NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Jaring-Jaring Manipulasi

​Pagi belum sepenuhnya merekah di Toronto, namun Cassian sudah berada di kursi belakang Rolls-Royce miliknya, menembus kabut tipis menuju ke pinggiran kota. Di tangannya, sebuah map dokumen tebal berisi hasil investigasi mendalam yang baru saja diserahkan oleh tim intelijen privatnya semalam.

​Cassian membalik halaman demi halaman dengan senyum sinis yang mengembang di wajah tegasnya.

​Keluarga Winston ternyata jauh lebih kotor dari yang terlihat di permukaan. Aliansi bisnis yang digembar-gemborkan oleh ayahnya, Alexander Noir, sebenarnya hanyalah jebakan batman. Ayah Rebecca, sang taipan perhotelan itu, diam-diam mengalami krisis likuiditas akut di beberapa proyek Eropa mereka dan sangat mengincar suntikan dana segar dari aset Noir Enterprises. Perjodohan ini adalah taktik mereka untuk menyedot harta keluarga Noir dari dalam.

​Namun, kejutan terbesarnya bukan itu.

​Mata elang Cassian tertuju pada lembaran foto-foto rahasia yang diambil di sebuah griya tawang (penthouse) mewah di kawasan Yorkville. Di sana, tertangkap jelas foto-Rebecca Winston sedang berada dalam dekap hangat seorang pria yang sangat familier bagi Cassian: Julian Vance.

​"Hubungan mereka sudah berjalan hampir dua tahun, Tuan Noir," Kevin menjelaskan dari kursi depan, memecah keheningan kabin. "Julian Vance dan Rebecca Winston sebenarnya adalah sepasang kekasih di balik layar. Pertemuan mereka di London selama Rebecca menempuh gelar master bukan sekadar kebetulan. Mereka sengaja merancang ini. Jika Rebecca berhasil menikah dengan Anda, Julian akan menggunakan akses itu untuk membalas dendam atas hancurnya perusahaan Vance kemarin, sekaligus menggerogoti aset Noir dari dalam melalui Rebecca."

​Cassian menutup map dokumen itu dengan dentuman pelan. Rahangnya mengeras, namun sepasang matanya justru berkilat penuh kepuasan.

​"Dua tikus kecil yang mencoba bermain di sarang singa," desis Cassian rendah. "Mereka pikir mereka bisa memanfaatkan aturan kolot ayahku untuk menjebakku."

​Kini, kepingan teka-teki di kepala Cassian sudah lengkap. Ia tidak hanya harus menyelamatkan takhta warisannya dari ambisi Alexander, tetapi ia juga harus menghancurkan konspirasi menjijikkan antara Rebecca dan Julian. Dan kunci dari semua kontra strategi ini tetap sama: ia harus memiliki status pernikahan legal secepatnya, dengan wanita yang sama sekali berada di luar lingkaran intrik mereka. Wanita yang tidak bisa disuap oleh Winston maupun Vance.

​Aisya adalah satu-satunya jawaban.

​"Kita hampir sampai di lokasi, Tuan," ujar Kevin saat mobil mulai melambat di depan sebuah bangunan bata merah yang tenang di sudut Downtown—kantor cabang otoritas keagamaan yang terintegrasi dengan Islamic Centre kota.

​Cassian merapikan kerah kemeja hitamnya, memakai kacamata hitam, lalu melangkah keluar dari mobil. Di dalam saku jasnya, dokumen investigasi tentang Rebecca dan Julian tersimpan rapi, siap menjadi senjatanya jika Alexander mulai mendesaknya lagi.

​Namun sebelum itu, ia harus menyelesaikan "transaksi" pertamanya di tempat ini: mengenakan topeng keyakinan baru demi mendapatkan sertifikat legalitas yang ia butuhkan untuk menjerat Aisya ke dalam perlindungannya.

​Langkah tegap Cassian membawa dirinya memasuki aula utama Islamic Centre. Suasana di dalam gedung bata merah itu begitu tenang, kontras dengan gemuruh intrik korporat yang baru saja ia tinggalkan di luar. Beberapa staf dan pengurus yayasan tampak sedang beraktivitas, memandang canggung sekaligus segan pada sosok pria asing berjas mahal yang baru saja melangkah masuk dengan aura dominan yang begitu pekat.

​Cassian melepaskan kacamata hitamnya, menyerahkannya pada Kevin yang setia mengekor di belakang.

​"Tuan Noir, Imam Besar lembaga ini sudah menunggu di ruang pertemuan utama," bisik Kevin, mengarahkan bosnya menuju sebuah ruangan dengan pintu kaca buram.

​Namun, tepat saat pintu kaca itu dibuka dari dalam, langkah Cassian mendadak terhenti. Sepasang mata elangnya sedikit melebar.

​Di dalam ruangan tersebut, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah rapi—Imam Abdulaziz, seorang pemuka agama berdarah Somalia yang sangat dihormati di Toronto karena kebijaksanaan dan suaranya yang lantang. Namun, yang membuat pasokan udara di sekitar Cassian mendadak menipis adalah keberadaan para wanita di sudut ruangan.

​Di sana, istri sang imam yang bernama Khadija sedang duduk berbincang hangat bersama Aisya dan beberapa gadis muslimah sebaya lainnya. Tampaknya mereka baru saja menyelesaikan kelas kajian pagi. Begitu menyadari kehadiran Cassian, binar mata Aisya di balik niqab hitamnya seketika menegang penuh keterkejutan. Ada kilat kebingungan yang sangat besar di sana. Untuk apa seorang miliarder angkuh seperti Cassian Noir mendatangi kantor administrasi lembaga keagamaan sepagi ini?

​"Selamat pagi, Tuan Noir," sapa Imam Abdulaziz dengan suara baritonnya yang ramah namun penuh wibawa. "Sekretaris Anda, Tuan Kevin, mengatakan ada urusan personal yang teramat mendesak yang ingin Anda konsultasikan dengan saya?"

​Cassian menguasai emosinya dalam sekejap. Ia melirik Aisya sekilas, lalu kembali menatap Imam Abdulaziz dengan wajah yang teramat tenang, tanpa riak ragu sedikit pun.

​"Benar, Imam Abdulaziz," ujar Cassian, suaranya berat dan bergema di dalam ruangan yang sunyi. "Saya di sini bukan untuk urusan donasi atau bisnis Noir Enterprises. Saya di sini untuk diri saya sendiri. Saya ingin menyatakan ketertarikan saya secara resmi untuk memeluk keyakinan ini."

​Deg.

​Pena di jemari Aisya seketika terlepas dan berdenting di atas meja. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Ia mendongak, menatap Cassian dengan pandangan tidak percaya. Khadija dan gadis-gadis muslimah di samping Aisya pun langsung saling berpandangan dengan wajah terkejut sekaligus takjub.

​Seorang pria yang begitu memuja logika kekuasaan dan kemewahan dunia, mendadak datang untuk berserah diri? Pikiran Aisya berputar hebat antara rasa syukur yang membuncah sebagai seorang muslimah, dan rasa sangsi yang mendalam akan motif di balik tindakan pria itu.

​Imam Abdulaziz tersenyum lebar, wajahnya memancarkan ketulusan yang mendalam. "Masha Allah... ini adalah hidayah yang luar biasa dari Allah. Jika Anda memang mengucapkannya dari lubuk hati yang paling dalam tanpa paksaan, kami dengan penuh sukacita akan menuntun Anda."

​Imam Abdulaziz segera meminta tiga orang staf pria (ikhwan) yang berada di koridor untuk masuk ke dalam ruangan sebagai saksi resmi. Sementara itu, Khadija, Aisya, dan para muslimah lainnya perlahan berdiri, bergeser ke sudut belakang ruangan demi menjaga batas jarak, namun tetap bersiap menjadi saksi atas momen sakral tersebut.

​Cassian berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh Imam Abdulaziz dan para saksi pria. Dari posisinya, Cassian bisa melihat pantulan bayangan Aisya dari dinding kaca di hadapannya. Gadis itu berdiri diam di samping Khadija, menunduk dengan jemari yang saling bertautan erat di depan dada—tampak begitu khusyuk menyaksikan prosesi ini.

​"Ikuti kata-kata saya dengan mantap, Tuan Noir," ujar Imam Abdulaziz lembut namun berwibawa.

​Cassian menarik napas dalam-dalam. Di dalam kepalanya, ia tahu ini adalah langkah catur terbaiknya untuk menghancurkan rencana busuk Rebecca dan Julian, sekaligus mengamankan takhta warisannya. Namun, saat sepasang mata elangnya mengunci pandangan pada lafal yang diucapkan sang imam, ada getaran asing yang aneh di dadanya.

​"Asyhadu an laa ilaaha illallah..." Imam Abdulaziz menuntun.

​"Asyhadu an laa ilaaha illallah..." Cassian menirukan, suaranya yang bariton terdengar bergetar namun tegas, menggema di seluruh ruangan.

​"Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah."

​"Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah," ucap Cassian mutlak.

​"Saksi? Sah?" tanya Imam Abdulaziz pada orang-orang di ruangan.

​"Sah! Alhamdulillah," sahut para saksi serempak dengan nada haru. Khadija dan para muslimah sebayanya di belakang mengucap hamdalah dengan lirih, sementara Aisya perlahan memejamkan matanya, merasakan desiran aneh yang mendalam di lubuk hatinya.

​Cassian Noir kini telah resmi mengantongi status hukum baru di dunianya. Setelah prosesi selesai, Khadija membantu mengambilkan berkas sertifikat mualaf resmi dan menyerahkannya kepada Aisya untuk dicatat nomor registrasinya. Saat Cassian melangkah maju ke meja administrasi untuk menandatangani berkas tersebut, pandangan mereka bertemu sejenak. Cassian menatapnya dengan binar mata yang penuh kemenangan tersembunyi—sebuah tanda bahwa jaring-jaring manipulasinya kini telah siap ditarik untuk mengunci Aisya ke dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!