NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Laura menatap Haikal dengan senyum tipis penuh arti saat menyerahkan kartu namanya.

"Kalau ada apa-apa, jangan ragu hubungi saya, ya," ucapnya lembut, nada suaranya mengandung janji yang tak bisa ditolak.

Setelah Haikal pergi, mata Laura menyipit penuh rencana licik.

Begitu pintu tertutup rapat, ia melangkah cepat menuju kamarnya, menutup pintu dengan suara pelan namun tegas.

Di dalam kamarnya, Laura menutup pintu dan mengunci dengan pelan. Ia duduk di tepi ranjang, membuka kertas kecil itu, lalu mengetik nomor tersebut ke ponselnya.

Ia tidak terburu-buru.

Laura bukan tipe perempuan yang menyerang.

Ia menunggu.

Mengatur.

Menghitung.

Ia menyalakan kamera ponselnya dan tersenyum licik.

"Saya akan buat bapak tidak menyesal telah memberikan saya nomor bapak." Gumam nya.

Di balik tirai kamar yang remang, Laura mulai melepas pakaiannya satu per satu, matanya tetap terfokus pada layar ponsel yang sudah merekam setiap gerak-geriknya. Tangannya meremas lembut gundukan di dadanya, jarinya dengan sengaja memelintir bagian bawah boba coklat yang menempel di tubuhnya.

"Aaah.... rasanya gatal pak... Hmmmphm..." Desahan tipis keluar dari bibirnya, seolah sedang menahan godaan yang luar biasa.

"Boba saya... gatal. Kayak pengen dihisap pak Haikal biar enak...aaahhh," bisiknya dengan suara serak menggoda, membuat rekaman itu semakin panas dan menggoda.

"Pak Haikal...Pak....." Des ah lembut itu bahkan sengaja ia buat mendayu-dayu yang akan membangkitkan sisi lain dari seorang Haikal yang dikenal istrinya adalah seorang laki-laki impotensi

dan juga laki-laki penyuka sesama pria.

"Ahhhh....hmmphhh...ssshhhh pak Haikal.." suara itu dibuat semakin seksi dan panas.

Tatapan Laura berubah menjadi tajam dan penuh kemenangan. Ia tahu video itu akan menjadi alat ampuh untuk membuat Haikal terjerat semakin dalam dalam jaring asmara yang ia rajut dengan cermat. Gelombang nafsu dan ambisi bercampur dalam dadanya saat ia membayangkan Haikal yang tak berdaya menanggapi rayuan licik ini. Dengan senyum puas, Laura mematikan rekaman, menyimpan video itu dalam folder khusus yang hanya untuk Haikal kemudian mengirimnya melalui aplikasi hijau. Rencananya sudah berjalan mulus dan Haikal hanyalah pion berikutnya dalam permainan yang ia kuasai penuh.

Langkah Laura baru saja keluar dari kamarnya ketika ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.

Rumah itu… terlalu sunyi.

Bukan sunyi nyaman, melainkan sunyi yang menunggu ledakan.

Begitu ia berbelok ke arah dapur, langkahnya terhenti. Di depan pintu dapur, berdiri dua sosok yang sama-sama tidak menyembunyikan sikap bermusuhan. Nyonya Amara berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, punggung tegak, rahang mengeras. Di sampingnya, Ratna berdiri setengah langkah ke depan, dagu terangkat, tatapannya menusuk seolah sedang mengadili.

Laura berhenti.

Bukan karena takut.

Melainkan karena sedang menilai.

"Jadi ini momennya," batinnya tenang.

Ia menghela napas pendek, lalu melangkah mendekat dengan langkah biasa tidak tergesa, tidak menantang.

“Pagi, Bu Amara atau saya harus panggil Ny.Amara,” ucap Laura sopan, suaranya datar.

Ratna mendengus kecil. “Masih berani menyapa?”

Laura melirik sekilas ke arah Ratna, lalu kembali menatap Amara. “Ada yang bisa saya bantu bu?”

Tatapan Amara mengeras. “Jangan berpura-pura bodoh, Laura.”

Laura mengangguk kecil. “Baik, Nyonya. Silakan.”

Amara maju satu langkah. “Mulai hari ini, kamu saya pecat.”

Kalimat itu diucapkan tegas, tanpa ragu, seolah keputusan itu final dan tidak bisa diganggu gugat.

Ratna menyilangkan tangan, puas.

“Kemasi semua barang kamu. Kamu tidak dibutuhkan di rumah ini lagi.”

Laura tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Amara, lalu perlahan tersenyum tipis.

Bukan senyum menantang.

Bukan senyum mengejek.

Senyum seseorang yang tahu ia memegang kartu yang tidak disadari lawannya.

“Maaf, Nyonya Amara yang terhormat,” ucap Laura dengan nada tetap sopan, “tapi Nyonya tidak berhak memecat saya.”

Ratna tersentak. “Kurang ajar!”

Amara mengangkat tangan, menghentikan Ratna. “Apa maksudmu?”

Laura menarik napas, lalu berbicara pelan namun jelas, setiap kata diucapkan dengan keyakinan penuh.

“Yang berhak mengakhiri kontrak kerja saya hanyalah Pak Haikal, hanya Pak Haikal.” ucap Laura menekan setiap ucapan nya.

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah file, lalu menatap Amara lagi.

“Itu tertulis jelas di surat kontrak. Bahkan Nyonya Sagita sekalipun tidak memiliki wewenang untuk memecat saya secara sepihak.”

Ratna tertawa sinis. “Kamu pikir kami tidak tahu permainanmu?”

Laura menoleh ke arah Ratna untuk pertama kalinya, tatapannya dingin, tanpa emosi.

“Permainan?” ulangnya. “Saya hanya menjalankan tugas saya sesuai kontrak.”

Amara menyipitkan mata. “Kamu berani sekali melawan saya. Saya ini mertua Haikal. Saya juga punya Hak penuh dirumah ini.”

Laura menggeleng pelan. “Saya tidak melawan, Nyonya. Saya hanya tahu posisi saya. Lagipula tadi saya mendengar dengan jelas jika Pak Haikal meminta nyonya untuk tidak ikut campur dalam rumah tangga nya termasuk semua urusan dirumah ini.”

Ia melangkah setengah langkah mendekat, cukup untuk membuat Ratna refleks mundur sedikit.

“Dan satu hal lagi,” lanjut Laura dengan suara tetap rendah, “tidak ada satu pun orang di rumah ini yang berhak ‘memecat’ saya kecuali Pak Haikal sendiri. Jadi nyonya jangan coba-coba untuk memecat saya. Karena saya tidak akan pergi jika bukan pak Haikal yang minta.”

Ratna berdecak. “Dasar pembantu tidak tahu diri!”

Laura tersenyum kecil. “Kalau begitu, ibu seharusnya membaca kontrak sebelum bicara soal harga diri.”

Amara terdiam.

Bukan karena kalah argumen, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang sangat mengganggu,

gadis di hadapannya tidak gentar sama sekali.

Laura menunduk sedikit, sebuah gestur sopan yang terasa seperti ejekan halus.

“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” katanya, “saya masih punya pekerjaan lain.”

Ia melangkah melewati mereka.

Tenang.

Tanpa menoleh kembali.

Langkah kakinya menjauh menyusuri lorong, meninggalkan dua perempuan yang berdiri membeku di depan dapur.

Begitu Laura menghilang dari pandangan, Ratna langsung berbalik ke arah Amara.

“Nyonya lihat sendiri, kan?” suaranya meninggi. “Dia sama sekali tidak menghormati Nyonya!”

Amara masih berdiri diam. Tangannya mengepal tanpa sadar.

“Seorang pembantu,” lanjut Ratna penuh api, “berani bicara seperti itu kepada ibu mertuanya majikan!”

Ratna mendekat, suaranya diturunkan namun nadanya jauh lebih tajam. “Kalau Nyonya membiarkan ini, artinya Nyonya sudah tidak punya harga diri di rumah putri sendiri.”

Kata-kata itu menghantam tepat sasaran.

Amara menoleh tajam. “Apa maksudmu?”

Ratna tersenyum tipis, licik. “Saya hanya bicara jujur, Nyonya. Gadis itu sudah terlalu jauh. Satu-satunya orang yang bisa menghentikannya sekarang hanyalah Nyonya Sagita.”

Amara menarik napas berat. “Sagita…”

“Betul,” potong Ratna cepat.

“Kalau Ny.Sagita yang bicara pada Pak Haikal, beliau pasti menuruti. Dia suami yang penurut pada istrinya.”

Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan—keyakinan yang sebenarnya mulai rapuh.

Amara memejamkan mata sesaat. Bayangan putrinya, rumah tangga yang sudah lama terasa dingin, dan kini kehadiran seorang gadis muda yang terlalu tenang… semuanya berputar di kepalanya.

“Ini tidak bisa dibiarkan,” gumam Amara.

Ratna mengangguk cepat. “Saya akan terus mengawasi dia, Nyonya. Tapi keputusan besar ini harus lewat Ny.Sagita.”

Amara membuka mata, sorotnya penuh kekhawatiran dan amarah yang tertahan.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan bicara dengan putriku.”

Ratna tersenyum puas.

Namun tidak satu pun dari mereka menyadari

bahwa Laura, dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka, mendengar sebagian percakapan itu.

Dan untuk pertama kalinya hari itu,

Laura tersenyum sungguh-sungguh.

"Silakan,kita liat saja siapa yang akan ditendang dari rumah ini." batinnya dingin.

"Jika kalian libatkan Ny.Sagita. Semakin banyak yang kalian tarik masuk… semakin sulit kalian keluar."

Sementara itu di kantornya, Haikal saat ini tengah berada di ruangan kantor nya sembari memeriksa beberapa berkas sebelum ia tanda tangani.

Saat haikal akan membutuhkan tanda tangan di sebuah berkas tiba-tiba saja ponsel yang ada di atas meja bergetar. Haikal hanya melirik sekilas kemudian melihat itu dari nomor baru dan mengabaikan nya. Namun ponsel tersebut kembali bergetar dan menampilkan sebuah cat yang berisikan,

"Pak haikal, ini nomor saya laura. Di save ya pak."

Alice haikal saling bertahan karna menatap pesan itu cukup lama namun akhirnya ia teringat jika tadi pagi iya memberikan kartu namanya kepada laura. Haikal berfikir jika terjadi sesuatu di rumah dan dengan cepat laki-laki itu mengambil ponselnya kemudian membuka ruang chat. Di sana ada sebuah video dan tanpa berfikir panjang haikal phone langsung membuka video tersebut.

"Aaahh....rasanya gatal pak..hmmphhh."

"Aaahhhh....hisap pak...."

Suara desa han yang seksi itu berhasil memancing birahi seorang haikal yang membuatnya membeku namun ia tidak bisa mengalihkan matanya dari video tersebut di mana iya tengah menikmati apa yang dilakukan oleh laura. Tanpa haikal sadari jojo sudah menggeliat dan terbangun bersiap untuk bertempur. Perlahan sudut bibir haikal terangkat membentuk senyum miring yang penuh akan sebuah rencana licik.

"Ternyata kamu sangat pandai menggoda saya Laura " gumam haikal kemudian mengetikkan sesuatu dj tersebut kemudian mengirim nya dan haikal pun tersenyum licik.

Sedangkan di rumah haikal laura sadari tadi menunggu nunggu pesan balasan dari haikal iya yakin jika laki-laki itu pasti akan tergoda dengan video yang baru saja ia kirimkan.

Tak berselang lama sebuah notifikasi phone masuk tadi tu pesan dari haikal.

"Kamu pergi ke ruang kerja saya dan lihat di laci ada mat berwarna biru tolong kamu antarkan ke kantor saya karena saya lupa membawa bahan untuk meeting hari ini."

Laura menghembuskan napas panjang melalui hidungnya. Alisnya berkerut, rahangnya mengeras. Ada jeda hening beberapa detik sebelum ia meletakkan ponsel ke kasur dengan gerakan agak kasar.

“Serius? Ini balasanya. Gak peka banget tu laki-laki.” gumamnya pelan.

Di kepalanya, ia sudah membayangkan respons yang berbeda. Setidaknya sebuah kalimat yang menunjukkan kegelisahan. Atau pertanyaan. Atau pengakuan bahwa Haikal terganggu terpancing oleh pesan darinya.

Namun yang datang justru perintah kerja.

"Dingin", batinnya. "Atau pura-pura dingin?"

Laura berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar. Kekecewaan itu nyata, menusuk egonya. Bukan karena ditolak melainkan karena ia tidak dikendalikan balik seperti yang ia perkirakan.

“Pak Haikal,” bisiknya, setengah mengejek, “kamu pintar juga.”

Ia berhenti di depan cermin. Menatap pantulan dirinya sendiri wajah yang tetap tenang, mata yang menyimpan bara kecil. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat.

“Baiklah,” katanya pada pantulan itu. “Kalau kamu memilih jalur profesional… aku juga bisa.”

Ia mengenakan pakaian super ketat dan sengaja membuka satu kancing atas agar belahan Himalaya terpampang nyata, dilapisi dengan blazer agar ia tidak malu-maluin datang ke kantor Haikal. Ia masuk keruang kerja Haikal, membuka laci dan meraih berkas berwarna biru di meja kerja Haikal. Jemarinya merapikan sudut map itu dengan teliti, seolah sedang menyusun ulang rencana di kepalanya. Kekecewaan tadi tidak hilang berubah bentuk.

Menjadi keputusan.

"Kalau dia memanggilku ke kantor," pikir Laura, "berarti dia ingin melihatku. Dan itu sudah cukup untuk satu langkah ke depan."

Laura mengambil tasnya, memastikan penampilannya rapi tidak berlebihan, tidak mencolok. Ia memilih tampilan yang aman, nyaris polos. Sebuah kontras yang disengaja.

Sebelum keluar kamar, ia melirik ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan lanjutan.

“Tidak apa-apa,” gumamnya pelan. “Aku datang bukan untuk memenuhi perintahmu.”

Ia melangkah keluar dengan langkah mantap.

“Melainkan,” lanjutnya dalam hati, “untuk memastikan kamu tidak bisa berhenti memikirkanku.”

Dan dengan itu, Laura menutup pintu rumah

membawa serta berkas ber map biru, kekecewaannya, dan rencana yang kini jauh lebih rapi dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!