Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Godaan Wangi di Balik Kacamata Baca
Malam pertama di kediaman Atala terasa sangat asing bagi Gisel. Rumah ini terlalu sunyi, seolah suara tawa dilarang masuk.
Raka (17 tahun) sudah menghilang sejak makan malam tadi, kabur dengan motor gedenya tanpa pamit. Wajah tampannya yang dingin benar-benar jiplakan Dewa, hanya saja versinya lebih rebel. Sementara
Alya (16 tahun), si cantik yang juteknya minta ampun, langsung mengunci diri di kamar setelah memberikan tatapan "jangan-ganggu-aku" pada Gisel.
Hanya Digo (4 tahun) yang sempat mencium pipi Gisel sebelum tidur. "Tante wangi bunga, Digo suka," bisik bocah manis itu yang membuat hati Gisel meleleh.
Sekarang, pukul 11 malam. Gisel keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambutnya. Ia memakai piyama satin tipis berwarna maroon yang menonjolkan lekuk pinggul dan dadanya. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum white tea andalannya di titik-titik nadi—leher, pergelangan tangan, dan sedikit di belakang telinga.
Di ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka, ia melihat Dewa masih berkutat dengan laptopnya. Pria itu masih memakai kacamata baca. Kemejanya sudah ditanggalkan, menyisakan kaos dalam putih yang memperlihatkan bahu lebar dan otot lengannya yang kokoh.
"Mas Dewa... belum tidur? Atau lagi nungguin aku buat bukain baju?" Gisel bersandar di bingkai pintu dengan gaya yang sangat provokatif.
Dewa tersentak. Kepalanya mendongak, dan untuk beberapa detik, ia terpaku. Mata bulat Gisel yang berponi tampak berkilau terkena cahaya lampu meja. Wangi segar dan rileks dari tubuh Gisel menyerbu masuk ke ruangan yang biasanya bau kopi pahit itu.
"Gisel, pakai pakaian yang benar," suara Dewa parau. Ia berusaha membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak miring.
"Ini udah benar kok, Mas. Bahannya adem, enak buat dipeluk," Gisel melangkah mendekat, sengaja berdiri di samping kursi Dewa sehingga aromanya makin menguar. "Lagian, Mas Dewa nggak capek jadi es batu terus? Liat aku deh, seger kan? Lebih seger dari laporan keuangan Mas, lho."
Dewa menatap Gisel dari bawah ke atas. Tinggi Gisel yang hanya 163 cm membuatnya terlihat mungil di depan Dewa, tapi kepercayaan diri gadis itu sangat besar.
"Saya punya banyak pekerjaan. Keluar," perintah Dewa, meski tangannya diam-diam meremas pinggiran meja.
Gisel membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Dewa. Ia bisa melihat bayangan dirinya di lensa kacamata Dewa. "Oke, aku keluar. Tapi kalau nanti Mas mimpiin aku lagi pakai piyama ini... jangan nyesel ya nggak minta aku tinggal lebih lama."
Gisel mengedipkan mata, lalu berbalik pergi dengan ayunan pinggul yang sengaja diperlambat.
Dewa melepaskan kacamatanya dengan kasar begitu Gisel menghilang. Ia menyandarkan punggungnya yang lebar, menghela napas panjang. Ruangan itu sekarang penuh dengan wangi Gisel—wangi yang sialnya, membuat Dewa merasa rileks untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
"Gadis gila," gumam Dewa, tapi kali ini ada sedikit senyum tipis yang hampir tidak terlihat di bibirnya.
Setelah puas menggoda Dewa yang mematung dengan wajah merah padam, Gisel melenggang keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk yang melilit tubuh mungilnya. Ia sempat mengerling nakal ke arah Dewa sebelum menutup pintu kamar dengan tawa renyah yang tertinggal di udara.
Dewa masih berdiri kaku. Dadanya naik turun, napasnya terasa berat dan panas. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja di sudut kamar, mencoba menenangkan diri.
Namun, ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Dewa menunduk, menatap ke arah pangkal pahanya dan seketika ia memejamkan mata rapat-rapat sambil mengumpat pelan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena marah, tapi karena reaksi tubuhnya yang di luar kendali.
Hampir empat tahun. Hampir empat tahun sejak kepergian Arumi, tubuh bawahnya seolah mati rasa. Tidak ada wanita manapun—sekali pun itu model papan atas atau rekan bisnisnya yang paling cantik—yang sanggup memicu reaksi biologis darinya. Dewa pikir ia sudah "mati" bersama mendiang istrinya.
Tapi kenapa sekarang? Kenapa pada gadis ceplas-ceplos yang baru ia kenal beberapa hari ini?
Sial, hanya karena wangi teh dan kulit basahnya saja aku bisa begini? batin Dewa frustrasi.
Aroma white tea Gisel yang tertinggal di ruangan itu seolah meracuni sistem sarafnya. Bayangan lekuk tubuh Gisel di bawah shower tadi berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Dewa mencoba mengingat wajah Arumi untuk menekan perasaan bersalahnya, tapi anehnya, bayangan mata bulat Gisel yang berponi justru lebih dominan.
Dewa melepas kacamatanya dan meremas rambut hitamnya dengan kasar. Ia merasa seperti pengkhianat, sekaligus merasa tak berdaya menghadapi fakta bahwa Gisel baru saja membangunkan "monster" dalam dirinya yang sudah lama tertidur lelap.
"Hanya reaksi fisik biasa, Dewa. Kamu hanya sudah terlalu lama sendiri," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyangkal kenyataan bahwa gunung es di hatinya—dan tubuhnya—mulai retak karena satu gadis bernama Gisel.
Wah, Dewa benar-benar dalam masalah besar sekarang!