NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29:Lelah dalam Lindungan

Tenaga di pergelangan tanganku mulai mengendur, dan konsentrasiku sesekali pecah oleh bayangan hitam yang menari-nari di pinggir penglihatan. Aku tahu tubuhku mencapai batasnya. Jika aku memaksa, aku bukan hanya membahayakan diriku sendiri, tapi juga beban mental bagi orang yang setia membuntutiku di belakang.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku menyalakan lampu sein kiri. Aku membelokkan motor menuju pintu masuk rest area yang cukup luas itu.

Begitu standar motor kuturunkan di bawah deretan pohon peneduh, aku tidak langsung turun. Aku menyandarkan dahi di atas spidometer, mengatur napas yang terasa berat. Panas yang tadi tidak kurasakan, mendadak menyerbu saat mesin motor mati. Keringat dingin mulai membasahi tengkukku.

Suara pintu mobil yang tertutup terdengar beberapa meter di sampingku. Langkah kakinya yang berat dan teratur mendekat. Aku memejamkan mata, menguatkan diri. Aku tidak ingin terlihat rapuh lagi, tidak setelah drama di depan makam Ibu dan meja makan Tante Nita.

Sebuah botol air mineral dingin tiba-tiba menyentuh telapak tanganku yang masih memegang setir motor.

"Jangan dipaksa, Zal. Kamu pucat sekali," suara Danendra terdengar rendah, tanpa nada menghakimi, hanya ada kekhawatiran yang tulus.

Aku mendongak perlahan, melepas kaca helmku. Danendra berdiri di sana, mengabaikan matahari yang menyengat pakaian gelapnya. Ia tidak tersenyum kemenangan karena aku akhirnya menyerah dan berhenti. Ia hanya menatapku, seolah sedang memastikan bahwa jiwaku masih ada di dalam raga ini.

"Aku cuma butuh duduk sebentar," sahutku kaku, mencoba meraih botol air itu dengan tangan yang sedikit bergetar.

Danendra tidak melepaskan botol itu sampai ia yakin peganganku cukup kuat. Ia kemudian bergerak ke arah sisi motorku, membantu melepaskan kaitan tas ranselku yang berat agar aku bisa turun dengan lebih mudah.

"Kita duduk di sana. Ada angin," ia menunjuk sebuah bangku semen di bawah pohon kamboja yang sedang berbunga.

Aku menurut tanpa bantahan. Saat ini, ego dan ziraku kalah telak oleh rasa lelah yang menghantam. Kami duduk bersisian dengan jarak satu meter. Aku meneguk air mineral itu rakus, membiarkan dinginnya membasahi kerongkonganku yang kering.

"Kenapa kamu masih di belakangku, Nen?" tanyaku lirih setelah keheningan yang panjang, mataku menatap lurus ke arah deretan mobil yang parkir. "Perjalanan ini membosankan. Kamu punya mobil yang nyaman, kamu bisa sampai dua jam lebih cepat kalau mau."

Danendra menyandarkan punggungnya, menatap langit biru yang terik. "Karena sejauh apa pun tujuan kita, tujuanku yang sebenarnya adalah memastikan kamu sampai di sana. Aku sudah pernah kehilangan jejakmu sekali, Zal. Dan lima jam bosan di mobil tidak sebanding dengan enam tahun mencarimu tanpa kepastian."

Kalimat itu menghantamku lagi. Selalu saja begitu. Dia selalu punya cara untuk membuat pertahananku terasa seperti lelucon.

"Kamu membuatku merasa seperti orang paling jahat di dunia ini," bisikku getir.

Danendra menoleh, menatapku tepat di mata. "Bukan jahat, Zal. Kamu cuma sedang kedinginan. Dan aku... aku hanya ingin menjadi orang yang tetap tinggal sampai kamu merasa cukup hangat untuk menoleh lagi."

Terserah kamu, Nen. Percuma juga kan omongan atau pendapatku? Nggak akan pengaruh juga buat sikapmu yang suka maksa," sahutku datar, mencoba menutupi getaran di suaraku yang mulai goyah oleh kelelahannya.

Danendra tidak membantah. Ia justru menghela napas panjang, menatapku dengan binar mata yang jauh lebih tenang namun menghujam. "Karena aku menyayangi kamu, Azzalia Casseline. Dari dulu sampai sekarang. Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja dan aman. Itu saja."

Aku tidak sanggup membalas kalimatnya. Kata 'sayang' yang ia ucapkan terasa terlalu berat untuk kupikul di tengah kondisi fisikku yang sedang merosot. Alih-alih menjawab, aku memilih berdiri. Dengan langkah yang sedikit gontai, aku berjalan menjauh, meninggalkan Danendra yang masih berdiri mematung di dekat motorku.

Aku mencari sudut yang lebih sunyi di dekat tembok sebuah bangunan kosong yang teduh. Aku duduk di atas lantai semen yang dingin, menyandarkan punggungku sepenuhnya pada tembok. Tanpa peduli pada imej atau tatapan orang-orang di sekitar rest area, aku melipat kedua kakiku dan menumpukan kepala di atas lutut.

Rasa kantuk dan lelah yang luar biasa hebat akhirnya menang. Dalam posisi meringkuk seperti itu, aku membiarkan mataku terpejam. Kesadaranku perlahan menipis di tengah bisingnya deru kendaraan yang lewat di kejauhan. Untuk saat ini, aku hanya ingin menghilang sejenak, melarikan diri ke dalam mimpi di mana tidak ada rahasia, tidak ada rasa bersalah, dan tidak ada Danendra yang selalu membuatku merasa telanjang.

Aku tertidur dalam posisi itu, tanpa tahu bahwa beberapa meter dariku, Danendra masih terjaga. Ia melepaskan jaketnya, berjalan mendekat dengan langkah sangat pelan agar tidak mengejutkanku, lalu menyelimutkan jaket itu ke bahuku yang sedikit menggigil. Ia kemudian duduk di lantai, beberapa langkah dariku, menjaga tidurnya sang 'gadis dingin' yang sedang kelelahan itu dengan kesabaran yang tidak pernah habis.

Aku terbangun dengan sentakan kecil saat suara klakson truk besar menggema nyaring dari arah jalan raya. Kesadaranku berangsur pulih, dan hal pertama yang kurasakan adalah beban hangat yang menyelimuti bahuku. Aku menunduk, menatap jaket kain berwarna gelap yang bukan milikku.

Aroma wood-scent itu meresap ke indra penciumanku. Tanpa perlu bertanya pun aku tahu siapa pemiliknya.

Aku menoleh ke samping. Beberapa langkah dariku, Danendra duduk di lantai semen yang sama. Ia tidak sedang menatap ponsel atau melakukan apa pun; ia hanya diam di sana, seolah-olah tugas utamanya hari ini memang hanya memastikan aku tidak terusik dalam tidurku yang singkat.

Melihatnya begitu tenang menjagaku di tempat umum seperti ini membuat rasa sesak itu kembali datang. Aku segera beranjak berdiri, mengabaikan rasa pening yang sempat mampir di kepalaku. Aku melepas jaket itu dan mengulurkannya ke arahnya dengan tangan yang sedikit kaku.

"Terima kasih," ucapku pendek, sesingkat mungkin untuk menutupi rasa canggung yang membuncah.

Danendra mendongak, menerima jaketnya tanpa suara. Matanya memindai wajahku, mencari tahu apakah tenagaku sudah cukup pulih. "Sudah lebih baik?" tanyanya lembut.

Aku tidak menjawab. Alih-alih bersuara, aku langsung membalikkan badan dan berjalan cepat menuju motorku yang terparkir di bawah pohon. Aku tidak ingin ada percakapan lagi. Aku tidak ingin tembok yang susah payah kutambal kembali runtuh hanya karena tatapan tulusnya.

Aku segera memakai helm dan menyalakan mesin motor. Deru mesinnya seolah menjadi aba-aba bagiku untuk kembali berlari. Tanpa menoleh ke arah mobil hitamnya, aku melajukan motorku keluar dari rest area.

Angin sore mulai terasa menusuk, namun pikiranku hanya tertuju pada satu titik: pintu kamar kostku di Kota J. Aku ingin segera sampai, mengunci diri, dan menenggelamkan semua perasaan campur aduk ini dalam kesunyian yang kukenal. Aku memacu motor lebih kencang, berusaha meninggalkan bayang-bayang Danendra yang, aku tahu pasti, saat ini pun sudah kembali berada tepat di belakangku.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!