Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Emirhan tidak memedulikan tangan-tangan perawat yang mencoba menahannya.
Dengan tenaga yang lahir dari keputusasaan murni, ia menerjang masuk ke samping ranjang.
Dunianya telah runtuh, dan ia menolak untuk menerima puing-puingnya.
Dengan tangan gemetar, ia menyentak kain putih yang menutupi wajah Aliya.
"Aliya, bangun!" teriak Emirhan, suaranya pecah, menggema di dinding-dinding ruang ICU yang dingin.
"Jangan membohongiku! Ini tidak lucu, Aliya. Bangun!"
Ia mencengkeram bahu gadis itu, mengguncangnya seolah bisa mengembalikan nyawa yang telah terbang.
Wajah Aliya tampak sangat tenang, terlalu tenang, hingga membuat Emirhan semakin kehilangan akal sehatnya.
"Kamu masih marah karena aku membentakmu kemarin pagi, kan? Iya?!" Emirhan tertawa getir di sela isaknya.
"Bangun sekarang! Bentak aku balik, Aliya! Tampar aku! Lakukan apa saja, tapi tolong, jangan siksa aku dengan cara seperti ini!"
Air mata Emirhan jatuh deras, membasahi pipi Aliya yang pucat.
Rasa bersalah menghujam jantungnya lebih tajam daripada belati manapun.
Ia merasa menjadi penyebab kematian ini. Jika saja ia tidak membentaknya, jika saja ia tidak membawanya ke lingkungan Karadağ yang beracun...
"Bangun, Aliya! Aku mohon..."
Dalam puncak frustrasinya, Emirhan mengepalkan tangan dan memukul dada Aliya—sebuah tindakan putus asa, seolah detak jantung itu bisa dipaksa kembali dengan kekerasan. Satu pukulan, dua pukulan.
"Bangun!!"
Tepat saat dokter hendak menarik Emirhan menjauh, sebuah suara yang sangat tipis dan lemah memecah kesunyian mesin yang tadinya mati.
Tit...
Seluruh orang di ruangan itu membeku.
Tit... Tit...
Garis datar di monitor tiba-tiba membentuk sebuah gelombang kecil yang tak beraturan.
Dokter tersentak, matanya membelalak tak percaya. Ia segera menoleh ke arah monitor, lalu ke arah tubuh Aliya.
"Tidak mungkin..." gumam dokter itu sambil bergegas mendekat.
"Detak jantungnya... detak jantungnya kembali! Cepat, ambil alat pacu jantung lagi! Dia kembali!"
Emirhan jatuh terduduk di lantai, masih memegang tangan Aliya yang mulai terasa sedikit hangat oleh keajaiban yang tak masuk akal.
Di ambang kematian yang paling gelap, seolah-olah teriakan penuh luka Emirhan telah menarik jiwa Aliya kembali ke dunia.
Petugas medis segera bergerak cepat mengelilingi ranjang Aliya setelah sinyal kehidupan itu muncul kembali secara ajaib.
Dokter utama memegang bahu Emirhan, mencoba menyadarkannya dari keterpakuannya.
"Tuan Emirhan, tolong keluar sekarang. Kami harus melakukan tindakan darurat untuk menstabilkan detak jantungnya. Anda tidak bisa berada di sini!" tegas sang dokter.
Emirhan berdiri dengan kaki yang masih terasa seperti jelly.
Matanya terus menatap jemari Aliya yang tadi sempat ia genggam.
Ia dipandu keluar oleh seorang perawat, dan begitu pintu kaca ruang ICU tertutup, pertahanan Emirhan benar-benar hancur.
Ia hampir roboh di koridor jika tidak ada sepasang tangan yang kuat menangkapnya.
Onur Karadağ, yang sejak tadi berdiri diam dengan penuh beban, langsung merengkuh tubuh putranya.
Ia memeluk Emirhan dengan erat—sebuah pelukan yang jarang sekali ia berikan selama bertahun-tahun.
Di bahu ayahnya, Emirhan terisak hebat, menumpahkan segala ketakutan dan rasa bersalah yang sempat mencekik napasnya.
"Dia kembali, Ayah. Dia kembali," bisik Emirhan dengan suara serak.
Tak jauh dari sana, Maria baru saja siuman di kursi tunggu dengan bantuan Zartan.
Ia membuka matanya tepat saat melihat pemandangan yang menyentuh hatinya.
Ia melihat Emirhan—pria dari keluarga yang sangat ia benci—sedang hancur berkeping-keping demi putrinya.
Maria terdiam, kemarahan yang selama ini ia simpan terhadap nama "Karadağ" perlahan luruh saat melihat air mata tulus di wajah Emirhan.
Ia menyadari satu hal yang tidak bisa ia sangkal lagi: cinta pria itu kepada Aliya begitu besar, melampaui ego, harta, bahkan melampaui maut itu sendiri.
"Zartan..." lirih Maria sambil menatap ke arah Emirhan.
"Dia benar-benar mencintai adikmu. Dia telah menariknya kembali dari kegelapan."
Zartan hanya terdiam, namun genggamannya pada tangan ibunya mengendur.
Di koridor rumah sakit yang dingin itu, sebuah harapan baru mulai tumbuh di tengah sisa-sisa tragedi yang hampir merenggut segalanya.
Di dalam ruang ICU, perjuangan Aliya yang sebenarnya baru saja dimulai.
Satu jam berlalu seperti selamanya bagi Emirhan. Setiap detik yang berdetak di jam dinding rumah sakit terasa seperti siksaan, hingga akhirnya pintu ruang ICU kembali terbuka.
Dokter utama melangkah keluar, kali ini dengan gurat kelegaan yang nyata di wajahnya.
"Tuan Emirhan," panggil dokter itu.
"Ini sebuah keajaiban. Aliya sudah melewati masa kritisnya. Dia sudah sadar, dan meskipun suaranya sangat lemah, dia terus memanggil nama Anda."
Jantung Emirhan berdegup kencang, kali ini karena harapan.
Tanpa membuang waktu, ia segera mengikuti prosedur medis, mengenakan pakaian khusus steril—jubah hijau, masker, dan penutup kepala—agar bisa masuk ke dalam ruangan suci itu.
Begitu melangkah masuk, suara mesin yang tadinya terdengar menakutkan kini terasa seperti melodi kehidupan.
Ia mendekat ke ranjang, melihat Aliya yang perlahan membuka kelopak matanya.
Masker oksigen masih menempel di wajahnya yang pucat, namun matanya memancarkan sinar yang sangat lembut saat melihat sosok Emirhan.
Emirhan menggenggam tangan Aliya dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen yang bisa retak kapan saja.
"Aku di sini, Sayang. Aku di sini," bisik Emirhan, suaranya bergetar karena emosi.
Aliya berusaha menggerakkan bibirnya di balik masker oksigen.
Suaranya nyaris tak terdengar, hanya sebuah bisikan lirih yang sangat tulus.
"Emir... a-aku mencintaimu..."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Aliya perlahan memejamkan matanya kembali. Emirhan sempat tersentak panik, namun dokter yang berdiri di sampingnya segera menepuk pundaknya dengan tenang.
"Jangan khawatir, Tuan Emir. Dia hanya tertidur karena pengaruh obat dan kelelahan yang luar biasa setelah berjuang melawan racun itu. Tubuhnya butuh istirahat total untuk pulih sepenuhnya," jelas dokter tersebut.
Emirhan menarik napas lega, mencium punggung tangan Aliya dengan khidmat.
"Kami akan segera memindahkannya," lanjut dokter.
"Tuan Onur sudah menyiapkan ruang perawatan VVIP terbaik di lantai atas. Di sana, fasilitasnya lebih lengkap dan keamanannya akan jauh lebih terjaga untuk proses pemulihan Aliya."
Emirhan mengangguk mantap. Ia berdiri di samping ranjang saat para perawat mulai bersiap memindahkan Aliya.
Kali ini, ia bersumpah di dalam hati: ruang VVIP itu tidak hanya akan menjadi tempat pemulihan bagi fisik Aliya, tapi juga akan menjadi benteng yang tak tertembus oleh siapa pun yang mencoba menyakiti gadis itu lagi—termasuk orang-orang dari dalam rumahnya sendiri.
Di tengah keheningan lorong rumah sakit yang kini sedikit lebih tenang, Onur berbalik menatap Maria dan Zartan.
Ketegangan di wajahnya belum sepenuhnya hilang, namun ada sorot mata yang berbeda—sesuatu yang tampak seperti keinginan untuk menebus kesalahan masa lalu.
"Maria, Zartan," suara Onur terdengar rendah namun berwibawa.
"Aliya sudah berada di tangan yang tepat sekarang. Proses pemindahan ke ruang VVIP akan memakan waktu sedikit lama untuk sterilisasi. Mari kita ke kantin sebentar, kalian butuh tenaga untuk menjaga Aliya nanti."
Zartan sempat ingin menolak karena rasa tidak sukanya pada keluarga Karadağ masih tersisa, namun Maria menyentuh lengan putranya itu perlahan.
Ia mengangguk lemah, menyadari bahwa mereka memang belum makan apa pun sejak pagi buta.
Sesampainya di kantin rumah sakit yang luas, Onur memilih meja yang paling pojok dan tenang.
Ia memesan kopi hitam pekat untuk dirinya sendiri, sementara untuk Maria dan Zartan, ia meminta pelayan membawakan makanan yang lebih mengenyangkan.
"Aku tahu permintaan maaf tidak akan mengubah apa yang terjadi pada Aliya," buka Onur setelah mereka duduk bertiga.
Ia menatap Maria tepat di matanya, sebuah tatapan yang membawa kembali kenangan puluhan tahun silam.
"Tapi aku ingin kalian tahu, aku akan mencari siapa pun yang berani menyentuh Aliya dengan racun itu. Karadağ tidak akan tinggal diam jika ada pengkhianat di bawah atapnya sendiri."
Maria menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.
"Aku tidak butuh balas dendammu, Onur. Aku hanya ingin putriku kembali sehat dan tidak pernah lagi terlibat dalam urusan keluargamu yang rumit."
Zartan mencengkeram pinggiran meja, matanya menatap tajam ke arah Onur.
"Ibu benar. Lihat apa yang terjadi! Aliya hampir mati karena mencintai putramu. Bagaimana kami bisa percaya bahwa dia akan aman setelah ini?"
Onur terdiam sejenak, menerima kemarahan Zartan dengan kepala dingin.
"Itulah sebabnya aku memindahkannya ke VVIP dengan penjagaan ketat. Mulai saat ini, tidak ada satu orang pun dari mansion—termasuk Zaenab atau Laura—yang bisa mendekati Aliya tanpa izin dariku atau Emirhan."
Di meja kantin itu, sebuah kesepakatan tanpa kata mulai terbentuk.
Meskipun luka lama antara Maria dan Onur belum sepenuhnya sembuh, nyawa Aliya telah memaksa dua dunia yang berseberangan ini untuk duduk bersama demi satu tujuan: melindungi jantung hati mereka yang sedang berjuang di lantai atas.