"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Nona Berkelas dan Aroma Masa Lalu
Lampu gantung kristal di restoran mewah lantai teratas Jakarta itu memantulkan cahaya yang berkilau, sewarna dengan gaun sutra desainer ternama yang melekat di tubuh Valerie. Wanita itu menyesap red wine di gelasnya dengan gerakan yang sangat anggun. Wajahnya blasteran yang cantik, kulitnya putih mulus tanpa cela hasil perawatan klinik terbaik di Paris, dan auranya memancarkan status sebagai putri tunggal dari keluarga konglomerat pemilik jaringan perhotelan.
Namun, di balik penampilannya yang sempurna, sepasang mata Valerie menatap tajam ke arah layar ponselnya. Di sana, terpajang sebuah foto hasil jepretan orang suruhannya. Foto Dhanu—pria yang dulu membatalkan pernikahan mereka secara sepihak—sedang tertawa hangat sambil menuntun seorang anak kecil di halaman sebuah gudang rempah. Di samping Dhanu, berdiri seorang wanita berpakaian modis yang tampak bersahaja dan manis. Arumi.
"Janda anak tiga?" Valerie berbisik, suaranya terdengar renyah tapi dingin. Ia tertawa kecil, tawa penuh penghinaan yang menggema di sudut meja VIP-nya.
"Dhanu... kamu menolak mentah-mentah permohonan maafku dua tahun lalu, pergi ke luar negeri untuk melupakanku, hanya demi berakhir dengan wanita kelas pekerja seperti ini? Seleramu benar-benar merosot tajam."
Valerie meletakkan gelasnya dengan dentingan yang agak keras. Rasa cemburu dan harga diri yang terhina mulai membakar dadanya. Bagi seorang Valerie, ditolak karena wanita yang lebih kaya atau lebih cantik mungkin masih bisa ia terima. Akan tetapi, digantikan oleh seorang janda beranak tiga yang mengelola gudang bumbu? Itu adalah tamparan langsung pada martabatnya sebagai sosialita papan atas.
"Panggil orang kita," perintah Valerie pada asisten pribadinya yang berdiri siaga di belakang kursi.
"Aku mau seluruh data tentang janda ini ada di mejaku besok pagi. Siapa dia, dari mana asalnya, dan yang paling penting... siapa mantan suaminya."
Keesokan harinya, di Gudang Berkah Arumi, matahari bersinar sangat terik. Setya sedang berjongkok di sudut halaman parkir, menggunakan sikat kecil untuk membersihkan kolong mobil SUV milik Arumi. Sisa uang gajinya yang hanya tujuh ratus ribu rupiah semalam sudah habis ia gunakan untuk membayar kontrakan petak kecilnya dan mengirimkan sedikit uang lewat sipir penjara agar Raya tidak dipukuli lagi oleh Mbak Lastri hari ini. Perutnya sendiri hanya diganjal oleh sebatang singkong rebus yang dibelinya di pasar subuh.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna merah menyala berhenti tepat di depan gerbang gudang. Suara deru mesinnya yang halus menandakan harga mobil itu setara dengan seluruh aset gudang Arumi.
Pintu mobil terbuka, dan Valerie turun dengan kacamata hitam besar bermerek Gucci. Sepatu hak tingginya berbunyi berirama saat menginjak aspal panas gudang, tuk... tuk... tuk...
Setya menghentikan aktivitasnya, terpaku menatap wanita yang tampak seperti model majalah fashion itu berjalan masuk ke area gudang. Wangi parfum mahal yang semerbak langsung memedihkan hidung Setya yang terbiasa dengan bau debu dan karbol.
Valerie melepaskan kacamata hitamnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling gudang dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi. Saat matanya menangkap sosok Setya yang sedang belepotan oli dan keringat di dekat roda mobil, Valerie berjalan mendekat.
"Kamu... staf di sini?" tanya Valerie dengan suara yang dibuat seramah mungkin, meski matanya menatap seragam biru kusam Setya dengan pandangan meremehkan.
Setya buru-buru berdiri, mengelap tangannya yang kotor ke celananya yang sudah dekil. "I-iya, Nyonya... eh, Nona. Ada yang bisa saya bantu? Mau mencari Bu Arumi?"
Valerie tersenyum manis, sebuah senyuman palsu yang mematikan. "Bukan. Aku tidak mencari Arumi. Aku justru tertarik denganmu. Kamu... Setya Utama, bukan? Mantan suami pemilik gudang ini?"
Setya seketika membeku. Wajahnya yang kusam mendadak memucat. "Bagaimana... bagaimana Nona bisa tahu nama saya?"
Valerie tertawa renyah, melipat tangannya di dada. "Di dunia ini, tidak ada hal yang tidak bisa kuketahui jika aku menginginkannya, Setya. Aku tahu segalanya. Aku tahu kamu dulu bos besar di pelabuhan, aku tahu kamu mengkhianati Arumi demi istrimu yang sekarang, Raya... dan aku tahu istrimu itu sekarang sedang membusuk di penjara karena mencoba membakar tempat ini."
Setya mundur satu langkah, jiwanya yang sudah menjadi pecundang seketika didera ketakutan. Ia takut wanita kaya di depannya ini adalah rekan bisnis Arumi yang sengaja datang untuk menjebaknya lagi agar gajinya dipotong.
"Nona, tolong jangan bahas itu lagi. Saya di sini cuma pekerja kebersihan. Saya tidak tahu apa-apa dan tidak mau ikut campur," ujar Setya dengan suara bergetar, memegang sapu lidinya seperti perisai rapuh.
Valerie maju satu langkah, menatap Setya dengan pandangan menilai. "Jangan takut, Setya. Aku bukan teman Arumi. Justru sebaliknya. Aku datang karena aku merasa kasihan melihat seorang pria, mantan pejabat seperti kamu, harus merangkak di lantai menyapu debu di bawah kaki mantan istrimu sendiri. Di mana harga dirimu sebagai laki-laki?"
Kalimat Valerie tepat menghantam ego purba Setya yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Saya... saya tidak punya pilihan, Nona. Saya butuh uang untuk biaya hidup dan untuk... istri saya di dalam sel."
"Berapa Arumi menggajimu? Tiga juta? Atau kurang dari itu setelah dipotong ini-itu?" Valerie mendengus remeh. Ia membuka tas Hermes-nya, mengeluarkan seikat uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih baru dan rapi, lalu mengipas-ngipaskannya di depan wajah Setya.
Mata Setya langsung berbinar jengah, air liurnya hampir menetes melihat ikatan uang yang nilainya pasti lebih dari 5 juta rupiah itu.
"Uang ini bisa jadi milikmu, Setya. Dan ini baru uang jajan awal," bisik Valerie dengan nada menghasut yang sangat halus.
"Aku butuh bantuanmu. Cukup bantu aku merusak nama baik Arumi di depan Dhanu. Berikan aku rahasia-rahasia kotor Arumi di masa lalu, atau bantu aku menaruh sesuatu di dokumen kerjanya agar Dhanu menganggap dia wanita penipu."
Setya menatap seikat uang itu, bayangan wajah dingin Arumi yang mengancam akan memotong gajinya, menjebloskannya ke polisi karena kelalaian, dan menjauhkannya dari Ibu Aminah serta anak-anak langsung berputar di otaknya. Setya teringat bagaimana tamparan Arumi tempo hari. Arumi yang sekarang bukan lagi janda lemah yang bisa ia gertak. Arumi punya kuasa, punya uang, dan punya Dhanu di belakangnya.
Setya menelan ludah dengan susah payah. Ketakutannya pada Arumi jauh lebih besar daripada rasa serakahnya saat ini. Jiwa pecundangnya memilih jalan aman.
"Ma-maaf, Nona..." Setya menggelengkan kepala dengan cepat, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak bodi mobil.
"Saya tidak berani. Bu Arumi... Bu Arumi sangat kejam. Kalau saya ketahuan berbuat macam-macam, saya bisa dipecat dan dilaporkan ke polisi. Saya tidak mau masuk penjara seperti Raya. Tolong, Nona... cari orang lain saja."
Valerie menatap Setya dengan pandangan yang seketika berubah menjadi sangat jijik. Ia menarik kembali uangnya dan memasukkannya ke dalam tas dengan kasar.
"Benar-benar pecundang sejati," cibir Valerie, meludah kecil ke aspal. "Pantas saja Arumi mencampakkanmu seperti sampah. Kamu bahkan tidak punya nyali untuk bangkit dari kubangan kotoran ini."
Valerie memakai kembali kacamata hitamnya, berbalik dengan angkuh dan masuk ke dalam mobil sedannya. Mobil mewah itu langsung melesat pergi meninggalkan kepulan debu yang membuat Setya terbatuk-batuk di halaman parkir.
Setya terduduk di aspal, memegangi dadanya yang berdebar kencang. Ia merasa lega karena tidak mengambil risiko yang bisa membuatnya diusir Arumi, namun di sisi lain, hatinya menjerit melihat uang yang baru saja melayang dari depannya.
Sementara itu, di dalam mobilnya yang melaju kencang, Valerie mengetuk-ngetukkan jemarinya di setir dengan geram. "Tukang sampah itu tidak bisa diandalkan. Dia sudah benar-benar dijinakkan oleh janda itu."
Valerie terdiam sejenak, mengingat berkas data yang dibacanya semalam. Sebuah senyuman licik dan penuh kemenangan perlahan mengembang di wajah cantiknya.
"Setya memang penakut... tapi dia punya istri sah yang sedang kelaparan di balik jeruji besi," gumam Valerie dengan mata berkilat jahat.
"Raya... wanita yang rela membakar gudang demi menyingkirkan Arumi. Dia pasti punya nyali yang jauh lebih besar daripada suaminya yang kuli itu."
Valerie mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor. "Halo? Atur jadwalku sore ini. Aku mau mengunjungi Lapas Wanita. Ada seonggok alat yang harus kubeli dan kurawat di sana."
Di bawah langit Jakarta yang mulai mendung, rencana besar Valerie mulai merayap perlahan menuju sel nomor 4, bersiap untuk membangkitkan kembali musuh bebuyutan Arumi dengan kekuatan finansial yang jauh lebih mengerikan.