NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengorbanan Sari

 “Karena ia melakukannya demi keluarganya!” Mbah Jari balas membentak, matanya yang hitam kini menatap Agus. “Itu adalah satu-satunya emosi tulus yang ia miliki: pengorbanan. Dan aku memaksakan ingatan dan aura cinta Endang ke dalam pengorbanan Sari. Kau harus menjaganya tetap stabil, Agus!”

Mbah Jari kembali fokus pada Sari. “Pangeran Titi Kusumo bukan entitas sembarangan. Dia dikutuk karena cinta yang hilang. Dia tidak mencari kenikmatan fisik belaka, dia mencari koneksi yang tulus. Dia akan mengujimu. Dia akan mengajukan pertanyaan, dia akan menyentuhmu, dan jika dia mendapati ada sedikit pun keraguan atau kebohongan, dia akan menghancurkanmu.”

Sari menelan ludah. “Menghancurkanku bagaimana, Mbah?”

“Dia akan menarik sukma Sari, sukma yang baru saja kukosongkan dari wadah ini, dan dia akan menyiksanya hingga kau memohon mati,” jawab Mbah Jari, tanpa emosi. “Lalu, dia akan menggunakan raga kosongmu ini untuk menyiksa Endang yang asli. Kau tidak hanya akan mati, kau akan menjadi alat pembunuh.”

Ancaman itu menghantam Sari seperti palu. Keputusan yang ia ambil demi lima ratus juta kini terasa sangat mahal.

“Kau harus tampil sempurna malam ini,” desak Mbah Jari. “Ingat semua yang dikatakan Agus tentang Endang. Jika dia bertanya tentang masa lalu kalian, jawab dengan penuh kasih, meskipun kau berbohong. Aura Endang yang sudah kutananamkan akan membimbingmu, tetapi kau harus mengizinkannya bekerja.”

Dari luar, suara Raden Titi Kusumo terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Seolah-olah ia telah menembus beberapa lapisan perlindungan gaib Mbah Jari.

“Aku tahu kau di sana, Endang. Aroma dupa pengorbanan ini terlalu kuat untuk diabaikan. Aku tidak suka tempat gelap. Keluarlah ke cahaya, istriku.”

Agus merasakan lututnya lemas. Entitas itu terdengar sangat sabar, namun di balik kesabaran itu tersimpan kemarahan yang mematikan.

“Kita harus keluar,” kata Agus, mencoba menarik Sari.

Sari menepis tangan Agus. “Jangan sentuh aku! Sentuhanmu hanya mengingatkanku bahwa aku bukan Endang! Aku akan keluar sendiri.”

Sari, meskipun ketakutan, kini menunjukkan tekad baja. Ini adalah tekad seorang ibu yang berjuang mati-matian demi anak-anaknya—pengorbanan yang disalahgunakan oleh Agus.

“Bagaimana jika dia menyentuhku, Mbah?” tanya Sari, matanya memohon jawaban. “Bagaimana jika dia mencoba menggunakan Mata Jati?”

Mbah Jari menghela napas. “Aku sudah menanamkan Penghalang Sukma di balik Pelet Punggung. Ini seharusnya melindungi jiwamu dari penetrasi langsung. Tetapi jika dia memaksa, kau harus memikirkan satu hal: keluargamu. Pikirkan lima ratus juta itu. Jadikan itu mantra pelindungmu. Jangan biarkan Sari yang lelah dan putus asa muncul. Jadilah Endang yang mencintai suaminya (Agus) dan rela berkorban demi suaminya.”

Ironisnya, Sari harus berperan sebagai Endang yang berkorban demi Agus, padahal Sari-lah korban sesungguhnya.

“Aku mengerti,” Sari mengangguk. Kepasrahan total kini menggantikan ketakutannya. Jika kematian adalah harga yang harus dibayar, ia akan memastikan keluarganya kaya.

“Pergi sekarang!” desak Mbah Jari. Ia menunjuk ke pintu. “Agus, kau harus segera membawanya kembali ke rumah. Ritual pertama harus dilakukan di tempat kalian berdua seharusnya tinggal. Di villa barumu. Cepat!”

Agus dan Sari berjalan menuju pintu. Saat Agus memegang pegangan pintu bambu, ia menoleh ke belakang. Mbah Jari sudah menghilang dalam kegelapan pondok.

“Kau harus keluar dulu,” bisik Agus kepada Sari. “Tunjukkan wajahmu, Endang. Tunjukkan aura ketulusanmu.”

Sari menarik napas dalam-dalam, menutup matanya sejenak. Ketika ia membukanya, ketakutan itu telah meredup, digantikan oleh ekspresi wajah yang familiar bagi Agus—sedikit lelah, tetapi penuh cinta yang terpaksa.

Sari mengangguk. Ia mendorong pintu bambu itu perlahan.

Krieeet...

Angin dingin menerpa wajah mereka. Di luar, pondok itu dikelilingi oleh hutan yang gelap gulita. Tidak ada bulan, dan tidak ada bintang. Hanya kegelapan absolut.

Di tengah kegelapan itu, berdiri seorang pria.

Ia mengenakan busana Jawa kuno, beskap hitam yang disulam dengan benang emas, dan blangkon yang tegak. Wajahnya tampan, dengan garis rahang yang tegas dan bibir yang tipis. Dia terlihat seperti seorang bangsawan muda yang keluar dari lukisan kuno.

Tetapi matanya. Matanya adalah jurang maut, memancarkan cahaya biru pucat yang menembus kegelapan malam.

Raden Titi Kusumo berdiri di sana, menatap Sari. Senyumnya perlahan mengembang. Itu bukan senyum manusia, melainkan ekspresi kepuasan yang sangat kuno, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga yang telah lama hilang.

“Ah, Endang-ku,” suara Titi Kusumo merdu, dingin, dan memabukkan. “Kau sudah kembali. Aku mencium aroma pengorbanan di dalam dirimu. Aroma ketulusan yang kuinginkan.”

Sari membeku di tempatnya, tetapi ia tidak berteriak. Ia ingat instruksi Mbah Jari: Jadilah Endang yang mencintai suaminya.

Sari memaksa dirinya untuk tersenyum, senyum yang terasa kaku dan menyakitkan.

“Raden Titi Kusumo,” sapa Sari, suaranya Endang. “Maafkan aku. Aku… aku hanya menyiapkan diri untukmu.”

Titi Kusumo mendekat, langkahnya tenang tetapi terasa seperti gempa bumi spiritual. Ia mengabaikan Agus yang berdiri di belakang Sari, gemetar ketakutan.

Titi Kusumo mengangkat tangannya yang mengenakan cincin batu akik besar. Tangannya yang dingin mendekati pipi Sari. Sari menahan napas, menunggu sentuhan itu.

Sentuhan Titi Kusumo terasa seperti es yang membakar. Energi spiritual Sari, yang kini adalah Topeng Sukma Endang, berdenyut hebat, mencoba menahan serangan energi kuno Titi Kusumo.

“Aku tahu kau tidak berbohong padaku malam ini, Sayang,” bisik Titi Kusumo, matanya mengunci Sari.

Ia menyentuh pipi Sari, dan Sari merasakan sukma Endang palsu di dalam dirinya berteriak.

“Tapi aku harus pastikan,” lanjut Titi Kusumo. Ia tidak hanya menyentuh pipi Sari; ia menekan ibu jarinya, sedikit lebih keras, mencoba menembus pertahanan sihir Mbah Jari.

Sari merasakan energi itu mencoba mengupas lapisannya. Ia harus melakukan sesuatu, apa pun, untuk meyakinkannya. Ia harus berakting.

Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Sari memejamkan mata dan berbisik, “Aku adalah milikmu, Raden. Apa pun yang kau mau, akan kuberikan. Aku bersumpah.”

Sumpah itu—sumpah tulus Sari demi keluarganya—menguatkan topeng Endang di wajahnya.

Titi Kusumo tersenyum puas. Ia menarik tangannya dari pipi Sari, tetapi pandangannya tetap tajam. Ia menatap ke belakang Sari, ke arah Agus.

“Kau sudah mengantar istriku, Agus,” kata Titi Kusumo. “Sekarang, kau bisa pergi. Aku akan membawanya. Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku malam ini, dan sebagai gantinya, besok pagi kau akan melihat keajaiban di rekening—”

Tiba-tiba, Titi Kusumo berhenti bicara. Pandangannya tidak lagi tertuju pada Agus, melainkan turun, ke kaki Sari.

Sari mengikuti pandangan Titi Kusumo. Ia melihat lumpur dan debu dari lokalisasi kotor tempat ia diambil tadi malam, masih menempel di sandal jepitnya.

Titi Kusumo mengerutkan kening.

“Endang-ku,” katanya, suaranya kini kembali dingin seperti es. “Sejak kapan kau memakai sandal jepit murahan seperti itu? Di mana sepatu sutra yang kuberikan padamu?”

Sari panik. Ia lupa detail kecil itu. Tubuh Sari yang lelah oleh kehidupan malam membuatnya secara otomatis memakai sandal yang nyaman.

Agus, melihat kekacauan itu, mencoba menyelamatkan situasi.

“Raden, itu hanya…”

“Diam, Manusia Rendahan!” bentak Titi Kusumo, tanpa menoleh.

Titi Kusumo kembali menatap Sari, matanya kini memancarkan keraguan yang mematikan.

“Aku mencium ketulusan, Endang. Tapi kau memakai sepatu seorang pelacur. Siapa kau sebenarnya?” tanya Titi Kusumo, dan ia mengangkat tangannya lagi, kali ini tidak untuk menyentuh pipi, melainkan untuk merobek seluruh ilusi.

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!