NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Terlihat Asya duduk di gazebo samping ndalem. Sesekali ia tersenyum sambil mengamati bintang malam di langit yang tampak indah.

"Hayo ngapain senyum-senyum sendiri. Awas aja nanti kesambet kamu," ucap Raffa sambil duduk di samping adiknya

"Abang ngomong apaan sih," ucap Asya kesal

"Lagian kamu aneh banget tau, Dek. Kamu lagi jatuh cinta ya? Hayo ngaku kamu," ucap Raffa sambil tersenyum menggoda

"En-nggak kok sok tau banget deh," jawab Asya mengelak

"Kamu itu nggak pandai bohong di depan Abang," ucap Raffa santai sambil memakan keripik

"Tapi aku masih ragu, Bang," ucap Asya pelan

"Kenapa? Kalo dia memang serius ya nggak papa dong. Suruh temui keluarga kita," ucap Raffa

"Apa nggak kecepatan? Nanti Abang jadi dilangkahi dong sama Adek juga," ucap Asya

"Soal tadi itu Abang hanya bercanda. Lagian Abang juga nggak masalah kamu duluan dan Anisa yang menikah. Jodoh itu kan sudah diatur oleh Allah," jawab Raffa sambil tersenyum

"Abang," rengek Asya sambil memeluk Raffa

"Manja banget sih," ucap Raffa terkekeh

"Biar aja," ucap Asya santai

"Tidur yuk, udah malem. Besok kita harus siap untuk acara lamaran Anisa," ucap Raffa membuat Asya mengangguk

Skip

Pagi kembali menyapa. Terlihat Umi Fatimah yang sibuk membuat kue dan dibantu oleh beberapa abdi ndalem. Asya berjalan menuju dapur.

"Umi," sapa Asya membuat semua orang menoleh ke arahnya

"Udah mau berangkat tes, Dek?," tanya Umi Fatimah sambil menghampiri putri bungsunya

"Iya Umi, doakan lancar ya dan keterima," ucap Asya sambil tersenyum

"Pasti Umi doakan yang terbaik untuk adek," jawab Umi Fatimah sambil tersenyum

"Abang sama abi udah berangkat jemput kak Anisa?," tanya Asya

"Iya Nak," jawab Umi Fatimah sambil tersenyum

"Ya udah deh. Adek berangkat dulu ya, assalamualaikum," pamit Asya sambil mencium punggung tangan Umi Fatimah

"Waalaikumsalam. Jangan pulang telat ya hari ini lamaran kakak kamu loh," jawab Umi Fatimah sambil tersenyum

"Siap ibu negara," ucap Asya sambil terkekeh

Lalu ia berjalan keluar ndalem untuk berangkat melakukan tes di kampus terdekat. Tempat yang akan dijadikan untuk menempuh pendidikan selanjutnya.

Skip

Asya sedang bersiap dengan pakaian yang ia kenakan untuk acara lamaran kakak keduanya. Setelah selesai bersiap, ia langsung bergegas menuju kamar kakaknya. Karena pulang dari kampus ia tak sempat menemui kakak keduanya itu.

"Assalamualaikum," ucap Asya sambil mengetuk pintu kamar Anisa

"Waalaikumsalam, masuk saja Dek," sahut Anisa dari dalam

"Kak Anisa," pekik Asya setelah membuka pintu dan tak lupa menutupnya kembali

"Adek," ucap Anisa langsung memeluk erat adiknya ini

"Gimana kabarnya? Tadi sampai jam berapa?," tanya Asya setelah melepas pelukannya

"Alhamdulillah baik, tadi sampai sekitar jam 11 siang. Kata umi tadi kamu pergi tes untuk kuliah?," tanya Anisa sambil menuntun Asya untuk duduk di sofa

"Iya Kak," jawab Asya

"Gimana sama hasil tesnya?," tanya Anisa sambil tersenyum

"Masih belum tahu. Katanya sih keluar seminggu lagi," jawab Asya

"Tapi kenapa kamu nggak kuliah di kampus tempat kamu mondok?," tanya Anisa

"Kayaknya aku nggak mau jauh dari kalian lagi tapi nggak tau deh nanti lolos seleksi apa nggak," ucap Asya sambil terkekeh

"Kakak yakin kalo kamu sudah pasti lolos," ucap Anisa

"Semoga aja deh," jawab Asya

"Kamu ini kenapa jarang pulang. Kami semua rindu sama kamu," ucap Anisa

"Namanya juga mondok. Aku harus fokus Kak untuk menambah ilmu," ucap Asya terkekeh

"Bisa aja deh jawabnya adekku ini," jawab Anisa terkekeh

"Cie yang mau dilamar," goda Asya

"Apaan sih, Dek. Biasa aja tuh," ucap Anisa santai

"Loh kok biasa aja Kak? Memangnya nggak seneng gitu?," tanya Asya heran

"Bukan begitu, hanya saja ini seperti terlalu cepat. Lagian ini kan perjodohan dari Abi jadi aku harus mematuhinya. Kamu tau sendiri kan? Kalo Abi sudah bilang A ya harus dipatuhi," jelas Anisa

"Iya sih. Eh ngomong-ngomong nih ya memang Kakak udah tau siapa nama calonnya?," tanya Asya kepo

"Kepo banget  kamu ini," celetuk Anisa

"Ih ayo dong kasih tau," rengek Asya membuat Anisa terkekeh

"Namanya itu-," ucapan Anisa terpotong

"Kakak, kamu bersiap ya soalnya mereka sudah datang," ucap Umi Fatimah menghampiri kedua anaknya

"Wah nggak sabar pengen lihat calon kakak ipar," ucap Asya terkekeh

"Adek tolong bantu kakakmu bersiap ya, Nak," ucap Umi Fatimah sambil mengelus kepala Asya dengan sayang

"Siap Umi," ucap Asya sambil hormat membuat Umi Fatimah terkekeh

Lalu Umi Fatimah keluar dari kamar Anisa. Asya pun langsung membantu kakak keduanya untuk bersiap. Setelah selesai mereka langsung turun ke bawah.

Terdengar perbincangan sesekali candaan ringan di ruang tamu. Asya mengernyitkan keningnya saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.

Asya berjalan sambil menggandeng lengan Anisa. Semua orang langsung menoleh saat mendengar langkah kaki mendekati ruang tamu.

Deg

'Bangunkan aku dari mimpi buruk ini, ya Allah' batin Asya lirih

Kaki Asya melemas saat melihat siapa yang sedang berada di ruang tamu. Tangannya yang memegang lengan Anisa pun terlepas. Anisa bingung dengan tingkah adiknya itu.

Umi Fatimah tersenyum lalu berjalan menghampiri Anisa dan mengajaknya untuk duduk diantara dirinya dan Abi Fahmi. Mata Asya memanas saat tak sengaja bertatapan dengan orang yang akan dijodohkan dengan kakak keduanya.

'Cobaan apalagi ini Ya Allah' batin Asya lirih

"Asya, kenapa diam saja di situ, Nak? Ayo ke sini!," ucap Abi Fahmi sambil tersenyum

Asya berjalan menghampiri semua orang. Ia duduk tepat di samping abangnya yaitu Raffa. Semua orang tampak bahagia dengan acara lamaran Anisa ini. Tapi tak tahukah mereka bahwa ada hati yang sangat terluka? Seseorang yang menyembunyikan lukanya dengan tersenyum paksa.

"Kedatangan kami sekeluarga ke sini yang pertama untuk silaturahmi dan yang kedua kami berniat ingin melamar Anisa Al-Fauzi untuk putra kami yaitu Kafka Al-Farizi," ucap Abi Ahmad mengawali pembicaraan

"Suatu kehormatan untuk kami bisa mempunyai menantu yang nyaris sempurna seperti gus Kafka. Tapi semua keputusan itu harus atas persetujuan dari Anisa putri kedua kami," ucap Abi Fahmi sambil tersenyum

"Bagaimana, Nak? Apa kamu menerimanya?," tanya Abi Fahmi sambil menatap Anisa

"Iya Abi," jawab Anisa sambil menunduk

"Alhamdulillah," jawab semua orang yang berada di ndalem

Umi Syakira memasangkan cincin di jari manis Anisa. Semua orang tersenyum dengan kelancaran acara lamaran ini. Setelah itu mereka mendiskusikan hari pernikahan gus Kafka dan Anisa.

Asya mencengkram kuat gamisnya. Asya berusaha menahan air matanya yang akan jatuh. Hatinya hancur berkeping-keping seperti tersambar petir.

'Kenapa rasanya sakit banget?' batin Asya sambil memejamkan matanya

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!