LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Runtuhnya Topeng & Kebohongan 22 Tahun
Mereka memindahkan Sabiru yang masih belum sadar ke ruang medis darurat di tingkat bawah fasilitas. Allbiru bekerja dengan presisi tinggi, memasang infus cairan elektrolit dan obat penenang ringan untuk menstabilkan aktivitas otak Sabiru. Aldo menjaga pintu, waspada terhadap segala ancaman, sementara Arisendra duduk di kursi pojok, menatap putrinya dengan tatapan penuh penyesalan.
Suasana di ruangan itu hening, tapi tebal dengan ketegangan yang belum terselesaikan.
Setelah satu jam, kelopak mata Sabiru berkedut. Perlahan, dia membuka matanya. Pandangannya kabur, tapi perlahan fokus pada wajah Allbiru yang berada tepat di atasnya.
"Biru..." bisik Sabiru, suaranya serak.
Allbiru tersenyum lega, mengusap keringat di dahi Sabiru. "Hei, kamu pulang. Bagaimana rasanya?"
Sabiru mencoba duduk, tapi Allbiru menahannya lembut. "Pelankan, Ru. Otakmu baru saja mengalami 'banjir' data. Kamu butuh waktu."
Sabiru menoleh, dan matanya bertemu dengan pandangan Arisendra yang duduk di pojok. Pria tua itu terlihat lebih kecil, lebih rapuh, daripada sosok otoriter yang dia bayangkan selama ini.
"Ayah..." panggil Sabiru pelan.
Arisendra bangkit, berjalan perlahan mendekati tempat tidur. "Ya, Nak. Ayah di sini."
"Kenapa?" tanya Sabiru, air mata mulai menggenang di matanya. "Kenapa kau biarkan aku percaya bahwa Rania adalah ibuku? Kenapa kau biarkan aku memanggil Aldo 'Yah'? Selama 22 tahun, Ayah... Dua puluh dua tahun aku hidup dalam kebohongan!"
Suaranya pecah di akhir kalimat. Kemarahan, kebingungan, dan rasa dikhianati bercampur aduk.
Arisendra menundukkan kepala, tidak berani menatap mata putrinya. "Karena jika kau tahu siapa dirimu sebenarnya, Rio akan menemukanmu. Darah Naverlla memiliki tanda genetik unik, Sabiru. Tanda yang bisa dilacak oleh scanner DNA canggih milik The Eternity Circle. Jika akta kelahiranmu asli, jika namamu tercatat sebagai anak Arisendra, kau akan ditemukan saat kau masih bayi. Kau akan diambil. Dan kau akan dijadikan bahan eksperimen sebelum kau bahkan bisa berbicara."
Arisendra mengangkat wajah, matanya merah menahan tangis.
"Aku dan Malia... kami tidak punya pilihan. Kami harus memisahkan diri. Malia pura-pura menjadi janda miskin yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit Aldo. Aku pura-pura mati dalam ledakan laboratorium. Dan kau... kau kami serahkan pada Rania dan Aldo, sahabat terbaik kami, orang-orang yang paling tidak terpikirkan oleh Rio sebagai tempat persembunyian."
Dari ambang pintu, Aldo melangkah masuk. Wajahnya lelah, penuh beban rahasia yang akhirnya terbongkar.
"Kami melakukannya demi cinta, Ru," kata Aldo pelan. "Rania mencintai mu seperti anaknya sendiri. Dia rela tidak memiliki anak kandung lagi setelah melahirkan Allbiru, agar fokusnya sepenuhnya pada perlindunganmu. Setiap kali kau sakit, dia begadang. Setiap kali kau lulus sekolah, dia menangis bangga. Itu bukan akting, Sabiru. Itu cinta sejati seorang ibu."
Sabiru menatap Aldo, lalu menatap Allbiru. "Jadi... kalian semua tahu? Kalian semua tahu aku bukan bagian dari keluarga ini secara darah, tapi kalian membiarkanku percaya begitu saja?"
Allbiru menggenggam tangan Sabiru erat. "Aku tahu ketika aku berusia 15 tahun. Ayah memberitahuku. Saat itu, aku shock. Aku marah. Aku merasa dikhianati karena kau ternyata 'orang luar'. Tapi kemudian... aku melihat bagaimana kau tertawa, bagaimana kau berjuang, bagaimana kau menjadi Sabiru yang kukenal. Dan aku sadar, darah tidak menentukan keluarga. Cinta yang menentukan."
Allbiru menatap mata Sabiru dalam-dalam. "Dan saat aku menyadari bahwa perasaanku padamu bukan sekadar kasih sayang saudara, tapi sesuatu yang lebih dalam... aku bersyukur. Bersyukur bahwa kita tidak sedarah. Karena itu berarti cintaku padamu tidak dosa. Itu berarti aku boleh mencintaimu sepenuhnya, tanpa rasa bersalah."
Sabiru terdiam. Kata-kata Allbiru menghantam hatinya. Selama ini, dia menahan perasaan cintanya pada Allbiru karena takut dianggap incest, takut merusak hubungan keluarga. Tapi sekarang... tembok itu runtuh.
"Jadi..." bisik Sabiru, air mata mengalir deras. "Kita boleh...?"
Allbiru tersenyum, senyum yang jarang ia tunjukkan. Dia membungkuk, mencium kening Sabiru dengan lembut. "Kita selalu boleh, Ru. Sejak hari pertama kau menyadari hatimu."
Sabiru menutup matanya, membiarkan air matanya mengalir. Rasa sakit pengkhianatan itu masih ada, tapi mulai tertutupi oleh kelegaan yang luar biasa. Dia tidak kehilangan keluarga. Dia justru mendapatkannya kembali, dalam bentuk yang lebih kompleks, lebih nyata, dan lebih kuat.
Arisendra duduk di tepi tempat tidur. "Malia menunggu kabar darimu, Sabiru. Dia ingin sekali memelukmu, tapi dia takut kau akan menolaknya. Dia merasa bersalah telah menyerahkanmu."
Sabiru membuka matanya, menatap Arisendra. "Apakah Ibu tahu kau masih hidup?"
Arisendra mengangguk. "Kami berkomunikasi lewat kode enkripsi lama yang hanya kami berdua yang paham. Dia tahu aku mempersiapkan pertahanan di sini. Dia tahu suatu hari nanti, kau akan datang. Dan dia tahu kau akan membutuhkan keduanya: Ibimu yang membesarkanmu dengan cinta, dan Ayahmu yang memberimu kekuatan untuk bertahan."
Sabiru menghela napas panjang. "Aku ingin bertemu Ibu. Aku ingin bertemu Mama Rania juga. Aku ingin menjelaskan semuanya. Tapi sekarang... apa yang harus kita lakukan dengan Rio?"
Aldo menatap layar monitor yang menunjukkan kondisi Rio yang masih dalam keadaan katatonik. "Dia sudah tidak berbahaya. Pikirannya terperangkap. Tapi tubuhnya masih bernapas. Kita tidak bisa membunuhnya di sini. Itu akan membuat kita sama dengannya."
"Maka kita serahkan dia pada hukum," kata Arisendra tegas. "Tapi bukan hukum biasa. Hukum yang kita buat. Kita akan menyerahkannya kepada otoritas internasional dengan bukti lengkap kejahatan The Eternity Circle. Biar dunia tahu siapa mereka sebenarnya."
Tiba-tiba, alarm di ruangan berbunyi pendek. Layar konsol medis menampilkan pesan dari sistem keamanan pulau:
> ALERT: UNIDENTIFIED VESSEL APPROACHING SECTOR DELTA.
> SIGNAL MATCH: THE ETERNITY CIRCLE - ELITE RESPONSE TEAM.
Wajah Aldo berubah serius. "Mereka datang. Pasukan elit. Mereka tahu Rio gagal."
Arisendra berdiri, wajahnya kembali menjadi sang jenius strategis yang dingin. "Maka kita harus pergi. Sekarang. Kapal evakuasi sudah siap di dermaga selatan. Kita punya waktu 15 menit sebelum mereka mendarat."
Sabiru mencoba bangkit, tapi kakinya masih lemas. Allbiru segera membantunya berdiri, mendukung berat tubuh Sabiru dengan lengan kuatnya.
"Aku bisa jalan," kata Sabiru, meski suaranya masih lemah. "Aku tidak mau dibopong terus. Aku punya peran dalam perang ini."
Arisendra menatap putrinya dengan bangga. "Itu semangatku. Ayo, kita pulang ke Jakarta. Pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai di sana."