Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyihir Gila vs Penyihir Pemetik Kembang
Pria paruh baya tersebut sama sekali tidak menyadari kehadiran Samudra maupun energi sihir yang di miliki Samudra, karena semenjak keluar dari Jurang Hantu Samudra selalu mengaktifkan Teknik Raga Kosong di mana pengguna teknik ini membuat energi sihirnya sangat sulit di rasakan.
Samudra berdiri di balik tembok mengamati apa yang hendak di lakukan pria itu.
Pria itu tampak duduk tolah toleh di jalanan sekitar sambil memegangi dadanya.
Samudra melihat dua kembang desa yang berjalan dari kejauhan, dan seketika itu juga Samudra melihat senyuman seringai yang terukir di wajah pria itu.
Dua kembang desa itu sangat cantik, mereka mengenakan kebaya kuning dan putih. di rambut mereka terselip bunga mawar yang semakin menambah kecantikannya.
Posisi dua kembang desa itu semakin dekat dengan posisi pria paruh baya itu.
Samudra melihat pria itu berpura pura sedang kesusahan, ia tampak memegang dadanya dan memasang ekspresi kesakitan.
Samudra tidak langsung bertindak, ia ingin mengamati lebih lanjut tentang apa yang hendak di lakukan pria tersebut.
Ketika dua kembang desa itu melintas, pria tersebut bertanya, "Nak, apakah kalian tau di mana rumah Mbok Rondo?" Tanya pria tersebut dengan suara yang di buat lirih seolah kelelahan.
"Maaf Tuan, kami tidak tau." Jawab salah satu kembang desa.
"Oalah! Padahal sudah susah payah aku ke desa ini, Mbok Rondo sebenarnya dimana kamu?" Ucap Pria itu yang menarik simpati kedua kembang desa itu.
Keduanya merasa iba melihat seorang pria paruh baya yang tampak kesakitan di bagian dadanya, ucapan pria itu terdengar pilu dan mampu membuat kedua wanita itu luluh.
"Bagaimana kalau kita kerumah kepala desa, mungkin beliau tau dimana rumahnya." Ucap salah satu kembang desa.
"Terimakasih nak, melihat kalian aku jadi teringat dengan anakku." Ucap pria itu terharu.
Mereka berdua yang kasihan segera menghantarkan pria itu menuju ke rumah kepala desa.
Pria itu menyeringai semakin lebar...
Pria ini adalah Mahesapati, ia dikenal sebagai Penyihir Pemetik Kembang, sesuai julukannya yaitu Pemetik Kembang. Mahesapati menganut sihir hitam di mana ia harus menodai kembang desa atau wanita paling cantik di suatu desa untuk memperkuat sihir hitamnya, semakin banyak dia menodai kembang desa maka semakin kuat dan besar energi sihirnya..
Samudra pun mengikuti mereka diam-diam.. Samudra saat ini tidak tau niat sebenarnya dari Mahesapati, oleh karena itu ia tidak langsung menyerang apalagi saat ini berada di keramaian, Samudra tidak ingin menarik perhatian banyak orang dengan wujud barunya.
Sembari menuju ke rumah Kepala desa kedua kembang desa itu menyapa para penduduk dan bertanya tentang rumah Mbok Rondo namun tidak ada satupun warga yang mengetahui di mana rumah Mbok Rondo. Kedua kembang desa itu juga sebenarnya jarang keluar rumah, dan kali ini mereka hendak jalan jalan santai namun sialnya malahan bertemu dengan Mahesapati.
Mahesapati berniat melumpuhkan keduanya di jalanan yang sepi.
Sementara Samudra terus mengikuti kemana Mahesapati dan kedua kembang desa itu pergi, tanpa ketiga orang itu sadari.
Ketika berada di yang sangat sepi kedua gadis itu tampak ragu, namun jalan ini yang dekat menuju kerumah kepala desa, untuk mempersingkat waktu akhirnya mereka mengambil jalan ini.
Di jalanan sepi itu Mahesapati tiba tiba terjatuh...
Mereka berdua langsung mendekati Mahesapati, namun yang di lakukan Mahesapati sama sekali tidak terduga oleh kedua kembang desa itu, Mahesapati langsung memukul tengkuk keduanya, seketika itu juga tubuh keduanya kaku bagaikan patung.
"Haha... akhirnya aku bisa mendapatkan lagi kembang desa!" Tawa Mahesapati di tempat itu.
Samudra yang melihat hal itu langsung melesat menuju ke arah Mahesapati, Mahesapati menyadari ada serangan karena mendengar suara angin terbelah, langsung berbalik ia hendak memblokade namun serangan dari Samudra sangat cepat.
Bammm!
Tapak tangan Samudra langsung menghantam rahang Mahesapati dan membuat Mahesapati terpental.
"Hixixixi.... jadi ini yang di sebut sihir hitam, tidak aku sangka aku bertemu dua kali dengan pengguna sihir hitam." Ucap Samudra sambil tertawa gila.
Kedua kembang desa itu terkejut mendengar ucapan Samudra..
"Keparat kamu orang gila! Jangan sok suci, jangan ikut campur urusan orang lain jika kamu tidak mau mati!" Ucap Mahesapati sembari mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Mahesapati langsung menerjang ke arah Samudra sembari menendangnya, namun tiba-tiba tubuh Samudra berubah menjadi daun daun hijau yang berguguran.
Mahesapati kebingungan, "sihir apa ini?" Tanyanya.
Detik berikutnya Samudra tiba di belakang Mahesapati dan menyentuh pundaknya.
Sontak Mahesapati langsung berbalik dan melancarkan tinjunya yang terselubung sihir gelap.
Baammm...!!!!
Tinju keras itu menghantam dada Samudra, namun Samudra tak bergeming justru menyeringai menatap Mahespati.
Mahesapati semakin kebingungan dengan kekuatan Samudra, ia berusaha menarik tangannya dari dada Samudra namun tidak bisa, tangannya seolah menempel erat dengan dada Samudra.
Samudra menyeringai dan berucap, "sekarang aku sedikit paham dengan sihir hitam, penggunanya harus menumbalkan pihak lain untuk memperkuat sihir mereka ya... Hixixixi.. pantas saja guru memerintahkanku untuk membasmi orang orang sepertimu... ternyata memang kalian sangat berbahaya bagi manusia biasa."
"Diam kau..!!!" Sihir hitam pekat di tubuh Mahesapati semakin menggila. Ia berusaha mengamuk, namun ia menyadari satu hal tempat ini berubah menjadi dunia abstrak yang tidak jelas bahkan Mahesapati melihat tubuhnya sendiri melengkung lengkung tidak jelas bak gambar abstrak.
Hanya tubuh Samudra yang tidak menyerupai gambar abstrak.
"A.. apa... apa.... apa yang terjadi..."
"Sihir ilusi... kau sudah kalah semenjak menatap diriku."
"Si... sihir ilusi?"
"Tidak perduli seberapa kuat dirimu, jika akal sehatmu tidak berfungsi dengan baik sihir ilusiku dapat mengelabui dirimu dengan mudah."
Craakk... craaakkk....
Tiba tiba tubuh Samudra berubah menjadi lumpur dan bebatuan kemudian lumpur tersebut membentuk wajah Mahesapati yang menyeringai. Mahesapati melihat wajah itu sangat mengerikan, seolah itu adalah versi paling kejam dari dirinya sendiri.
Mata Mahesapati bergetar, tubuhnya kaku dan tak bisa ia gerakan, saat ini hanya bola matanya saja yang bisa ia gerakan.
Sihir ilusi Samudra benar benar sudah menguasai tubuh Mahesapati.
Apa yang di lihat Mahesapati saat ini hanya ilusi dalam pikirannya. Di dunia nyata ia hanya berdiri mematung menatap lurus kedepan dengan bola mata bergetar seperti orang ketakutan.
"Kalian semua pergilah... kalian tidak ingin melihat aku membunuh orang ini bukan... Hixixixi..." ucap Samudra kepada kedua kembang desa itu.
Namun keduanya tidak bergerak dan masih mematung.
"Oh ya! Aku lupa kalian masih dalam pengaruh sihir Penyihir cabul ini.... Hixixixi maafkan aku, aku lupa untung aku belum membunuh penyihir ini... kalau kalian melihat aku melakukannya bisa bisa kalian trauma... Hixixi.." ucap Samudra sambil tertawa gila. Samudra menjentikan jarinya seketika itu juga kedua kembang desa itu mampu menggerakan tubuhnya dan lari terbirit-birit.
Dipandangan Mahesapati kali ini berubah, bukan lumpur yang menyerupai wajahnya yang kali ini ia lihat, melainkan sosok Samudra yang keluar dari lumpur itu.
"Hixixixi.... orang sepertimu memang pantas mati, bung..." ucap Samudra sambil tertawa gila.
Sring!
Ia mengeluarkan pedang kubikiribocho miliknya.
Melihat pedang pemenggal itu Mahesapati semaking ketakutan, jantungnya berdegub semakin kencang.
"Hidupmu sudah selesai, pedangku ini sangat haus darah orang sepertimu." Ucap Samudra dingin dan menusuk. Ia benar benar menunjukan perubahan ekspresi saat akan mengeksekusi mati Mahesapati.