Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tara berdiri diam di halaman depan gedung pengadilan agama. Pandangnya tertuju pada tulisan di atas gedung tersebut. Perasaannya campur aduk. Untuk pertama kalinya ia tak menyangka akan menginjakkan kaki di gedung tersebut. Gedung yang akan sering ia datangi selama proses perceraian berlangsung.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”
Tara menoleh. Seorang pria berjas rapi menatapnya dengan senyuman ramah.
“Saya ingin mengajukan gugatan perceraian. Kemana saya harus mengurus berkas-berkasnya?”
Pria berjas itu mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Saya Ervano, staf pengacara dari firma hukum Loyal Divorce.”
Tara menatap tangan pria itu lalu balas menjabatnya.
“Saya melihat Mbaknya diam menatap gedung. Jadi, saya menghampiri Anda.”
“Kalau begitu, anda bisa membantu proses cerai saya?”
Ervano mengangguk dan mengambil kartu nama dari kantong kemejanya. “Jika sudah yakin untuk bercerai, Anda bisa mendatangi kantor kami.”
Tara menatap kartu nama itu dan tersenyum. “Terima kasih.”
“Baiklah. Saya harus mengurus pekerjaan.”
Tara mengangguk sopan. Ia urung masuk ke dalam gedung pengadilan. Ia sudah menemukan pengacaranya. Ia hanya perlu tahu tentang Loyal Divorce ini agar prosesnya bisa dipercepat. Ia memang mencari pengacara yang bisa memudahkan jalannya perceraian.
Sepanjang perjalanan pulang, Tara melamun. Ia duduk di dalam taksi online dengan menatap keluar jendela. Ia tidak sedang menikmati pemandangan lalu lintas yang padat di kota tersebut. Pikirannya sedang melayang ke masa lalu. Masa dimana ia memulai semuanya bersama Devan setelah ditinggal David.
Tara dan David berpacaran sejak masih SMA. Bunga cinta bermekaran setiap saat kala ia dan David bersama. Hingga di suatu waktu, David mengatakan hal yang membuat hatinya hancur.
David dijodohkan orang tuanya. David memutuskan Tara karena ia tak berani melawan kehendak orang tuanya yang mengancam akan mencoretnya dari kartu keluarga jika David tak menyetujui perjodohan itu.
Sejak saat itu, bunga cinta yang sedang mekar-mekarnya itu harus layu dalam waktu cepat. Cinta yang begitu membahagiakan berubah menjadi penderitaan tiada henti dalam hidup Tara.
Tara merana. Hidupnya hancur bersamaan dengan hati yang remuk. Tidak ada gairah hidup. Tara menjadi beku dan dingin. Tidak mau berinteraksi dengan siapapun. Gairah hidupnya meredup. Tak ada lagi senyuman walau setipis benang. Yang ada hanya air mata yang terkadang turun dengan tatap kosong. Tara hidup di dunia bayangannya sendiri.
Haris berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengembalikan senyum sang adik. Berusaha menyalakan lagi gairah hidup adik satu-satunya. Ia mengenal David dan membencinya. Jika ia tahu alamat rumah David, bisa dipastikan David akan mati di tangannya karena telah merenggut kebahagiaan Tara.
Hingga akhirnya Haris mengenalkan temannya, Devan. Wajah tampan juga sikap ramah Devan perlahan membuat Tara kembali ke dunia nyatanya lagi.
Seiring berjalannya waktu, Tara telah kembali. Senyumnya mulai terlihat. Tawanya mulai terdengar. Dan itu semua berkat kehadiran Devan.
Dan saat itu nama David mulai terlupakan. Devan mendekati Tara dan membuat Tara jatuh cinta. Sayang, cintanya tak bersambut. Kenyataan pahit harus ia terima.
Devan tidak normal.
Dan yang lebih mengejutkan. Abangnya, Haris juga tidak normal. Mereka berdua adalah pasangan tidak normal. Itulah sebabnya Devan tidak bisa mencintai Tara.
Tara pernah menjauh, tapi Devan tetap mendekatinya. Ia menawarkan hal yang pernah ia impikan. Devan ingin menikahi Tara demi menghindar dari perjodohan yang dirancang orang tuanya.
Pernikahan mereka awalnya ditentang Haris hingga Devan mengajukan kontrak pernikahan yang jelas menguntungkan Tara. Tara bisa memiliki harta Devan apapun itu. Tara dan Haris bukan dari keluarga kaya. Jelas penawaran Devan membuat Tara tertarik dan menyetujui kontrak itu dengan beberapa peraturan yang sudah mereka sepakati bersama.
“Sudah sampai, Mbak.”
Lamunan Tara terhenti saat sopir taksi menghentikan mobil di depan rumahnya. Tara mengangguk, menyerahkan uang, dan keluar dari sana.
Ponselnya berdering saat ia hendak membuka pintu. Tara mengambilnya dari dalam tas.
“David?”
Tara duduk di kursi teras sembari menerima panggilan sang mantan.
“Ya?”
“Halo, Tara. Apa kabar?” Suara David begitu lembut di telinganya.
“Baik. Ada apa nelpon?”
“Cuma pingin dengar suaramu aja. Pingin ketemu, tapi aku tahu kamu dan Abang melarangku menemuimu sebelum proses perceraianmu selesai.”
Tara menghela napas. “Dari dulu nggak berubah. Pas aku masih jadi istrinya Devan, kamu nelpon malam-malam sampai Devan cemburu.”
David yang sedang duduk di kursi kerjanya di bengkel tersenyum. Ia juga masih mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Saat ia masih menjadi karyawan toko milik Devan demi bisa mendekati Tara dan memanfaatkan itu dengan cara menelepon Tara pura-pura bertanya tentang pekerjaan.
“Kalau sekarang, dia nggak cemburu kan? Dia nggak ada di dekatmu dan tinggal bersamamu kan?”
Tara mengangguk walau David tak melihatnya.
“Tara, mobilmu masih belum selesai. Bagian depan dan samping kiri rusak parah. Jadi, aku nggak tahu kapan akan selesai.”
“Santai aja. Nggak buru-buru juga.”
Keduanya diam beberapa saat.
“Eum, kalau telponan masih boleh kan, Ra?” Suara David kembali terdengar.
“Jangan terlalu sering. Kalau Abang tahu, dia pasti nggak suka. Aku pun nggak mau kamu terlibat dalam permasalahanku, Vid. Tolong biarkan aku menyelesaikan semuanya dulu. Aku nggak pingin Devan punya celah untuk membela diri. Aku nggak mau dia mikir macam-macam tentang kamu. Dia udah curiga sama kamu, Vid.”
David menghela napas panjang. “Aku tahu. Aku akan menunggu. Delapan tahun aku menunggu dengan setia. Delapan tahun aku nggak ijinin perempuan lain menggantikan posisimu. Aku masih bisa bersabar untuk menunggu lebih lama lagi.”
Tara terdiam. Kepergian David waktu itu memang tidak terlalu menyakitkan hatinya lagi. Tapi tetap saja, David pernah melukai hatinya begitu dalam sampai Tara berpikir ingin mengakhiri hidup.
“Bagaimana kalau penantianmu sia-sia, Vid?”
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Tara.
“Aku udah pasrah sama jalan takdirku, Ra. Aku berharap takdir akan membuat kita bersama. Tapi, kalaupun enggak, aku akan paksa. Aku akan berjuang walau tanpa jaminan apapun. Aku masih sangat mencintaimu, Ra. Aku tahu kamu sudah merasakannya waktu kita berada di rumahku setelah kamu kecelakaan.”
Tara diam. Untuk saat ini, ia tak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingin bercerai lebih dulu barulah melanjutkan hidup. Tapi melanjutkan hidup bersama David …
Tara tidak tahu.
“Ya sudah kalau begitu. Setidaknya aku tahu kamu baik-baik aja. Itu udah cukup. Hiduplah bahagia, Tara. Karena kebahagiaanmu menjadi penyemangatku juga. Aku lanjut kerja lagi ya.”
“Iya, Vid.”
Panggilan terputus. Tara menghela napas panjang. Ia tahu David sedang berusaha mendapatkan hatinya kembali. Apalagi ia tahu kalau sebentar lagi Tara akan menjadi perempuan single. Semakin menjadi-jadi pula lelaki itu nanti saat palu hakim diketuk tanda ia dan Devan resmi bercerai secara negara juga agama.
“Sudahlah. Terserah dia mau ngapain. Aku harus fokus pada perceraian ini dulu.”
***
Tara duduk diam di lobby kantor Loyal Divorce setelah bertemu dengan Ervano di dalam ruangannya. Ervano menanyakan bukti-bukti perselingkuhan Devan yang jelas tak dipunyai Tara.
Tanpa bukti, proses sidang bisa alot. Walau Tara bisa menghadirkan Devan dan memintanya mengaku di depan hakim kalau dia selingkuh pun tetap tidak bisa menjadi bukti kuat perselingkuhan.
Ervano menyarankan alasan lain yang lebih mudah. Yaitu tidak diberikan nafkah selama masa pernikahan. Tara meminta waktu untuk memikirkan ulang alasan tersebut.
Pasalnya Devan memenuhi nafkah lahirnya. Devan memang tidak memberikan nafkah batin. Tapi bagaimana kalau mereka mencecar Devan dengan banyak pertanyaan mengapa ia tak menyentuh sang istri selama tiga tahun pernikahan?
Tara tidak ingin membongkar aib Devan yang satu itu. Tara tidak ingin rahasia mereka terbongkar pada orang lain. Apalagi di depan hakim, pengacara, dan para staffnya.
Tidak.
Rahasia itu harus tetap disimpan rapat. Tara tidak bisa mengambil resiko. Apalagi jika orang tua Devan mendengarnya.
Tidak.
Tara tidak setega itu. Ia tidak sejahat itu membalas rasa sakit hatinya pada Devan dengan taruhan masa depan lelaki itu sendiri.
Tara keluar dari lobby kantor sembari menelepon seseorang.
“Dev, bisa ketemu hari ini?”
Devan yang sedang istirahat di ruang guru mengernyit mendengar pertanyaan Tara.
“Tentu saja. Kamu masih istriku. Kenapa harus seformal itu sih nanyanya?”
“Ada hal penting yang harus kita bahas.”
“Oke. Dimana?”
“Di rumahku. Kamu bisa datang ‘kan?”
“Ya. Aku datang sepulang dari ngajar. Kamu mau aku bawain apa? Sekalian aku beliin.”
“Nggak perlu. Aku cuma mau kamu datang ke sini secepatnya.”
“Oke.”
Tara menutup telepon. Devan melihat ponselnya yang masih memakai foto pernikahannya dengan Tara sebagai wallpaper utama.
“Apa yang mau diomongin Tara?”
Bersambung …