Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAAT SANG ISTRI JADI SANDERA (KASIHAN PENCULIKNYA)
Bagi klan mafia mana pun di belahan bumi ini, menculik istri dari empat kembar penguasa De Calvi terdengar seperti sebuah misi bunuh diri massal yang paling efisien. Namun, bagi sisa-sisa aliansi kecil klan Corsica yang baru saja bangkit dari kebangkrutan, menyandera Alya Putri dirasa sebagai satu-satunya kartu as yang mereka miliki untuk memeras Lucien De Calvi agar menyerahkan kembali jalur distribusi pelabuhan Marseille.
Mereka berhasil memanfaatkan kelengahan sesaat ketika Alya sedang asyik menawar ulekan batu di sebuah pasar loak pinggiran Paris—sebuah tempat yang bahkan Julien pun tidak menduga akan dikunjungi oleh seorang permaisuri mafia. Dalam waktu kurang dari lima menit, sebuah mobil van hitam menyergap Alya, membekapnya, dan membawanya kabur ke sebuah gudang tua tempat penyimpanan daging yang terbengkalai di kawasan industri Saint-Denis.
Di sinilah bencana yang sesungguhnya... dimulai untuk para penculik.
"Ikat dia yang kencang! Ingat, wanita ini berharga triliunan Euro!" teriak sang kepala penculik, seorang pria paruh baya bernama Jean, yang memiliki luka parut di pipi kirinya agar terlihat mengintimidasi.
Alya terbangun dari pingsannya dengan kepala yang sedikit pening akibat efek obat bius murah. Begitu kesadarannya pulih total, hal pertama yang dia rasakan bukanlah rasa takut akan kematian, melainkan rasa dingin yang menusuk tulang dan bau anyir daging sapi yang sudah lewat masa kedaluwarsa.
Dia mendapati dirinya terikat di sebuah kursi kayu tua di tengah gudang yang remang-remang. Di depannya, ada lima orang pria bertubuh kekar, lengkap dengan jaket kulit hitam, tato tengkorak, dan senapan serbu otomatis yang tersampir di pundak mereka.
"Heh! Kalian ini penculik amatir ya?!" omel Alya tiba-tiba, suaranya cempreng menggema di dalam gudang kosong itu, membuat kelima mafia Corsica itu serentak melongo kebingungan.
Jean berkedip, mengerutkan keningnya. "Apa kau bilang, Nyonya De Calvi? Kau tidak takut? Kami bisa saja meledakkan kepalamu sekarang juga!"
"Gimana nggak amatir! Ini gudang pendingin daging kan? AC-nya dingin banget begini tapi kalian nggak modal ngasih saya selimut atau minimal jaket kek! Kalau saya masuk angin, trus asma saya kambuh, trus saya mati di sini sebelum Bang Lucien bayar tebusan, kalian mau dapet duit dari mana? Dari BPJS?!" semprot Alya tanpa rem sedikit pun.
Seorang anak buah Jean yang bertubuh paling besar, bernama Pierre, menoleh ke arah bosnya dengan wajah polos. "Bos... secara logistik medis, apa yang dikatakannya ada benarnya. Jika sandera mati karena hipotermia, negosiasi kita akan gagal total."
Jean menepuk jidatnya dengan frustrasi. "Duh, bodoh! Cepat ambilkan jaket cadangan di mobil untuknya!"
Setelah Alya dipakaikan jaket puffer tebal berukuran besar milik Pierre yang baunya seperti minyak wangi bapak-bapak digabung bau rokok kretek, Alya mulai mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan dengan teliti.
"Jam berapa sekarang, Bang?" tanya Alya pada Pierre yang berdiri menjaga di samping kursinya.
"Pukul setengah delapan malam," jawab Pierre patuh, seolah-olah dia sedang berbicara dengan atasannya sendiri, bukan dengan sandera.
"Ya ampun! Udah jam setengah delapan malam dan kalian belum ngasih saya makan malam?!" jerit Alya lagi, wajahnya cemberut maksimal. "Kalian tahu nggak, saya itu punya maag akut! Kalau telat makan setengah jam aja, lambung saya bisa bergejolak seperti badai khatulistiwa! Nanti kalau saya muntah-muntah di sepatu mahalmu itu, jangan salahin saya ya!"
Jean, yang sedang mencoba menelepon nomor pribadi Lucien untuk mengajukan tuntutan tebusan, mendadak kehilangan konsentrasi karena omelan Alya yang tidak berhenti sejak sepuluh menit lalu.
"Diam kau, wanita Asia! Aku sedang melakukan negosiasi bisnis tingkat tinggi!" bentak Jean, tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar karena menahan kekesalan.
"Bisnis mata lu soak! Gimana mau bisnis kalau sanderanya kelaparan! Sono beliin saya makanan dulu! Saya mau nasi padang lauk tunjang, tapi karena ini di Prancis, minimal beliin saya ayam panggang yang ada di seberang jalan tadi! Oh, sama air putihnya jangan yang dingin ya, saya nggak kuat dingin!" titah Alya dengan nada yang sangat otoriter layaknya seorang ratu di istana kerajaannya sendiri.
Pierre menatap Jean lagi dengan pandangan memohon. "Bos... aku juga sebenarnya lapar. Bagaimana kalau kita memesan makanan sekalian untuk kita semua?"
Jean menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan diri agar tidak meledakkan gudang ini bersama dirinya sendiri. "Baik! Pierre, pergi ke kedai seberang, beli ayam panggang dan air hangat untuk wanita cerewet ini! Cepat!"
Sementara Pierre pergi membeli makanan, Jean akhirnya berhasil menyambungkan panggilannya ke nomor Lucien De Calvi. Ponsel itu dialihkan ke mode pengeras suara agar seluruh anak buahnya bisa mendengar momen kemenangan mereka.
"Lucien De Calvi," suara berat dan sedingin es milik Lucien menggema dari seberang telepon, membuat atmosfer di dalam gudang instan mencekam.
" Bonjour, Lucien," sapa Jean dengan tawa licik yang dipaksakan. "Aku memiliki mainan barumu di tanganku sekarang. Gadis mungil asal Jakarta-mu ada bersamaku di sebuah tempat rahasia. Jika kau ingin melihatnya pulang dalam keadaan utuh, serahkan seluruh hak kepemilikan pelabuhan Marseille dan uang tunai sebesar lima puluh juta Euro malam ini juga!"
Hening sejenak di seberang telepon. Jean tersenyum puas, mengira Lucien sedang ketakutan setengah mati. Namun, sebelum Lucien sempat membalas, suara cempreng Alya kembali memotong dari latar belakang dengan sangat nyaring.
"BANG LUCIENNN! JANGAN MAU! JANGAN DIKASIH!" teriak Alya sekuat tenaga ke arah ponsel Jean. "MEREKA PENCULIK MISKIN, BANG! MASUK GUDANG DAGING TAPI AC-NYA NGGAK DIKASIH SELIMUT! SAYA CUMA DIKASIH JAKET BAU ROKOK! JANGAN MAU BAYAR LIMA PULUH JUTA, MEREKA BISA DIANGGARKAN PAKE VOUCER DISKONAN BELANJA BULANAN AJA!"
Jean langsung panik dan menutup mikrofon ponselnya dengan tangan. "Diam kau! Tutup mulutmu!"
Suara dari seberang telepon berganti. Kali ini suara Marc yang terdengar sangat tenang, diiringi suara ketukan papan tik yang sangat cepat di latar belakang. "Berdasarkan analisis akustik dari teriakan istriku dan pantulan gema frekuensi suara, kalian berada di sebuah ruangan dengan volume arsitektur sekitar empat ratus meter kubik, struktur dinding beton berlapis seng galvanis, dan ada suara mesin kompresor pendingin tua merek Carrier buatan tahun 1998 yang sedang mengalami kerusakan kompresor di latar belakang. Aku sudah mempersempit koordinat GPS kalian ke tiga gudang daging terbengkalai di Saint-Denis. Waktu pelacakan tersisa: delapan puluh detik."
Wajah Jean mendadak memucat. Dia tidak menyangka klan De Calvi bisa melacak lokasinya hanya dari gema suara mesin AC tua yang rusak.
Kemudian, giliran suara Etienne yang masuk ke dalam panggilan dengan nada yang sangat santai namun penuh ancaman kematian yang nyata. "Hei, penculik dengan luka parut di pipi. Aku menyarankanmu untuk memperlakukan istri kami dengan sangat baik dalam delapan puluh detik ke depan. Jika ada satu helai rambut hitamnya yang patah, aku akan memastikan seluruh keluargamu di Corsica akan menghabiskan sisa hidup mereka di dasar selokan pelabuhan Marseille."
Panggilan telepon langsung diputus secara sepihak dari ujung sana, meninggalkan bunyi tut-tut-tut yang terdengar seperti jam pasir penghitung mundur kematian bagi para penculik.
Jean berdiri mematung di tengah ruangan, keringat dingin mulai membasahi dahinya meskipun suhu di dalam gudang sangat rendah. "Sial! Mereka tahu kita di Saint-Denis! Bersiaplah! Ambil posisi bertahan di dekat pintu masuk!"
Pierre kembali masuk ke dalam gudang sambil membawa sekantong besar ayam panggang yang aromanya sangat menggugah selera. "Bos, ini ayamnya—"
"Taruh di sini ayamnya, Bang Pierre! Sini, suapin saya, tangan saya kan masih diikat!" potong Alya dengan mata berbinar-binar melihat makanan.
Pierre, yang sudah kehilangan seluruh wibawa mafianya akibat tekanan psikologis dari ancaman De Calvi dan dominasi omelan Alya, dengan patuh berjalan mendekati Alya. Dia merobek daging ayam panggang itu dengan tangannya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut Alya yang terbuka lebar dengan sangat hati-hati agar sausnya tidak menetes ke jaket puffer-nya.
"Hmm... enak sih, tapi kurang sambal ulek nih. Kurang nendang," komentar Alya sambil mengunyah dengan lahap, sama sekali tidak terlihat seperti seorang sandera yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk. "Bang Jean, mau dikit nggak? Enak loh, mumpung masih hangat. Daripada Abang tegang begitu nungguin suami-suami saya dateng buat ngebantai kalian, mending kita makan malam bersama sebagai hidangan terakhir."
"Diam! Bagaimana bisa kau makan dengan tenang di situasi seperti ini?!" bentak Jean frustrasi, mondar-mandir di depan pintu sambil memegang senjatanya dengan tangan yang gemetar hebat.
"Lah, daripada saya mati kelaparan sebelum ditembak? Lagian, Bang Jean, saya kasih tahu ya... suami-suami saya itu kalau dateng nggak pernah ngetok pintu. Mereka itu tipe-tipe yang suka merusak fasilitas umum," ujar Alya santai setelah menelan kunyahan terakhirnya.
Tepat setelah Alya menyelesaikan kalimatnya...
BOOOOOOMMMM!!!
Dinding beton bagian kanan gudang hancur berantakan menjadi puing-puing debu akibat hantaman sebuah mobil jip militer berlapis baja ( armored vehicle ) berwarna hitam legam yang menerobos masuk tanpa permisi. Goncangan hebat membuat debu-debu semen beterbangan di udara, menutup pandangan sesaat.
Dari balik kepulan debu, empat siluet pria jangkung melangkah masuk dengan sinkronisasi yang sangat mengintimidasi.
Lucien melangkah paling depan dengan senapan serbu laras panjang yang siap menyalak. Di sampingnya, Julien memegang senapan sniper taktis jarak dekat dengan laser merah yang langsung mengunci tepat di tengah kening Jean. Marc berdiri di belakang sambil memegang tablet digitalnya untuk mematikan seluruh aliran listrik cadangan di area tersebut, sementara Etienne memegang dua pistol revolver perak dengan senyum menawan yang paling mematikan yang pernah ada.
"Protokol penyelamatan selesai dalam waktu tiga puluh dua menit dari waktu penculikan awal. Efisiensi waktu meningkat sebesar dua belas persen dari latihan sebelumnya," ucap Marc dengan nada datar sambil mematikan layar tabletnya.
"Angkat tangan kalian, atau ruangan ini akan berubah menjadi tempat penjagalan daging manusia," perintah Lucien, suaranya menggelegar penuh otoritas mutlak yang membuat tiga anak buah Jean langsung menjatuhkan senjata mereka ke lantai tanpa perlawanan sama sekali.
Jean yang sudah terkepung dan ketakutan setengah mati mencoba melakukan aksi nekat terakhirnya. Dia berlari ke arah Alya, mencoba mengarahkan pistolnya ke kepala Alya untuk menjadikannya perisai manusia.
Namun, gerakan Jean terlalu lambat bagi seorang sniper nomor satu.
DOR!
Satu tembakan presisi dari Julien menghantam pergelangan tangan Jean hingga pistolnya terlepas dan terlempar ke udara. Jean menjerit kesakitan, memegangi tangannya yang terluka sambil berlutut di atas lantai yang dingin.
Julien tidak berhenti di situ. Dia melangkah maju dengan cepat, melompati puing-puing beton, dan dalam sekejap sudah berdiri di depan kursi Alya, memotong semua tali tali pengikat di tubuh Alya menggunakan pisau taktisnya dengan gerakan yang sangat rapi dan cepat.
"Kau terluka, Alya?" tanya Julien, matanya yang sedingin es mendadak dipenuhi oleh kecemasan yang sangat dalam saat dia memeriksa pergelangan tangan Alya yang sedikit memerah akibat gesekan tali.
"Nggak luka kok, Bang Julien. Cuma agak pegal aja, sama tadi ayam panggangnya agak kurang asin dikit," jawab Alya sambil langsung berdiri dan meregangkan kedua tangannya dengan lega.
Etienne berjalan mendekati Pierre yang masih berdiri mematung sambil memegang sisa bungkusan ayam panggang di tangannya dengan tubuh gemetar. Etienne mengambil satu potong kentang goreng dari bungkusan itu dan memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.
"Hmm, kau membelikan istri kami makanan yang cukup layak, Pierre," puji Etienne sambil menepuk bahu Pierre dengan ramah, namun tekanan tangannya begitu kuat hingga membuat lutut Pierre hampir lemas. "Karena kau sudah menjaga kenyamanan fisiknya selama tiga puluh menit terakhir, aku akan memberikanmu pilihan: bergabung dengan klan De Calvi sebagai divisi logistik makanan, atau ikut bosmu ini berenang di dasar laut Marseille malam ini."
Pierre langsung berlutut di depan Etienne dengan sangat patuh. "Aku memilih logistik makanan, Tuan! Aku sangat ahli dalam memilih bahan makanan segar!"
Lucien mendekati Alya, langsung melepas jaket puffer bau rokok milik Pierre dari tubuh istrinya dan menggantinya dengan jas mantel kasmir mahalnya sendiri yang hangat dan wangi aroma kayu cendana. Dia membawa Alya ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
"Aku merindukanmu, Alya. Jangan pernah pergi ke pasar loak sendirian lagi tanpa membawa minimal satu peleton pengawal," bisik Lucien di dekat telinga Alya, mempererat pelukannya seolah-olah dia tidak akan pernah membiarkan gadis kecil ini menghilang dari pandangannya lagi.
"Iya, Bang Lucien. Maaf ya udah bikin repot sampai harus ngerusak tembok gudang orang segala," sesal Alya sambil membalas pelukan suaminya dengan manja.
Marc melihat ke arah Jean yang masih mengerang di lantai, lalu mengetik sesuatu di tabletnya untuk memanggil tim pembersih internal De Calvi. "Klan Corsica resmi dihapus dari peta bisnis bawah tanah Eropa per malam ini. Seluruh aset mereka dialihkan untuk mendanai pengadaan pasokan bahan makanan Asia premium untuk permaisuri."
Saat mereka berlima berjalan keluar dari gudang yang hancur menuju mobil limosin yang sudah bersiap di luar, Alya tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Pierre yang sedang berjalan mengekor di belakang Etienne dengan patuh.
"Bang Pierre!" panggil Alya.
"Ya, Nyonya?!" sahut Pierre dengan sigap.
"Besok-besok kalau kita rapat logistik, tolong beliin ulekan batu yang dari batu kali asli ya. Yang di pasar loak tadi ternyata cuma dari semen cetakan, gampang gompel kalau buat ngerujak."
Pierre langsung mengangguk dengan penuh rasa hormat yang mendalam. "Siap, Nyonya! Aku akan memesannya langsung dari pemasok batu vulkanik terbaik malam ini juga!"
Keempat kembar De Calvi hanya bisa saling melempar pandangan penuh tawa dan kepasrahan yang manis di dalam mobil yang melaju membelah malam Saint-Denis menuju apartemen mereka di Paris. Mereka tahu, dunia mereka mungkin dipenuhi oleh bahaya dan intrik politik bawah tanah yang mematikan, namun selama mereka memiliki Alya—seorang gadis sandera paling berani yang bisa mengubah situasi penculikan menjadi sesi pemesanan makanan malam gratis—tidak akan ada satu pun musuh di dunia ini yang akan pernah bisa menghancurkan kebahagiaan dinasti De Calvi.