NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Yang Tidak Ikut Hancur

Pukul 05.17.

Sunyi.

Tidak ada bisikan.

Tidak ada suara lain.

Hanya napas.

Pelan.

Lemah.

Kinasih terbaring di lantai kamarnya.

Tubuhnya tidak bergerak.

Matanya tertutup.

Seperti… sudah selesai.

Namun—

tidak.

Satu jari tangannya bergerak.

Pelan.

Sangat pelan.

Seperti sesuatu… sedang mencoba masuk kembali.

Krek…

Suara itu muncul.

Halus.

Dari dalam tubuhnya sendiri.

Seperti tulang yang bergeser.

Tidak pada tempatnya.

Jari itu bergerak lagi.

Lalu tangan.

Lalu—

matanya terbuka.

Sekejap.

Dan yang terlihat—

bukan kamar.

Melainkan—

kegelapan.

Pekat.

Dalam.

Tanpa batas.

Kinasih langsung duduk.

Terengah.

Namun napasnya—

tidak keluar sebagai udara.

Melainkan…

kabut tipis.

Hitam.

Keluar dari mulutnya.

Ia membeku.

Tangannya menyentuh lehernya.

Dingin.

Sangat dingin.

Seperti tidak ada darah yang mengalir.

“Aku…”

Suaranya keluar.

Namun—

tidak tunggal.

Ada gema kecil di belakangnya.

Seperti suara lain yang ikut berbicara.

“…masih hidup?”

Sunyi.

Tidak ada jawaban.

Namun—

perlahan—

ruangan itu kembali terlihat.

Kamar.

Dinding.

Cermin pecah.

Semua seperti sebelumnya.

Namun—

ada yang salah.

Tidak ada suara luar.

Tidak ada dunia di balik tembok itu.

Seperti rumah ini…

terpisah.

Dari semuanya.

Kinasih berdiri.

Langkahnya goyah.

Ia mencoba berjalan ke arah pintu.

Membukanya.

Kriiiik…

Lorong.

Gelap.

Namun—

lebih gelap dari sebelumnya.

Seperti cahaya… tidak diizinkan masuk.

Kinasih melangkah keluar.

Dan saat kakinya menyentuh lantai—

sesuatu berubah.

Suara.

Muncul lagi.

Namun—

berbeda.

Tidak banyak.

Hanya satu.

Pelan.

Dekat.

Sangat dekat.

“Kamu salah…”

Kinasih berhenti.

Tubuhnya kaku.

“Siapa…?”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu—

suara itu muncul lagi.

Dari belakangnya.

“Aku yang tidak ikut.”

Kinasih menoleh.

Pelan.

Dan—

ia melihatnya.

Sosok.

Berdiri di ujung lorong.

Tinggi.

Lebih tinggi dari manusia biasa.

Tubuhnya kurus.

Terlalu kurus.

Seperti tulang dibungkus kulit tipis.

Namun—

tidak lengkap.

Beberapa bagian tubuhnya…

hilang.

Seperti tidak pernah ada.

Dan wajahnya—

tidak utuh.

Seperti dipotong.

Namun—

ia tetap berdiri.

Tetap… melihat.

“Kamu… siapa…”

Suara Kinasih bergetar.

Sosok itu melangkah.

Tidak bersuara.

Namun—

setiap langkahnya membuat lantai… menghitam.

Seperti terbakar dari dalam.

“Aku bukan mereka…”

bisiknya.

“Aku bukan yang kamu lepaskan…”

Ia berhenti.

Cukup dekat.

Dan—

untuk pertama kalinya—

Kinasih bisa melihat matanya.

Kosong.

Namun—

tidak seperti yang lain.

Yang ini…

sadar.

Sangat sadar.

“Aku yang tertinggal.”

Sunyi.

Kinasih mundur satu langkah.

Tubuhnya menegang.

“Semua sudah hancur…”

bisiknya.

“Aku sudah nutup pintunya…”

Sosok itu tersenyum.

Pelan.

Namun—

senyumnya tidak manusia.

“Tidak semua.”

Ia mengangkat tangannya.

Dan—

dari dalam tubuhnya—

sesuatu bergerak.

Bukan keluar.

Namun—

terlihat.

Di bawah kulitnya.

Seperti bayangan.

Bergerak.

Menggeliat.

“Ada yang lebih lama dari mereka…”

Kinasih menelan ludah.

“Apa maksud kamu…”

Sosok itu mendekat lagi.

Lebih dekat.

Dan—

udara di sekitarnya berubah.

Lebih berat.

Lebih dingin.

Lebih… salah.

“Mereka hanya penumpang…”

bisiknya.

“Aku…”

Ia berhenti tepat di depan Kinasih.

“…pemiliknya.”

Sekejap—

lampu di lorong menyala.

Namun—

warnanya merah.

Seperti darah.

Dan—

dinding berubah.

Tidak lagi tembok.

Melainkan…

daging.

Berdenyut.

Pelan.

Seperti hidup.

Kinasih menjerit.

Ia mundur cepat.

Namun—

lorong itu berubah.

Menyempit.

Menutup.

Mengurung.

“Kamu pikir kamu menghentikan sesuatu…”

Suara itu kini datang dari semua arah.

Dari dinding.

Dari lantai.

Dari dalam dirinya.

“Padahal…”

Dinding itu bergerak.

Menekan.

Mendekat.

“…kamu hanya membuka yang lain.”

Kinasih berlari.

Tanpa arah.

Lorong itu berubah.

Berbelok.

Memanjang.

Tidak ada ujung.

Dan di setiap sudut—

ada sesuatu.

Bayangan.

Namun—

bukan seperti sebelumnya.

Yang ini…

lebih padat.

Lebih nyata.

Dan—

semua menghadap ke arahnya.

Menunggu.

“Keluarin aku dari sini…” bisiknya panik.

Namun—

tidak ada jalan keluar.

Hanya—

satu pintu.

Di ujung lorong.

Hitam.

Tanpa tanda.

Kinasih berlari ke sana.

Mendorongnya.

Masuk.

Gelap.

Namun—

tidak kosong.

Ada suara.

Denyut.

DUM.

DUM.

DUM.

Seperti jantung.

Namun—

terlalu besar.

Terlalu keras.

Kinasih membuka mata.

Dan—

ia melihatnya.

Ruangan luas.

Namun—

bukan ruangan.

Lebih seperti—

dalam tubuh sesuatu.

Dindingnya bergerak.

Lantai berdenyut.

Dan di tengah—

ada sesuatu.

Menggantung.

Besar.

Hitam.

Seperti…

jantung.

Namun—

bukan.

Karena di permukaannya—

ada wajah.

Banyak wajah.

Semua perempuan itu.

Semua yang pernah ia lihat.

Semua… menatapnya.

“Ini…”

Suara itu muncul lagi.

Dari belakang.

Sosok tadi.

“…akar dari semuanya.”

Kinasih mundur.

“Ini bukan nyata…”

Sosok itu tertawa.

Keras.

Menggema.

“Mereka semua nyata…”

Ia menunjuk ke jantung itu.

“…dan sekarang… kamu juga.”

Jantung itu berdetak lebih cepat.

DUM!

DUM!

DUM!

Dan—

dari permukaannya—

tangan keluar.

Banyak.

Menjulur.

Mencari.

“Dia butuh kamu…”

bisik suara itu.

“Untuk hidup lagi.”

Kinasih menggeleng.

“Tidak…”

Ia mundur.

Namun—

lantai berubah.

Menjadi lengket.

Menahan kakinya.

“Kamu pintunya…”

lanjut suara itu.

“Dan sekarang… kamu kuncinya.”

Tangan-tangan itu semakin dekat.

Menyentuh kakinya.

Menarik.

Kinasih berteriak.

Berusaha lepas.

Namun—

tidak bisa.

Ia terus ditarik.

Mendekati jantung itu.

Dan—

wajah-wajah di permukaannya—

mulai berbicara.

Serentak.

“Kembali…”

“Kembali…”

“Kembali…”

Suara itu—

masuk ke kepalanya.

Memaksa.

Menghancurkan.

Kinasih menjerit.

Namun—

tiba-tiba—

suara lain muncul.

Lemah.

Namun—

berbeda.

“Kinasih…”

Bima.

Lagi.

Namun—

lebih jauh.

Lebih dalam.

“Jangan… sentuh itu…”

Kinasih membeku.

Matanya mencari.

“Bim…?”

Dan—

di sudut ruangan—

ia melihatnya.

Bima.

Terikat.

Tubuhnya pucat.

Namun—

hidup.

Benar-benar hidup.

“Kamu harus keluar…”

bisiknya lemah.

Kinasih menatapnya.

Air matanya jatuh.

“Aku nggak bisa…”

Bima menggeleng.

“Bisa…”

Ia menatapnya dalam.

“Kamu belum selesai.”

Sosok itu tertawa lagi.

“Kamu masih percaya dia?”

Ia mendekat ke Bima.

Mengangkat dagunya.

“Dia hanya alasan kamu bertahan…”

Ia menatap Kinasih.

“…dan alasan kamu gagal.”

Kinasih menggenggam tangannya.

Kuat.

Namun—

tiba-tiba—

ia berhenti.

Matanya berubah.

Dari takut…

menjadi… dingin.

Sangat dingin.

“Kalau aku hancurin ini…”

bisiknya pelan.

Sosok itu terdiam.

Sedikit.

Untuk pertama kalinya.

“Semua selesai?”

Sunyi.

Tidak ada jawaban.

Namun—

itu cukup.

Kinasih tersenyum tipis.

Dengan sisa kekuatan yang ia punya—

ia menarik tangannya.

Melawan.

Dan—

untuk sesaat—

ia lepas.

Ia berdiri.

Menghadap jantung itu.

Dan—

tanpa ragu—

ia berlari.

“JANGAN!!!”

Sosok itu berteriak.

Namun—

terlambat.

Kinasih melompat.

Dan—

menyentuhnya.

Sekejap—

semua berhenti.

Denyut berhenti.

Suara hilang.

Dunia—

diam.

Dan—

jeritan.

Keras.

Menghancurkan.

Semua wajah itu menjerit.

Semua suara pecah.

Dan jantung itu—

retak.

KRAK!

Retakan menyebar.

Cepat.

Cahaya keluar.

Terang.

Menusuk.

Sosok itu menjerit.

“APA YANG KAMU LAKUKAN?!”

Kinasih menatapnya.

Matanya—

tenang.

“Aku nutup semuanya…”

Dan—

retakan itu pecah.

Ledakan cahaya.

Dan—

gelap.

Total.

Pukul 05.17.

Lagi.

Namun—

tidak sama.

Jam sudah tidak ada.

Dinding bersih.

Cermin utuh.

Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Kinasih duduk di ranjang.

Napasnya pelan.

Normal.

Matanya…

kembali.

Seperti dulu.

Ia melihat sekeliling.

Sunyi.

Damai.

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada suara.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada apa-apa.

“Kinasih…”

Suara itu.

Bima.

Dari luar kamar.

Nyata.

Kinasih berdiri.

Membuka pintu.

Dan—

Bima ada di sana.

Utuh.

Hidup.

Normal.

Mereka saling menatap.

Lama.

Lalu—

Bima tersenyum.

“Udah selesai…”

Kinasih tersenyum.

Pelan.

“Iya…”

Namun—

di belakang Bima—

bayangan.

Satu.

Tipis.

Hampir tidak terlihat.

Tidak bergerak.

Hanya—

menunggu.

Dan dari dalam—

suara itu muncul lagi.

Sangat pelan.

Hampir hilang.

Namun—

masih ada.

“Aku…”

“…masih di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!