"Katanya, sebelum semua ilmu nya lepas.. nenek nggak akan bisa mati."
"Jadi sekarang nenek dimana?"
"Nenekmu sedang menjalani semua hukuman sebelum akhir nya dia mati. Selama 40 hari, dia akan dalam pengaruh Iblis."
"Tapi kan nenek udah meninggal!?"
Sebuah ilmu tua membuat seorang nenek mengalami hal di luar nalar ketika akan mendapatkan ajalnya.
Elma, gadis biasa yang baru saja datang dari Jakarta itu harus menelan bulat - bulat atas semua rentetan kejadian tak masuk akal yang dia alami selama mencari jasad nenek nya, dalam waktu 40 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.30. Siapa nini?
Elma masih gemetar ketakutan sambil melipat kedua kakinya dan menyembunyikan wajah nya karena suara yang terus meminta untuk di buka kan pintu itu masih ada. Tapi kemudian sara itu hilang setelah sosok di luar berteriak keras. Elma pun pelan - pelan mengangkat wajah nya dan mengintip sekitar.
"Hh.. hh.. hh.." Elma pelan - pelan mengatur nafas nya dan mulai menoleh kesana kemari.
Tidak ada siapapun di sana, akhir nya Elma mengangkat kepalanya dan merasa lega. Dia kemudian berdiri dan mengintip dari jendela yang ada di rumah itu, memastikan sebenar nya siapa yang mengejar nya dan juga menggunakan suara nya tadi.
Tapi saat Elma melihat keluar, tidak ada siapapun di sana, hanya hamparan kebun teh yang begitu luas yang di penuhi kabut asap. Elma lalu bernafas lega, karena tidak ada siapapun lagi. Dia kemudian berbalik badan dan mulai mengamati sekitar dari rumah itu yang tempak nya sepi tak berpenghuni.
"Misi, ada orang nggak ya?" Tanya Elma, dia mulai melangkah maju.
Tapi sejenak Elma ingat, jas hujan nya itu kotor dan basah, dia pun akhir nya lebih dulu melepas jas hujan nya itu dan meletakan nya di depan pintu masuk tempat dia duduk tadi. Baru lah Elma kembali melangkah masuk dan mecari barang kali ada orang di dalam sana.
"Assalamualaikum." Salam Elma, dia pelan - pelan masuk ke dalam rumah itu.
"Krrak!!"
"Hh!!'' Elma terkejut saat kaki nya menginjak lantai kayu yang sudah rapuh.
"Kayak nya ini rumah kosong." Gumam Elma, dia pun menurunkan ke waspadaan nya.
Dan saat dia sudah tidak begitu takut dan waspada, saat itulah dia terkejut saat melihat ada boneka teddy yang tampak nya tidak asing di matanya. Boneka itu tergeletak begitu saja di dekat pintu sebuah ruangan, dan saat Elma amati baik - baik boneka itu.. ternyata itu milik adiknya!
"Loh! Ini kan punya Salsa!?" Gumam nya, dia yakin tidak salah mengenali boneka.
Elma akhir nya berusaha membuka pintu ruangan yang terdapat boneka teddy adik nya, tapi tidak bisa di buka begitu saja karena ternyata ruangan nya terkunci. Elma paksa sekeras apapun ruangan itu tetap tidak bisa di buka, akhir nya Elma pun mencari apapun yang bisa membuka pintu itu dengan paksa.
"Mau di apake pintu nya, nduk?"
"HH!!" Elma kembali terkejut saat tiba - tiba saja datang nenek - nenek yang entah masuk dari mana, padahal Elma tidak mendengar suara pintu depan di buka.
Terlihat seorang nenek - nenek dengan rambut yang full putih, dia pakai kebaya lusuh warna cokelat tua dengan motif bunga - bunga putih dan kain jarik batik yang juga sudah lusuh. Penampilan nya sangat mencerminkan penampilan nenek - nenek era lampau, dan dia membawa ayam hitam di tangan kanan nya.
"Ojo di paksa, koe ndak seharuse ada di sini." Ucap nenek itu, nenek itu tampak berjalan ke arah dapur melewati Elma sambil membawa ayam hitam tadi.
Melihat itu, Elma yang selalu berpikir logis kemudian menatap ke arah pintu.. dan memang pintu itu sepertinya tidak pernah dibuka karena bahkan jas hujan kuning nya masih berada di depan pintu. Segarusnya, kalau pintu itu tadi terbuka maka sekarang jas hujan nya sudah pindah posisi karena tergeser oleh pintu.
Elma lalu kembali menoleh menatap ke arah nenek tadi, dia mencoba tetap tenang meski sebenar nya dia sudah mulai merasa janggal.
"Nenek yang tinggal di rumah ini? Maaf aku lancang nek, tadi aku ke sasar dari rumah utama dan masuk ke sini karena pintu nya nggak di kunci." Ucap Elma, dia mengurungkan niat nya untuk mendobrak pintu ruangan tadi.
"Ndak di kunci bukan berarti koe bisa masuk tanpa permisi, toh?" Ucap nenek itu, masih membelakangi Elma dan hanya menoleh ke samping saat bicara.
"Maaf, nek." Ucap Elma, dia merasa bersalah.
"Koe Elma, toh? Cucu nya Sugiatri?" Tanya nenek itu, Elma agak terkejut mendengar nya, nenek itu kenal dirinya.
"I- iya, nek. Nenek kenal nenek saya?" Tanya Elma, nenek itu tidak membalas dan dia mengambil golok besar berwarna hitam lalu..
"CRAK!!"
Elma terkejut saat dia melihat nenek itu memotong ayam hitam yang di bawa nya tadi dengan cara tidak biasa, ayam itu di penggal hidup - hidup dengan sekali bacok. Elma sama sekali tidak melihat nenek itu menyembelih ayam tadi dengan cara yang semestinya, dan yang lebih aneh lagi leher buntung si ayam tadi di arahkan ke sebuah cawan dari batok kelapa.
Ayam itu bahkan masih kelabakan tapi nenek itu memegang leher ayam nya dengan kuat sehingga darah nya mengucur di cawan dan Elma memperhatikan itu. Lalu setelah ayam itu sudah berhenti bergerak dan cawan dari batok kelapa tadi sudah penuh dengan darah ayam, nenek tadi pun berbalik menatap Elma.
Wajah nya penuh cipratan darah, dan nenek itu tersenyum pada Elma, hanya saja senyum nya terlihat mengerikan di mata Elma.
"Yo kenal, aku lho.. ninimu!" Ucap nenek tadi, Elma yang masih ngeri dengan cara nenek tadi memotong ayam kini teralihkan dengan ucapan nenek itu.
"Nini?" Gumam Elma, dia tidak tahu apa itu nini.
"ndi, goleke!?" Ucap nenek tadi, Elma kebingungan.
"Iku (itu), sing ning tanganmu (yang di tanganmu)." Ucap nenek tadi, dan Elma menatap tangan nya yang sedang memegang boneka adiknya.
"Ini boneka adekku, nek. Mau di apain?" Ucap Elma, meski bingung dia sedikit mengerti bahasa jawa.
Nenek itu berjalan menghampiri Elma dan kemudian dia merebut paksa boneka Salsa yang di pegang Elma tadi, aneh nya Elma sama sekali tidak memiliki daya untuk sekedar menghindar atau mengelak agar nenek itu tidak mengambil boneka adiknya.
Setelah mengambil boneka tadi, nenek itu lalu berbalik membelakangi Elma sambil mulut nya berkomat kamit dan Elma melihat nenek itu melempar boneka tadi di lantai, lalu mengucurkan darah ayam hitam tadi pada boneka itu.
"Iku dudu (bukan) adikmu, tapi si ireng.. Sing nggolek dalam metu (yang mencari jalan keluar), soko awake adikmu (lewat badan adikmu)." Ucap nenek itu, kembali menatap Elma.. Elma diam mencerna.
"Nenekmu, Sugiatri.. Sudah menyerahkan semua hidup matinya demi anak cucunya, demimu! Koe ndak kasihan toh, nduk?" Ucap nenek itu, Elma tertegun dengan ucapan nenek itu.
"Nek di kasih tau, ojo mbok di langgar. Nek sudah di atur nenekmu, berarti nenekmu pengen koe kabeh (kalian semua) selamat.." Ucap nenek itu, seketika Elma teringat dengan sesajen yang dia buang.
"Tapi kan itu salah.." Ucap Elma, nenek itu lalu tersenyum.
Sing di sembah tetep Gusti Allah, nduk. Iku hanya bentuk menghormati leluhurmu." Ucap nenek itu, Elma tentu bingung.
"Muleh- o ( pulanglah), nduk. Nanti koe akan mengerti, di luar sudah ndak ada siapapun, keluarlah dan kembali ke tempatmu." Ucap nenek itu, Elma makin tidak mengerti lagi.
Tapi karena dia sudah di usir, akhir nya Elma pun beranjak pergi dari sana. Sebelum pergi dia mengambil jas hujan kuning nya tadi lalu dia berbalik menatap nenek tadi.
"Maaf ya nek, udah lancang masuk rumah nenek." Ucap Elma, nenek tadi hanya manggut - manggut saja.
Elma pun berbalik dan membuka pintu, saat dia membuka pintu dan melangkah kan kakinya keluar dari rumah itu, tiba - tiba dia merasa seperti terdorong keluar begitu saja.
"Nah, itu mbak Elma. Ya Allah mbak, dari mana saja toh??" Salah satu bapak - bapak yang ikut mencari nenek datang menghampiri Elma.
"Aku dari tadi di dalem rumah ini, pak. Aku nggak denger ada suara bapak tadi, maaf ya." Ucap Elma, bapak - bapak itu tampak heran tak percaya.
"Mbak, iki kan bukan rumah. Terus kan iki di gembok, mbak masuk dari mana?" Ucap bapak tadi, Elma tertegun.
"Eh?!"
BERSAMBUNG!
kenapa nenek pengin Elma mati?
masih blm paham... apa Krn ngerusak sesajen? apa Krn Elma, yg bikin pakdenya yg gantiin nyawanya?
aduh jd elma di ajak kemana lagi