Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin Diberikan
Xu Qung memejamkan mata sejenak. Dadanya naik turun pelan menahan rasa kesal yang bercampur pasrah. Di hadapannya, Lan Suya masih duduk dengan wajah tenang seolah tak baru saja melempar ancaman halus.
Tetua Agung itu akhirnya membuka mata. Tatapannya tajam namun nada suaranya jauh lebih berat dari sebelumnya.
“Ya’er… kau memang tidak pernah berubah.”
Lan Suya tersenyum kecil. Namun kali ini senyumnya tak lagi penuh godaan. Ia justru tampak sedikit lebih serius.
“Aku tahu kau mengkhawatirkan Gao Rui.”
Xu Qung mendengus pelan.
“Kalau kau tahu… kenapa masih memaksanya pergi?”
Lan Suya tidak langsung menjawab. Ia menatap Xu Qung beberapa saat lalu perlahan meletakkan cangkir tehnya.
“Aku memang menggertakmu tadi.” katanya terus terang. “Tapi… alasan utamaku bukan itu.”
Xu Qung sedikit mengernyit. Lan Suya menarik napas pelan. Sorot matanya kini berubah lebih dalam.
“Aku hanya menjalankan amanat gurunya, Boqin Changing..”
Mendengar nama itu ekspresi Xu Qung langsung berubah. Ia menatap Lan Suya lebih serius.
“Boqin Changing?”
Lan Suya mengangguk.
“Dia menitipkan pesan.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Ia berkata selain mewariskan jalan kultivasinya kepada Gao Rui, ia juga ingin anak itu mengenal dunia luar. Mengenal bagaimana dunia ini bergerak… bukan hanya lewat pedang, tapi juga lewat akal, relasi, dan kekuatan yang tersembunyi di balik layar.”
Xu Qung diam.
Lan Suya melanjutkan… suaranya tenang.
“Kelompok Dagang Harta Langitku… juga dia titipkan pada Gao Rui.”
Tatapan Xu Qung sedikit bergetar.
“Hmmm....”
Lan Suya mengangguk mantap.
“Boqin Changing berkata… cepat atau lambat, Gao Rui akan memikul lebih banyak hal dari yang kita bayangkan. Karena itu… ia memintaku membimbing Gao Rui juga di urusan kelompok dagang.”
Xu Qung tak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama mencerna setiap kata.
Ia tahu betul siapa Boqin Changing. Orang itu memang terlihat santai, sangat tenang. Namun jika sudah menyangkut Gao Rui tak mungkin ia berbicara sembarangan. Jika Boqin Changing sampai menitipkan Kelompok Dagang Harta Langit berarti ia benar-benar telah memikirkan masa depan muridnya jauh ke depan.
Xu Qung perlahan menghela napas. Pada akhirnya wajah kerasnya sedikit melunak.
“Jadi… ini alasan sebenarnya.”
Lan Suya tersenyum tipis.
“Ya.”
Xu Qung memejamkan mata sesaat. Lalu dengan nada berat, ia akhirnya berkata,
“Baiklah.”
Lan Suya mengangkat alis.
“Kau mengizinkan?”
Xu Qung membuka mata. Tatapannya tetap tajam.
“Jangan salah paham. Aku bukan luluh karena ancamanmu soal istriku.”
Lan Suya menahan tawa.
“Aku tahu.”
Xu Qung mendengus.
“Aku mengizinkan… karena ini pesan Boqin Changing. Dan karena Gao Rui memang tak bisa selamanya dikurung di dalam sekte.”
Lan Suya tersenyum lega.
“Kakak ipar memang orang yang bijak.”
Xu Qung melotot tipis.
“Jangan menjilat.”
Lan Suya tertawa kecil.
Namun Xu Qung belum selesai. Wajahnya kembali serius.
“Tapi ada satu hal.”
Lan Suya menatapnya.
“Apa?”
Xu Qung bersandar sedikit lalu berkata pelan namun tegas,
“Bagaimana kau menjamin keselamatan Gao Rui selama perjalanan?”
Ruangan kembali hening.
Xu Qung menatap Lan Suya lurus-lurus.
“Kau tahu sendiri.. nama Gao Rui sudah terlalu besar sekarang. Dunia persilatan sedang kacau. Bisa jadi para pendekar aliran hitam akan mengincarnya.”
Lan Suya tersenyum tenang.
“Kalau itu… serahkan padaku.”
Xu Qung mengernyit.
“Hanya begitu?”
Lan Suya mengangkat dagu sedikit.
“Aku sendiri sudah cukup kuat untuk melindunginya.”
Xu Qung langsung mengerutkan kening. Ia tentu tahu kekuatan Lan Suya. Wanita itu bukan hanya pemimpin kelompok dagang tapi juga seorang pendekar suci dengan tujuh gerbang terbuka. Di dunia persilatan, kemampuan Lan Suya cukup tinggi.
Namun tetap saja, di mata Xu Qung, Gao Rui bukan murid biasa. Anak itu terlalu berharga.
“Hanya mengandalkan dirimu saja… masih belum cukup membuatku tenang,” ujar Xu Qung pelan.
Lan Suya menatapnya lalu tiba-tiba tertawa.
Xu Qung mengangkat alis.
“Apa yang lucu?”
Lan Suya menutup mulutnya masih menahan senyum.
“Kakak ipar… wajahmu barusan lucu sekali.”
Xu Qung mendengus.
“Jangan main-main.”
Lan Suya akhirnya menggeleng sambil tersenyum.
“Aku tadi hanya bercanda.”
Xu Qung menyipit.
Lan Suya lalu melanjutkan dengan tenang,
“Aku tidak akan pergi hanya berdua dengan Gao Rui.”
Tatapan Xu Qung sedikit berubah.
“Aku sudah menyiapkan pengawal.”
Lan Suya menyandarkan tubuhnya santai.
“Mereka semua pendekar kuat lama yang bergabung dengan Kelompok Dagang Harta Langit. Orang-orang yang bukan hanya setia… tapi juga sudah menempuh banyak badai bersamaku.”
Xu Qung diam mendengar itu. Lan Suya menatapnya mantap.
“Ada dua orang pendekar kuat yang akan ikut. Masing-masing cukup kuat untuk menjadi tetua di sekte. Ditambah aku sendiri… perjalanan ini akan aman.”
Xu Qung akhirnya mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai hatinya sedikit tenang.
Ia lalu bertanya,
“Kapan kau berangkat?”
Lan Suya menjawab tanpa ragu,
“Besok pagi.”
Xu Qung langsung menatapnya.
“Besok?”
Lan Suya tertawa kecil.
“Kenapa? Terlalu mendadak?”
Xu Qung mendengus.
“Tentu saja mendadak.”
Lan Suya tersenyum manis, sorot matanya penuh kelicikan yang akrab.
“Kalau terlalu lama kutunda… aku takut kau berubah pikiran.”
Xu Qung terdiam sesaat… lalu tak bisa menahan diri untuk menggeleng sambil tersenyum pahit.
“Kau benar-benar menyebalkan.”
Lan Suya berdiri anggun dari kursinya.
“Tapi tetap adik iparmu.....”
Xu Qung mendecak.
“Cepat pergi sebelum aku benar-benar berubah pikiran.”
Lan Suya tertawa renyah. Ia melangkah ke pintu lalu berhenti sebentar. Menoleh dengan senyum yang lebih lembut.
“Tenang saja, Kakak Ipar.”
Nada suaranya kali ini sungguh-sungguh.
“Aku akan membawa Gao Rui pergi… dan mengembalikannya dengan selamat.”
Xu Qung menatapnya. Beberapa saat, ia hanya mengangguk pelan.
Lan Suya pun akhirnya pergi. Pintu ruang tamu tertutup perlahan. Suasana kembali hening. Xu Qung duduk diam cukup lama. Menatap cangkir teh yang kini sudah dingin. Ia lalu menghela napas panjang.
“Bocah itu… takdirnya sepertinya cukup rumit.”
Tatapannya menembus jendela, menuju puncak gunung di kejauhan. Entah kenapa di balik rasa khawatirnya ada firasat samar. Bahwa perjalanan Gao Rui kali ini mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
...******...
Selepas keluar dari kediaman Xu Qung, langkah Lan Suya tidak langsung menuju rumahnya. Wanita itu justru berbelok ke jalan kecil yang mengarah ke rumah sederhana milik Gao Rui.
Di tangannya, ada sebuah kotak bekal kayu berukir halus. Dari sela tutupnya, samar tercium aroma daging panggang madu, sup jamur pegunungan, dan kue manis khas restoran miliknya.
Lan Suya tersenyum kecil.
“Bocah itu pasti belum makan enak hari ini…”
Angin siang berembus lembut. Langit mulai berwarna putih kebiruan ketika ia akhirnya tiba di halaman rumah Gao Rui.
Dari kejauhan, ia melihat seorang bocah duduk santai di teras kayu rumahnya. Gao Rui duduk tenang. Satu lututnya terangkat, tangan kirinya bersandar di paha, sementara matanya memandang langit syang perlahan berubah warna. Wajahnya terlihat damai, namun tetap membawa ketenangan khas seseorang yang jauh lebih dewasa dari usianya.
Lan Suya berhenti sejenak. Sorot matanya melembut. Entah kenapa, setiap kali melihat Gao Rui, ia selalu teringat sosok gurunya. Ada ketenangan yang sama, ada sorot mata yang sama seolah anak ini memang dilahirkan untuk berjalan di jalan yang luar biasa.
Ia pun melangkah mendekat.
“Rui’er…”
Suara lembut itu membuat Gao Rui menoleh. Begitu melihat siapa yang datang, wajahnya langsung sedikit terkejut. Namun kemudian senyum hormat muncul di bibirnya.
“Bibi Ya?”
Lan Suya tertawa kecil mendengar sapaan itu.
“Kenapa? Kau tak senang melihatku?”
Gao Rui buru-buru menggeleng.
“Tentu tidak. Aku hanya sedikit terkejut.”
Lan Suya naik ke teras, lalu tanpa basa-basi menyodorkan kotak bekal kayu di tangannya.
“Aku mampir untuk mengantarkan ini.”
Gao Rui menatap kotak itu, lalu aroma makanan yang hangat segera menyentuh hidungnya. Mata pemuda itu sedikit membesar.
“Ini…”
Lan Suya tersenyum bangga.
“Makanan dari restoranku. Aku tahu kau habis latihan.”
Gao Rui tersenyum tipis. Ia menerima kotak bekal itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Bibi Ya.”
Nada suaranya tulus.
Lan Suya mengangguk puas, lalu tanpa sungkan duduk di samping Gao Rui di teras.
Suasana siang itu terasa tenang. Angin gunung bertiup lembut membawa aroma tanah dan pepohonan. Beberapa saat, keduanya hanya duduk diam. Gao Rui membuka kotak bekal itu perlahan. Aroma makanan langsung menyebar semakin kuat.
Lan Suya meliriknya lalu tersenyum geli.
“Lihat wajahmu. Baru mencium aromanya saja… matamu sudah berbinar.”
Gao Rui tertawa kecil. Ia merasa nyaman berbincang santai seperti ini.
Lan Suya menatap wajah bocah itu beberapa saat. Lalu dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya, ia berkata,
“Rui’er…”
Gao Rui menoleh.
“Besok… aku akan pergi ke ibukota.”
Angin seolah berhenti sesaat. Tatapan Gao Rui sedikit berubah. Ia menatap Lan Suya dengan tenang. Lan Suya tersenyum tipis lalu melanjutkan,
“Aku ada urusan kelompok dagang di sana. Banyak hal yang harus kuurus.”
Ia menatap lurus ke depan ke arah pegunungan yang mulai gelap.
“Dunia di luar sana sangat luas. Jauh lebih luas daripada yang bisa kau lihat dari sekte ini.”
Lan Suya lalu menoleh pada Gao Rui. Matanya lembut namun penuh makna.
“Jadi… bagaimana?”
Ia tersenyum tipis.
“Besok… apakah kau mau ikut denganku ke ibukota?”