𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16| Luka Sebastian
Langkah kaki jenjangnya terlihat setengah berlarian menyelinap di tengah-tengah lautan manusia, suasana yang riuh dari sorak-sorai bersatu dengan kebisingan knalpot motor menjadi satu. Satu pesan singkat dari Sebastian membuat Aluna yang telah bersiap untuk tidur bergegas berganti pakaian. Diam-diam keluar dari mansion di tengah malam.
"Misi-misi, Mas! Mbak! Numpang lewat." Aluna berseru ketika membelah kerumunan.
Aluna berhenti di pinggir jalan, kedua kelopak matanya menyipit mempertajam penglihatannya. Hanya untuk menemukan Sebastian—pria dingin yang turun balapan liar, mengabaikan kebisingan yang memekakkan telinga.
"Dimana dia?" monolog Aluna memperhatikan setiap motor yang melaju.
Tepukan di atas pundaknya mengalihkan fokus Aluna, ia melongok ke belakang sedikit menengadah. Pria memakai kaos hitam dengan gambar tengkorak tersenyum ke arah Aluna, dahi Aluna berlipat.
"Lo cari siapa?" tanyanya mengeraskan intonasi nada suaranya.
"Gue?" Aluna menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
"Ya, lo."
"Abang kenal Sebastian nggak? Gue lagi cari dia. Apa dia turun ke jalan buat balapan malam ini?" sahut Aluna ikut mengeraskan suaranya.
Pria dengan bibir ditindik itu mengangguk dua kali, dan menjawab, "Oh si Sebastian, gue dan semua orang di sini mah kenal banget sama dia. Malam ini emang dia ikutan, lo siapanya Sebastian?"
"Teman," balas Aluna mengulas senyum sopan.
Menurut buku yang ia baca, Sebastian memang memiliki kehidupan berbeda dengan tiga orang sahabatnya. Saat perasaannya bermasalah ia lebih memilih melampiaskan pada balapan liar, memacu adrenalinnya meluapkan gejolak emosi. Entah kenapa malam ini, ia malah mengirim pesan singkat untuk meminta Aluna datang ke tempat ini.
"Teman," ulangnya nyaris berbisik ditelan hiruk pikuk sekitar, "karena lo teman Sebastian, lo bisa ikut gue dan anak-anak. Kita duduk di sana, nanti Sebastian bakalan ke sana setelah tanding. Btw, Sebastian pakek motor gue tiap mau balapan. Nama gue Nino."
Melihat keraguan di mata gadis remaja di depannya, Nino memperkenalkan dirinya. Meskipun dandanan Nino urakan, Nino bukan pria brengsek yang menganggu perempuan.
"Nama gue Aluna, kalo gitu gue gabung sama teman-teman Bang Nino." Aluna tampak jauh lebih santai saat lawan bicaranya mengenalkan diri.
Nino mengulum senyum, dan berkata, "Ikutin gue."
Aluna mengangguk tanpa suara, keduanya menjauh dari kerumunan. Mata Aluna mengedar menatap lingkungan asing yang terlihat tertata bersih, ada banyak kelompok anak-anak remaja sampai dewasa yang terbentang di sepanjang jalanan yang ia lewati. Baik perempuan dan lelaki semuanya berbaur tanpa kenal batas, ada pula yang tampak merokok di sepanjang jalan.
Keduanya menaiki satu persatu anak tangga bangunan dua lantai, berhenti ditetas yang ditempati dua meja di bagian pojok. Aroma tembakau membuat pangkal hidung Aluna berkerut, langkah kakinya berhenti mendadak. Nino menoleh ke belakang di saat merasa Aluna berhenti mengikutinya, matanya menyipit. Ia kembali melanjutkan langkah kakinya, menepuk bahu lebar pria di kursi.
"Matiin rokok lo," ujarnya memberikan perintah.
Pria berusia awal dua puluhan itu berdecak sebal namun, tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Nino—ketua geng. Aluna mengigit bibirnya, merasa tak enak hati pada pria yang terpaksa mematikan rokoknya hanya karena dirinya tak bisa mencium asap rokok yang menyengat.
"Nah, sini-sini ngumpul. Kita kedatangan pacarnya Sebastian nih!" seru Nino dengan lantang.
Sontak saja pupil mata Aluna melebar, apakah Nino tidak salah dengar tadi. Rasanya saat berkenalan dengan Nino, Aluna mengatakan status sebagai teman bukan pacar. Lantas kenapa Nino malah mengenalkan dirinya sebagai pacar Sebastian, yang paling membuat Aluna takjub adalah dirinya mendadak dikerumuni oleh orang-orang yang datang dari beberapa meja yang ada di dalam ruangan langsung menyerbu ke teras gedung.
"Eh, eh!" Aluna sontak saja melangkah ke belakang tubuh Nino, takut sekali dengan orang-orang yang datang hanya untuk melihatnya.
...***...
"Minum!" seru Sebastian mengulurkan sekaleng minuman dingin ke arah Aluna.
Sebastian cukup terkejut mendapati Aluna yang duduk di kursi menunggunya, anggap saja tindakan Sebastian terlalu impulsif hingga mengirimkan Aluna pesan. Memintanya untuk datang ke alamat yang ia kirim, tidak berharap banyak pada pesan yang ia kirimkan pada Aluna. Ia hanya tidak tahu siapa yang harus dihubungi di saat titik terlemahnya, gadis yang kini tersenyum menerima minuman dingin dari tangannya inilah yang tahu apa yang ia sembunyikan rapat-rapat. Termasuk dari ketiga sahabatnya, sungguh memalukan memiliki keluarga kacau sepertinya.
"Thanks," gumam Aluna.
Sebastian mengangguk kaku, ia duduk di samping Aluna. Nino dan teman-teman jalanan lainnya telah menepi, memberikan keduanya ruang untuk berduaan. Setelah bersiul dan menggoda Sebastian, mereka semua memilih masuk ke dalam bangunan tua itu.
"Lo beneran datang ke sini," tutur Sebastian pelan. "Kenapa lo datang ke sini?"
Suara mendesis saat kaleng dibuka mengalun, Aluna mengerutkan dahinya mendengar kata-kata aneh Sebastian. Bukankah pria di sampingnya ini yang meminta dirinya datang tempat ini, anehnya ia malah bertanya alasan kenapa Aluna datang. Aluna meneguk minuman dan menurunkannya, tanpa melirik ke arah Sebastian. Aluna mendesah berat, menatap orang-orang di bawah sana.
"Karena gue ngerasa lo butuh seseorang di sisi lo saat ini. Tanpa orang tersebut harus bertanya banyak hal, makanya gue ada di sini buat lo." Aluna menoleh ke samping, tersenyum lebar pada Sebastian.
Tertegun, hati Sebastian berdenyut nyeri matanya menangkap senyum indah Aluna. Entah kenapa ia merasa gadis satu ini jauh berbeda dari apa yang selama ini ia pikirkan, seakan ia paham lukanya tanpa harus Sebastian jelaskan. Sebastian lebih dahulu membuang muka, matanya terasa panas.
Sentuhan lembut yang kini berubah menjadi tepukan ringan pada punggung belakangnya seakan merobek topeng datar dan dingin yang ia kenakan selama beberapa tahun ini, bibirnya bergetar sementara kedua tangan di kedua sisi tubuhnya mengepal. Aluna menepuk-nepuk kecil punggung Sebastian, ia juga pernah berada di titik terendah kehidupan. Tanpa satu pun orang yang menemaninya, berpura-pura kuat seakan-akan hidupnya baik-baik saja. Tidak satu pun manusia tempat untuk berkeluh kesah, dikecewakan kedua orang tua, ditatap hina oleh teman-teman, dan bahkan dicurangi hanya karena ia bukan siapa-siapa. Dipeluk erat oleh kemiskinan, didorong oleh ketidak pedulian orang tua, bahkan dikhianati oleh hasil usahanya sendiri.
"Lo udah ngeusahain segalanya sekuat lo, lo udah cukup keras sama diri lo sendiri Bas. Nggak ada orang yang sehebat lo, lo pantas buat dicintai tanpa syarat Bas. Semuanya yang lo usahain pasti bakalan lo dapatin, so nggak ada masalah kalo pun beberapa hal mungkin nggak sesuai sama apa yang lo mau. Bukan karena lo nggak mampu tapi, karena emang belum waktunya aja." Aluna berbicara dengan nada lembut, masih menepuk-nepuk kecil punggung belakang Sebastian.
Kedua telapak tangan Sebastian sontak saja menutupi mukanya, urat-urat lehernya mencuat. Di sela-sela ruas jarinya tampak mulai basah, beruntung mereka duduk di pojok teras. Hingga tidak ada yang memperhatikan pria di sampingnya itu menangis tanpa suara, untuk pertama kalinya ia mengeluarkan air mata setelah beranjak remaja.
Aluna mengigit bibirnya, kilas balik kehidupan Sebastian cukup membuat matanya panas saat membaca novelnya. Sebastian hidup dengan luka batin yang tak kunjung sembuh, Aluna meletakkan kaleng minuman di atas meja dan menarik lembaran tisu mengusap lelehan air mata yang turun ke pergelangan tangan Sebastian.
'Hah! Liat dia kek gini gue jadi ikutan sedih. Dari empat karakter cowok, dia adalah salah satu tokoh yang punya luka yang sama kek gue di dunia nyata. Gue harap lo punya ending yang bahagia Sebastian.' Aluna menghela napas berat.