Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Prolog yang Ditulis Ulang dan Penenun Benang Takdir
Aku mengusap wajahku yang kuyu. Kopi keduaku malam ini sudah dingin, menyisakan ampas pahit yang menempel di dasar cangkir kayu.
Suasana di luar rumah sewaanku terasa mencekam. Walaupun aku berada di ruang bawah tanah yang kedap suara, aku bisa merasakan getaran aneh merayap di dinding batu. Seakan-akan Orario sedang menahan napasnya. Tadi sore, aku melihat sekumpulan petualang berseragam Loki Familia berlarian dengan wajah tegang melintasi distrik utara, menyebar ke gang-gang sempit seperti sedang memburu hantu.
Apakah rencanaku berhasil? Apakah Finn dan Evilus sedang saling membantai di bawah sana? Entahlah. Yang aku tahu, aku tidak boleh berhenti. Narasi ini harus terus hidup agar aku tidak kembali menjadi target.
Buku sebelumnya telah memperkenalkan Aeon dan faksi-faksi kosmis. Tapi ada satu celah yang mengganjal di kepalaku. Aku menyebut Stellaron—Kanker Semua Dunia—berada di Lantai 100 Dungeon. Tapi dari mana benda itu berasal? Mengapa sekte Evilus sebegitu yakin benda itu bisa dikendalikan?
Aku menarik selembar perkamen kosong yang masih berbau rami dan cuka. Aku harus menuliskan sebuah prolog. Sebuah asal-usul. Jika aku ingin dunia ini sepenuhnya mempercayai fiksiku, aku harus menceritakan "awal mula" sebelum kekacauan ini terjadi.
Aku akan menulis ulang awal dari perjalanan epik yang kuingat dari ingatanku tentang game itu. Tentu saja, aku harus menyesuaikan istilah ruang angkasa agar masuk akal bagi penduduk dunia fana yang terjebak di bawah kubah langit ini. Tidak ada pesawat luar angkasa, tidak ada stasiun orbit. Sebagai gantinya, aku akan menciptakan sesuatu yang lebih mistis namun sama futuristiknya.
Pena buluku mulai menari di atas perkamen, meninggalkan jejak tinta hitam pekat.
"Sebelum Kanker Semua Dunia jatuh dan terkubur di kedalaman Dungeon Orario, benda itu disimpan di tempat yang tak bisa disentuh oleh para Dewa. Di atas lautan awan yang memisahkan dunia fana dan Tenkai (Surga), melayang sebuah benteng kuno yang menolak hukum gravitasi—Menara Pengetahuan Herta.
"Menara itu bukanlah milik Dewa, melainkan monumen dari para cendekiawan ras purba yang memuja Nous, Sang Aeon Erudition (Pengetahuan). Di sanalah, di jantung menara yang ditenagai oleh bintang buatan, Stellaron dikurung dalam sangkar kristal nol mutlak."
Aku berhenti sejenak, mengagumi narasiku sendiri. Memasukkan entitas di luar jangkauan para Dewa Orario akan membuat ceritanya terasa epik dan tak terjangkau.
Lalu, bagaimana kehancuran stasiun ruang angkasa Herta di game itu diterjemahkan ke sini? Ah, invasi.
"Namun, kedamaian menara itu pecah. Langit di atasnya robek seperti kertas lapuk. Dari celah dimensi yang terbakar, turunlah Legiun Kehancuran—pasukan iblis tak berjiwa yang dipimpin oleh para Tuan Kehancuran, pelayan setia Nanook. Mereka menyerbu Menara Herta, membantai para cendekiawan purba, dan menodai awan dengan hujan darah."
Di sinilah aku harus memasukkan dua karakter krusial itu. Kafka dan Silver Wolf. Aku tidak bisa memanggil mereka dengan nama peretas atau pengguna senjata api. Aku harus memberi mereka atribut sihir yang unik di dunia ini.
"Di tengah kekacauan itu, ketika para iblis Kehancuran sibuk meruntuhkan menara, dua sosok berjalan santai menembus medan perang tanpa setetes darah pun menyentuh pakaian mereka. Mereka tidak berafiliasi dengan Dewa mana pun. Mereka menyebut diri mereka Pemburu Stellaron.
"Yang pertama adalah seorang gadis kecil dengan mata sedingin baja. Ia adalah 'Peretas Realitas'. Ia tidak menggunakan sihir konvensional. Dengan sentuhan ujung jarinya di udara, ia bisa menulis ulang hukum fisika—mengubah dinding baja menjadi kabut, atau membekukan ledakan api di tengah waktu. Baginya, dunia fana hanyalah ilusi yang bisa ia susun ulang."
Itu untuk Silver Wolf. Cukup overpowered, tapi sangat cocok untuk memperkuat narasi bahwa ada entitas di luar sistem Falna. Sekarang, untuk Kafka.
"Yang kedua, berjalan di belakangnya, adalah seorang wanita dengan senyum misterius dan jas ungu yang elegan. Ia adalah sang 'Penenun Takdir'. Ia tidak membunuh dengan pedang. Dari jemarinya yang lentik, keluar benang-benang sihir tak kasatmata yang mampu mengambil alih sistem saraf—bahkan jiwa—siapa pun yang mendengarkan suaranya. Ia bisa memerintahkan seorang ksatria untuk memenggal kepalanya sendiri hanya dengan satu bisikan halus."
"Mereka tidak datang untuk menyelamatkan Menara Herta. Mereka datang untuk mengambil Stellaron."
Tiba-tiba, tanganku terasa sangat dingin. Ada sensasi aneh yang menjalar dari ujung pena ke pergelangan tanganku, seperti arus statis. Aku mengabaikannya dan terus menulis. Ini bagian klimaksnya.
"Sang Penenun Takdir dan Sang Peretas Realitas tiba di ruang inti. Mereka berdiri di depan kristal nol mutlak yang mengurung Kanker Semua Dunia—sebuah bola cahaya kuning keemasan yang berdenyut layaknya jantung kosmis."
"'Apakah tubuh wadahnya sudah siap?' tanya sang wanita.
"'Sudah,' jawab gadis kecil itu, menjentikkan jarinya. Realitas di sebelah mereka terbelah, memuntahkan sesosok tubuh manusia tanpa jiwa, tanpa ingatan, dan tanpa masa lalu. Sebuah cangkang kosong yang diciptakan khusus untuk menahan kekuatan absolut."
"Wanita berjas ungu itu tersenyum lembut. Ia menarik Stellaron dari sangkarnya, mengabaikan radiasi mematikan yang menghancurkan dinding di sekitarnya. Dengan lembut, ia mendorong Kanker Semua Dunia itu menembus dada sang cangkang kosong, menanamkannya tepat di jantungnya."
"'Waktunya bangun,' bisik wanita itu, menyentuh dahi wadah tersebut. 'Kau akan mengalami banyak penderitaan di dunia fana ini, menjelajahi lantai demi lantai labirin. Tapi pada akhirnya, kau akan mencapai akhir dari takdirmu.'
"Dan dengan itu, wadah yang memendam Kanker Semua Dunia membuka matanya, tepat saat Menara Pengetahuan Herta meledak dan jatuh menjadi meteor yang menghantam Lantai 100 Dungeon Orario."
Aku menghembuskan napas panjang, menjatuhkan pena buluku ke atas meja. Tinta di perkamen itu berkedip aneh selama satu detik—sebuah ilusi optik yang kuanggap sebagai akibat dari kelelahan mataku.
Selesai. Prolog ini sempurna.
Dengan cerita ini, aku baru saja memberitahu Orario bahwa Stellaron yang dicari oleh Evilus bukanlah sebuah batu biasa yang tergeletak di dasar Dungeon. Stellaron itu hidup. Benda itu memiliki inang berbentuk manusia yang sedang berkeliaran entah di mana. Ini akan mengalihkan fokus seluruh Familia! Mereka akan mencari "orang" tersebut, dan melupakanku sebagai penulis.
Aku tersenyum puas, bersiap untuk menggulung naskah itu dan memberikannya ke titik kumpul esok hari.
BRAKKK!
Pintu ruang bawah tanahku ditendang hancur hingga engselnya lepas dari batu bata. Suara kayu berderak keras memenuhi ruangan sempit itu, diikuti oleh hembusan angin malam yang membawa aroma darah dan kepanikan murni.
Aku melompat dari kursiku, insting bertahan hidupku menjerit saat aku menyambar pisau perak dari laci meja.
Di ambang pintu yang hancur, berdiri sosok yang membuat darahku membeku.
Itu adalah Hermes. Namun, dia tidak tersenyum cerah. Topi petualangnya hilang, jubah cokelatnya robek di beberapa bagian, dan wajahnya dipenuhi oleh keringat dingin. Di lengannya, ia memapah sosok Asfi Al Andromeda yang setengah sadar, zirah gaibnya hancur dan darah merembes dari sela-sela tulang rusuknya.
"Hermes-sama...?" suaraku bergetar. "A-apa yang terjadi? Siapa yang menyerang Asfi?!"
Hermes tidak menjawab pertanyaanku. Mata jingga Sang Dewa Pengembara itu mengunci pandangannya ke arah perkamen basah di atas mejaku. Ekspresinya berubah dari panik menjadi horor yang memuakkan, seolah ia baru saja melihat malaikat maut.
Dalam sekejap mata, Hermes melepaskan tubuh Asfi yang jatuh terbatuk ke lantai, melesat ke arahku, dan mencengkeram kerah bajuku dengan kekuatan yang mustahil dimiliki oleh tubuh fana tanpa Falna. Ia mengangkatku hingga ujung kakiku tidak menyentuh lantai.
"Apa... apa yang baru saja kau tulis, Anonym?!" raung Hermes, suaranya pecah, bercampur antara kemarahan dan teror absolut.
"P-prolog!" aku tercekik, mencoba melepaskan cengkeramannya yang seperti besi. "S-seperti yang kita rencanakan! Aku memperluas ceritanya—"
"KAU MEMBUNUH KITA SEMUA!" Hermes berteriak tepat di depan wajahku. Air mata ketakutan menggenang di matanya. "Buku jilid sebelumnya telah merusak hukum sihir Orario! Finn Deimne menarik energi dari sesuatu di luar angkasa! Dan sekarang—!"
Hermes menoleh dengan kasar ke arah perkamen di atas meja. Tangannya yang lain gemetar hebat saat menunjuk ke arah nama-nama yang baru saja kutulis.
"Apakah kau mengerti bagaimana sistem kepercayaan di dunia ini bekerja, bodoh?!" suara Hermes merendah menjadi bisikan histeris. "Jika kau menulis bahwa ada Pemburu Stellaron yang memiliki kekuatan absolut dan tidak berafiliasi dengan Dewa... dan tulisanmu terhubung dengan energi kosmis anomali yang baru saja terbuka jalurnya...!"
Kata-katanya terputus oleh suara gemuruh pelan yang datang dari atas, dari luar rumah sewaanku. Bukan suara petir. Melainkan suara realitas yang dipaksa melengkung.
Asfi, yang tergeletak di lantai, mengangkat kepalanya dengan susah payah. Mata di balik kacamata retaknya membelalak menatap langit-langit ruang bawah tanah.
"M-mereka datang..." rintih Asfi, memuntahkan darah ke lantai. "Anomali yang baru saja kau deskripsikan... realitas sedang menarik mereka kemari..."
Aku membeku. Nafasku tercekat di tenggorokan.
Di udara ruang bawah tanah yang pengap, aku mendengar sesuatu yang mustahil. Dari ketiadaan, terdengar suara gesekan halus. Suara sepasang sepatu hak tinggi yang melangkah pelan menuruni tangga rumahku yang kosong, diikuti oleh ketukan ringan dari sesuatu yang terdengar seperti... suara tombol keyboard mekanik yang ditekan secara melayang.
Tap. Tap. Klik. Tap.
Sebuah suara wanita yang elegan, lembut, namun memancarkan dominasi mutlak yang membuat lutut Hermes sendiri bergetar, bergema menembus dinding batu tanpa ada halangan.
"Kau menulis skrip yang sangat menarik, Tuan Penulis," suara itu mengalun bagai sutra beracun. "Tapi sayangnya... Elio tidak pernah menyebutkan namamu dalam ramalannya."