NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Kelas Sampah

Suasana di dalam ruangan Kelas D mendadak menjadi sangat sunyi setelah dua mahasiswa dari Kelas A melarikan diri dengan rasa malu. Teman-teman sekelas Arlan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekaguman yang terpancar dari mata mereka, namun ketakutan jauh lebih mendominasi. Bagi mereka, menantang seorang mahasiswa Kelas A adalah tindakan yang sama saja dengan mengundang malapetaka besar. Arlan tetap duduk dengan tenang, mengabaikan semua perhatian tersebut. Dia mengeluarkan selembar kain kecil dari tasnya dan mulai mengusap permukaan meja kayunya yang berdebu, seolah olah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil seperti lalat yang lewat.

Di depan kelas, Profesor Silas masih bersandar di mejanya, memegang botol minumannya yang aromanya memenuhi ruangan. Dia menatap Arlan dengan mata yang menyipit. Silas menyadari bahwa teknik yang digunakan Arlan tadi bukanlah sihir, melainkan pemahaman mendalam tentang titik saraf manusia. Baginya, melihat seorang anak berusia tujuh tahun memiliki ketenangan dan presisi seperti itu adalah sesuatu yang sangat menarik. Selama sepuluh tahun mengajar di kelas sampah ini, Silas baru kali ini menemukan mahasiswa yang tidak terlihat putus asa meskipun dibuang ke tempat yang paling hina.

"Pelajaran selesai untuk hari ini," ucap Silas tiba-tiba sambil menggebrak meja dengan botolnya. "Kalian semua boleh pergi. Tapi Arlan, tetaplah di sini. Ada tugas tambahan yang harus kamu selesaikan sebagai hukuman karena telah membuat keributan di kelasku."

Mahasiswa lainnya segera mengemasi barang-barang mereka dan keluar dari kelas dengan terburu-buru. Mereka tidak ingin terlibat lebih jauh dalam urusan Arlan maupun Profesor Silas yang eksentrik. Gadis berkacamata tebal yang duduk di barisan depan sempat melirik Arlan sejenak sebelum dia juga melangkah keluar. Kini, hanya tersisa Arlan dan Silas di dalam ruangan yang remang-remang tersebut.

Arlan berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju meja Silas. Dia tidak merasa terancam. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia sering menghadapi situasi hukuman dari atasan atau pengawas, dan dia tahu bahwa ini adalah sebuah kedok untuk sebuah pembicaraan pribadi.

"Tugas apa yang Tuan inginkan dariku?" tanya Arlan dengan suara yang datar.

Silas menenggak minumannya satu kali lagi, lalu dia menunjuk ke arah pintu belakang kelas yang terkunci rapat dengan rantai berkarat. "Gedung ini adalah bangunan tertua di Akademi Astra. Sebelum sistem mana menjadi begitu diagungkan, gedung ini adalah tempat di mana para ksatria tempur dilatih secara fisik. Di balik pintu itu ada sebuah gudang bawah tanah yang sudah tidak digunakan selama puluhan tahun. Tugasmu adalah membersihkan tempat itu sampai tidak ada setitik debu pun yang tersisa."

Silas melemparkan sebuah kunci besi tua yang sudah berkarat ke arah Arlan. Arlan menangkap kunci itu dengan gerakan refleks yang sangat cepat.

"Kenapa harus aku?" Arlan bertanya sambil menatap kunci di tangannya.

Silas terkekeh, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Karena hanya kamu yang memiliki tangan yang cukup kuat untuk membuka kunci yang sudah membeku itu. Pergilah sekarang. Dan jangan kembali ke atas sebelum kamu menemukan sesuatu yang menarik di bawah sana."

Arlan menyadari ada pesan tersembunyi di balik kata-kata Silas. Dia tidak membantah dan segera berjalan menuju pintu belakang. Saat dia memasukkan kunci ke lubangnya, Arlan harus menggunakan sedikit energi dari Gerbang Pertama untuk memutar kunci yang sudah menyatu dengan karat tersebut. Dengan suara derit logam yang memekakkan telinga, pintu itu akhirnya terbuka, memperlihatkan sebuah tangga batu yang menurun menuju kegelapan yang pekat.

Arlan mengambil sebuah lampu minyak tua yang ada di dinding kelas, menyalakannya, dan mulai menuruni tangga tersebut. Udara di bawah sini terasa sangat dingin dan lembap, membawa aroma debu kuno yang sangat pekat. Setiap langkah Arlan menimbulkan gema yang memantul di dinding-dinding batu yang tebal. Setelah menuruni sekitar lima puluh anak tangga, Arlan sampai di sebuah ruangan yang sangat luas.

Ruangan bawah tanah ini ternyata bukan sekadar gudang. Ini adalah sebuah arena latihan kuno. Arlan melihat rak-rak senjata kayu yang sudah lapuk, samsak tinju yang terbuat dari kulit binatang tebal yang sudah mengeras, dan berbagai macam alat pemberat yang terbuat dari batu hitam. Di tengah ruangan, terdapat sebuah lingkaran yang diukir langsung di lantai batu, mirip dengan lingkaran arena pertarungan di Oakhaven namun jauh lebih besar dan memiliki simbol-simbol yang asing bagi Arlan.

"Ini tempat yang luar biasa," gumam Arlan dalam hati.

Dia meletakkan lampu minyaknya di atas sebuah meja batu dan mulai memeriksa sekeliling. Arlan menyadari bahwa ruangan ini memiliki sifat yang sangat unik. Dia mencoba melepaskan sedikit energi dari Gerbang Ketiganya, dan dia terkejut karena energi tersebut tidak menyebar ke luar ruangan. Dinding batu di sini sepertinya telah dilapisi dengan semacam material yang mampu meredam energi fisik dan mana. Bagi Arlan, ini adalah penemuan emas. Di tempat ini, dia bisa berlatih Taijutsu tingkat tinggi tanpa takut terdeteksi oleh para penyihir di gedung utama.

Arlan mulai membersihkan ruangan tersebut sesuai perintah Silas. Namun, dia melakukannya sambil melatih pergerakan kakinya. Dia menyapu debu di lantai dengan gerakan menyapu yang cepat dan presisi, menggunakan setiap gerakan untuk melatih keseimbangan tubuhnya. Di kehidupan lamanya, Adit selalu percaya bahwa efisiensi adalah kunci dari keberhasilan. Menggabungkan pekerjaan membersihkan ruangan dengan latihan fisik adalah bentuk manajemen waktu yang sempurna bagi Arlan.

Setelah bekerja selama dua jam, Arlan berhasil membersihkan area tengah ruangan. Saat dia sedang menggeser sebuah rak senjata yang besar, dia menemukan sebuah celah di dinding batu. Arlan menyinari celah tersebut dengan lampu minyaknya dan menemukan sebuah buku kecil yang sampulnya terbuat dari kulit ular yang masih utuh.

Arlan mengambil buku itu dengan hati-hati. Saat dia membukanya, dia melihat barisan tulisan tangan yang sangat rapi. Isinya bukan tentang sihir, melainkan tentang teknik pernapasan yang mirip dengan apa yang diajarkan kakek tua itu, namun dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Buku itu berjudul "Napas Bumi: Rahasia Kekuatan Tanpa Mana".

"Jadi, inilah alasan kenapa Silas menyuruhku ke bawah sini," ucap Arlan pelan.

Arlan duduk bersila di tengah arena bawah tanah dan mulai membaca bab pertama dari buku tersebut. Penjelasan di dalam buku itu sangat detail mengenai bagaimana cara menyerap energi dari tanah melalui telapak kaki untuk memperkuat kepadatan otot. Ini adalah tambahan yang sempurna untuk teknik Taijutsu nya yang selama ini lebih banyak fokus pada energi internal dari gerbang surgawi. Arlan menyadari bahwa selama ini dia seperti sebuah pohon yang memiliki dahan yang sangat kuat namun akarnya belum cukup dalam. Teknik Napas Bumi ini akan menjadi akarnya.

Dia mencoba mengikuti instruksi di dalam buku tersebut. Arlan melepaskan alas kakinya, membiarkan telapak kakinya bersentuhan langsung dengan lantai batu yang dingin. Dia mulai melakukan pernapasan dalam, membayangkan energinya turun ke bawah, menembus lantai, dan menyatu dengan pondasi bangunan ini. Sesaat kemudian, dia merasakan sebuah getaran lembut yang naik dari lantai menuju kakinya. Getaran itu terasa berat namun sangat stabil.

Arlan terus berlatih hingga dia lupa waktu. Dia merasa tubuhnya menjadi jauh lebih berat, namun berat tersebut bukan berasal dari kelelahan, melainkan dari peningkatan kepadatan massa ototnya. Dia merasa seolah-olah dia adalah bagian dari bumi itu sendiri. Jika seseorang mencoba mendorongnya sekarang, mereka mungkin akan merasa seperti mencoba mendorong sebuah gunung.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari tangga batu. Arlan segera menyembunyikan buku kecil itu di balik pakaiannya dan kembali berakting sedang membersihkan rak senjata. Silas muncul di ujung tangga dengan wajah yang masih terlihat malas.

"Sudah selesai, bocah?" tanya Silas sambil melihat sekeliling ruangan yang sudah jauh lebih bersih dari sebelumnya.

"Sudah, Tuan. Tapi tempat ini sangat luas, butuh waktu lebih lama untuk membersihkan semuanya," jawab Arlan tenang.

Silas berjalan mendekati Arlan, hidungnya mengendus udara di sekitar Arlan. "Baumu berubah. Kamu berbau seperti batu dan tanah sekarang. Sepertinya kamu sudah menemukan sampah yang aku maksud."

Arlan menatap mata Silas dengan berani. "Terima kasih atas tugasnya, Tuan. Saya rasa saya akan sering menghabiskan waktu di gudang ini mulai sekarang."

Silas tertawa pelan dan menepuk bahu Arlan. Tepukan itu terasa sangat berat, seolah olah Silas sengaja menguji kekuatan Arlan. Arlan tetap berdiri tegak tanpa bergeming sedikit pun. Silas mengangguk puas.

"Gunakan tempat ini sesukamu. Kuncinya ada padamu sekarang. Tapi ingat, jangan biarkan siapa pun tahu tentang ruangan ini, terutama anak-anak dari gedung utama. Jika mereka tahu, mereka akan menghancurkan tempat ini karena mereka takut pada apa yang tidak bisa mereka mengerti."

Silas berbalik dan kembali naik ke atas. Arlan menatap punggung gurunya itu. Dia menyadari bahwa Silas adalah orang yang sangat kompleks. Di satu sisi dia terlihat tidak peduli, namun di sisi lain dia sedang membimbing Arlan dengan cara yang sangat halus. Arlan merasa sangat beruntung ditempatkan di Kelas D. Jika dia berada di Kelas A, dia pasti akan selalu diawasi dan tidak akan pernah menemukan tempat latihan yang sesempurna ini.

Malam itu, Arlan kembali ke rumahnya dengan tubuh yang terasa jauh lebih padat. Dia menceritakan pada Elena bahwa dia mendapatkan tugas tambahan dari gurunya, namun dia tidak menceritakan detailnya. Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir dengan rahasia yang dia simpan. Setelah makan malam, Arlan masuk ke kamarnya dan kembali mempelajari buku Napas Bumi.

Dia menyadari bahwa di akademi ini, ada banyak rahasia yang tersembunyi di balik kemegahan sihirnya. Kelas D yang dianggap sebagai tempat pembuangan sampah sebenarnya adalah sebuah harta karun yang terpendam bagi mereka yang tahu cara mencarinya. Arlan bertekad untuk menggunakan semua sumber daya tersembunyi ini untuk mempersiapkan dirinya menghadapi festival musim gugur.

"Julian berpikir dia telah membuang ku ke tempat yang gelap," gumam Arlan sambil memejamkan matanya untuk bermeditasi. "Dia tidak tahu bahwa di dalam kegelapan inilah aku akan tumbuh menjadi monster yang akan melahap cahaya mereka."

Di kehidupan keduanya ini, Arlan belajar untuk tidak pernah meremehkan hal-hal yang terlihat tidak berharga. Karena terkadang, di dalam tumpukan sampah, terdapat permata yang paling murni. Dan Arlan Vandermir baru saja menemukan permata pertamanya di Akademi Astra. Dia siap untuk melanjutkan permainannya, selangkah demi selangkah, menuju puncak tertinggi yang belum pernah dicapai oleh siapa pun sebelumnya.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!