NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harum Danar dan Tawa di Tengah Ladang

Dua hari setelah keriuhan di kolam ikan, pagi di penginapan kayu itu terasa jauh lebih segar. Aroma kayu yang tersiram hujan semalam masih menggantung di udara, menciptakan suasana yang sangat pas untuk memulai aktivitas luar ruangan.

Hari ini, Kakek dan Nenek sudah bersiap sejak fajar menyingsing. Mereka mengenakan pakaian lapangan yang sudah kusam namun nyaman, lengkap dengan keranjang bambu yang dilingkarkan di pinggang.

Agendanya adalah memanen getah damar di lahan milik keluarga yang letaknya agak mendaki, menyusuri deretan pohon Agathis yang menjulang tinggi di area perbukitan belakang penginapan.

Arunika sudah siap dengan sepatu bot karetnya, sementara Senja dan Arkala tampak bersemangat meskipun ini adalah pengalaman pertama bagi Senja untuk benar-benar terjun ke lapangan sebagai pemanen.

Arkala, yang sudah khatam dengan segala urusan hutan, tampak sibuk memberikan instruksi kepada Senja dengan gaya yang sengaja dibuat sok tahu, namun kali ini tanpa ada sedikit pun gurat permusuhan di wajahnya. Arkala bahkan sempat mempraktekkan gerakan tangan yang benar saat memegang pahat kayu kecil di depan Senja.

"Dengerin ya, Senja. Memanen getah itu nggak cuma soal tenaga. Ada seninya. Kalau lu asal congkel, yang ada pohonnya malah rusak, dan getahnya nggak bakal keluar dengan bersih. Jadi, perhatikan setiap gerakan tangan Kakek nanti," ujar Arkala sambil membusungkan dada, seolah dia adalah instruktur ahli di tengah hutan itu.

Senja hanya tertawa sambil membetulkan letak tas ranselnya yang berisi botol air minum. "Oke, gue bakal belajar dengan sangat tekun supaya tidak memalukan di depan Kakek dan Nenek. Lagipula, gue nggak mau dianggap anak kota yang cuma bisa melihat hasil jadi di toko parfum."

Arunika yang melihat interaksi itu hanya bisa tersenyum lebar. Ia merasa sangat senang melihat kedua pria itu kini bisa bicara satu sama lain tanpa harus ada emosi yang tertahan.

Langkah kaki mereka terdengar beradu dengan dedaunan kering yang berguguran di jalan setapak. Mereka mulai berjalan menyusuri jalan yang menanjak, di mana akar-akar pohon besar menyembul ke permukaan tanah seperti tangga-tangga alami.

Sepanjang perjalanan, percakapan mereka dipenuhi oleh candaan-candaan ringan yang memicu tawa renyah yang memecah kesunyian hutan.

Arunika berjalan di tengah, sesekali meledek Arkala yang hampir terpeleset karena terlalu banyak bicara, atau menertawakan Senja yang tampak sangat hati-hati menghindari pacet atau serangga kecil yang mungkin menempel di kakinya.

Senja tampak beberapa kali berhenti untuk memastikan tidak ada makhluk penghisap darah yang menempel di balik celana panjangnya, hal itu tentu saja menjadi bahan olokan yang empuk bagi Arkala.

"Ika, lihat itu! Senja kayaknya lagi nari balet ya? Jalannya jinjit-jinjit gitu, takut banget kena tanah basah," ledek Arkala sambil menunjuk-nunjuk kaki Senja dengan tawa yang meledak.

Arunika tertawa lepas melihat cara jalan Senja yang memang sangat berhati-hati agar sepatu mahalnya tidak terlalu kotor oleh lumpur.

"Hush, Kal! Dia itu kan biasanya jalan di lantai gedung perkantoran yang licin dan kinclong, wajar saja kalau di sini dia merasa seperti sedang melewati medan perang yang penuh jebakan. Jangan digoda terus, nanti dia malah mogok jalan!"

Senja ikut tertawa, sama sekali tidak merasa tersinggung. "Kalian berdua ini memang satu tim ya kalau soal ngeledek gue. Tunggu saja nanti kalau kita sudah sampai di pohonnya, gue bakal buktiin kalo gue bisa jadi pemanen getah yang paling cekatan! Gue udah riset sedikit tadi malam tentang teknik ini."

"Riset dari internet nggak bakal berguna di depan pohon yang asli, Senja!" sahut Arkala sambil menepuk punggung Senja dengan keras.

Sesampainya di area pohon damar, Kakek mulai menunjukkan cara mengambil getah yang sudah mengeras. Bau harum damar yang menyerupai wangi dupa alami mulai menyeruak, memenuhi rongga dada dengan ketenangan yang luar biasa. Wanginya begitu khas, manis namun tajam, seolah menyatu dengan udara dingin pegunungan.

Mereka mulai bekerja dengan pembagian tugas yang adil. Arunika bagian mengumpulkan bongkahan getah yang jatuh ke tanah, sementara Arkala dan Senja bertugas mengambil getah dari batang-batang pohon yang agak tinggi dengan alat khusus.

Keseruan terjadi saat seekor tupai tiba-tiba melompat dari dahan tepat di atas kepala Senja. Sontak Senja berteriak kaget dan hampir menjatuhkan keranjangnya ke tanah. Ia bahkan sempat melakukan gerakan bela diri spontan yang terlihat sangat konyol karena panik.

Arkala yang melihat itu langsung terpingkal-pingkal sampai terduduk di tanah sambil memegangi perutnya. "Ya ampun, Senja! Masa sama tupai aja lu teriak kayak lihat hantu! Itu tadi cuma tupai kecil, bukan beruang liar!"

Arunika yang melihat pemandangan itu juga tak sanggup menahan tawa sampai matanya berair. "Aduh, perutku sakit! Senja, wajah kaget kamu tadi benar-benar tak ternilai harganya! Harus difoto tadi itu buat jadi kenang-kenangan seumur hidup!"

"Kalian ini jahat banget ya... tupainya tadi itu melompat tiba-tiba sekali, seolah-olah dia mau menyerang wajah gue! Gue kan cuma berjaga-jaga kalau aja dia itu tupai ninja," bela Senja dengan wajah yang memerah karena malu, namun ia juga akhirnya ikut tertawa melihat kekonyolannya sendiri.

Setelah bekerja selama beberapa jam hingga keranjang-keranjang mereka mulai penuh dengan bongkahan getah berwarna kuning jernih yang tampak seperti permata alami, Kakek mengajak mereka beristirahat. Tenaga mereka cukup terkuras, namun semangat mereka justru makin bertumbuh.

Mereka menuju sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah ladang terbuka yang menjorok ke lembah. Gubuk itu sederhana, berdinding kayu damar tua dengan atap rumbia, namun terasa sangat nyaman dan menyejukkan.

Nenek ternyata sudah menyiapkan bekal yang sangat menggoda selera di dalam gubuk tersebut. Ada nasi liwet hangat yang harum dengan aroma serai dan daun salam yang kuat, lengkap dengan sambal terasi pedas, ikan asin goreng, dan lalapan segar. Semuanya tertata rapi di atas tampah besar. Mereka duduk melingkar, melupakan status dan latar belakang mereka, menyatu dalam satu rasa lapar yang sama.

Mereka makan di atas lantai kayu gubuk itu dengan alas daun pisang yang digelar panjang secara tradisional. Suasana makan siang itu benar-benar penuh kehangatan dan kekeluargaan. Tidak ada sekat atau kecanggungan lagi yang tersisa dari masa lalu.

Senja bahkan sudah berani mengambil sambal dalam jumlah yang cukup banyak, yang akhirnya membuatnya berakhir dengan wajah berkeringat dan napas yang tersengal-sengal karena kepedasan yang luar biasa.

"Ini... sambal buatan Nenek benar-benar menantang maut. Tapi rasanya enak banget, aku nggak bisa berhenti makan," ujar Senja sambil terus-menerus mengipasi mulutnya yang kepedasan menggunakan telapak tangan, wajahnya sudah semerah tomat matang.

Arkala tertawa puas sambil menyodorkan segelas air putih hangat. "Makanya, jangan sok jagoan kalau soal sambal desa. Di sini itu rasa nomor satu, pedas nomor dua, dan mandi keringat itu sudah pasti nomor tiga! Habisin airnya, nanti perut lu kaget."

Arunika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua yang makin hari makin kompak. Setelah kenyang bersantap dan beristirahat sejenak sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang masuk lewat jendela gubuk tanpa kaca, Arkala tiba-tiba berdiri dan menunjuk ke arah bawah ladang yang agak curam.

"Eh, Ika, Senja! Lihat di bawah sana, ada anak sungai kecil! Airnya jernih banget, kayaknya enak buat cuci muka dan mendinginkan kaki."

Arunika menoleh dan matanya seketika berbinar cerah. "Wah, iya! Benar, Kal! Ayo kita ke sana sebelum kita kembali ke penginapan!"

Tanpa menunggu komando kedua, Arunika, Arkala, dan Senja segera turun menuju anak sungai tersebut, meninggalkan Kakek dan Nenek yang memilih untuk tidur siang sejenak di dalam gubuk yang teduh itu.

Anak sungai itu memang tidak terlalu lebar, airnya mengalir tenang di antara batu-batu kali yang bulat dan licin. Airnya begitu bening hingga pasir dan batu kecil di dasarnya terlihat sangat jelas, memantulkan cahaya matahari siang yang menembus celah pepohonan.

Tanpa banyak bicara, Arkala langsung mencuci wajahnya dengan air sungai yang sangat dingin. "Seger banget! Ayo, Senja, Ika, sini cepat! Airnya dingin kayak es dari kulkas!"

Momen kebersamaan di anak sungai itu menjadi sangat berkesan bagi Arunika. Mereka duduk di atas batu-batu besar yang menjorok ke air, mencelupkan kaki mereka yang lelah ke dalam aliran air yang dingin, dan saling bercerita tentang hal-hal lucu yang tidak penting.

Sesekali Senja melemparkan kerikil kecil ke arah air untuk memercikkan air ke arah kaki Arunika, yang kemudian dibalas oleh Arunika dengan siraman air yang jauh lebih besar menggunakan tangannya hingga baju Senja sedikit basah.

"Kalian tahu nggak?" ujar Arkala tiba-tiba dengan nada serius yang sengaja dibuat-buat untuk menarik perhatian kedua temannya.

"Gue rasa, kita bertiga ini kayak bumbu dapur yang ada di nasi liwet Nenek tadi. Gue itu cabainya yang pedas dan bikin heboh suasana, Senja itu garamnya yang bikin suasana jadi gurih dan berisi karena pengetahuannya, dan Ika itu... Ika itu gulanya yang bikin rasa hidup kita jadi manis dan seimbang."

Arunika tertawa keras sambil melempar segenggam air ke arah Arkala yang sedang berpose sok puitis di atas batu. "Bisa aja kamu ini, Kal! Gombalan kamu itu udah basi banget dan ketinggalan zaman, tahu! Sejak kapan kamu jadi puitis begini?"

Senja tersenyum lebar menatap Arunika dan Arkala bergantian dengan tatapan yang sangat tulus. Ia merasa sangat bersyukur bisa diterima dengan tangan terbuka dalam lingkaran persahabatan yang begitu jujur ini, jauh dari kepura-puraan dunia bisnis di kota.

"Gue setuju sama Arkala. Tanpa rasa manis dari Ika, mungkin gue sama Arkala cuma bakal jadi masakan yang nggak enak dimakan karena isinya cuma marah-marah dan debat nggak jelas soal masa lalu."

Percakapan pun mengalir deras seiring aliran air sungai yang tak pernah putus. Mereka bercanda, tertawa, dan saling melempar ejekan ringan tanpa ada satu pun hati yang merasa tersinggung. Arunika merasakan hatinya sangat penuh dan bahagia.

Melihat Arkala dan Senja bisa seakrab ini adalah sesuatu yang dulunya ia pikir adalah kemustahilan yang nyata, sebuah mukjizat kecil di tengah hutan. Ternyata, alam, kerja keras memanen damar, dan kejujuran telah menjadi obat yang paling mujarab bagi luka-luka lama mereka yang dulu begitu menganga.

Matahari mulai sedikit turun ke arah barat, memberikan warna keemasan yang cantik pada permukaan air sungai yang tenang. Arunika menatap bayangan mereka bertiga yang terpantul di permukaan air yang bergoyang pelan.

Ia merasa bahwa perjalanan panjang dalam cerita hidupnya ini, yang mungkin akan mencapai puluhan bab ke depan, akan menjadi perjalanan yang sangat indah jika setiap langkahnya dilewati dengan tawa tulus seperti ini.

Di gubuk ladang yang sunyi dan di anak sungai kecil ini, mereka tidak hanya berhasil memanen getah damar yang berharga bagi ekonomi keluarga Kakek, tapi mereka juga berhasil memanen kenangan-kenangan baru yang jauh lebih berharga.

Kenangan indah ini secara perlahan akan mengubur rapat setiap jejak pahit dari masa lalu mereka, menggantinya dengan harapan baru yang tumbuh subur sekuat pohon-pohon Agathis di sekeliling mereka. Arunika memejamkan mata sejenak, mensyukuri detik demi detik kedamaian yang akhirnya ia temukan kembali di rumah kayu ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!