''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di dalam kabin mobil yang sunyi itu, hanya terdengar suara deru AC dan isak tangisku yang mulai mereda. Kata-kata Farez tentang pencariannya selama lima tahun menembus lapisan es yang selama ini membekukan hatiku. Aku menatap telapak tanganku yang terbalut plester, lalu perlahan beralih menatap wajah laki-laki di sampingku ini.
"Rez..." panggilku lirih, suaraku masih parau.
Farez menoleh, memberikan atensi penuhnya padaku.
"Maafin aku," bisikku. Air mata baru kembali luruh. "Maaf karena lima tahun lalu aku pergi gitu aja tanpa satu pun kata pamit. Aku ninggalin kamu di saat kamu nggak tahu apa-apa. Aku mutusin semuanya secara sepihak dan ngebiarin kamu nanggung bingung sendirian selama bertahun-tahun."
Aku menunduk, tidak sanggup menatap matanya yang begitu tulus.
"Dan maaf... maaf karena beberapa minggu ini aku bersikap jahat sama kamu. Aku ketus, aku dingin, aku bahkan nyebut kamu cuma kerikil yang ganggu jalan aku. Aku sengaja dorong kamu jauh-jauh karena aku takut, Rez."
Farez tidak memotong. Dia membiarkan aku menumpahkan segala sesak yang menyumbat dadaku.
"Luka yang dikasih Ayah itu dalem banget," lanjutku dengan suara bergetar. "Ngelihat Ayah yang selama belasan tahun aku puja sebagai laki-laki paling setia ternyata punya keluarga lain, itu ngerusak semua logika aku. Sejak malam itu, aku nggak percaya lagi sama laki-laki. Bagiku, sikap manis, kelembutan, dan janji-janji laki-laki itu cuma penipu. Semuanya cuma topeng buat nutupin pengkhianatan yang lebih besar di belakang."
Aku meremas ujung blazerku, mencoba mencari kekuatan untuk melanjutkan.
"Setiap kali kamu baik sama aku, setiap kali kamu perhatian, otak aku selalu bilang kalau kamu bakal sama kayak Ayah. Aku takut kalau aku kasih kamu celah buat masuk lagi, ujung-ujungnya aku bakal hancur berkeping-keping kayak malam itu. Aku milih jadi jahat supaya kamu benci aku dan pergi, karena itu jauh lebih mudah daripada harus ngelihat kamu ninggalin aku nanti."
Farez meraih daguku, mengangkat wajahku agar mata kami kembali bertemu. Tidak ada jejak kemarahan di sana, hanya ada pemahaman yang luar biasa dalam.
"Ra, dengar aku," ucapnya lembut namun tegas. "Aku bukan Ayahmu. Dan aku nggak akan pernah minta kamu buat langsung percaya sama aku hari ini. Tapi tolong, jangan hukum aku atas kesalahan yang dia perbuat. Aku nggak akan maksa kamu buat ngebuka tembok itu sekarang, tapi izinin aku buat tetep berdiri di sana, mastiin nggak ada orang lain yang nyakitin kamu lagi."
Ia mengusap sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya. "Maafmu aku terima, bahkan sebelum kamu ucapin. Karena selama lima tahun ini, aku selalu tahu kalau yang pergi itu bukan Rana yang jahat, tapi Rana yang lagi kesakitan."
Mendengar itu, pertahananku benar-benar luruh. Ternyata, selama ini aku bukan sedang membencinya, aku hanya sedang ketakutan setengah mati. Dan hari ini, di bawah rindangnya pohon ini, Farez membuktikan bahwa tidak semua pelindung adalah penipu.
Farez tidak segera menjalankan mobilnya. Ia menunggu hingga napasku benar-benar tenang, seolah memberiku waktu untuk meresapi kedamaian kecil yang baru saja tercipta di antara kami. Setelah beberapa saat, ia menyalakan mesin dan memutar kemudi menuju sebuah kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk perkantoran.
Kami berhenti di depan sebuah kafe kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman hias. Tempat itu terlihat sangat tenang, dengan dinding kaca besar dan aroma biji kopi yang baru dipanggang langsung menyambut saat kami melangkah masuk. Farez memilih meja di sudut paling pojok, tempat yang terlindung dari pandangan orang lain.
"Duduklah. Aku pesan sesuatu yang bisa menghangatkanmu," ucap Farez lembut.
Aku hanya menurut. Aku menanggalkan blazer kaku yang sejak tadi terasa seperti beban di pundakku. Sambil menunggu Farez, aku menatap telapak tanganku. Plester di sana masih terpasang rapi, menjadi pengingat bahwa hari ini, meski aku hancur di depan butik Ayah, ada seseorang yang langsung menangkapku sebelum aku menyentuh tanah.
Tak lama, Farez kembali membawa dua cangkir cokelat panas dengan taburan marshmallow di atasnya. Ia tidak memesan kopi, seolah tahu sarafku sudah terlalu tegang untuk kafein.
"Terima kasih, Rez," bisikku, merapatkan jemariku pada cangkir yang hangat.
Farez menyesap minumannya sejenak, lalu menatapku dengan sorot mata yang jauh lebih santai. "Dulu, kamu selalu bilang cokelat panas bisa memperbaiki mood yang berantakan. Aku harap teori itu masih berlaku."
Aku tersenyum tipis, tawa kecil yang terasa canggung namun tulus. "Kamu masih ingat saja hal-hal sepele seperti itu."
"Bagimu sepele, bagiku itu detail penting untuk bertahan hidup selama lima tahun tanpamu," balasnya tanpa nada bercanda, membuat jantungku kembali berdebar dengan ritme yang asing.
Suasana kafe yang tenang dengan lagu jazz instrumental yang mengalun pelan membuat dinding pertahananku semakin menipis. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, aku tidak merasa harus menjadi Rana sang asisten manajer yang tangguh.
"Rez," panggilku, menatap buih cokelat di cangkirku. "Soal Wira Pratama... besok aku harus tetap profesional. Aku harus menyelesaikan audit itu. Tapi sekarang, aku sadar aku nggak perlu melakukannya dengan cara menyakiti diriku sendiri."
Farez mengangguk, ia meletakkan tangannya di atas meja, dekat dengan tanganku namun tidak menyentuhnya, memberiku ruang namun tetap terasa dekat. "Aku akan membantumu. Aku punya data logistik yang mereka butuhkan. Kita akan mainkan secara bersih, tapi tetap tegas. Kamu nggak perlu mengotori tanganmu dengan dendam yang malah akan merusak dirimu sendiri."
Aku mendongak, menatap matanya yang kini penuh dengan dukungan. Siang itu, di kafe kecil ini, aku mulai menyadari bahwa berdamai dengan luka bukan berarti melupakan rasa sakitnya, tapi tentang menerima bahwa masa depanku tidak harus ditentukan oleh kesalahan orang yang meninggalkanku.