Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stress Karena Hal Lain
Hanif berjalan, menghampiri Riyani dan keluarganya. Tatapannya tajam pada Bang Ardi. Ia genggam tangan riyani erat.
"Tenang ada Aa di sini."
"Hanif.... kamu gak usah ikut campur ya! Ini urusan keluarga kita," ucap Bang Ardi.
"Saya emang belum menjadi keluarga riyani, tapi saya akan tetap membelanya walaupun kalian yang menyudutkan dia," timpal Hanif.
"Siapa yang menyudutkan dia? Dia yang menyebabkan bapaknya masuk ke rumah sakit karena dia mau anggap bapaknya sudah meninggal, sama saja dengan membunuh bapaknya bukan?"
Hanif tersenyum remeh.
"Bukannya bapak yang sejak kemarin gak mau datang ke acara lamaran dan pernikahan kita berdua? Terus kenapa Riyani yang disalahkan kalau dia mencari alternatif lain untuk menikah?"
"Sebagai orang tua, harusnya berpikir juga untuk tidak menyulitkan anak-anaknya."
"Ayo Neng!" ajak Hanif sembari menggenggam tangan calon istrinya keluar dari rumah sakit.
Hanif membawanya pulang—bukan ke rumah kakek melainkan ke rumahnya. Ada ibu dan ayah di sana, begitupun dengan Seyila.
Riyani disambut dengan baik di rumah calon suaminya itu. Sangat berbeda dengan keadaan di rumahnya sendiri.
...----------------...
Malamnya, Hanif mengabari kakek dayat lebih dulu. Jika malam ini, Riyani akan menginap di rumah bersama dengan Seyila. Sedangkan ia akan menginap di rumah kontrakan Azka yang tidak jauh dari rumahnya.
Hanif juga mengabari Riyani, jika ayahnya sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sakitnya tidak begitu parah, hanya saja memang perlu banyak beristirahat untuk memulihkannya.
Keesokan paginya, Riyani diantarkan Hanif untuk pulang. Raut wajahnya sudah cukup lebih baik dibanding kemarin—mungkin bercerita banyak dengan Seyila membuatnya merasa lebih baik.
Riyani memeluk kakek dan neneknya, terlihat keduanya sangat menyayangi wanita lemah lembut itu dibanding tatapan abangnya kemarin.
Hanif langsung pamit untuk pergi, apalagi ia harus masuk lebih pagi karena ada laporan yang harus ia kerjakan.
Riyani menahannya, ia meminta Hanif untuk menunggunya sebentar.
Tidak berselang lama, wanita itu kembali keluar dari toko kue neneknya—membawa beberapa bungkusan roti panggang yang baru saja matang, ditambah sebotol susu kedelai.
Hanif tersenyum.
"Makasih..."
"Sama-sama."
...----------------...
Hari-hari berlalu, sebulan menuju pernikahan—Riyani dan Hanif baru sempat untuk mencoba gaun pernikahannya.
Rencananya, Riyani akan memakai siger sunda untuk pernikahannya. Dengan pelaminan yang serba putih dari background maupun bunga, ditambah dengan nuansa hijau dari daun.
Semua persiapannya hampir selesai.
Riyani dan Hanif ditemani Seyila dan juga Azka yang cukup sering mengantarnya kemana-mana.
Seyila membantu Riyani untuk mengganti pakaiannya. Wanita itu tersenyum, ketika kebaya putih menjuntai pada tubuh mungil sahabatnya.
"Kamu emang cantik, Neng."
Riyani terkekeh.
Begitupun dengan pendapat Azka, lelaki itu berulang kali memuji kecantikan sepupunya. Sedangkan Hanif hanya tersenyum tanpa kedipan di matanya.
Seyila mendekat pada Riyani, lalu berkata, "lama-lama mata abang loncat ke muka riyani," sindirnya.
Riyani menahan senyumannya. Sedangkan Hanif langsung memalingkan pandangannya.
"Gimana menurut abang?" tanya Seyila, "pake ini Riyani cantik gak?"
Hanif kembali menoleh pada calon istrinya.
Ia mengangguk.
"Cantik, cantik sekali."
...----------------...
Fitting pakaian sudah selesai, mereka memilih untuk makan siang lebih dulu. Apalagi sejak tadi mencoba pakaian—Hanif melihat Riyani terus mengelus perutnya.
Dengan perhatiannya, ia ambilkan segelas air hangat untuk menenangkannya.
"Perutnya sakit? Gak sarapan dulu atau lagi haid?" tanya Hanif.
"Lagi haid," jawab Riyani singkat.
Hanif mengangguk paham.
Sembari menunggu makanan pesanannya disajikan, ia izin pergi lebih dulu. Entah kemana—tapi sepulangnya dari luar, lelaki itu membawa beberapa bungkus es krim ditambah cokelat kesukaan Riyani.
"Makannya jangan sekaligus tapi ya? Kalau lagi pengen aja. Jangan tiap hari juga kalau bisa," ucap Hanif.
Riyani mengangguk mengiyakan.
Sebenarnya semenjak ia pindah ke rumah nenek, Riyani tidak pernah merasa kurang memakan cokelat. Pasalnya, di dapur toko kue nenek saja ada banyak jenis cokelat yang dipakai.
...----------------...
Hari sudah mulai sore, Riyani langsung masuk ke kamarnya. Semenjak mengurus pernikahan, wanita itu kurang beristirahat. Apalagi sekarang sudah terhitung minggu untuk menuju pernikahan.
Ia mendengar bapak sudah sehat kembali setelah dirawat beberapa hari waktu itu. Tapi Riyani belum mau menghubunginya langsung.
Wanita itu menghela napasnya. Ditengah rasa kantuk yang mulai memupuk pada matanya. Ia harus bagaimana sekarang? Apa harus mengalah saja meminta maaf pada orang tuanya dan kembali ke rumah itu? Atau membiarkannya?
...----------------...
Hari berganti, pagi ini Riyani tidak ada pekerjaan selain membantu neneknya mengurus toko kue, ada pesanan yang harus dipenuhi sampai jam 8 pagi.
Riyani sudah terbangun sejak jam 3 pagi untuk membantu neneknya di dapur. Wanita itu sudah merasa sedikit lemas bahkan semenjak pulang fitting pakaian. Apalagi darah haid yang biasanya tidak terlalu banyak.
Nenek melihat cucunya sudah pucat.
"Neng, kamu kalau pusing duduk dulu aja. Ini biar nenek sama teteh yang lanjutin."
Riyani menggeleng.
"Gak apa-apa, Nek."
"Ini kan pesanannya masih cukup banyak, ini waktunya udah mulai mepet juga. Neng bantu, Neng cuman ngantuk dikit aja kok."
Nenek tidak membantah lagi. Apalagi memang cucunya ini cukup keras kepala.
Sampai akhirnya, pesanan itu mulai terpenuhi. Riyani baru saja akan pergi ke depan untuk membereskan bangku di depan toko. Tapi pandangan wanita itu mulai terasa buram dengan langkah sedikit sempoyongan.
Tubuhnya mulai semakin terasa lemas, ia hampir saja terjatuh saat berjalan menuju keluar toko. Untungnya, dengan cepat Hanif menangkap tubuhnya—ia rangkul pinggang riyani dengan erat.
"Aa!?"
"Neng, kamu pucet banget," ucap Hanif.
Riyani tidak sadarkan diri. Wanita itu jatuh pingsan dengan darah yang sudah tembus pada rok yang dipakainya.
Hanif membawanya ke kamar. Dengan rasa cemas, ia menunggu nenek menggantikan pakaiannya.
Hanif memeriksanya sebentar. Lelaki itu terlihat kalut—apalagi saat melihat darah haid calon istrinya yang tidak normal.
"Nek, kita bawa aja Neng ke rumah sakit ya? Biar bisa diperiksa perutnya."
Nenek dan kakek setuju. Apalagi baru pertama kali ini Riyani seperti ini.
...----------------...
Sesampainya di rumah sakit, Riyani diperiksa—di USG oleh dokter kandungan. Hanif keluar dari ruang pemeriksaan setelah mendengar hasil pemeriksaan calon istrinya.
"Nif, Neng kenapa?" tanya kakek.
"Gak apa-apa kok, Kek. Dia cuman stres," jawab Hanif, "kayaknya karena persiapan nikah sama masalah keluarga waktu itu. Kemarin habis suntik TT juga kan dia sakit, dia cerita kalau dia lagi banyak pikiran selain menikah."
"Kek, kalau kakek bersedia. Mau gak temenin Hanif buat ketemu sama bapak dan mamah? Hanif gak mau Neng kayak begini terus, kek."
Kakek menghela napasnya. Ia mengangguk setuju untuk menemui anak dan menantunya.
...----------------...
Malam itu, Riyani dijaga Bi Wati kali ini. Ia sudah diperbolehkan pulang, sedangkan Kakek dan nenek menemui orang tuanya untuk membicarakan soal pernikahan.
Riyani tidak banyak berbicara. Wanita itu berdiam diri di kamarnya semenjak pulang dari rumah sakit.
Di sisi lain, Hanif sudah duduk pada sofa ruang tengah rumah bapak. Bersama dengan kakek dan nenek yang menemaninya.
"POKOKNYA SAYA GAK AKAN PERNAH MENIKAHKAN RIYANI!!"