NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik ma'had yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guangzhou

Angin musim dingin yang tipis menyapu wajahku saat langkah kakiku menapak di pelataran pasar tekstil terbesar di Guangzhou. Iya... setelah Prancis dan italia Inilah jantung dari segala kain di dunia. Mereka bilang, jika kau mencari seutas benang yang belum pernah diciptakan manusia, kau mungkin akan menemukannya di sini.

Sebenarnya perjalanan mencari kain hanya di cina, kata ibu aku cukup kesini untuk mencari kain, tapi aku bilang sekalian aku ingin liburan sebelum masa hiatusku di penuhi naskah novel yang comeback tahun depan dan susah untuk mencari hari karna bukan hanya novel tapi dear alea juga. Sebagai Pemilik butik Dear Alea, yang aku bangun dengan cucuran keringat dan idealisme. sepotong pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan pelukan bagi pemakainya. Itulah alasan aku menempuh ribuan kilometer ke China untuk menemukan "jiwa" bagi koleksi baju muslim terbaruku.

karena sebelum mereka mengenal dear alea, aku sudah memakainya terlebih dahulu, dari pilihan dan jaitan ibu terkadang aku merasa percaya diri bahkan setiap event bertemu dengan banyak orang aku selalu memakai dear alea yang dulunya tanpa nama itu, dan dari ibu aku mengenal banyak kain, terkadang aku memperhatikan ibu yang sangat amat teliti itu sedang memilih kain yang cocok untuk ia jahit dengan desain yang dia buat, alhasil sekarang bukan ibu lagi yang memilih karena kita harus berbagi tugas untuk perkembangan dear alea kedepan.ibu benar-benar mewariskan bakatnya sedikit demi sedikit tanpa sadar.

​Lantai demi lantai kulewati. Mataku terus berpendar, memindai ribuan gulungan kain yang tertata rapi hingga menyentuh langit-langit toko. Aroma kain baru—perpaduan antara bahan kimia pemroses, katun segar, dan sedikit debu industri—terasa seperti parfum mewah di penciumanku.

​Tantangan pertamaku adalah menemukan bahan utama untuk seri Signature Gamis Dear Alea. Aku punya kriteria yang sangat spesifik dan, jujur saja, agak menyulitkan para produsen: halus, ringan, jatuh, namun sama sekali tidak terawang.

​"Nǐ hǎo, ada yang bisa saya bantu?" seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal menyapa dalam bahasa Mandarin yang kental.

​Aku tersenyum, lalu mengeluarkan sketsa desainku. "Saya mencari kain yang bisa 'menari' saat pemakainya berjalan. Ringan seperti udara, tapi memiliki densitas yang cukup agar tidak menampakkan siluet tubuh."

​Pria itu, yang kemudian kukenal sebagai Tuan Chen, mengajakku ke sudut terdalam tokonya. Ia mengeluarkan sebuah gulungan kain berwarna dusty rose. "Coba sentuh ini, Silk-Poly Blend dengan teknik tenun High-Twist," katanya bangga.

​Saat jemariku menyentuh permukaannya, aku hampir menahan napas. Rasanya sedingin air mengalir di atas kulit. Ketika kubentangkan, kain itu jatuh dengan sangat anggun—seperti cairan yang membeku. Aku mengangkatnya ke arah lampu neon yang terang.

​"Lihat," bisikku pada diri sendiri. "Padat."

​Meskipun ringan, jalinan benangnya sangat rapat sehingga tidak menyisakan celah bagi cahaya untuk menembusnya. Inilah dia. Kain yang akan membuat para pelanggan Dear Alea merasa aman sekaligus elegan. Aku memesan dua gulungan kain dalam empat warna bumi: taupe, terracotta, midnight blue, dan tentu saja, dusty rose ini.

​Perburuanku berlanjut ke area tekstil fungsional. Untuk koleksi musim gugur dan umrah di musim dingin, aku butuh bahan yang bisa menjaga suhu tubuh tanpa membuat pemakainya terlihat seperti mengenakan selimut tebal yang berat.

​Aku ingin sebuah gamis luar (outer) yang tetap ramping.

​Di sebuah butik khusus bahan wol dan campuran serat alami, aku menemukan sesuatu yang mereka sebut Cloud-Wool Fleece. Penampilannya menipu, dari jauh tampak seperti katun biasa yang bertekstur matte, namun bagian dalamnya memiliki serat mikro yang sangat lembut dan mampu memerangkap panas.

​"Ini sangat tipis untuk sebuah kain hangat," komentarku sambil menimbang beratnya.

​"Ini teknologi terbaru, Nona Aleea," jelas asisten toko tersebut. "Kami mencampur serat bambu dengan wol merino kualitas terbaik. Ia bernapas di cuaca hangat, tapi mengunci panas di cuaca dingin."

​Aku membayangkan model gamis A-Line dengan potongan minimalis menggunakan bahan ini. Tanpa perlu banyak lapisan, pemakainya akan tetap hangat namun tetap bisa bergerak dengan lincah. Aku langsung tahu kain ini akan menjadi primadona di koleksi Travel Series Dear Alea. Aku juga membelinya 2 gulungan setiap warna : coklat Mahogany, broken white dan hitam.

​Bagian terakhir dari misiku adalah mencari "permata" untuk koleksi Couture atau edisi terbatas. Aku ingin sesuatu yang memiliki dimensi. Sesuatu yang ketika disentuh, tanganmu bisa merasakan sebuah cerita.

​Aku masuk ke area kain mewah yang didominasi oleh brokat dan jacquard. Namun, aku bosan dengan motif bunga yang itu-itu saja. Aku mencari sesuatu yang lebih artistik, mungkin sedikit abstrak atau geometris yang terinspirasi dari arsitektur kuno.

​Pencarianku terhenti di depan sebuah manekin yang mengenakan potongan kain berwarna putih gading. Motifnya bukan dicetak, melainkan timbul—efek emboss yang sangat tinggi dengan detail yang luar biasa rumit.

​"Ini adalah 3D Structured Jacquard," ujar sang pemilik toko.

​Aku mendekat dan meraba teksturnya. Motifnya menyerupai riak air di danau yang tenang, dengan benang-benang sutra yang sedikit mengkilap di sela-selanya. Saat terkena cahaya, motif itu seolah-olah bergerak. Ini bukan sekadar kain; ini adalah karya seni.

​"Luar biasa," gumamku. "Aku ingin motif ini, tapi dengan benang warna senada—tone on tone. Saya ingin kemewahan yang tenang, bukan yang berteriak."

​Pemilik toko itu mengangguk paham. China memang ajaib; apa pun modifikasi yang kuminta, mereka punya teknologinya. Kami berdiskusi cukup lama mengenai penempatan motif agar tidak terpotong saat pola gamis diaplikasikan. Inilah esensi dari Dear Alea, detail yang dipikirkan matang-matang.

​Sore hari menyapa, dan kakiku mulai terasa pegal. Aku duduk di sebuah kedai teh kecil di pinggir pasar, memperhatikan hiruk pikuk manusia yang membawa gulungan kain di pundak mereka.

​Melihat tumpukan sampel kain di koper besarku, aku merasa puas. Perjalanan ini melelahkan, tapi jiwaku penuh. Menjadi seorang desainer bukan hanya soal menggambar di atas kertas, tapi soal memahami karakter material, luar biasa, sekarang aku bukan hanya novelis dan juga owner butik yang sibuk mencari kain.

​Gamis yang akan lahir dari kain-kain ini akan menjadi saksi perjalanan hidup banyak wanita. Gamis yang pertama kutemukan tadi akan menemani langkah mereka di kantor atau saat bertemu teman, memberikan kenyamanan tanpa rasa khawatir akan transparansi. Kain hangat yang kutemukan akan memeluk mereka saat beribadah di tanah suci yang dingin. Dan kain jacquard timbul itu... ia akan menjadi saksi di hari-hari bahagia mereka, pernikahan atau hari raya.

​Malamnya, di kamar hotel yang menghadap ke gemerlap lampu kota Guangzhou, aku mulai menyusun kembali rencana produksiku.

​Bahan Utama: High-Twist Silk-Poly (5 Warna).

​Bahan Musim Dingin: Cloud-Wool Bamboo.

​Bahan Eksklusif: 3D Structured Jacquard dengan motif riak air.

​Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan nama Dear Alea tersemat di label kerah pakaian-pakaian ini. Ada rasa bangga yang menyelinap karna aku ikut campur dalam pembuatannya kali ini.

​Besok, aku akan kembali ke Jakarta. Di koperku tidak ada banyak oleh-oleh berupa barang mewah atau suvenir turis. Isinya adalah harapan-harapan baru dalam bentuk potongan kain. Perjalanan mencari kain ini mungkin berakhir di sini, namun perjalanan setiap helai kain itu untuk menjadi pakaian yang dicintai, baru saja dimulai.

​"Tunggu aku, Dear Alea akan membawa sesuatu yang luar biasa," bisikku pada keheningan malam, sebelum akhirnya terlelap dengan mimpi tentang pola-pola yang menari indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!