Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan telak
Nova langsung tersenyum cerah dengan rasa percaya diri yang tinggi. "Kamu pasti datang untuk mendukungku, kan? Aku yakin kamu tentu nggak akan membiarkan aku berjuang sendirian."
"Tentu saja..." sambar Alma cepat sambil tersenyum miring. "...dalam mimpimu!"
Wajahnya seketika berubah dingin, sorot matanya tajam seakan menghujam jantung Nova. Membuat senyum di wajah pria itu langsung luntur dalam sekejap.
"Karena aku ada di sini untuk bersaing hal yang sama denganmu. Jadi jangan bermimpi aku akan mendukungmu apalagi membantumu!" jawabnya dengan tegas, tanpa basa-basi.
Danish yang sejak tadi hanya diam menyaksikan perbincangan mereka, akhirnya mendekat. "Ayo, masuk, Al. Yang lain sudah menunggu di dalam," ucapnya pelan, seraya menarik lengan Alma dengan lembut.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Nova yang masih terpaku diam penuh tanda tanya.
Di dalam ruangan yang luas itu, tampak Papi Baim telah duduk penuh wibawa di kursi kebesarannya selaku Komisaris Utama perusahaan Al Gha Corp. Lalu Darrel - sang CEO duduk dengan tenang dan berkharisma.
Alma menunduk hormat kepada keduanya, lalu duduk di kursi yang telah disediakan di barisan depan. Nova mengekor di belakang Alma berniat duduk di samping wanita itu. Namun, sayangnya tempat duduk telah terisi semua oleh calon kandidat lainnya. Dengan perasaan kesal, dia pun terpaksa duduk di barisan kedua, agak jauh dari Alma.
Sementara Danish langsung mengambil tempat duduk di samping Darrel. Namun, sepertinya kehadirannya tak disambut baik oleh sang kakak.
"Seharusnya kamu nggak ada di sini!" gumam pelan Darrel tanpa menoleh ke arah adiknya.
"Aku kan, pengin lihat juga gimana aksi mereka berunjuk kemampuan," balas Danish santai, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dasar keras kepala! Gitu kok, nggak mau ngaku kalau memang suka sama dia. Kamu pasti datang karena pengin dukung dia, kan," cibir sang kakak, mengejek Danish.
"Biarin, suka-suka aku, dong! Memangnya ada larangan? Aku juga pemegang saham di sini, kalau Abang lupa," balas Danish tak mau kalah.
Perdebatan kakak-beradik itu terus berlanjut meski dengan suara rendah, hingga akhirnya Jason - asisten Darrel, membuka suara dengan lantang untuk memulai acara.
"Selamat pagi, para hadirin semua. Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan YME, kita bisa berkumpul di ruangan ini dalam keadaan sehat wal afiat. Hari ini adalah pelaksanaan seleksi para calon kandidat, guna menentukan sosok yang paling kompeten, berintegritas, dan memiliki visi terbaik untuk memangku jabatan Direktor Operasional."
Jason terdiam sesaat, seraya menatap ke seluruh ruangan. "Atas ijin Bapak Komisaris dan Bapak CEO, dengan ini sesi penilaian dibuka. Kami persilakan calon kandidat pertama maju ke depan untuk memaparkan visi dan misi masing-masing," lanjut Jason mengakhiri sambutannya.
Para peserta satu per satu maju ke depan. Penjelasan mereka lumayan, tetapi materi yang disampaikan terasa biasa saja dangkal dan tak punya solusi yang brilian.
Hingga saat giliran Nova, pria itu maju ke depan dengan wajah tegang. Dia tampak gugup dan tidak banyak menguasai materi. Penjelasan yang disampaikannya terkesan diulang-ulang serta membosankan saat tim penilai melemparkan pertanyaan padanya.
Darrel menggelengkan kepalanya pelan, melihat penampilan Nova yang jauh dari ekspektasi.
Sementara Nova sendiri terus melirik ke arah Alma dengan tatapan tajam, seolah menyalahkan wanita itu atas ketidakmampuannya.
"Terima kasih, silakan kembali ke tempat duduk, Anda," ucap Jason.
"Selanjutnya silakan saudari Alma memaparkan rencana kerjanya," lanjutnya kepada wanita tersebut.
Alma bangkit berdiri dengan tenang. Merapikan blazer dan hijabnya sebentar, lalu maju ke depan dengan langkah tegap penuh keyakinan.
"Selamat pagi, Bapak-Bapak. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya. Ijinkan saya memaparkan rencana strategi operasional yang telah saya rancang dengan matang, guna meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mendongkrak keuntungan perusahaan secara signifikan dalam satu tahun depan," ucapnya dengan suara lantang dan jelas.
Kemudian ia mulai menjelaskan materi demi materi, memperlihatkan grafik serta data, hingga solusi atas kendala yang ada dengan sangat terperinci dan logis. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya, terasa jelas bahwa ia sangat menguasai bidang, persis seperti dulu yang sering disampaikan oleh Nova. Bedanya, Alma melakukannya jauh lebih sempurna, percaya diri serta tanpa keraguan.
Ruangan mendadak hening, semua orang terpukau menatapnya. Papi Baim tersenyum takjub sambil mengangguk pelan. Sementara Darrel menatap lekat-lekat dengan sorot mata bangga dan puas. Di sebelahnya Danish tersenyum lebar, hatinya berteriak gembira melihat sosok yang didukungnya tampil begitu cemerlang.
Dia menoleh ke arah Darrel, tetapi pandangannya berubah cengo.
"Ck...biasa aja kali natapnya, gitu amat. Ingat, ada Kak Vira di rumah!" sindirnya pada sang kakak. "Nggak mau kan, kalau nggak dapat jatah nanti malam?"
Darrel langsung menatap adiknya tajam. "Apaan, sih! Ooh, aku tahu, kamu pasti cemburu. Iya, kan?"
Danish menyebik, wajahnya memerah karena malu. Disampingnya Darrel tersenyum, sadar bahwa adiknya telah jatuh cinta sepenuhnya pada Alma meski masih sering menyangkalnya.
Sedangkan Nova yang duduk di belakang, merasa tak terima. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat-kuat. Dirinya merasa telah ditikung oleh istrinya sendiri.
Maka begitu sesi penilaian selesai, dan para petinggi perusahaan keluar ruangan, Nova langsung menyambar tangan Alma dengan kasar saat wanita itu hendak berjalan meninggalkan tempat tersebut. Wajahnya merah padam menahan amarah yang seakan ingin meledak di dadanya.
"Jadi selama ini kamu diam-diam mengincar posisi ini juga, hahhh! Kamu sengaja menghilang lalu muncul dan tiba-tiba ingin merebut apa yang seharusnya menjadi milikku? Kamu benar-benar wanita tak tahu dirinya, ya! Berani-beraninya kamu menikung suamimu sendiri!" desisnya dengan suara rendah. Matanya menyala tajam menatap Alma penuh ancaman.
Sementara Alma sendiri tampak begitu santai, lalu melepaskan cengkeraman kasar itu dari lengannya. Wajahnya tetap datar dan dingin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dengar, Nova! Aku nggak pernah menikung siapapun. Karena apa yang aku sampaikan tadi adalah murni hasil kerjaku sendiri, bukan menjiplak apalagi meminta orang lain untuk mengerjakannya, lalu dengan bangga mengklaim sebagai hasil kerjanya. Seperti yang kamu lakukan selama ini!"
"Sekarang lihatlah! Tanpa aku, kamu bisa apa? Hanya cangkang kosong, nggak punya kemampuan apa-apa! Jadi, jangan bicara seolah dirimu paling hebat. Karena sesungguhnya, keberhasilan, penghargaan, dan jabatan, yang kamu raih ada andil aku di dalamnya. Akulah yang bekerja keras hingga karirmu bisa menanjak seperti ini!" pungkasnya berapi-api, sambil tersenyum sinis.
Nova ternganga, tak mampu menyangkal. Kata-kata Alma bagai pukulan telak yang monohok setiap sisi egonya. Ia menyadari, bahwa dialah yang terlihat bodoh dan tidak kompeten, sementara Alma tampil cemerlang serta mendapatkan pujian.
Belum sempat Nova menyahut, Danish tiba-tiba sudah berdiri di samping Nova, menatap pria itu dengan pandangan dingin dan mengintimidasi.
"Sudah cukup, Saudara Nova. Jangan membuat keributan di sini. Semua orang sudah melihat kemampuan kalian masing-masing. Hasilnya sudah jelas. Kalau kamu masih punya harga diri, lebih baik terima kenyataan itu dengan kepala tegak, bukan menuduh sembarangan, apalagi menyalahkan orang lain!" ucapnya tegas, tubuhnya sedikit maju seolah siap melindungi Alma kapan saja.
Nova menatap keduanya bergantian dengan penuh kebencian, tetapi tak berdaya untuk melawan. Sambil memendam rasa geram, ia mengibaskan tangannya, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka dengan langkah lebar, tenggelam dalam rasa malu dan kekalahan yang pahit.
.
Mohon dukungan dan pengertiannya, ya Gaes.
Untuk tidak lompat bab, yang masih numpuk bab bacaan, silakan tunjukkan pesonamu.
Terimakasih