"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DELAPAN
"Lho, kok masih pada di rumah? Mau jam berapa pergi ke puncaknya? Kalo telat nanti macet lho di jalannya."
Kanaya menatap Andra dan Nisrin bergantian.
Kedua orang itu harusnya sudah pergi meninggalkan rumah sejak tadi. Ia sudah senang sekali karena berpikir kalau dirinya tak perlu berpapasan dengan mereka saat pulang ke rumah.
"Duduk, ada hal penting yang harus kamu tau. Andra, Nisrin,.... Kalian berdua juga ikut duduk di sini."
Suara Samira mengejutkan Kanaya. Ia baru menyadari kalau ibu mertuanya itu duduk di atas soffa dengan sikap tegak dan sorot mata yang menatapnya cukup tajam.
Meski luar biasa malas, Kanaya memilih untuk tetap ikut duduk karena tak ingin menghabiskan energi dan tenaga dengan berdebat tidak penting bersama ibu mertua menyebalkannya.
"Kenapa, Bu? Kejutan mendadak apa lagi kira-kira yang kalian pengen kasih ke aku?" Kanaya bertanya dengan nada sarkastik, meski senyum manis terulas di bibir penuhnya.
"Apa maksudnya itu, Naya? Kamu nyindir-nyindir Ibu?!"
Samira bertanya tidak suka, suaranya entah dia sadari atau tidak sedikit meninggi dan tajam.
Tapi Kanaya yang mendengarnya tampak tetap tenang, wanita itu justru tersenyum semakin lebar dan manis.
"Oh, nggak. Jangan salah paham, Bu. Aku cuma mempersiapkan diri aja supaya nggak sekaget pas kejadian kemarin. Kan Ibu sama Mas Andra memang suka ngasih kejutan mendadak." Ulas Kanaya tanpa rasa takut, ia menatap Andra dan Samira bergantian dengan ekspresi ceria.
Sementara Nisrin, tak ia pandang sama sekali karena Kanaya jelas tak pernah menganggap wanita itu ada.
"Jangan kamu pikir karena Andra udah kasih semua harta sama assetnya ke kamu, kamu bisa seenaknya ngomong kurang ajar sama mertua kamu Kanaya! Jangan kurang ajar sama orangtua!" Samira memperingatkan.
Kanaya yakin rasa tidak suka ibu mertuanya itu semakin besar dan kuat padanya.
"Lho, aku kurang ajarnya di sebelah mana, Bu? Kan aku cuma tanya kira-kira kalian punya kejutan apa lagi sekarang buat aku? Kok kurang ajar sih."
Samira hendak menjawab ucapan Kanaya dengan lebih tajam lagi, tapi Andra lebih dulu menghentikannya.
Pria itu menatap sang ibu dengan sorot pandang memohon seolah memintanya untuk tak membuat keributan dengan Kanaya.
Terlebih, berita yang akan mereka sampaikan pada wanita itu juga Andra khawatir tak akan bisa istri pertamanya itu terima dengan lapang dada.
"Sayang,Ada sesuatu yang mau aku sampaikan ke
kamu. Tolong, jangan marah ya."
Kanaya menatap wajah suaminya, ia tak tau apa yang akan disampaikan pria itu, tapi emosinya bahkan sudah naik sebelum pria itu membuka mulut dan menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.
Kali ini, apa lagi kelakuan kurang ajarnya tanya
Kanaya dalam hati.
Wanita itu menegakkan posisi duduknya, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Hmm, apa?" Tanya Kanaya, ia masih mempertahankan suara cerianya yang palsu.
"Jadi,... Aku sama Nisrin ngobrol terkait masalah ini, Ibu sama Ayah juga udah sepakat,.... Aku mau Nisrin buat tinggal secara permanen di rumah ini, tinggal bareng-barang sama kita. Aku rasa itu bakal lebih baik dan lebuh adil buat kita semua supaya aku sama kamu juga nggak perlu sering-sering pisah karena bagi jatah. Jadi kita bisa bertemu setiap hari karena ya,.... tinggal bersama."
Tanpa sadar Kanaya sudah mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dari balik baju.
Isi kepalanya lagi-lagi membayangkan cara paling brutal untuk memberi suami dan keluarganya pelajaran berharga seumur hidup.
"Aku bilang ini sekarang supaya nanti setelah aku sama Nisrin pulang dari puncak, kita bisa langsung pulang ke rumah ini dan kamu nggak akan terlalu kaget."
Kanaya hampir saja tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan suaminya yang sangat konyol.
Terlebih, Andra mengucapkan semua kalimat itu dengan senyum pengertian seolah-olah ia sedang melakukan kebaikan penuh pengertian kepadanya.
Kanaya tau betul, bahwa jika dirinya bereaksi agresif dan mengamuk kepada orang-orang bodoh di hadapannya, maka hal tersebut tak akan menguntungkan sama sekali.
"Oh, okay. Okay kalau itu yang kamu mau. Silahkan aja, aku nggak keberatan. Kalian memang nggak terpisahkan, so sweet."
Ucap Kanaya sambil kembali tersenyum manis dan bertingkah seolah dirinya merasa gemas, meski di dalam dadanya kini terasa seperti gunung merapi yang sedang erupsi hebat.
Panas dan meledak-ledak luar biasa.
"Kamu,.... nggak marah?"
Tanya Andra penuh kehati-hatian. Ia memperhatikan wajah Kanaya dengan teliti, berusaha membaca setiap ekspresi dan raut yang tersurat dari istrinya.
Jujur saja, ia cukup kecewa dengan reaksi Kanaya yang menerima begitu saja berita ini.
Andra sempat berpikir dan bahkan berharap kalau Kanaya akan marah dan mengamuk saat mendengar berita ini, karena setidaknya hal tersebut akan membuat Andra yakin bahwa sang istri masih memiliki perasaan cinta padanya.
Jika Kanaya menerima begitu saja, entah kenapa rasanya wanita itu seolah tak peduli lagi pada dirinya.
"Nggak, ngapain marah? Kalian kan memang suami istri, jadi ya memang harus tinggal satu rumah dan nggak boleh terpisahkan. Ya, kan?"
"Kamu beneran nggak marah? Sama sekali? Kamu bener-bener bisa terima Nisrin di rumah ini dan tinggal bareng sama kita?"
Andra kembali bertanya ragu-ragu, pria itu berharap ia bisa melihat satu gurat saja kemarahan dan kesedihan di wajah cantik Kanaya.
Satu gurat kesedihan dan kemarahan yang menjadi tanda perasaan cinta wanita itu padanya.
"He-eum,...." Kanaya mengangguk semangat.
"Oh, ya udah. Syukur lah kalau begitu." Ucap Andra.
Ucapan syukurnya justru tak terdengar tulus sama sekali, pria itu justru terdengar sangat kecewa dan sedih.
Aneh memang, sebelumnya ia khawatir kalau Kanaya tak akan bisa menerima berita ini dengan baik.
Akan tetapi, saat wanita itu justru menunjukan reaksi yang sebaliknya dari yang ia sangkakan, Andra justru merasa jauh lebih sakit hati.
Andra merasa kalau Kanaya tak lagi peduli padanya, ia khawatir kalau perempuan itu sudah mati rasa padanya.
"Udah? Itu aja yang mau disampein ke aku? Ya udah, kalian cepet-cepet pergi gih, jalan ke puncak makin sore makin macet lho. Nanti terlalu malem pas sampe ke sana." Ucapan manis Kanaya terasa bagai usiran halus di telinga Andra.
Rasa kecewa yang dirasakan hati pria itu semakin dalam dan ketara.
"Kamu beneran nggak mau ikut ke puncak?"
"Euhm, nggak." Kanaya menggelengkan kepalanya cepat, yakin dan tanpa ragu sama sekali.
"Mana tega aku gangguin pasangan suami istri yang baru bisa bulan madu terang-terangan. Ya kan, Bu?" Ujar Kanaya sambil menatap ke arah Samira.
Pertanyannya itu lagi-lagi terkesan seperti sedang meledek.
"Naya,...." Suara Andra kembali terdengar memanggil namanya. Entah memperingatkan atau apa, Kanaya tidak peduli sama sekali.
"Ya udah, kalian cepet pergi gih. Keburu sore, nanti waktunya malah habis di jalan. Semoga pulang dari puncak Nisrin bisa bener-bener isi." Ujar Samira, wanita paruh baya itu memasang senyum yang sangat manis pada menantu baru kesayangannya.
"Iya, Bu. Semoga. Kalau gitu aku sama Mas Andra pergi dulu, ya." Nisrin akhirnya membuka suara setelah sejak tadi bungkam seperti boneka pajangan.
"Mbak,.... Aku pergi dulu ya sama Mas Andra. Mbak mau titip oleh-oleh?"
Nisrin menatap ke arahnya, tersenyum manis yang di mata Kanaya terlihat sangat palsu.