NovelToon NovelToon
My Cold Boss Is A Spicy Writer!

My Cold Boss Is A Spicy Writer!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wie Arpie

Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.

Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"

Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.

Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan di Sarang Dewangga

Malam yang ditakutkan—sekaligus dinantikan—akhirnya tiba. Rumah kediaman utama Dewangga malam itu tampak benderang, seolah-olah sedang menyambut tamu kenegaraan. Mobil-mobil mewah berderet di halaman luasnya, dan suara riuh rendah obrolan dari dalam gedung bergaya kolonial modern itu terdengar sampai ke teras.

Di dalam mobil, Sia meremas buku beludru kecil di pangkuannya. Ia mengenakan gaun midi berwarna broken white yang elegan namun sederhana, hasil pilihan langsung Bu Ratna. Rambutnya disanggul modern yang simpel, menyisakan beberapa helai di samping wajahnya.

"Tarik napas, Sia. Wajah kamu pucat sekali," ujar Arkan sambil mematikan mesin mobil. Pria itu tampak sangat tampan dengan kemeja batik tulis sutra bermotif gelap yang sangat pas di tubuhnya.

"Kan, delapan paman dan tujuh tante. Belum sebelas sepupunya. Kalau aku salah panggil, tolong cubit aku ya," bisik Sia panik. Ia mencoba mengingat silsilah rumit itu: Arkan adalah cucu tertua, disusul sepupu nomor dua dan empat yang sudah menikah, hingga sepupu nomor sebelas yang masih remaja. Hanya ada dua perempuan di antara sebelas sepupu itu, sisanya laki-laki semua.

Arkan tertawa kecil, meraih tangan Sia dan menggenggamnya kuat. "Aku akan berdiri di sebelahmu. Kalau kamu lupa nama, anggap saja mereka semua 'Om' dan 'Tante'. Simpel."

Begitu mereka melangkah masuk, suasana langsung hening sejenak. Puluhan pasang mata menoleh. Di sana, di tengah ruang tengah yang luas, sudah berkumpul klan Dewangga. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah sosok pria paruh baya yang berdiri di titik sentral ruangan. Beliau adalah Bapak Hardi Dewangga, ayah Arkan sekaligus anak tertua di generasinya yang memegang kendali perusahaan induk.

Sosoknya sangat berwibawa, dengan garis wajah tegas yang menurun persis ke Arkan. Ia tampak kaku dan sangat formal, namun pemandangan kontras terlihat saat Bu Ratna mendekat. Hardi secara alami mengulurkan tangan, merapikan sedikit kerah baju istrinya dengan gerakan yang sangat lembut, lalu membiarkan Bu Ratna menyandarkan tangan di lengannya. Tatapan tajamnya melunak seketika hanya untuk sang istri.

"Nah, ini dia pasangan pahlawan kita!" seru Bu Ratna yang langsung menghampiri dan merangkul pundak Sia. "Ayo sini, Sayang. Mama kenalkan pada Ayah."

Hardi menatap Sia dengan intens, membuat Sia sempat menahan napas. "Selamat malam, Bapak," sapa Sia sopan.

"Malam. Panggil Ayah saja, seperti Arkan," jawab Hardi dengan suara berat dan tenang. Meski terlihat dingin seperti robot, ia mengangguk tipis—sebuah tanda restu yang sangat berarti bagi klan Dewangga.

Dan dimulailah maraton perkenalan paling melelahkan dalam hidup Sia.

"Ini Om Surya, yang paling vokal soal saham," Bu Ratna menunjuk pria paruh baya yang tampak berwibawa.

"Tadi siang IHSG turun, Arkan. Kamu sudah antisipasi?" tanya Om Surya langsung, bahkan sebelum Sia sempat menyapa.

"Om, jangan bahas kerjaan." potong Arkan tegas namun tetap sopan. Sia tersenyum kecil dan memuji jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan Om Surya. Om Surya langsung terdiam dan mulai bercerita tentang sejarah jam tersebut.

Kemudian ada Tante Widya. Benar saja, wanita itu langsung memperhatikan cara Sia berdiri. "Posturnya sudah bagus, tapi coba dagunya agak naik sedikit. Dan itu... brosnya manis, beli di mana?"

Sia teringat pesan Arkan. "Ini pemberian Mama Ratna, Tante. Tapi saya lihat bros yang Tante pakai jauh lebih bersinar. Motifnya unik sekali." Mata Tante Widya langsung berbinar dan ia pun sibuk bercerita soal koleksinya.

Namun, tantangan sebenarnya adalah saat mereka duduk di meja makan panjang. Sia merasa dikepung oleh sepupu-sepupu Arkan yang jumlahnya sebelas orang itu. Arkan, sebagai yang tertua, duduk di dekat ayahnya.

"Sia, kamu asisten Arkan, kan? Berarti kamu tahu semua rahasianya?" celetuk Tante Maya sambil memotong steak-nya.

"Arkan memang sangat fokus dengan pekerjaan, Tante," jawab Sia diplomatis. "Tapi sebenarnya dia punya sisi kreatif yang... sangat dalam."

Arkan hendak bicara, tapi Bu Ratna lebih cepat. "Eh, jangan salah. Arkan itu pilihannya nggak pernah salah. Kalau dia pilih Sia, berarti Sia punya sesuatu yang kalian nggak punya."

Hardi Dewangga menyela dengan tenang, "Sudah, jangan menekan Sia terus. Biarkan dia makan dengan tenang." Meskipun kalimatnya tegas, ia melakukannya sambil diam-diam memindahkan potongan buah ke piring Bu Ratna yang sejak tadi hanya bicara. Sisi penyayang itu membuat Sia merasa haru.

Di tengah riuhnya pertanyaan, seorang pria yang tampak lebih muda dari paman-paman lainnya mendekat. Gayanya sangat keren, mengenakan kemeja linen premium. Gayanya sangat mirip Arkan, tapi aura wajahnya jauh lebih ramah.

"Jangan dengerin mereka, Sia. Aku Malik. Paman paling muda, dan paling tampan," ujarnya sambil tertawa. Om Malik ini satu-satunya yang masih betah membujang meski usianya sudah tidak muda lagi.

"Malik! Jangan ganggu calon menantuku!" teriak Bu Ratna dari ujung meja, membuat seisi ruangan tertawa.

Meskipun tegang, Sia mulai merasa bahwa keluarga besar ini memiliki kehangatan yang tulus. Setelah makan malam selesai, Om Surya mendekat lagi. "Sia, titip Arkan, ya. Dia itu terlalu banyak bekerja. Kadang dia lupa dia itu manusia."

Setelah acara selesai dan para tamu mulai pulang, Arkan dan Sia duduk sebentar di teras depan. Bu Ratna sudah masuk ke dalam diikuti Pak Hardi yang dengan setia membawakan tas istrinya.

"Gimana? Masih merasa ciut?" tanya Arkan sambil melonggarkan dasinya.

"Ternyata menghafal nama sebelas sepupu kamu itu lebih susah daripada bikin laporan tahunan," Sia bersandar lemas. "Tapi Kan... terima kasih. Tadi kamu, Mama, dan Ayah selalu ngebela aku. Aku merasa... diterima."

Arkan menggenggam tangan Sia. "Sekarang mereka adalah keluarga kamu juga. Dan soal keluarga kamu... aku sudah atur jadwal. Besok Sabtu, kita ke rumah Ayah kamu."

Jantung Sia berdegup kencang. "Kamu siap?"

"Aku selalu siap," Arkan mencium tangan Sia. "Istirahatlah."

Malam itu, Sia pulang dengan perasaan penuh. Sebelum tidur, ia mengirim pesan singkat pada ayahnya.

Yah, besok Sia mau mampir ke rumah. Sia mau ngenalin seseorang. Jam dua siang ya, Yah.

Pesan itu dibalas singkat. Iya, Sia. Ayah tunggu. Ayah masakan sayur asem kesukaanmu ya.

Sia tersenyum kecil. Ternyata, "pulang" tetap memiliki magnetnya sendiri. Dan kali ini, ia membawa Arkan untuk ikut masuk ke dalam dunianya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!