NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BABAK BARU DI BALIK LAYAR KAMERA

Perjalanan pulang-pergi antara ketenangan Pesantren Al-Hidayah dan hiruk-pikuk Jakarta kini menjadi ritme baru dalam hidup Mentari. Dua hari dalam seminggu, ia bertransformasi menjadi penulis skenario yang tegas di ruang rapat stasiun televisi dan rumah produksi. Namun, sisa lima hari lainnya, ia tetaplah seorang Ummi yang sibuk mengejar Zayan yang makin lincah merangkak, serta seorang istri yang tak pernah absen menyiapkan sarung dan peci untuk Gus Zikri.

Pagi itu, Mentari baru saja turun dari mobil travel yang membawanya kembali dari Jakarta. Udara bersih pesantren langsung menyergap paru-parunya, menghapus seluruh sisa penat dari kemacetan ibu kota.

Saat berjalan menuju rumahnya, ia disuguhi pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Di halaman tengah, Gus Zikri sedang duduk di tikar bambu bersama Zayan. Pria yang biasanya berwibawa di depan ribuan santri itu kini sedang memegang botol susu, sementara Zayan asyik menarik-narik ujung sorban hijau yang melingkar di leher Abinya.

"Assalamualaikum, dua jagoan Ummi," sapa Mentari sambil mempercepat langkahnya.

Zikri mendongak, wajah lelahnya seketika sirna digantikan senyuman hangat. "Waalaikumsalam, Sayang. Alhamdulillah, yang dinanti sudah pulang."

Zayan yang mendengar suara ibunya langsung melepaskan sorban Zikri dan merangkak heboh mendekati Mentari, memamerkan dua gigi bawahnya yang baru tumbuh. Mentari langsung berlutut, memeluk dan mencium gemas pipi putranya yang wangi minyak telon.

Setelah melepas rindu dan berganti pakaian dengan gamis rumahan yang nyaman, Mentari masuk ke ruang tengah. Di sana, Bondan dan Fahma ternyata sudah menunggu sambil lesehan di karpet. Anehnya, suasana hari ini agak berbeda. Bondan tidak memakai baju bunga-bunga andalannya, melainkan kemeja koko yang rapi, sementara Fahma sibuk membolak-balik lembaran kertas tebal.

"Nah, ini dia Sang Sutradara kita sudah datang!" seru Bondan sambil bertepuk tangan heboh.

"Gue bukan sutradara, Bon, cuma nulis skenario," koreksi Mentari sambil duduk di dekat mereka. "Ada apa nih? Kok tumben kalian berdua rapi banget? Mau ada sidak dari Abah Kyai?"

Fahma menyodorkan kertas tebal yang ternyata adalah draf kasar naskah film babak pertama yang sempat Mentari tinggalkan di meja. "Tari, aku sama Bondan kemarin bantuin Gus Zikri ngetik ulang beberapa bagian yang kamu coret-coret. Tapi aku bingung deh, di adegan ini kenapa karakter utamanya harus nangis pas liat sarung? Emang sarungnya bau terasi?"

Bondan menepuk jidatnya. "Fahma, itu namanya metafora! Simbol kerinduan! Masa lo nggak paham estetika film sih?"

Gus Zikri masuk dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat dan camilan pisang goreng. Ia ikut bergabung, duduk di samping Mentari. "Mas juga sempat membaca beberapa adegan yang kamu tulis kemarin, Mentari. Bagian dialog tentang perdebatan fikihnya sudah Mas rapikan sedikit agar lebih mudah dipahami oleh penonton awam, tanpa mengurangi bobot hukumnya."

Mentari menatap suaminya dengan mata berbinar. "Mas... beneran drafnya Mas periksa juga? Makasih banyak ya. Aku kemarin emang agak ragu di bagian itu."

Melihat kekompakan pasangan itu, insting jail Bondan tentu saja tidak bisa tinggal diam. Ia menyenggol lengan Fahma dengan sikunya.

"Liat tuh, Fahma. Yang satu sibuk syiar lewat tulisan, yang satu sibuk jaga benteng pesantren sambil ngedit materi. Sinergi pasutri paling top se-Jawa Tengah ini mah," goda Bondan. "Tapi Tari, jujur ya. Kemarin pas lo di Jakarta dua hari, ada yang tiap malam guling-guling kesepian di kasur tahu."

Wajah Gus Zikri yang biasanya tenang langsung berubah sedikit kaku. Ia berdeham cukup keras untuk mengalihkan pembicaraan. "Bondan, gorengannya dihabiskan. Jangan terlalu banyak bicara hal yang tidak perlu."

Mentari melirik suaminya sambil tersenyum menggoda. "Oh ya, Bon? Siapa yang guling-guling? Zayan ya?"

"Bukan Zayan, Tar! Zayan mah tidurnya pules banget abis gue ajak muter-muter nyari jangkrik," celetuk Bondan tanpa rasa takut pada tatapan tajam sang Gus. "Itu lho, bapaknya Zayan. Tiap jam satu malam pasti keluar teras, mandang ke arah jalan raya, mukanya melas banget kayak santri baru yang belum dijenguk sebulan."

Fahma ikut mengangguk dengan polosnya. "Iya Gus, kemarin pas aku mau ke kamar mandi subuh-subuh, aku liat Gus Zikri lagi meluk bantalnya Mentari erat banget. Aku kira Gus lagi sakit perut."

Mentari tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia menatap Zikri yang kini sibuk meminum tehnya dengan sangat cepat, mencoba menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke daun telinganya. "Mas... beneran kangen banget ya sama aku?" bisik Mentari manja di dekat telinga suaminya.

Zikri meletakkan cangkirnya, lalu menatap Mentari dengan tatapan dalam yang sarat akan ketulusan. "Rumah ini terasa sangat luas dan sepi jika tidak ada suaramu, Mentari. Mas hanya merindukan belahan jiwa Mas. Apakah itu salah?"

Mendengar jawaban yang begitu jujur dan romantis, Bondan langsung pura-pura pingsan di bahu Fahma. "Aduh, tolong! Serangan fajar! Manis banget, gue yang jomblo berasa kayak remahan rengginang di dasar kaleng!"

Setelah candaan mereda, suasana kembali serius ketika Mentari membuka laptopnya untuk mengecek surat elektronik masuk dari produser di Jakarta.

"Mas, pihak stasiun TV dan investor film baru saja kirim email," ujar Mentari dengan nada serius. "Mereka sangat puas dengan progres skenario babak awal ini. Bahkan, mereka menawarkan kontrak jangka panjang. Proyek film ini direncanakan akan dibuat menjadi seri yang panjang, mencakup seluruh perjalanan hidup kita dari awal bertemu, masa-masa kehamilan, hingga nanti Zayan tumbuh besar."

Zikri mengangguk-angguk paham. "Itu kabar baik. Lalu, apa yang membuatmu tampak berpikir keras?"

Mentari menarik napas panjang, menatap draf naskahnya yang baru selesai sepertiganya. "Mereka minta komitmen yang luar biasa, Mas. Targetnya tidak main-main. Kisah ini harus ditulis secara detail dan menyeluruh... mereka menargetkan naskah ini harus selesai sampai Bab 100 untuk mencakup seluruh perjalanan syiar kita hingga tuntas."

Bondan dan Fahma terbelalak mendengar angka tersebut.

"BAB 100?!" teriak Bondan shock. "Wah, Tar! Itu mah bukan cuma film, bisa jadi sinetron kejar tayang atau trilogi epik kayak film luar negeri! Tapi gue dukung sih, makin panjang babnya, berarti kesempatan gue buat muncul sebagai karakter pendukung yang modis makin banyak!"

Fahma ikut menghitung dengan jarinya. "Kalau sampai Bab 100, berarti nanti pas bukunya selesai, Zayan udah bisa jalan, bisa lari, bahkan mungkin udah bisa ikutan ngaji kitab bareng Abah Kyai ya?"

Zikri tersenyum lembut, ia menggenggam jemari Mentari yang berada di atas papan ketik laptop. "Jangan jadikan angka itu sebagai beban, Mentari. Bab demi bab yang akan kamu tulis nanti bukanlah sekadar kejar target halaman, melainkan rekam jejak dari setiap tetes berkah yang Allah berikan dalam keluarga kita. Tulis saja satu per satu, jalani dengan ikhlas."

Mentari menatap genggaman tangan suaminya, merasakan kekuatan dan keyakinan yang mengalir masuk ke dalam dirinya. Ketakutannya sirna seketika. "Iya, Mas. Dengan adanya Mas di samping aku, didoain sama ribuan santri di sini, dan dibantuin sama dua sahabat heboh kita ini... aku yakin kita bisa menyelesaikan perjalanan ini sampai bab akhir nanti."

Sore itu, di bawah langit Pesantren Al-Hidayah yang mulai meredup berganti senja, Mentari kembali mengetik baris-baris kalimat baru. Langkahnya menuju Bab 100 baru saja dimulai, sebuah komitmen panjang untuk menginspirasi dunia bahwa cinta yang berlandaskan rida Ilahi tidak akan pernah kehabisan cerita indah untuk dibagikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!