NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

Rea tak menjelaskan banyak hal pada kakak iparnya. Ia hanya minta waktu untuk bicara empat mata dengan Rusli.

Rea mengajak Dewa juga Luky masuk ke kamar kakaknya yang hanya bisa berbaring itu. Sementara Tatik hanya boleh menunggu di luar.

"Mas, aku mau minta ijin buat nikah ...." ujar Rea dengan air mata berlinang. Rea bahkan harus menjeda ucapannya karena serasa tak mampu mengatakan semua pada kakaknya. Ia akan menikah saat kondisi kakaknya benar-benar tak memungkinkan untuk bisa menjadi wali nikah.

Dewa yang ada di belakang Rea menepuk pundak gadis itu. Seolah memberi kekuatan untuk Rea.

Rea menghapus air matanya. Menarik napas dalam. Mencoba menguatkan diri.

"Ini calon suamiku." Rea menoleh pada Dewa.

Pria itu pun membuka topi dan masker yang sejak tadi ia pakai. Semua sudah direncakan oleh Luky, Dewa, dan Rea. Identitas Dewa tidak boleh diketahui oleh siapa pun termasuk kakak ipar Rea.

"Perkenalkan, Mas, saya Dewa. Saya calon suaminya Reana. Saya mohon ijin menikahi adik Mas Rusli untuk jadi pendamping hidup saya," ujar Dewa.

Rusli tak mampu bergerak, pun tak bisa bicara. Tapi raut wajah dan air mata yang keluar menunjukkan bahwa ia bahagia. Gerakan bibir yang perot itu seakan ingin mengatakan kalau ia setuju dengan permintaan Dewa.

"Mohon maaf sebelumnya, Mas, saya akan melangsungkan pernikahan saya di Jakarta karena Ibu saya juga sedang sakit. Jadi di sini saya mohon Mas Rusli memberikan ijin untuk wali nikah Reana diwakilkan oleh wali hakim."

Inilah tujuan Rea mengajak Dewa mampir ke rumah kakaknya. Ia ingin memperkenalkan Dewa pada Rusli, sekaligus meminta ijin agar wali nikah dirinya bisa diwakilkan oleh wali hakim dikarenakan Rusli sakit dan tak mampu menjalankan tugasnya. Untung saja, Dewa menyetujui permintaan Rea meski pernikahan ini hanyalah settingan belaka.

Susah payah Rusli menggerakkan bibirnya untuk mengiyakan permintaan Dewa. Namun, tiga orang yang ada dalam kamar sempit itu paham akan maksud Rusli. Rea bahkan langsung memeluk Rusli dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung.

"Terima kasih, Mas. Rea janji pengobatan Mas Rusli akan Rea tanggung. Juga biaya hidup istri dan anak-anak. Pokoknya Mas Rusli jangan mikir macam-macam, fokus buat berobat saja."

Rusli menangis haru. Ia seperti ingin bicara sesuatu tapi tak mampu.

Usai meminta ijin, Rea langsung pamit. Dewa sudah mengatakan sebelumnya kalau ia tak bisa lama-lama di rumah kakak Rea nanti.

"Mbak, aku pamit ya. Tolong jaga Mas Rusli baik-baik. Aku sudah transfer ke rekening Mbak Tatik buat biaya berobat juga belanja rumah. Nanti setiap bulan, aku akan kirim uang buat Mbak Tatik. Mbak nggak usah khawatir, rawat saja Mas Rusli dengan baik."

Saat masih di Surabaya tadi, begitu rencana tersusun rapi. Dewa memberikan sejumlah uang sebagai uang muka kesepakatan mereka. Dan saat di perjalanan, Rea mentransfer uang untuk kakak iparnya.

Mata Tatik Berbinar. Adik iparnya akhirnya mau memikul tanggung jawab keuangan keluarganya.

"Iya." Tatik melirik pria yang ada di samping Rea. Dari tadi Rea hanya memperkenalkannya sebagai teman. Tapi tadi Tatik sempat mengintip dan menguping pembicaraan antara suaminya dan adik iparnya ini. Samar-samar ia mendengar tentang pernikahan.

"Ya sudah, kamu hati-hati di kota. Kerja yang benar, jangan bikin masalah biar nggak dipecat."

Rea mengangguk saja. Lalu bersalaman untuk pamit. Diikuti Dewa dan Luky.

"Lo udah rekam semua, kan tadi?" ujar Dewa begitu sampai mobil.

Luky mengangguk. Semua rekaman tentang kondisi kakak Rea tadi akan mereka jadikan bukti dihadapan wali hakim, agar berkenan menjadi wali nikah Rea.

"Sudah sesuai, kan?" tanya Dewa yang menoleh pada Rea yang duduk di sampingnya.

"Iya," jawab Rea.

Mobil pun kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sepanjang malam itu, Rea tak bisa tidur pulas. Setelah semua kesepakatan yang dicapai bersama Dewa, mendadak rasa takut membayang.

Apa langkah yang ia ambil sudah benar?

Rea menoleh. Menatap Dewa yang tengah memejamkan mata.

Kalau mau mundur, sekarang belum terlambat, Rea.

Jangan, Rea. Kalau kamu mundur, kamu harus mengembalikan semua uang yang sudah kamu terima. Sedangkan sekarang saja kamu tidak bekerja.

Pikirannya begitu berisik. Seolah mengingatkan akan langkah yang Rea ambil. Jika nanti sudah di Jakarta, dan pernikahan terjadi, Rea tak akan bisa mundur lagi. Ia harus siap dengan semua resiko ke depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!