke saya, kalau lihat kamu, disuruh kasih tahu supaya langsung pulang, jangan mampir-mampir."
Adella membeku. Pesan ke Satpam? Perhatian itu terasa seperti pelukan yang terlalu erat hingga mencekik. Pak Adwan seolah-olah sudah memasang jaring di sekelilingnya, memastikan setiap langkahnya terpantau.
Malam harinya, di dalam kamarnya yang sederhana, Adella tidak bisa tidur. Ia duduk di meja belajarnya, menatap pulpen pemberian Pak Adwan. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil tersembunyi yang ia simpan di balik tumpukan buku pelajaran.
Ia mulai menulis. Bukan catatan sastra, melainkan observasi.
Pak Adwan sangat teliti dengan detail (pulpen, nama, kebiasaan).
Dia memiliki akses ke informasi pribadi yang tidak seharusnya ia tahu.
Ada pola: Dia mencari siswi yang 'terlihat sendirian' atau butuh perhatian.
Tiba-tiba, suara mesin mobil yang melambat terdengar dari luar jendela. Rumah Adella berada di jalan buntu yang jarang dilewati kendaraan saat malam. Adella mematikan lampu kamarnya dengan cepat.
Ia mengintip dari balik gorden. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Mesinnya masih menyala, lampunya padam. Adella menahan napas. Ia bisa melihat siluet seseorang di dalam sana, duduk diam, menatap ke arah jendela kamarnya.
Satu menit. Dua menit.
Mobil itu kemudian melaju perlahan, meninggalkan kesunyian yang mencekam. Adella tahu itu mobil Pak Adwan. Ia mengenali aroma kayu cendana yang seolah tertinggal di udara bahkan melalui kaca jendela yang tertutup.
Keesokan harinya di sekolah, Pak Adwan tampak biasa saja. Ia mengajar dengan penuh semangat, membagikan hasil kuis minggu lalu.
"Adella, bisa bantu saya membawa buku-buku ini ke ruang guru?" tanya Pak Adwan setelah kelas usai.
Adella mengangguk. "Tentu, Pak."
Di koridor yang mulai sepi, Pak Adwan berjalan di sampingnya. "Saya dengar semalam ada mobil asing di lingkungan rumahmu. Daerah itu sepi, kamu harus lebih rajin mengunci pintu, Adella."
Langkah Adella terhenti. Ia menatap Pak Adwan dengan tatapan polos yang paling meyakinkan yang bisa ia buat. "Bapak tahu rumah saya di mana? Dan... Bapak ada di sana semalam?"
Pak Adwan berhenti, berbalik menatapnya. Senyumnya hangat, namun matanya sedingin es. "Saya sedang mencari alamat toko buku tua di daerah sana, lalu saya ingat itu jalan rumahmu. Sebagai gurumu, wajar jika saya merasa khawatir melihat rumah yang lampunya mati tapi penghuninya masih terjaga di balik gorden, bukan?"
Deg. Dia tahu Adella mengintip.
"Bapak sangat perhatian ya," bisik Adella, suaranya bergetar sengaja dibuat seperti gadis yang sedang tersipu.
Pak Adwan mendekat, mengambil alih tumpukan buku dari tangan Adella. "Karena kamu istimewa, Adella. Dan untuk orang yang istimewa, saya bersedia melakukan apa saja untuk memastikan mereka tetap... 'aman'."
Ia menekankan kata "aman" dengan nada yang membuat bulu kuduk Adella meremang. Saat itu juga, Adella menyadari satu hal: Pak Adwan tidak hanya ingin menjadi gurunya. Dia ingin menjadi pemiliknya.
Dan Adella, dengan segala kepandaiannya yang tersembunyi, mulai menyadari bahwa untuk mengalahkan monster, ia mungkin harus berpura-pura menjadi mangsa yang paling manis.
"Terima kasih, Pak Adwan," ujar Adella lembut. "Saya merasa sangat aman jika Bapak ada di dekat saya."
Pak Adwan tersenyum puas, tidak menyadari bahwa di balik saku roknya, Adella sedang menyalakan perekam suara di ponselnya
Pak Adwan mengangguk pelan, jemarinya sempat menyentuh punggung tangan Adella saat ia mengambil sisa tumpukan buku. Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti sebuah klaim kepemilikan.
"Baguslah kalau begitu," ucap Pak Adwan. "Dunia luar sangat kacau untuk gadis sepertimu, Adella. Mari, kita lanjutkan jalan ke ruang guru."
Mereka berjalan beriringan di koridor yang kini hanya menyisakan bayangan panjang dari tiang-tiang bangunan. Adella menjaga langkahnya agar tetap sinkron dengan pria di sampingnya. Di dalam saku roknya, ia bisa merasakan suhu ponselnya yang mulai menghangat—tanda bahwa aplikasi perekam sedang bekerja, menangkap setiap gesekan kain dan gema langkah kaki mereka.