"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: KEBETULAN YANG DIRENCANAKAN
POV: LEO (Jiwa Sang Jenderal)
Dunia ini terlalu berisik bagi seseorang yang pernah memimpin ribuan tentara di medan perang. Setidaknya, itulah yang kurasakan setiap kali harus berada di tempat umum dengan tubuh kecil berusia delapan tahun ini.
Aku duduk di ceruk sempit Grand Gallery Jakarta, mataku tertuju pada papan catur digital di tablet, tapi telingaku menangkap setiap frekuensi di ruangan ini. Di sampingku, Lea sedang membelai boneka kelincinya dengan ekspresi polos yang mematikan. Aku tahu apa yang dia lakukan. Dia tidak sedang bermain; dia sedang membedah setiap denyut nadi, setiap perubahan suhu, dan setiap gerak-gerik orang-orang di aula ini.
Dalam kehidupan lamaku, aku menyeberangi lautan darah untuk menaklukkan benua sebagai Marsekal Perang Legendaris. Di sini, aku hanya anak laki-laki yang sedang bosan menunggu Mama menyelesaikan urusan kurasinya. Tapi, hari ini bukan hari yang biasa. Hari ini adalah hari di mana aku memutuskan untuk memindahkan bidak catur terpenting dalam rencana jangka panjang kami.
“Kak, target sudah masuk ke sektor C. Jam tangan Hublot, setelan jas Savile Row, dan aroma amarah yang ditekan. Itu dia,” suara Lea terdengar tenang, meskipun dia tidak menggerakkan bibirnya. Kami menyebutnya Shadow Talk—komunikasi lewat isyarat mikro dan sinkronisasi napas yang kami kembangkan sejak masih di dalam kandungan. Sebagai mantan Profiler FBI, Lea adalah radar berjalan.
Aku melirik sekilas ke arah jam sepuluh tanpa menggerakkan kepala. Damian Xavier. Pria yang secara biologis adalah ayah kami, dan secara strategis adalah 'aset' paling kuat yang kami butuhkan untuk melindungi Mama dari bayang-bayang masa lalunya.
“Terlalu cepat tiga menit dari jadwal rutinnya,” gumamku lirih, jemariku menggeser kuda di layar tablet. “Logistiknya berantakan. Dia sedang gelisah.”
“Tentu saja dia gelisah. Musuhnya, Baron, sudah menempatkan delapan orang di koridor ini. Dia masuk ke jebakan, Kak. Sangat amatir untuk seorang Raja Mafia,” Lea membalas, kali ini dia berdiri dan merapikan gaun birunya. “Haruskah kita membantunya sekarang, atau membiarkan dia sedikit berkeringat?”
“Bantu sekarang. Kita butuh dia dalam kondisi psikologis yang 'berhutang budi' agar infiltrasi kita ke mansionnya lebih mudah,” jawabku.
Aku berdiri. Tubuh kecil ini memang menyebalkan—jangkauan gerakku terbatas dan tenagaku tidak ada apa-apanya—tapi otakku tetaplah senjata paling mematikan yang pernah ada. Saat delapan pria berbaju abu-abu mulai mengepung Damian di koridor seni kontemporer yang sepi, aku melihat pria itu bersiap melakukan manuver fisik. Dia ingin mencabut Glock-17 di balik jasnya.
Sangat tidak efisien. Di ruangan penuh sensor laser dan kaca anti-peluru, satu tembakan akan mengunci seluruh gedung dan mendatangkan polisi dalam lima menit. Itu akan merusak rencana kami.
Aku melangkah maju, tanganku terselip di saku celana kainku.
“Kalau aku jadi Paman, aku tidak akan melangkah ke arah jam sepuluh,” ucapku, suaraku sengaja kubuat jernih namun memiliki nada komando yang tidak bisa dibantah—nada yang dulu membuat jutaan prajurit bersujud di hadapanku.
Semua orang di koridor itu membeku. Damian Xavier menoleh, dan untuk pertama kalinya, aku melihat wajah pria itu dari jarak dekat. Mata abu-abu gelap bertemu abu-abu gelap. Aku bisa melihat keterkejutan yang murni di pupil matanya. Dia sedang memproses anomali ini: seorang anak delapan tahun yang bicaranya seperti instruktur militer.
“Paman berbaju abu-abu di pojok sana,” aku menunjuk tanpa ekspresi ke arah salah satu pembunuh bayaran Baron. “Kakimu menginjak ubin yang sedikit longgar. Itu terhubung dengan sensor alarm laser untuk lukisan 'The Red Void'. Satu inci lagi, dan Paman akan berakhir di penjara sebelum sempat menarik pelatuk.”
Suasana menjadi sangat sunyi. Lea melangkah maju di sampingku, memegang boneka kelincinya dengan tatapan yang seolah bisa menembus tulang rusuk siapa pun yang dia lihat.
“Dan Paman yang tinggi di depan Papa—maksudku, Paman tampan yang memakai jam Hublot,” Lea memiringkan kepalanya, memberikan senyum palsu yang sangat manis. “Paman sedang berkeringat di pelipis kiri. Pupil matamu membesar 0,5 milimeter. Kau tahu rencana ini gagal total. Kenapa tidak gunakan pintu servis di balik patung marmer itu saja? Lebih efisien daripada mati konyol karena alarm, bukan?”
Damian Xavier tertegun. Aku bisa melihat otaknya bekerja keras, menyeimbangkan antara insting membunuhnya dan logika strategi yang baru saja kami lemparkan. Dia adalah pria yang cerdas, tapi di depan dua jiwa tua yang terperangkap dalam tubuh mungil ini, dia hanyalah seorang pemula.
“Geser patung itu tiga inci ke kanan, Paman. Itu tuas manualnya,” tambahku datar.
Damian melakukan apa yang kukatakan. Klik. Pintu rahasia terbuka.
“Ayo, Lea. Mama sudah menunggu di lobi. Dia tidak suka kalau kita terlambat lima menit,” ucapku, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Aku tidak butuh ucapan terima kasihnya. Aku hanya butuh dia melihat kami. Aku butuh dia terobsesi pada kami.
Karena dalam strategi perang, cara terbaik untuk menangkap mangsa besar bukanlah dengan memburunya, tapi dengan membiarkan mangsa itu merasa bahwa dialah sang pemburu.
Checkmate, Papa. Permainan ini baru saja dimulai.
POV: DAMIAN XAVIER
Aku tidak bisa bernapas.
Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokanku saat aku melihat kedua anak itu berjalan menjauh dengan langkah yang begitu tenang—terlalu tenang untuk anak seusia mereka. Siapa mereka? Dan kenapa anak laki-laki itu memiliki tatapan mata yang persis seperti cermin saat aku menatap diriku sendiri di pagi hari?
"Tuan Damian, Anda tidak apa-apa?" suara Marco, tangan kananku, terdengar melalui earpiece. Dia baru saja tiba dengan bantuan tim pengaman tambahan.
"Lacak," desisku. Tanganku mengepal kuat hingga buku-bukuku memutih. "Lacak mobil putih yang baru saja keluar dari lobi. Gunakan satelit jika perlu. Aku ingin tahu siapa wanita yang membawa mereka, di mana mereka tinggal, dan apa merk susu yang mereka minum pagi ini! SEKARANG!"
Aku masuk ke dalam SUV hitamku dengan perasaan yang campur aduk. Amarah karena disergap, tapi lebih banyak lagi rasa penasaran yang membakar. Anak laki-laki itu... cara dia memberikan instruksi strategi... itu bukan kepintaran anak jenius biasa. Itu adalah otoritas seorang penguasa.
Dan anak perempuan itu... dia menyebutku 'Papa' sebelum mengoreksinya menjadi 'Paman'. Lidahku kelu. Sembilan tahun yang lalu, Qinanti pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Aku mencarinya seperti orang gila, menghancurkan setengah kota hanya untuk menemukannya, tapi dia menghilang bagai ditelan bumi.
Apakah mungkin...?
"Tuan," Marco berbicara dari kursi depan sambil mengoperasikan tabletnya. "Mobil itu terdaftar atas nama Qinanti Arisanti. Dia bekerja sebagai kurator independen di galeri ini. Dan mengenai kedua anak itu..." Marco menelan ludah, suaranya bergetar. "Data kependudukan mereka... nama mereka adalah Leo dan Lea. Usia delapan tahun. Mereka lahir tepat sembilan bulan setelah Qinanti meninggalkan Jakarta."
Duniaku serasa runtuh dan dibangun kembali dalam satu detik yang sama.
Aku tertawa. Sebuah tawa kering yang terdengar mengerikan bahkan di telingaku sendiri. Jadi, selama ini dia menyembunyikan pewaris klan Vipera di bawah hidungku? Dia mendidik mereka menjadi monster kecil yang bisa membaca sensor laser dan mikro-ekspresi?
"Marco, siapkan mansion," perintahku, suaraku kini kembali sedingin es yang mematikan. "Bersihkan semua pelayan yang tidak kompeten. Aku ingin tempat itu steril. Dan pastikan koki menyiapkan menu terbaik untuk anak-anak."
"Anda ingin menjemput mereka paksa, Tuan?"
Aku menyeringai, menatap kancing jas Savile Row-ku yang sedikit miring—tepat di mana anak laki-laki tadi menatapku. "Tidak. Anak-anak itu... mereka tidak bisa dijemput paksa. Mereka terlalu cerdas untuk itu. Aku akan membiarkan mereka masuk ke wilayahku dengan kemauan mereka sendiri. Tapi pastikan mereka tahu, bahwa sekali mereka masuk ke sarang Vipera, aku tidak akan membiarkan mereka atau ibunya pergi lagi. Selamanya."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku bisa merasakan getaran satelit yang mulai memindai posisi mobil kami melalui tablet di tas Leo. Damian Xavier sedang melakukan langkah pertamanya. Sangat terprediksi.
“Kak, singanya sudah mulai mengendus. Dia sudah memerintahkan Marco untuk melacak database kita,” lapor kuku lewat gerakan jari yang mengetuk-ngetuk punggung boneka kelinci secara berirama.
“Bagus. Biarkan dia menemukan apa yang ingin kita perlihatkan. Aku sudah menyiapkan 'jejak roti' yang akan menuntunnya langsung ke apartemen kita malam ini,” Leo menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari papan caturnya. “Bagaimana profil emosinya saat ini?”
“Obsesif. Posesif. Dan sedikit merasa bersalah. Dia adalah tipe pria yang akan memberikan seluruh isi dunia hanya untuk menebus sembilan tahun yang hilang, asalkan kita bisa meyakinkannya bahwa kita adalah aset yang tidak bisa dia buang,” analisisku secara mendalam.
Aku menoleh ke arah Mama yang duduk di kursi kemudi. Qinanti, wanita yang jiwanya murni dan penuh kasih sayang. Dia adalah satu-satunya variabel yang membuatku sering merasa sesak di dada. Dalam kehidupanku yang dulu sebagai Profiler FBI, aku melihat begitu banyak kegelapan hingga aku berhenti percaya pada kebaikan. Tapi Mama... dia merawat kami dengan penuh cinta tanpa tahu bahwa di dalam tubuh kecil ini ada dua jiwa penguasa yang sedang merencanakan kudeta dunia bawah tanah.
“Mama, jangan terlalu kencang menyetirnya. Detak jantung Mama meningkat 15% dari batas normal. Itu tidak baik untuk tekanan darahmu,” ucapku dengan nada suara anak kecil yang paling imut yang bisa kubentuk.
Mama menoleh sejenak, tersenyum lemah. “Mama hanya... sedikit kaget dengan kejadian di galeri tadi, Lea. Paman tadi itu... kalian jangan dekat-dekat dengannya lagi, ya?”
Aku dan Leo saling melirik. Shadow Talk kami aktif kembali.
“Kasihan Mama. Dia tidak tahu bahwa singa itu sudah berada di depan gerbang,” pikirku.
“Dia akan aman, Lea. Aku akan membangun benteng di sekelilingnya, dan Damian Xavier akan menjadi pion pertama yang menjaganya,” balas Leo tegas.
Mobil kami melaju membelah kemacetan Jakarta. Di belakang kami, aku tahu ada tiga mobil hitam yang menjaga jarak dengan sangat profesional. Damian sedang mengawal kami tanpa sadar.
Malam ini, saat Papa datang ke apartemen kami dengan segala kemarahan dan kerinduannya, dia akan menyadari satu hal yang menyakitkan: bahwa di rumah ini, bukan dia yang memegang kendali.
Dia mungkin Raja Mafia, tapi di depan Leo sang Jenderal dan aku sang Profiler, dIa hanyalah seorang pion yang baru saja terkena skakmat bahkan sebelum permainan dimulai.
“Mama, ayo beli es krim sebelum pulang,” pinta Leo tiba-tiba.
Aku tersenyum. Leo sedang melakukan camouflage—penyamaran. Dia ingin terlihat seperti anak normal saat Damian melihat rekaman CCTV toko es krim nanti. Sangat teliti.
“Boleh, Sayang. Apapun untuk jagoan Mama,” jawab Mama lembut.
Ya, Apapun untuk kami. Karena mulai malam ini, klan Xavier akan memiliki penguasa baru. Dan mereka tidak memakai jas mahal atau memegang senjata. Mereka memakai ransel sekolah dan menyukai es krim cokelat.
Checkmate, Papa.