Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-19
Pagi itu suasana di rumah besar keluarga Delvin sangat hangat. Ibu Suryani sedang duduk santai di teras menikmati teh hangat, ketika tiba-tiba Sarah datang dengan membawa banyak oleh-oleh dan wajah yang sangat manis.
"Selamat pagi tante Suryani... Duh kangen deh!" seru Sarah sambil memeluk wanita paruh baya itu dengan akrab.
"Eh Sarah... sudah lama tidak bertemu. Ayo duduk," sambut Ibu Suryani ramah namun tetap menjaga jarak profesional.
Sarah pun duduk dengan manja di samping ibu Arkan. Ia mulai mencurahkan perhatian, memijat pelan bahu sang ibu, dan mulai melancarkan aksinya.
"Tante tahu gak... Sarah sedih banget lho akhir-akhir ini," mulai Sarah dengan wajah memelas.
"Loh kenapa sayang?" tanya Bu Suryani santai.
"Dulu kan Sarah sama Arkan itu dekat banget, Tante. Keluarga juga setuju kan? Tapi sekarang... Arkan jadi berubah banget gara-gara ada orang baru," ucap Sarah pelan, matanya melirik memastikan ekspresi ibu Arkan.
"Oh maksud kamu Nara?" tebak Bu Suryani langsung.
Sarah mengangguk cepat, "Iya Tante... Mbak Nara itu. Jujur ya Tante, Sarah bukan mau iri atau apa. Tapi kan Mbak Nara itu sudah tua, terus kan dia juga mantan istri orang. Sarah takut nanti image keluarga Delvin jadi jelek lho Tante. Lagian kan cara dia ngurus Arkan itu... gimana ya, terlalu bawel dan galak. Kayak nyari muka gitu lho Tante."
Sarah tersenyum miring dalam hati, merasa sudah berhasil menanamkan pikiran buruk. Ia yakin orang tua mana pun pasti lebih memilih menantu yang muda, cantik, dan masih suci seperti dirinya daripada wanita seumur Nara.
Mendengar itu Bu Suryani justru terkekeh pelan, lalu menaruh cangkir tehnya dengan tenang. Ia menatap Sarah dengan tatapan teduh namun tajam.
"Sarah sayang..." mulai Bu Suryani lembut. "Tante mengerti kamu mungkin kecewa atau masih sayang sama Arkan. Tapi sebagai orang tua, Tante lebih bisa melihat isi hati seseorang daripada hanya melihat penampilan luar."
Wajah Sarah langsung berubah kaget.
"Tante tahu Nara itu sudah tidak muda lagi, Tante juga tahu latar belakang dia. Tapi kamu tahu gak? Sejak Nara ada di dekat Arkan, anak Tante itu jadi jauh lebih dewasa, lebih rajin, dan lebih bahagia," jelas Bu Suryani bijaksana.
"Nara itu wanita yang kuat, Sarah. Dia tidak manja, dia bekerja keras, dia bisa mengatur Arkan dengan sangat baik, dan yang paling penting... dia tulus. Dia tidak mendekati Arkan karena harta atau nama besar keluarga ini."
Bu Suryani menepuk tangan Sarah pelan. "Jadi jangan pernah menilai orang dari sampulnya saja ya. Tante sangat suka sama Nara. Menurut Tante, dia wanita yang sangat pantas dan berkelas. Justru Tante sedih kalau sampai ada orang lain yang berusaha menjatuhkan dia."
Sarah terpaku, mulutnya terkunci rapat. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa ibu Arkan justru membela Nara mati-matian! Rencananya gagal total!
"Te... terima kasih sarannya, Tante," jawab Sarah terbata-bata, wajahnya memerah padam menahan malu.
"Nah, itu baru anak baik," senyum Bu Suryani. "Mending kamu cari pasangan yang memang ditakdirkan buat kamu saja ya. Jangan memaksakan kehendak, nanti malah sakit sendiri."
Saat itu juga, dari arah dalam rumah muncul Arkan dan Nara yang baru saja datang. Mereka berjalan beriringan, Nara tampak anggun dan sopan menyapa sang ibu.
"Pagi, Ma..." sapa Arkan. Matanya langsung melirik Sarah yang terlihat kesal dan duduk terpojok.
Arkan tersenyum miring penuh kemenangan. Ia tahu, kali ini Sarah benar-benar tidak berkutik. Karena bahkan ibunya sendiri sudah memihak pada wanita yang ia cintai.
BERSAMBUNG...
Gimana?! Kena mental si Sarah! 😂 Gak nyangka kan ternyata Ibu Arkan malah jadi fans berat Nara! Nah terus Sarah bakal diam aja gitu? Atau dia bakal nekat ngelakuin hal gila? 😏