"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."
Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.
"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."
Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.
"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."
"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."
Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI DIBAWA BULAN
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang tenang.
Arsenio terbangun dengan kepala yang terasa jauh lebih ringan. Tidak ada nyeri menusuk seperti kemarin malam. Perlahan ia membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Keyla yang berada sangat dekat dengannya.
Gadis itu tertidur dalam posisi duduk, bersandar di kepala ranjang. Kepalanya terkulai miring ke samping, napasnya teratur. Tangannya... masih menggenggam tangan Arsenio erat-erat. Seolah-olah takut jika dilepas sedikit saja, pria itu akan menghilang.
Arsenio menatap wajah itu dalam-dalam.
Di bawah cahaya pagi, Keyla terlihat sangat cantik. Bulu mata panjangnya yang bergetar sedikit, hidung mancung, dan bibir merah alami. Arsenio menyadari, selama ini ia begitu bodoh karena menutup mata dari keindahan ini.
Ia mengangkat tangannya yang bebas, perlahan menyentuh pipi lembut itu. Kulitnya sehalus sutra.
"Kenapa kau sebaik ini padaku, Keyla..." bisik Arsenio pelan, suaranya bergetar. "Aku sudah menyakiti mu begitu banyak. Aku monster. Aku penjahat. Kenapa kau masih mau ada di sini?"
Jawabannya hanya keheningan.
Arsenio tersenyum pahit. Ia tahu jawabannya. Karena Keyla baik. Karena gadis itu punya hati yang tulus, jauh lebih hangat daripada apa pun yang pernah Arsenio rasakan selama hidupnya.
Tapi justru itu yang membuatnya sakit.
Semakin Keyla baik, semakin Arsenio takut mati.
Ia membayangkan jika ia pergi nanti. Siapa yang akan menjaga gadis ini? Siapa yang akan memastikan dia makan tepat waktu? Siapa yang akan melindunginya dari dunia yang kejam?
Bukan dia. Bukan lagi.
"Maafkan aku..." Arsenio menunduk, mencium punggung tangan gadis itu dengan penuh rasa hormat dan cinta. "Maafkan aku karena harus meninggalkan mu sendirian..."
Tiba-tiba, tangan kecil itu membalas genggamannya.
Mata indah itu terbuka, menatap Arsenio dengan tatapan mengantuk namun lembut.
"Arsen..." panggil Keyla pelan, suaranya serak karena baru bangun tidur. "Kau sudah bangun? Kepala masih sakit?"
Arsenio buru-buru menarik tangannya dan mundur sedikit, memasang tembok dinginnya kembali. Ia tidak boleh terlihat lemah. Tidak boleh.
"Tidak. Aku baik-baik saja," jawabnya singkat, bangkit dari tempat tidur dan berjalan menjauh. "Dan kau... kenapa tidur di lantai? Kotor. Pergi mandi dan ganti baju."
Perubahan sikapnya yang drastis tidak membuat Keyla sedih lagi. Gadis itu justru tersenyum kecil. Ia tahu, itu cara Arsenio menyembunyikan rasa malunya dan rasa takutnya.
"Iya, Tuan Galak," jawab Keyla ceria, berdiri dan merapikan bajunya. "Aku mandi dulu ya. Nanti aku buatin sarapan spesial!"
Arsenio tidak menoleh, tapi bahunya menegang mendengar nada bicara gadis itu yang begitu riang.
'Terserah kau mau apa.' gumamnya dalam hati.
Siang harinya, suasana rumah terasa berbeda.
Biasanya sunyi dan dingin, hari ini terasa hangat. Keyla sibuk di dapur, sesekali bernyanyi pelan lagu-lagu ceria. Arsenio yang duduk di ruang kerja bisa mendengarnya jelas, dan anehnya, rasa sakit di kepalanya jarang kambuh saat mendengar suara itu.
Saat makan siang tiba, meja makan penuh dengan hidangan kesukaan Arsenio.
"Wah, banyak sekali," komentar Arsenio datar, tapi tangannya langsung mengambil sendok dan garpu.
"Harus habis semua ya!" seru Keyla, duduk di hadapan Arsenio sambil menopang dagu, menatap pria itu makan dengan tatapan penuh sayang.
Arsenio berhenti mengunyah. "Kenapa melihatku seperti itu? Ada noda di wajahku?"
"Tidak," Keyla menggeleng cepat, pipinya memerah. "Aku cuma... senang melihat kamu makan. Kamu kurus banget lho. Harus banyak makan biar kuat."
Arsenio menelan ludah. Kata 'kuat' itu terasa menyakitkan. Jika saja Keyla tahu, sekuat apa pun dia makan, penyakit itu tidak akan sembuh.
"Keyla," panggil Arsenio pelan.
"Ya?"
"Kau... tidak ingin pergi jalan-jalan? Atau beli baju baru? Kau kan perempuan, pasti bosan di rumah terus."
Keyla menggeleng tegas. "Enggak mau. Aku mau di sini sama kamu. Di mana pun kamu ada, di situ aku mau."
Jantung Arsenio serasa diremas kuat-kuat.
Ia meletakkan sendoknya. Wajahnya menjadi serius.
"Dengar, Keyla. Suatu hari nanti... andai kata aku tidak ada lagi di sini, kau harus janji sama aku."
Keyla tersentak. Tangannya mengepal di bawah meja. Dadanya sesak mendengar kalimat itu, tapi ia berusaha tetap tersenyum.
"Janji apa?"
"Janji kau akan hidup bahagia. Jangan sedih. Jangan menangisi orang yang tidak pantas untuk ditangisi. Carilah pria yang baik, yang bisa melindungi mu selamanya, yang bisa menua bersama mu..." Arsenio berhenti sejenak, menelan rasa pahit di tenggorokannya. "...yang tidak menyakiti hati mu seperti aku."
Keyla menunduk. Air mata hampir jatuh ke piring, tapi ia mengangkat wajahnya kembali dengan senyum terindahnya yang pernah ia buat.
"Aku janji," kata Keyla, suaranya sedikit bergetar tapi ia kuatkan. "Tapi... aku punya syarat."
"Apa?"
"Kalau aku bahagia nanti, Arsenio juga harus bahagia ya. Di mana pun Arsenio berada... harus bahagia. Jangan sakit-sakit lagi. Janji?"
Keyla mengulurkan jari kelingkingnya ke tengah meja.
Arsenio menatap jari kecil itu. Matanya mulai memanas. Ia tahu ini adalah janji palsu. Janji yang menyakitkan. Tapi ia tidak bisa menolak.
Ia menyentuhkan jari kelingkingnya ke jari Keyla.
"Janji."
Saat jari mereka bersentuhan, seolah ada ikatan tak terlihat yang mengikat mereka berdua selamanya.
Meskipun dunia ini memisahkan tubuh mereka, hati mereka sudah tertanam satu sama lain.
Malam harinya, Arsenio terlihat lebih segar. Mungkin karena obatnya bekerja, atau mungkin karena kehadiran Keyla yang membuat pikirannya tenang.
"Ayo keluar," ajak Arsenio tiba-tiba saat melihat Keyla sedang duduk membaca buku.
"Ke mana? Malam-malam?"
"Ke taman belakang. Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Keyla tidak bertanya lagi. Ia segera mengikuti langkah Arsenio keluar rumah.
Taman belakang itu luas, dipenuhi bunga-bunga yang harum. Langit malam itu cerah, bulan purnama bersinar terang benderang, menerangi seluruh halaman.
Mereka duduk berdampingan di atas bangku kayu di bawah pohon besar.
"Indah ya..." gumam Keyla takjub, menatap langit penuh bintang.
"Ya. Indah," jawab Arsenio. Tapi matanya tidak menatap langit. Matanya terus menatap profil wajah gadis di sampingnya.
Hening yang nyaman menyelimuti mereka. Tidak ada teriakan, tidak ada kata pedas. Hanya ada dua jiwa yang saling mengisi di sisa waktu yang terbatas.
"Keyla,"
"Ya?"
"Kalau aku kasih kau satu permintaan, apa yang mau kau minta?" tanya Arsenio pelan.
Keyla berpikir sejenak. Banyak sekali yang ia inginkan. Ia ingin bebas, ia ingin kaya, ia ingin hidup nyaman.
Tapi saat ia menoleh dan melihat wajah Arsenio yang diterangi cahaya bulan...
"Aku mau..." bisik Keyla, matanya berkaca-kaca namun penuh harap. "Aku mau waktu berhenti. Di detik ini. Selamanya."
Arsenio menahan napas.
"Kenapa?"
"Karena kalau waktu berhenti, Arsenio nggak akan sakit lagi. Kita bakal terus begini. Duduk bareng. Lihat bulan. Dan... Arsenio nggak akan pergi ninggalin aku."
Itu permintaan yang paling sederhana, tapi juga paling mustahil.
Arsenio tidak bisa menahannya lagi.
Ia memutar tubuhnya, menghadap Keyla, lalu dengan perlahan dan penuh keraguan, ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Pelukan yang erat. Pelukan yang seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan yang tersisa di tubuhnya.
"Kau gadis manis, Keyla. Sangat manis..." bisik Arsenio di telinga gadis itu, suaranya pecah. "Tuhan tidak adil ya... Dia kenalkan kau padaku terlalu akhir. Saat sayapku sudah patah dan aku harus terbang turun."
"Jangan bilang gitu..." Keyla memeluk pinggang Arsenio kuat-kuat, membenamkan wajahnya di dada bidang itu, menghirup aroma pria itu dalam-dalam, ingin mengingatnya selamanya. "Aku bersyukur Tuhan pertemukan kita. Walaupun sebentar... itu cukup buat aku ingat seumur hidup."
Mereka duduk seperti itu berjam-jam.
Di bawah sinar bulan.
Di antara bunga-bunga yang harum.
Mereka tahu, esok hari mungkin akan ada air mata. Esok hari rasa sakit mungkin akan datang lagi.
Tapi untuk malam ini...
Biarkan mereka bahagia.
Biarkan mereka merasa dicintai.
Sebelum waktu terus berjalan, dan detik demi detik itu... perlahan menghilang.
'Selamat malam, cintaku.
Terima kasih sudah hadir,
menghiasi sisa hidupku yang gelap.'