NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Before Damien Knox

Damien memilihkan pakaian Serena pagi itu. Hal sesederhana itu seharusnya terasa biasa setelah sepuluh tahun bersama, tetapi entah mengapa Serena justru merasa semakin gelisah melihat betapa tenangnya pria itu sejak percakapan mereka di resort semalam.

Damien berdiri di dalam walk in closet mansion Serena sambil memperhatikan deretan pakaian yang menggantung rapi di hadapan mereka. Kemeja hitam yang dikenakannya belum terkancing sempurna, rambutnya sedikit berantakan, namun pria itu tetap terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyuruh mantan kekasihnya bertemu pria lain.

“Pakai yang ini.”

Damien mengambil dress rajut berwarna krem berlengan panjang lalu mendekatkannya ke tubuh Serena.

Sederhana.

Lembut.

Sangat berbeda dari gaun glamor yang biasa dikenakan Serena.

Serena mengernyit kecil. “Aku terlihat seperti mahasiswi.”

“Bagus.”

Damien menggantung dress itu di dekat tubuh perempuan tersebut sebelum menatap Serena beberapa detik terlalu lama.

“Julian lebih menyukai dirimu yang seperti ini.”

Kalimat itu langsung membuat Serena terdiam.

Dan Damien mengetahui hal itu. Tentu saja. Pria itu selalu mengetahui kata mana yang paling mudah masuk ke kepala Serena.

“Kau terdengar seperti sedang mendorongku kembali kepadanya.”

Damien tersenyum tipis sambil membelai ujung rambut Serena perlahan.

“Aku hanya ingin kau merasa nyaman.”

Namun tatapan matanya mengatakan sesuatu yang berbeda. Serena tidak dapat menjelaskan apa tepatnya, tetapi ada sesuatu dalam diri Damien akhir akhir ini yang terasa terlalu tenang.

Terlalu terkendali. Seolah pria itu sedang menyusun sesuatu jauh di dalam kepalanya. Dan Serena mulai takut pada versi Damien yang seperti itu.

Perjalanan menuju tempat pertemuan berlangsung sunyi. Damien menyetir sendiri seperti biasa, satu tangannya berada santai di kemudi sementara tangan lainnya sesekali menyentuh paha Serena ringan. Hujan kecil turun membasahi jalanan Seoul, membuat kota itu terlihat lebih muram dari biasanya.

“Mengapa kau terus diam?” tanya Damien rendah.

“Aku gugup.”

“Karena Julian?”

Serena mengangguk kecil.

Damien meliriknya sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalan. “Ia bukan tipe laki laki yang akan menyakitimu.”

“Aku tahu.”

“Ia juga bukan aku.”

Kalimat itu terdengar aneh. Nyaris seperti pengingat.

Dan sebelum Serena sempat memikirkannya lebih jauh, mobil sudah berhenti di depan sebuah kafe kecil di dekat kawasan sekolah lamanya.

Serena langsung membeku sesaat begitu melihat tempat itu. Kafe tersebut tidak banyak berubah. Masih dengan jendela besar yang menghadap jalan kecil penuh pohon maple, masih dengan papan kayu tua dan lampu kuning hangat yang dahulu sering mereka datangi sepulang sekolah.

Sebelum Damien.

Sebelum dunia Serena berubah menjadi mansion besar, gaun mahal, dan pesta penuh lampu kamera.

“Kau masih mengingat tempat ini?” tanya Damien pelan.

Serena menatap kafe itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Aku sering datang ke sini bersama Julian, dahulu.”

“Aku tahu.” Jawaban Damien datang terlalu cepat.

Tentu saja ia tahu. Pria itu selalu mengetahui segalanya tentang Serena.

Damien mematikan mesin mobil lalu menoleh ke arah perempuan di sampingnya. Tatapannya turun perlahan ke wajah Serena yang terlihat semakin tegang.

“Kau cantik hari ini.”

Serena tertawa kecil tanpa tenaga. “Kau mengatakan itu setiap hari.”

“Karena itu memang benar.”

Damien mengangkat tangan lalu membelai pipi Serena perlahan. Sentuhan itu lembut sekali. Menenangkan. Dan Serena membenci fakta bahwa dirinya masih otomatis tenang setiap kali Damien menyentuhnya.

“Kau tidak perlu merasa bersalah karena pernah memilihku,” gumam pria itu rendah.

Kalimat tersebut langsung membuat dada Serena terasa sesak. Karena Damien tahu. Ia tahu rasa bersalah itu tidak pernah benar benar hilang.

“Aku akan menunggumu di sini,” lanjut Damien sambil menatap lurus ke mata Serena. “Pergilah.”

Dan anehnya, justru karena Damien melepaskannya semudah itu, Serena semakin merasa tidak nyaman.

Julian sudah duduk di dekat jendela ketika Serena masuk. Pria itu langsung berdiri begitu melihatnya. Dan selama beberapa detik, Serena hanya mampu diam memandangi laki-laki di hadapannya.

Julian tidak banyak berubah. Rambutnya sedikit lebih pendek sekarang. Bahunya lebih lebar. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan tenang dibanding masa SMA dahulu. Ia mengenakan sweater abu gelap sederhana dengan jam tangan kulit lama yang langsung Serena kenali.

Jam tangan murah yang dahulu dibelinya dari hasil kerja paruh waktu. Dan anehnya, Julian masih menyimpannya sampai sekarang. Penampilan pria itu hari ini, jauh berbeda dari pertemuan mereka di restoran mewah malam itu, di mana Julian memberikan Serena undangan pernikahannya.

“Hai,” gumam Julian sambil tersenyum kecil.

Tuhan. Senyumnya masih sama. Hangat sekali.

“Hai.”

Mereka duduk perlahan.

Kafe itu masih terasa sama seperti dahulu. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara, sementara hujan kecil di luar membuat kaca jendela sedikit berembun. Dulu Serena sering duduk di tempat ini sepulang sekolah sambil menunggu Julian menyelesaikan shift paruh waktunya.

Kadang Julian memberinya cokelat panas gratis. Kadang mereka hanya duduk berdua sampai malam tanpa uang cukup untuk memesan makanan lagi. Dan aneh sekali bagaimana kenangan sederhana seperti itu justru terasa jauh lebih hangat dibanding hidup mewah yang dimiliki Serena sekarang.

“Aku sempat berpikir kau akan menolak datang,” ujar Julian pelan sambil memainkan cangkir kopinya.

“Aku juga sempat berpikir begitu.”

Julian tertawa kecil.

“Aku hampir membatalkannya juga.”

“Mengapa?”

Tatapan Julian naik perlahan ke wajah Serena.

“Karena aku takut ternyata aku masih marah kepadamu.”

Jantung Serena langsung menegang kecil.

Namun pria itu justru tersenyum tipis setelahnya.

“Ternyata tidak.”

Dan entah mengapa, itu jauh lebih menyakitkan.

Karena Serena sadar Julian benar benar telah belajar hidup tanpa dirinya.

“Aku minta maaf,” bisik Serena akhirnya.

Julian mengernyit kecil. “Untuk apa?”

“Soal dahulu.”

Sunyi kecil langsung jatuh di antara mereka.

Di luar jendela, hujan terus turun perlahan membasahi jalanan.

Julian menunduk sebentar sebelum akhirnya tertawa kecil tanpa humor.

“Kau tahu?” gumamnya pelan. “Ketika kau meninggalkanku dahulu, aku sempat menunggumu hampir setiap hari di depan sekolah.”

Dada Serena langsung terasa sesak. “Aku pikir kau akan berubah pikiran.”

Tatapan Serena langsung turun ke meja. Karena ia masih mengingat itu. Julian yang selalu berdiri di gerbang sekolah dengan hoodie abu lusuhnya. Julian yang diam-diam menunggu hanya untuk mengantar Serena pulang. Julian yang selalu terlihat terlalu bahagia hanya karena Serena menggenggam tangannya.

Dan Serena meninggalkan semua itu demi Damien Knox.

“Aku membenci diriku sendiri waktu itu,” bisik Serena lirih.

Julian langsung menggeleng kecil. “Jangan.”

“Aku meninggalkanmu demi laki-laki kaya.”

“Kau pergi karena lelah hidup susah.” Jawaban Julian datang terlalu lembut. Terlalu dewasa. Dan justru itu yang membuat Serena semakin sulit bernapas.

“Kau masih ingat rumah sewa kecilku dulu?” Julian tersenyum kecil. “Atapnya bocor setiap hujan.”

Serena ikut tertawa kecil tanpa sadar.

“Ibumu selalu meletakkan baskom di ruang tamu.”

“Iya.” Julian tertawa pelan sekarang. “Dan kau selalu kesal karena suara airnya membuatmu sulit tidur.”

Serena memejamkan mata sesaat. Karena untuk sepersekian detik, ia dapat melihat versi dirinya yang berusia tujuh belas tahun lagi. Miskin. Lelah. Namun dicintai dengan sangat tulus.

“Aku benar-benar berpikir kita akan menikah waktu itu,” gumam Julian pelan. Kalimat tersebut langsung menghantam Serena tanpa ampun.

“Aku juga sempat berpikir begitu.”

Julian menatapnya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kemudian Damien Knox datang dengan mobil mahal dan jas sekolah elitnya.” Nada suaranya ringan. Nyaris bercanda.

Namun Serena tetap dapat mendengar luka lama di baliknya.

“Awalnya aku sangat membencinya,” lanjut Julian sambil mengaduk kopinya perlahan. “Aku pikir ia hanya anak orang kaya yang bosan lalu mempermainkan pacarku.”

“Aku tidak pernah main-main,” bisik Serena cepat.

“Aku tahu sekarang.” Julian tersenyum kecil lagi. “Karena kau benar-benar jatuh cinta kepadanya.”

Dan itu membuat Serena diam. Karena setelah semua yang terjadi bersama Damien, bagian itu tetap benar. Ia memang mencintai Damien. Mungkin terlalu besar.

“Setelah kau pergi...” Julian mengembuskan napas kecil. “Aku sempat kacau cukup lama.”

Tatapan Serena langsung naik cepat.

“Aku berhenti kuliah satu semester. Bekerja apa saja. Minum hampir setiap malam.” Julian tertawa kecil tanpa humor. “Ibuku bahkan sempat takut aku akan menjadi seperti ayahku.”

Dada Serena terasa diremas perlahan mendengarnya.

“Namun hidup memang aneh.” Julian menyandarkan tubuh ke kursi. “Akhirnya aku bangkit juga.”

“Kau terlihat baik sekarang.”

“Aku berusaha.”

Dan kali ini Serena sadar sesuatu. Julian memang terlihat lebih baik sekarang. Namun ada kelelahan samar di matanya. Seolah pria itu telah terlalu lama hidup dengan menerima kenyataan yang sebenarnya tidak benar benar diinginkan.

“Lalu Claire?” tanya Serena hati hati.

Tatapan Julian berubah sedikit lebih lembut ketika nama itu disebut.

“Claire berbeda.”

“Dalam arti?”

“Ia tenang.” Julian tersenyum kecil. “Ia tidak pernah membuatku merasa harus menjadi orang lain.”

Kalimat itu membuat Serena langsung terdiam.

Karena tanpa sadar, pikirannya langsung tertuju pada Damien. Pada hubungan mereka yang selalu terasa intens sampai melelahkan.

“Orang tua kami yang pertama kali mengenalkan kami,” lanjut Julian. “Keluarganya memiliki hubungan bisnis dengan salah satu investorku.”

“Kau mencintainya?”

Julian terlihat diam cukup lama kali ini.

Tatapannya bergerak ke arah hujan di luar jendela sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Aku pikir cinta tidak selalu harus menghancurkan hidupmu supaya terasa nyata.” Dan entah mengapa, jawaban itu justru terasa menyedihkan. Karena Serena dapat mendengar sesuatu di baliknya. Julian tidak berbicara seperti laki laki yang sedang dimabuk cinta. Ia terdengar seperti seseorang yang memilih ketenangan setelah terlalu lama terluka.

“Claire perempuan baik,” gumam Julian pelan. “Aku rasa aku bisa hidup bahagia dengannya.”

Bisa. Bukan akan. Dan Serena langsung menangkap perbedaannya.

“Aku hanya tidak ingin ada hal buruk yang tersisa di antara kita sebelum aku menikah,” lanjut Julian sambil menatap Serena lurus lurus.

Mata Serena langsung terasa panas. Karena setelah bertahun tahun, Julian tetap menjadi satu satunya orang yang tidak pernah mencoba menghukumnya atas kesalahan masa lalu mereka.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!