Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Peninggalan Orang Tua.
Kedua mata Lea yang sempat terpejam kembali terbuka, menoleh ke arah pintu yang baru saja menutup pelan. Samuel baru saja keluar meninggalkan ruang rawatnya.
Lea mencabut jarum infus di pergelangan tangannya, turun dari ranjang pasien, kemudian keluar dari ruang rawat dengan satu tujuan: Mengikuti pria yang sudah membunuhnya di kehidupan sebelumnya.
"Mari kita lihat apa yang kau sembunyikan dariku," ujar Lea tanpa nada.
Kilasan kehidupan sebelumnya kembali hadir. Jika sebelumnya ia percaya saja dengan semua yang Samuel ucapkan, hingga ia melakukan segalanya untuk pria itu, kali ini ia tidak akan mengulangi kebodohan itu. Samuel jelas mengambil identitas seseorang yang sudah menyelamatkannya di danau.
"Bagaimana?"
Langkah Lea terhenti di ujung koridor rumah sakit, mendengar suara familiar seorang wanita.
"Dia percaya?"
Suara wanita itu terdengar lagi, Lea mengintip dari balik dinding, menemukan sosok sahabatnya-Sania Sena- bersama Samuel sedang berpelukkan.
"Dia percaya jika aku yang menyelamatkannya. Tapi ..." Samuel menggantung ucapanya, lalu melerai pelukan, sejenak merasa ragu. "Dia sedikit ...berbeda."
"Lea hanya masih syok karena baru saja tenggelam. Kamu tahu jika dia tidak bisa berenang bukan?" ujar Sania.
Samuel mengangguk. "Tapi, siapa yang menyelamatkan Lea? Saat aku tiba tiba di rumah sakit, dia sudah mendapatkan perawatan. Dan kau tahu? Semua biaya rumah sakit sudah dibayar."
Sania mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu. Tapi, bukankah itu bagus? Kamu tidak perlu mengeluarkan satu sen pun uang untuknya. Katakan saja padanya jika kamu yang melakukan semua itu. Dengan begitu, dia akan berhutang budi padamu. Aku yakin, orang itu tidak akan datang lagi, Lea juga tidak mungin mempertanyakan hal ini lebih jauh."
Lea tersenyum samar, lebih ke sebuah lekukan patah penuh rasa kecewa. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak mengetahui fakta ini sama sekali. Ia hanya manjadi gadis penurut yang mengikuti apa yang Samuel katakan. Dan benar, ia merasa berhutang budi. Ditambah dengan cinta palsu serta janji manis pernikahan membuat dirinya tenggelam lebih jauh ke dalam permainan yang sudah mereka berdua ciptakan.
"Nona-... hempth..."
Reflek Lea bergerak cepat, tubuhnya berbalik dan membekap mulut perawat yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya, lalu kembali mengintip dari balik dinding, memastikan dua orang yang ia anggap sahabat itu tidak menyadari keberadaannya.
"Lebih baik aku pergi untuk saat ini, setidaknya kali ini aku sudah tahu bahwa bukan Sam yang menyelamatkanku," batin Lea.
Lea memberi isyarat pada perawat untuk tetap diam yang segera diangguki oleh perawat itu, menurunkan tangannya dari mulut si perawat, lalu menarik si perawat menjauh dengan tanpa suara.
"Ada apa?" tanya Lea datar saat ia sudah kembali ke ruang rawatnya.
"Pergelangan tangan Anda berdarah, Nona," ucap si perawat lembut, meraih pergelangan tangan Lea untuk membersihkan darah yang hampir memenuhi telapak tangan Lea, kemudian menutup bekas jarum infus di pergelangan tangan Lea yang dicabut paksa.
"Apakah darahnya sempat menetes ke lantai?" tanya Lea tanpa ekspresi.
"Ya, tapi sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan," jawab si perawat tenang. "Selesai, Nona," lanjutnya menurunkan tangan Lea.
"Apakah kau ingat ada berapa pria yang sempat masuk ke dalam ruang rawatku sebelum aku sadar?" tanya Lea.
Perawat itu terdiam sejenak untuk mengingat, lalu mengangguk. "Tiga orang."
"Tiga?"
Lea termenung, logikanya bermain. Satu dari tiga pria yang perawat itu sebut jelas adalah Samuel. Itu artinya dua pria tersisa datang bersama. Ia berdiri, melangkah menuju pintu, mengabaikan suara perawat yang meminta dirinya untuk kembali beristirahat dengan satu kalimat datar namun tidak bisa dibantah.
"Aku mau pulang, sekarang."
.
.
.
Lea mengunci pintu dan semua jendela begitu ia tiba rumahnya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, kedua matanya berkaca menatap rumah kedua orang tuanya yang pernah ia tinggalkan di kehidupan sebelumnya. Ia bahkan menjual rumah itu, memilih tinggal di rumah mewah Samuel, dan berakhir dijadikan sapi perah.
Sekarang, rumah itu masih menjadi miliknya. Perasaan rindu tiba-tiba menyeruak, rumah itu masih terlihat sama seperti sebelum ia tinggalkan. Kali ini ia bertekad tidak akan meninggalkan rumah itu apapun yang terjadi.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ponselnya mati. Rusak total karena air. Berdasarkan urutan di kehidupan sebelumnya yang masih ia ingat, dua hari dari sekarang Sania akan datang, memberi ponsel baru dengan imbalan meminta bantuan mengenai skripsi. Sejak saat itulah hidupnya dipermainkan, atau mungkin ...jauh sebelum itu? Ia akan mencari tahu.
Samuel?
Pria itu akan menyatakan perasaannya di akhir acara kelulusan yang akan terjadi tidak sampai satu tahun ke depan, dan menghibur dirinya karena ia mendapatkan nilai jauh di bawah Sania. Ironi yang menyedihkan. Ia yang membuat skripsi sempurna Sania, tapi justru ia yang mendapatkan nilai rendah di akhir ujian.
"Betapa bodohnya," batin Lea tersenyum kecut.
Pintu kamar kedua orang tuanya terbuka. Kamar yang biasa ia gunakan untuk melepas rindu.
Rumah itu tidak besar, tetapi kehangatan di dalamnya masih tertinggal di setiap sudut. Kedua orang tuanya tiada dua bulan lalu dari tanggal hari ini kerena sebuah kecelakaan, dan kini ia tinggal seorang diri.
Tapi sekarang ...ia memiliki satu pertanyaan.
Kedua orang tuanya adalah konsultan bisnis, dan ia memiliki sedikit kemampuan itu. Lalu, dari mana kemampuannya menciptakan racun bisa ia dapatkan?
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak memikirkan itu sama sekali. Tapi, kecepatannya dalam menganalisa sebuah tanaman berada di atas rata-rata. Ia bahkan berhasil membuat obat pembunuh sel kanker menggunakan tanaman beracun- salah satu obat yang sedang ia kembangkan sebelum Samuel membuhuhnya-, dan kemampuan itu tidak hilang setelah ia terlahir kembali.
Lea mengedarkan pandangannya di seluruh kamar kedua orang tuanya, melangkah pelan menuju meja rias sang ibu, kemudian tersenyum getir.
"Andai ...aku bisa bertemu kalian lagi." Lea memejamkan mata, membayangkan wajah kedua orang tuanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam angan saat kedua orang tuanya memeluknya hangat, lalu membuka matanya kembali.
Dan saat itulah Lea menemukan sesuatu.
Di cermin meja rias ibunya -sangat samar, menyatu dengan cermin- ada sebuah panel tersembunyi. Ia menautkan alis, tangannya terlulur, menyentuh panel itu yang ternyata adalah panel sidik jari yang sudah menyimpan sidik jarinya.
Klik.
Dentingan logam lembut terdengar. Detik berikutnya, rak buku yang ada di samping meja rias berderit pelan, lalu bergeser otomatis yang memperlihatkan sebuah pintu berwarna hitam.
"Sejak kapan ..."
Lea tercengang, mendekat ke pintu rahasia yang tidak pernah ia ketahui bahkan di kehidupan sebelumnya. Satu tangannya terulur, menyentuh gagang pintu yang ternyata juga memiliki fitur sidik jari, lalu mendorongnya pelan.
Sensor cahaya menyala tepat setelah pintu menutup sempurna, memperlihatkan ruangan berukuran luas dengan berbagai peralatan dan tanaman yang tidak asing bagi Lea.
Gelas ukur, beaker, erlenmeyer, tabung reaksi, dan semua perlatan super lengkap yang Lea butuhkan untuk sebuah penelitian. Bahkan beberapa sampel daun, bunga, akar dan biji kering juga bisa Lea temukan di sana.
Meja epoxy resin di tengah ruangan dengan neraca analitik (timbangan) di atasnya, meja bufet menempel pada dinding yang memiliki begitu banyak laci penyimpanan, dua ruangan kaca yang berisi tanaman serta cairan kimia yang disusun rapi secara terpisah, serta ruangan khusus bersekat dinding yang memiliki rak buku yang terisi penuh lengkap dengan satu set komputer canggih.
"Ruangan ini ...sejak kapan?"
Lea bergumam dengan campuran rasa bingung, takjub dan tak percaya, memindai setiap sudut ruangan, masuk ke dalam ruangan bersekat dinding dimana komputer berada, lalu menyalakannya yang membuat air mata Lea bergulir tanpa ia minta setelah membaca pesan yang muncul sesaat setelah komputer itu menyala.
"UNTUK PUTRIKU."
. . . .
. . ..
To be continued...