NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harta Karun di Balik Sabuk Mayat

Keheningan kembali menguasai gubuk reyot itu, namun kali ini, keheningan tersebut terasa jauh lebih berat.

Suara hujan yang menghantam atap jerami dan suara angin yang bersiulan melalui celah dinding kayu seolah menjadi satu-satunya tanda kehidupan di dunia ini. Di lantai tanah yang becek, dua tubuh tergeletak tak bergerak. Satu adalah mayat yang mulai dingin, dan satu lagi adalah tubuh hidup yang terasa seperti terbakar dari dalam.

Yang Chen terbaring telentang, dadanya naik-turun dengan cepat dan dangkal. Setiap tarikan napas terasa seperti menyedot serbuk kaca ke dalam paru-parunya. Tulang rusuknya yang patah bergesekan dengan daging lunak di dalamnya setiap kali rongga dadanya mengembang, mengirimkan sinyal rasa sakit yang tajam langsung ke otak.

Tapi dia tidak berteriak. Dia tidak merintih. Dia hanya menggertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya terasa kaku.

Lemah. Terlalu lemah,batinnya mencerca. Membunuh satu semut gemuk ini saja hampir membuat jantungku berhenti berdetak karena kelelahan.

Dia menoleh perlahan ke samping. Lehernya kaku, seolah engselnya berkarat. Matanya menatap tubuh kaku Kasim Liu yang tergeletak hanya satu meter darinya. Darah merah gelap masih merembes perlahan dari lubang di leher gemuk itu, bercampur dengan air hujan dan lumpur hitam, menciptakan genangan kecil yang memantulkan kilatan petir sesekali.

Bau amis darah mulai memenuhi ruangan sempit itu, mengalahkan bau apek jerami basah. Bagi orang biasa, bau ini mungkin akan memicu rasa mual yang hebat. Tapi bagi Yang Chen, bau ini adalah parfum nostalgia. Bau medan perang. Bau kemenangan.

Namun, kemenangan ini membawa masalah baru.

"Mayat ini..." suaranya serak, nyaris tak terdengar di antara deru hujan. "Jika ada yang menemukannya sebelum aku bisa bergerak... tamatlah riwayatku."

Dia harus menyembunyikannya. Tapi bagaimana caranya? Tubuh Zhao Wei ini sangat kurus, mungkin beratnya tidak sampai 50 kilogram. Sementara Kasim Liu adalah pria gemuk yang rakus, beratnya pasti dua kali lipat dari tubuh Yang Chen saat ini. Memindahkannya dalam kondisi sehat saja akan sulit, apalagi dengan tiga tulang rusuk patah dan meridian yang hancur.

Yang Chen memejamkan mata sejenak, mengumpulkan tekad. Dia tidak bisa menunggu sampai pagi. Patroli penjaga mungkin tidak akan datang ke gubuk sampah ini, tapi pelayan lain mungkin akan datang mencari Kasim Liu jika dia tidak kembali ke dapur.

Gerak,perintahnya pada otot-otot kaki yang gemetar.

Dengan susah payah, dia memiringkan tubuhnya. Dia menggunakan siku kanannya—yang kulitnya sudah lecet parah—sebagai tumpuan untuk menyeret tubuh bagian atasnya mendekati mayat.

Satu inci. Dua inci.

Lumpur dingin menempel di pipinya, masuk ke dalam mulutnya yang terbuka sedikit karena terengah-engah. Dia tidak peduli. Martabat seorang Kaisar tidak terletak pada kebersihan pakaiannya, tapi pada keberhasilannya bertahan hidup.

Akhirnya, tangannya menyentuh jubah kasar Kasim Liu. Kain itu basah dan lengket oleh darah.

"Mari kita lihat..." gumam Yang Chen, matanya berkilat dingin dalam kegelapan. "Apa yang kau bawa sebagai upeti untuk Kaisar ini, Kasim Liu?"

Sebelum membuang sampah, seseorang harus memeriksa apakah ada barang berharga di dalamnya. Itu adalah aturan dasar penjarahan.

Tangan kurus Yang Chen mulai meraba tubuh gemuk itu. Jari-jarinya yang dingin dan kaku bergerak menyusuri dada, lalu turun ke bagian pinggang. Dia bekerja dengan efisiensi yang mengerikan, memeriksa setiap lipatan baju, setiap saku tersembunyi.

Tidak ada apa-apa di saku dada. Hanya sapu tangan kotor yang bau ingus. Yang Chen membuangnya dengan jijik.

Dia beralih ke bagian pinggang. Sabuk kain yang melilit perut buncit Kasim Liu terasa tebal. Ada sesuatu yang diselipkan di sana.

Mata Yang Chen menyipit. Dia menarik simpul sabuk itu dengan sisa tenaganya. Simpul itu basah dan licin, sulit dilepaskan. Dia harus menggunakan giginya untuk membantu menarik ujung kain yang keras itu. Rasa asin darah dan lumpur memenuhi mulutnya, tapi dia tidak berhenti sampai simpul itu longgar.

Duk.

Sebuah kantong kecil berwarna cokelat kusam jatuh dari balik sabuk ke tanah. Bunyinya cukup berat. Bunyi logam beradu dengan logam.

Jantung Yang Chen berdegup sedikit lebih kencang. Uang.

Di dunia manapun, baik di Alam Dewa maupun di Dunia Fana, uang adalah sumber daya paling dasar. Tanpa uang, kau tidak bisa membeli obat. Tanpa obat, tubuh rusak ini tidak akan pernah sembuh.

Dia merobek tali kantong itu. Isinya tumpah ke telapak tangannya.

Lima keping koin tembaga dan satu keping perak kecil yang sudah teroksidasi hitam.

"Miskin," cibir Yang Chen, meskipun tangannya menggenggam koin-koin itu dengan erat seolah tak ingin melepaskannya. "Kepala pelayan kerajaan macam apa yang hanya membawa harta sekecil ini?"

Tentu saja, Yang Chen lupa bahwa bagi Zhao Wei—si Pangeran Sampah—satu keping perak ini setara dengan jatah makanannya selama tiga bulan. Ini adalah kekayaan yang luar biasa besar untuk situasi saat ini.

Dia menyimpan koin-koin itu ke dalam balik bajunya sendiri, menempelkannya langsung ke kulit dadanya yang dingin agar tidak tercecer.

Pencarian berlanjut. Tangannya meraba lagi. Kali ini dia merasakan benjolan keras di lengan baju sebelah kiri Kasim Liu.

Dia merogoh ke dalam lengan baju yang lebar itu dan menarik keluar sebuah bungkusan kertas minyak yang sudah agak penyok. Bau harum samar tercium, menembus bau amis darah.

Roti daging.

Itu adalah roti daging sisa, setengahnya sudah digigit, dan sekarang sudah dingin serta agak keras. Tapi bagi perut Yang Chen yang sudah berhari-hari tidak diisi makanan layak, bau daging dan tepung gandum itu lebih menggoda daripada aroma dupa surgawi.

Perutnya berbunyi keras, sebuah protes panjang yang menyakitkan. Asam lambung menggerogoti dinding perutnya.

Tanpa ragu sedikit pun, Yang Chen memasukkan roti sisa gigitan orang mati itu ke dalam mulutnya. Dia tidak peduli akan kebersihan. Dia menggigit besar-besar, mengunyah dengan kasar. Rotinya keras dan dingin, tapi saat menyentuh lidahnya, rasa gurih daging babi cincang yang sudah membeku lemaknya terasa luar biasa.

Dia menelan paksa, membiarkan makanan itu meluncur turun ke perutnya, memberikan sedikit bahan bakar bagi tubuh yang sudah di ambang kematian ini.

Makan. Pulihkan tenaga. Lalu kerja.

Setelah remah terakhir ditelan, dia merasa sedikit energi hangat mulai menyebar dari perutnya. Bukan energi Qi, hanya energi kalori biasa, tapi itu cukup untuk membuatnya tidak pingsan.

Sekarang, tugas berat menanti.

Dia harus memindahkan gunung lemak ini.

Yang Chen melihat ke sekeliling gubuk. Matanya yang tajam menangkap sudut ruangan di sebelah kiri, di mana tumpukan jerami lama ditumpuk tinggi hingga menyentuh dinding kayu yang rapuh. Di bawah tumpukan itu, lantai kayunya sudah jebol, memperlihatkan tanah kosong di bawah struktur panggung gubuk.

Itu tempat persembunyian yang sempurna untuk sementara.

Tapi jaraknya sekitar tiga meter dari posisi mayat.

"Tiga meter..." Yang Chen mendengus. "Dulu aku bisa melintasi seribu mil dalam satu kedipan mata. Sekarang, tiga meter terasa seperti mendaki Gunung Tai."

Dia tidak mencoba mengangkat mayat itu. Itu mustahil. Dia memposisikan dirinya di sisi mayat, menempelkan punggungnya ke perut buncit Kasim Liu.

Dia akan mendorongnya. Menggelindingkannya.

"Satu..."

Dia menancapkan tumit kakinya ke tanah lumpur untuk mencari pijakan.

"Dua..."

Dia menarik napas dalam, menahan rasa sakit di rusuknya yang berteriak protes.

"Tiga!"

Dia mendorong dengan punggung dan kakinya serentak.

Tubuh gemuk itu bergeming sejenak, berat dan lembek seperti karung basah. Tapi kemudian, momentum gravitasi membantu. Mayat itu berguling satu kali.

Bruk.

Hanya setengah meter.

Yang Chen terengah-engah, keringat dingin bercampur air hujan membasahi keningnya. Pandangannya berkunang-kunang hitam. Rasa sakit di dadanya begitu hebat hingga dia harus berhenti selama satu menit penuh hanya untuk mengatur napas agar tidak batuk darah. Jika dia batuk darah sekarang, dia akan kehilangan lebih banyak energi.

Jangan berhenti. Jika berhenti, tubuh ini akan kaku dan tidak bisa bergerak lagi.

Dia menggeser tubuhnya lagi, merapat ke mayat itu lagi.

Dorong. Guling. Berhenti. Napas. Dorong. Guling. Berhenti. Napas.

Proses itu berulang terus menerus, sebuah siksaan lambat yang membosankan dan menyakitkan. Setiap putaran mayat adalah kemenangan kecil. Setiap inci tanah yang dilewati meninggalkan jejak darah yang terseret.

Lima belas menit berlalu. Akhirnya, mayat Kasim Liu sampai di tepi lubang lantai di pojok ruangan.

Yang Chen tidak langsung mendorongnya masuk. Dia memeriksa lubang itu. Gelap. Di bawah sana ada ruang kosong antara lantai panggung dan tanah dasar, penuh dengan sarang tikus dan sampah. Tempat yang sempurna.

Dengan satu dorongan terakhir—kali ini menggunakan kakinya untuk menendang pantat mayat itu—tubuh Kasim Liu meluncur jatuh ke dalam lubang.

Gubrak!

Suara jatuhnya cukup keras, tapi tertutup oleh suara guntur yang menggelegar di langit tepat pada saat yang bersamaan. Surga sepertinya sedang membantu menutupi kejahatan kecil ini.

Mayat itu lenyap dari pandangan, tertelan kegelapan di bawah lantai.

Yang Chen tidak bisa bersantai. Dia merangkak ke tumpukan jerami di dekatnya. Tangannya yang gemetar meraih segenggam besar jerami kering dan apek, lalu melemparkannya ke atas lubang lantai itu, menutupi celah menganga tersebut. Dia menumpuk lagi dan lagi, sampai sudut itu terlihat seperti tumpukan sampah biasa yang tidak tersentuh.

Selesai? Belum.

Jejak seretan darah.

Lantai tanah gubuk itu basah karena atap bocor, dan sekarang ada jalur merah lebar yang membentang dari pintu hingga ke pojok ruangan.

Yang Chen merangkak kembali ke tengah ruangan. Dia mengambil segenggam lumpur basah dari bagian lantai yang terkena air hujan langsung. Dengan gerakan metodis, dia mulai mengoleskan lumpur itu ke atas jejak darah.

Dia mengaduk-aduk tanah, mencampurkan darah dengan lumpur hitam, mengaburkan warna merahnya. Dia mengambil jerami-jerami bekas yang berserakan dan menyebarkannya secara acak di atas jalur tadi untuk menutupi bekas seretan.

Ini bukan pekerjaan yang rapi. Seorang penyelidik ahli pasti akan melihat tanda-tanda pergumulan ini dalam sekali lihat. Tapi Yang Chen bertaruh pada satu hal: Ketidakpedulian.

Tidak ada orang yang peduli dengan gubuk Pangeran Sampah ini. Orang yang datang ke sini hanyalah pelayan rendahan yang malas. Mereka tidak akan meneliti lantai tanah dengan cermat. Selama tidak ada mayat yang terlihat jelas, mereka tidak akan curiga.

Setelah sepuluh menit mengacak-acak lantai, Yang Chen akhirnya ambruk.

Tenaganya benar-benar habis. Habis total.

Dia terbaring di tempatnya semula, di atas tumpukan jerami tipisnya sendiri. Tubuhnya basah kuyup, kotor oleh lumpur, darah, dan sisa makanan. Baunya mengerikan.

Tapi matanya tetap terbuka, menatap langit-langit bocor.

Dia merogoh ke dalam bajunya, merasakan dinginnya keping perak di kulit dadanya. Benda kecil itu memberinya rasa aman yang absurd.

"Langkah pertama selesai," bisiknya pada kegelapan. "Mayat disembunyikan. Harta dijarah. Perut terisi."

Kesadaran mulai memudar. Tubuh Zhao Wei menuntut istirahat untuk memperbaiki kerusakan sel-selnya. Yang Chen tahu dia tidak boleh tidur terlalu lelap, tapi dia tidak punya pilihan. Jika dia tidak tidur, dia akan mati karena syok.

Sebelum matanya benar-benar tertutup, dia membuat satu rencana sederhana untuk besok. Bukan rencana menaklukkan dunia, bukan rencana membalas dendam pada Pangeran Pertama.

Rencananya untuk besok hanyalah: Bangun, dan cari cara untuk keluar dari kompleks istana ini untuk membeli obat dengan satu keping perak ini.

Hujan terus turun, membasuh atap gubuk, menyenandungkan lagu tidur yang suram bagi sang mantan Kaisar yang kini tidur meringkuk seperti udang di antara jerami busuk.

Malam panjang baru saja dimulai.

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!