Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Satu Meja di Kantin Sekolah
"Orang bilang, jarak terdekat antara dua manusia adalah ketika lutut mereka saling bersentuhan di bawah meja yang sama. Nyatanya, jarak setengah meter di meja ini terasa seperti jurang tak berdasar yang tak bisa kulompati. Ragamu ada di depanku, bisa kuraih hanya dengan mengulurkan tangan. Namun hatimu, Rendi... hatimu terkunci di sebuah semesta di mana aku tak diizinkan untuk bernapas." (Buku Harian Keyla, Halaman 46)
Hujan badai mengguyur ibu kota sejak jam pelajaran pertama dimulai. Guntur sesekali menggelegar, membuat kaca-kaca jendela kelas XII-IPA 1 bergetar halus. Cuaca yang sangat buruk ini memaksa seluruh siswa untuk membatalkan niat nongkrong di taman atau lapangan, dan berbondong-bondong menginvasi satu-satunya tempat yang paling hangat dan menyediakan makanan: kantin sekolah.
Bel istirahat kedua baru saja berbunyi lima menit yang lalu, tapi kondisi kantin sudah seperti kapal pecah. Ratusan siswa berdesak-desakan. Hawa panas dari tubuh manusia berpadu dengan uap kuah bakso dan soto yang mengepul dari deretan stan makanan, menciptakan suasana yang sangat sumpek dan bising.
"Gila! Ini kantin apa terminal bus sih? Penuh banget sumpah, gue sampai susah napas!" jerit Bella dengan suara cemprengnya, berusaha mengalahkan suara hujan yang menghantam atap seng kantin. Tangannya sibuk melindungi nampan berisi empat gelas es teh manis agar tidak tersenggol orang-orang yang berlalu-lalang.
Lidya berjalan di depan kami, menenteng nampan besar berisi empat mangkuk bakso urat panas dengan wajah ditekuk. "Udah, jangan banyak omong lo, Bel. Cepetan cari meja kosong! Tangan gue mau putus nih nahan mangkok berat!"
Aku dan Siska berjalan mengekor di belakang mereka. Mataku menyisir seluruh penjuru kantin yang sesak. Dari ujung ke ujung, setiap kursi kayu panjang sudah diduduki. Beberapa anak laki-laki bahkan rela makan sambil berdiri di dekat pilar. Rasanya mustahil menemukan tempat kosong untuk kami berempat.
"Lid, nggak ada yang kosong sama sekali," ucapku setengah berteriak. "Kita makan di kelas aja yuk? Nanti baksonya keburu dingin."
"Nggak boleh bawa mangkok ke kelas, Key, ntar kena omel ibu kantin," potong Siska dengan tenang, matanya di balik kacamata tebal ikut memindai ruangan.
"Eh! Di pojok sana ada yang kosong tuh!" pekik Bella tiba-tiba, telunjuknya mengarah ke sudut paling ujung kantin, tempat yang paling minim cahaya karena lampu neon di atasnya sedang mati.
Mataku langsung mengikuti arah telunjuk Bella. Dan seketika, langkahku terhenti. Napasku tercekat di tenggorokan.
Di sudut itu, terdapat sebuah meja kayu panjang yang menempel ke dinding. Dan di salah satu sudut meja itu, duduklah sesosok laki-laki berseragam lusuh, menyendiri seperti pulau terasing di tengah lautan manusia.
Rendi.
Ia duduk di sana, di tempat yang sama persis seperti beberapa hari yang lalu. Di depannya tergeletak sepotong roti tawar kemasan dan segelas air putih teko. Ia makan dalam diam, kepalanya menunduk, seolah berusaha menjadikan dirinya tak kasatmata agar dunia tidak mengusiknya. Karena sisa meja itu cukup panjang dan tidak ada yang berani mendekatinya, area di sekitarnya menjadi satu-satunya tempat yang kosong di kantin ini.
"Yah... itu kan tempat nongkrongnya si kulkas berjalan," keluh Bella saat menyadari siapa yang duduk di sana. Wajahnya langsung cemberut. "Males banget deh. Masa kita harus duduk sedeket itu sama dia? Hawa kantin udah sumpek, ntar ditambah hawa dingin dari dia, masuk angin beneran gue."
"Udah, nggak ada pilihan lain, Bel!" putus Lidya tak sabar. Tangannya sudah bergetar menahan berat nampan. "Daripada gue numpahin kuah bakso panas ini ke baju lo? Udah ayo buruan ke sana sebelum diambil orang!"
Lidya langsung berjalan menerobos kerumunan menuju meja di sudut itu. Aku menelan ludah dengan susah payah. Kakiku terasa berat bagai dipasangi pemberat besi. Duduk satu meja dengan Rendi? Di saat jarak satu kelas saja sudah membuat dadaku sesak bukan kepalang? Bagaimana aku bisa menelan makananku jika aku harus mendengar suara napasnya dari jarak sedekat itu?
Siska menyentuh lenganku pelan. "Ayo, Key. Jangan diam aja," ucapnya dengan senyum simpul yang sulit kuartikan. Siska berjalan mendahuluiku, menyusul Lidya dan Bella. Mau tak mau, aku melangkah mengikuti mereka dengan debar jantung yang bertalu-talu.
Sesampainya di meja itu, Lidya meletakkan nampan baksonya dengan suara dentingan keras yang tak sengaja berbunyi.
Brak.
Rendi yang sedang mengunyah rotinya langsung tersentak. Ia mengangkat wajahnya dengan cepat. Mata kelamnya yang tajam menatap tajam ke arah kami berempat. Keningnya langsung berkerut dalam, memancarkan raut ketidaksukaan yang begitu jelas.
Rahangnya mengeras seketika. Tubuhnya yang tadinya sedikit membungkuk, kini menegang kaku, seolah ia adalah seekor serigala penyendiri yang wilayah teritorialnya baru saja diinvasi paksa oleh sekawanan manusia tak diundang.
"Eh, sorry ya, Ren. Kita numpang duduk di sini. Meja lain penuh semua," ucap Lidya dengan nada sedikit tak acuh, tanpa menunggu persetujuan dari pemilik meja itu.
Lidya langsung duduk di kursi panjang yang berhadapan dengan Rendi. Bella duduk di samping Lidya. Siska mengambil tempat di kursi yang sama dengan Rendi, menyisakan ruang yang cukup jauh. Dan karena tak ada pilihan lain, aku harus duduk di samping Siska.
Posisi ini sangat mematikan. Aku duduk secara diagonal darinya. Jarak kami tidak lebih dari setengah meter. Jika aku sedikit saja memutar kepalaku ke kiri, aku akan langsung berhadapan dengan sisi wajahnya.
Aku menunduk dalam-dalam, mengatur napas agar tidak terdengar bergetar. Aroma sabun cuci batangan murah dan wangi hujan yang menempel di jaket tipisnya langsung menyeruak masuk ke indra penciumanku, mengaburkan aroma kaldu bakso di depanku.
Rendi tidak merespons ucapan Lidya. Ia tidak menyuruh kami pergi, tapi ia juga tidak menyambut kami. Ia hanya memalingkan wajahnya kembali ke arah dinding, menatap kosong ke depan. Namun aku bisa melihat bagaimana tangannya yang memegang roti tawar itu mencengkeram plastiknya sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Kehadiran kami membuatnya sangat tidak nyaman. Ia merasa terkurung.
"Selamat makan, guys!" seru Bella riang, berusaha mencairkan suasana canggung yang sangat pekat di meja itu. Ia meracik baksonya dengan banyak sambal dan kecap, sama sekali tidak peduli pada kehadiran Rendi di sudut sana.
Siska merapikan sendok dan garpunya dengan anggun. "Kamu nggak pakai saus, Key?" tanyanya lembut padaku.
"N-nggak, Sis. Gini aja udah enak," jawabku pelan.
Aku mengambil sendok dan mengaduk bakso di depanku tanpa selera. Telingaku seolah tuli dari obrolan Lidya dan Bella. Seluruh fokusku tersedot pada laki-laki di ujung meja.
Dari sudut mataku, aku memperhatikannya. Ia memakan roti tawar itu dengan gigitan-gigitan kecil. Rotinya terlihat sangat kering, seret saat tertelan melewati kerongkongannya. Sesekali ia harus meneguk air putih dari gelas plastiknya agar makanannya bisa masuk. Urat di lehernya terlihat setiap kali ia menelan.
Lapar. Ia pasti sangat lapar. Ia bekerja keras setiap malam, memanggul beban berat, namun hanya ini yang bisa ia berikan untuk perutnya sendiri.
Mangkuk baksoku yang penuh dengan bulatan daging sapi lezat, tahu, dan mi kuning, tiba-tiba terlihat seperti sebuah penghinaan besar baginya. Bagaimana mungkin aku bisa mengunyah daging yang empuk ini, sementara laki-laki yang kucintai harus bertarung dengan roti murahan itu di sampingku?
Tanganku bergetar. Ingin rasanya aku menggeser mangkukku ke arahnya. Ingin rasanya aku berkata bahwa aku sudah kenyang dan memintanya menghabiskan makananku. Namun, aku tahu itu akan menjadi bencana. Rendi membenci rasa kasihan. Melakukan hal itu di depan Lidya, Bella, dan Siska, sama saja dengan menginjak-injak harga dirinya hingga hancur lebur.
Aku hanya bisa menahan tangisku, menelan sepotong bakso kecil yang terasa bagai menelan pecahan kaca di tenggorokanku.
Tiba-tiba, Siska yang duduk di antara aku dan Rendi, meletakkan sendoknya. Siska mengambil sesuatu dari dalam saku seragamnya. Sebuah kotak bekal kecil transparan yang berisi beberapa potong nugget ayam premium yang digoreng kecokelatan.
"Duh, aku kenyang banget. Tadi pagi udah sarapan nasi goreng di rumah," ucap Siska dengan suaranya yang lembut dan mengalun.
Siska lalu menoleh ke arah Rendi. Ia menggeser kotak bekal kecil itu melintasi meja, mendorongnya hingga berhenti tepat di dekat gelas air minum Rendi.
"Rendi," panggil Siska ramah. Senyum malaikatnya terkembang sempurna.
Rendi menghentikan kunyahannya. Ia menoleh perlahan, menatap Siska dengan tatapan yang sangat datar. Matanya lalu turun menatap kotak bekal berisi nugget ayam mewah itu.
"Kamu mau nugget ini?" tawar Siska dengan nada yang seolah-olah sangat polos dan tulus. Namun bagi telingaku yang mulai memahami karakter sahabatku ini, ada nada superioritas yang sangat menjijikkan di balik kelembutannya.
Siska melanjutkan, "Aku bawa bekal dari rumah, tapi porsi baksoku aja udah kebanyakan. Daripada nugget-nya sisa dan kebuang mubazir, mending buat kamu aja. Kamu pasti lapar kan cuma makan roti kering kayak gitu? Ambil aja, anggap aja rezeki tambahan."
Seketika, hawa dingin yang luar biasa pekat membekukan seluruh meja kami. Obrolan Bella dan Lidya terhenti. Mereka menatap Rendi dan Siska bergantian.
Jantungku serasa melompat dari rongga dadaku. Ya Tuhan, Siska! Apa yang kau lakukan?! jeritku dalam hati. Siska tidak sedang berbagi. Siska sedang menghinanya. Kata-kata "daripada sisa", "kebuang mubazir", dan "cuma makan roti kering", adalah pedang bermata dua yang sengaja Siska tusukkan tepat ke titik terlemah Rendi: kemiskinannya.
Aku menoleh ke arah Rendi dengan napas tertahan.
Rahang laki-laki itu mengeras sedemikian rupa hingga bunyi kertakan giginya nyaris bisa terdengar. Dada bidangnya naik turun dengan ritme yang lebih cepat, menahan emosi yang meledak-ledak di dalam sana. Mata kelamnya yang menatap nugget itu kini berkilat penuh dengan amarah, kebencian, dan harga diri yang dikoyak-koyak secara halus di depan publik.
Rendi benci dikasihani. Terlebih lagi jika rasa kasihan itu diberikan dalam bentuk sisa makanan yang tidak diinginkan oleh orang kaya.
Ia memalingkan wajahnya, menatap lurus tepat ke dalam mata Siska. Tatapannya begitu mematikan hingga Siska yang terbiasa bersikap tenang pun sedikit tersentak mundur di kursinya.
"Ambil kembali," suara Rendi keluar dari celah bibirnya. Sangat rendah. Sangat serak. Dan begitu menusuk tulang.
"Loh, kenapa, Ren?" Siska mencoba mempertahankan senyumnya, meski kali ini terlihat sedikit kaku. "Ini ayam beneran kok, bukan ayam murahan. Aku cuma nawarin niat baik, daripada dibuang, ya kan?"
"Saya bilang, ambil kembali," ulang Rendi, kali ini dengan penekanan pada setiap suku katanya. Matanya menatap Siska dengan kebencian yang mendalam. "Saya memang miskin. Tapi saya bukan anjing jalanan yang bisa kamu beri makanan sisa hanya agar kamu merasa jadi pahlawan kesiangan."
Lidya meletakkan sendoknya dengan keras ke dalam mangkuk. Darahnya mulai mendidih demi membela sahabatnya. "Woi, Ren! Jaga omongan lo ya!" bentak Lidya dengan nada tinggi. Beberapa siswa di meja terdekat mulai menoleh ke arah kami. "Siska tuh niatnya baik nawarin lo lauk! Kalau lo nggak mau, tinggal bilang makasih, nggak usah bawa-bawa anjing segala! Udah miskin, arogan pula lo!"
"Lidya, stop!" potongku cepat. Suaraku bergetar hebat. Aku menahan lengan Lidya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca memohon agar ia tidak memperkeruh suasana. "Tolong, Lidya... jangan ribut di sini."
"Tapi dia udah kurang ajar sama Siska, Key! Siska cuma nawarin makanan doang!" timpal Bella ikut emosi.
"Udah, Bel, Lid. Nggak apa-apa," Siska menengahi dengan nada suara yang dibuat sedikit bergetar, memerankan sosok korban dengan sangat sempurna. Ia menarik kembali kotak bekalnya dengan gerakan pelan yang seolah menyiratkan kesedihan. "Mungkin Rendi tersinggung. Maaf ya, Ren. Aku nggak bermaksud ngerendahin kamu. Aku beneran cuma nawarin."
Drama yang diciptakan Siska begitu sempurna. Di mata Lidya, Bella, dan orang-orang yang melihat dari luar, Siska adalah gadis berhati malaikat yang tulus berbagi, namun ditolak dengan kejam oleh laki-laki miskin yang tidak tahu diuntung.
Namun di mataku, Siska baru saja membunuh separuh jiwa Rendi.
Rendi tidak membalas lagi. Ia tidak berniat membenarkan dirinya di depan orang-orang yang sudah memiliki prasangka buruk padanya sejak awal. Baginya, berdebat dengan gadis-gadis manja ini hanya akan merendahkan martabatnya lebih jauh lagi.
Dengan gerakan kasar, ia memasukkan sisa setengah potong rotinya ke dalam mulut, menjejalkannya meski ia kesulitan mengunyahnya. Ia menenggak habis sisa air putih di gelasnya. Lalu, dengan sekali entakan kuat yang membuat meja kayu kami sedikit bergetar, ia bangkit berdiri.
Ransel bututnya ia tarik dari kursi. Ia tidak menatap salah satu dari kami, tak terkecuali aku. Ia membuang muka, menganggap meja ini beserta seluruh manusia di dalamnya sebagai sebuah kotoran yang harus segera ia hindari.
Ia berjalan meninggalkan meja itu dengan langkah panjang-panjang, setengah berlari, menembus kerumunan siswa yang berdesakan di kantin. Punggungnya yang tegap perlahan menjauh, namun aku bisa melihat betapa kaku dan tegangnya otot bahunya. Ia pergi membawa rasa lapar yang belum tuntas, dan harga diri yang kembali berdarah.
Aku mematung di kursiku. Air mataku akhirnya tumpah, menetes tak tertahankan jatuh ke dalam pangkuanku.
"Di meja ini, lutut kita nyaris bersentuhan, wangi hujan di jaketmu mengalahkan aroma makananku. Namun, kau lebih memilih pergi dengan perut yang masih merintih kelaparan, karena berada di dekat kami ternyata lebih menyiksamu daripada rasa lapar itu sendiri." (Buku Harian Keyla, Halaman 48)
"Gila tuh cowok! Bener-bener sakit jiwa!" gerutu Bella sambil menatap kepergian Rendi dengan jijik. "Udah untung dikasih makanan mewah, malah ngamuk. Orang miskin emang kadang nggak tau diri ya."
"Udah, biarin aja. Nggak usah dibahas lagi, ngerusak selera makan aja," rutuk Lidya, kembali menyuapkan baksonya dengan emosi. Lidya menoleh ke arahku dan mengerutkan kening. "Loh, Key? Lo kok nangis? Lo takut ya gara-gara dia nggebrak meja tadi?"
Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, menyembunyikan isakanku dengan punggung tangan. "A-aku nggak apa-apa, Lid. Kelilipan debu doang."
Siska menggeser duduknya mendekat padaku. Ia merangkul bahuku, membelai punggungku dengan gerakan menenangkan.
"Udah, Keyla, jangan nangis," bisik Siska lembut di telingaku. "Sekarang kamu lihat sendiri kan buktinya? Dia itu kasar. Dia penuh kebencian. Kamu nggak akan pernah bisa ngerubah cowok yang mentalnya udah miskin kayak gitu. Kalau kamu terus-terusan maksain diri buat ngarepin dia, suatu saat nanti kamu bakal diperlakukan seburuk aku tadi. Apa kamu mau disakitin sama cowok yang nggak tau cara menghargai perempuan?"
Bisikan Siska terasa seperti bisa ular kobra yang disuntikkan langsung ke nadiku. Sangat mematikan. Namun, di balik air mataku yang mengalir deras, ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari manipulasi Siska.
Di dalam hatiku, logika dan empatiku bertarung hebat. Ya, Rendi memang kasar. Kata-katanya tajam. Sikapnya dingin. Tapi siapa yang tidak akan menjadi kasar jika dipaksa menelan penghinaan setiap harinya? Siapa yang tidak akan membangun dinding es jika dunia selalu melempari rumahnya dengan batu?
"Siska..." gumamku pelan, suaraku nyaris tak terdengar karena tertahan oleh isakan tangis.
"Iya, Key?"
Aku mengangkat kepalaku, menatap Siska dengan mata yang basah. "Nggak semua orang... nggak semua orang punya kemewahan buat bersikap manis, Sis."
Siska tertegun. Senyumnya lenyap sejenak. Tangannya yang merangkulku sedikit menegang.
"Maksud kamu?" tanyanya dengan nada yang sedikit lebih dingin.
"Dia nolak nugget kamu bukan karena dia arogan," suaraku bergetar membelanya, tak sanggup lagi membiarkan Rendi disalahpahami oleh orang-orang terdekatku. "Dia nolak karena dia merasa dihina. Cara kamu nawarin makanan itu... kayak ngasih sedekah sisa. Siapa pun pasti akan tersinggung."
Mata Siska melebar di balik kacamatanya. Lidya dan Bella juga menghentikan makan mereka, menatapku dengan terkejut. Seumur hidupku bersahabat dengan mereka, aku tidak pernah membantah Siska. Aku adalah Keyla yang penurut, yang lugu, dan yang selalu mengiyakan argumen sahabatku.
Namun hari ini, melihat laki-laki yang kucintai dipaksa pergi dari mejanya sendiri dengan perut yang belum kenyang, membuat kepolosanku menguap seketika.
"Keyla, lo kok malah belain cowok kurang ajar itu sih?!" protes Lidya dengan wajah memerah tak terima. "Siska tuh nyoba baik sama dia! Lo kenapa jadi buta banget gara-gara cinta monyet lo ini?!"
Siska menarik napas panjang. Wajahnya yang damai kini berubah menjadi sangat serius dan terluka. Ia menarik tangannya dari bahuku.
"Kalau kamu menganggap niat baikku sebagai penghinaan, ya sudah," ucap Siska dengan suara yang bergetar hebat, memainkan peran sebagai sahabat yang hatinya dikhianati. "Aku cuma berusaha membuktikan padamu bahwa laki-laki yang kamu puja-puja itu nggak lebih dari seorang bajingan yang menutupi rasa mindernya dengan amarah. Tapi kalau kamu lebih memilih belain dia daripada sahabatmu sendiri... aku kecewa sama kamu, Keyla."
Siska bangkit dari kursi. Tanpa memakan sisa baksonya, ia mengambil tasnya dan berjalan pergi meninggalkan kantin. Bella dan Lidya menatapku dengan pandangan menuduh yang sangat tajam, penuh dengan kekecewaan.
"Lo kebangetan, Key. Sumpah," desis Lidya, sebelum ia dan Bella akhirnya ikut berdiri dan menyusul Siska, meninggalkanku sendirian di meja sudut yang gelap itu.
Aku tertunduk di meja yang kini kosong. Mangkuk baksoku sudah dingin, kuahnya membeku. Tangisku pecah, bahuku berguncang hebat di tengah hiruk-pikuk kantin yang riuh.
Satu per satu, hal-hal yang berharga dalam hidupku mulai runtuh. Persahabatanku yang kubangun sejak SMP mulai retak, dan jarakku dengan Rendi justru semakin melebar seiring dengan usahaku memahaminya.
Aku menyentuh permukaan meja kayu yang tadi digunakan Rendi untuk meletakkan rotinya. Di meja ini, kami duduk sangat dekat. Namun di meja ini pula, aku menyadari bahwa cinta pertama tak selalu membawa kebahagiaan. Terkadang, ia hanya membawa derita yang mengharuskanmu memilih antara dunia tempatmu berasal, dan dunia gelap yang sangat ingin kau terangi.
"Aku membiarkan sahabat-sahabatku pergi meninggalkanku hari ini, Rendi. Karena jika mempertahankan mereka berarti aku harus ikut menghinamu, maka biarlah aku sendirian. Biarlah aku kehilangan duniaku, asalkan aku tak pernah kehilangan rasa hormatku pada luka-lukamu." (Buku Harian Keyla, Halaman 49)
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik