NovelToon NovelToon
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / TimeTravel / Misteri
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Asaarmata, Darah Sang Raja Terakhir

Sinar matahari sore menembus celah-celah pepohonan purba Lembah Anila, mewarnai tenda utama ekspedisi dengan semburat jingga keemasan. Bau tanah kering, sedikit debu, dan tinta kuno dari peta mendominasi udara di dalam. Harun, dengan wajah tegang, menyambut Aura yang ia bawa setelah mendengar bisikan aneh gadis itu di area penggalian.

Kieran, sang arkeolog, sedang menyeka keringat di dahinya, matanya tampak putus asa setelah sehari penuh tanpa kemajuan atau petunjuk tentang lima anggota tim yang hilang di tingkat pertama makam.

“Aura, terima kasih sudah mau datang,” ujar Harun, menunjuk sebuah kursi lipat. “Kami butuh bantuanmu, atau setidaknya penjelasanmu. Tadi aku tidak sengaja mendengar gumamanmu… ‘Asaarmata’, kau menyebut nama itu. Siapa dia?”

Aura duduk perlahan. Meskipun ia telah siuman dari koma beberapa bulan lalu, gerakan tubuhnya masih menyimpan kehati-hatian. Namun, yang berubah adalah matanya. Mata itu kini membawa beban pengetahuan yang jauh melampaui usianya, seolah ingatan kuno telah mewarisi jiwanya.

“Aku ingin mengabaikannya,” kata Aura, suaranya pelan namun terdengar jelas, memecah kesunyian cemas. “Setelah kembali, aku ingin hidup normal. Tapi aku tahu kalian akan mati sia-sia di sana.”

Kieran mengerutkan dahi. “Maaf, Nak, tapi jangan bicara sembarangan. Kami telah menggali reruntuhan ini selama tiga bulan.”

“Selama tiga bulan, dan kalian baru menemukan museum pameran tentang Raja Armaan Ash di tingkat atas. Kalian akan memasuki jebakan sesungguhnya di tingkat dua, labirin yang di penuhi jebakan dan racun,” balas Aura, tatapannya dingin.

Aura bangkit, berjalan ke atas peta usang yang terhampar di meja. Jari telunjuknya yang ramping menelusuri garis-garis kasar.

“Makam ini bukan milik keturunan bangsawan biasa. Ini milik Asaarmata, putra kelima dari Raja Armaan Ash, yang dijuluki ‘Sang Penakluk Bayangan’.”

Harun dan Kieran saling pandang, rasa skeptis mereka mulai bergeser menjadi ketertarikan yang genting.

“Raja Armaan memiliki lima putra, dan Asaarmata adalah yang termuda, yang terakhir,” jelas Aura, suaranya kini beresonansi dengan keyakinan, seolah ia sedang membaca dari kitab sejarah yang tak terlihat dalam pikiran kecil Aura.

Aura menarik napas, lalu melanjutkan, nadanya kini dipenuhi rasa jijik yang dalam. “Asaarmata mewarisi keanehan ayahnya seorang ahli mekanis dan ilmuan gila. Namun, ia memiliki sisi gelap yang lebih misterius. Sejak kecil, ia terobsesi pada hewan kecil, tumbuhan bukan untuk disayangi, melainkan untuk dibunuh tanpa sebab. Ia mengamati bagaimana cahaya hidup padam, mempelajari transisi dari makhluk hidup menjadi pengetahuan untuk keanehan itu.”

Kieran menggigil. “Itu… benar-benar mengerikan.”

“Yang lebih mengerikan,” Aura merendahkan suaranya, memancarkan kengerian yang nyata, “adalah kepercayaan Asaarmata. Ia tidak hanya mengincar jiwa orang biasa sebagai penjaga makam. Di kisah lama, ia terkenal mencoba mencari keabadian. Ia percaya bahwa darah murni, terutama darah dari bayi atau makhluk yang baru lahir, adalah ramuan ajaib untuk memperpanjang usianya.”

Harun mengepalkan tinjunya. “Maksudmu… jebakan di tingkat kedua yang berupa labirin itu… dirancang untuk mengumpulkan nyawa?”

“Ya, bisa jadi sih dan di sana ada ruang rahasia lain menujuk ke lantai berikutnya. Jika tebakanku benar.,” Aura berbisik. “Lima orang yang hilang itu… mereka adalah korban pertama dari tingkat dua lantai bawah. Dan makam itu akan terus meminta tumbal.”

Kieran tampak pucat. “Pengetahuan ini, Aura… dari mana kau dapatkan?”

Aura hanya tersenyum samar, senyum yang tidak memancarkan keceriaan, melainkan rahasia kuno. “Itu tidak penting. Yang penting, aku tahu bagaimana pikiran Asaarmata bekerja. Aku tahu pola jebakannya, hanya saja aku tidak ingin terlalu terlibat lebih jauh lagi. Jadi disini saja apa yang bisa aku bantu.”

Harun menggeleng. “Tidak Aura. Aku menghargai informasimu. Kami juga ingin kamu ikut serta dalam ekspedisi ini.Kami akan menjagamu, bagaimana?.”

“Soal itu aku tidak bisa yakin mendapatkan izin dari orang tua saya. Anda juga tahu kalau saya hanya warga biasa yang baru saja terbangun dari koma panjang,” kata Aura.

Waktu berlalu tanpa disadari. Sinar matahari jingga sudah menghilang di balik bukit saat Aura menyelesaikan penjelasannya.

Aura berjalan cepat meninggalkan tenda, hatinya dipenuhi tekad. Suasana di luar tenda terasa dingin, sepi, dan kelabu, mencerminkan keputusan berat yang baru saja ia buat. Ia berjalan kaki menuju rumahnya yang sederhana di pinggir desa Anila.

Saat Aura memasuki rumah, aroma masakan yang menenangkan menyambutnya. Ayahnya, seorang pria paruh baya yang tenang, sedang duduk di meja dapur, membaca berita. Wajahnya segera berseri-seri melihat putrinya pulang.

“Aura, Nak! Kenapa baru pulang? Harun mencarimu tadi, ada apa?” tanya Ayah Aura, nadanya penuh kasih sayang.

Aura duduk di hadapan ayahnya, menarik napas dalam. “ itu ayah aku hanya membagi sedikit informasi saja kok, lalu mereka meminta aku untuk ikut dalam penjelajahian makam kuno besok pagi.”

Seketika, ekspresi kehangatan di wajah Ayah Aura hilang, digantikan oleh kerutan dalam dan mata yang memancarkan ketakutan murni.

“Tidak, Aura! Suara Ayah Aura bergetar, buku yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Ia berdiri, jarak antara mereka terasa membeku.

“Aku tahu kalau ini berbahaya. Tapi ini diminta langsung oleh komandan Harun sendiri, untuk aku ikut bersama mereka!” Aura mencoba menjelaskan.

“Tetap saja itu sangat berbahaya, Aura. Bagaimana kalau kamu masuk ke rumah sakit lagi. Ayah dan ibu tidak ingin kamu koma lagi seperti sebelumnya,”ucap Ayah dari aura dengan suara bergerat dengan perasaan khawatir dan gelisah. Ayah Aura mendekat, tangannya mencengkeram bahu Aura, cengkeraman yang dipenuhi keputusasaan. “Kau tahu bagaimana Ibumu dan Ayah berdoa setiap malam selama kau koma? Kami mengira kami akan kehilanganmu selamanya! Baru beberapa bulan kau siuman, kau sudah ingin masuk lagi ke dalam lubang kematian itu? Kau ingin kembali ke rumah sakit?”

“Itu berbeda, Ayah! Aku sudah pulih!” Aura balas penuh kasih sayang, air mata mulai menggenang di matanya, bukan karena sakit, tapi karena frustrasi karena tidak dimengerti. “Aku hanya akan membantu mereka dari belakang saja, tidak sampai ikut terlibat ayah,”kata Aura lagi.

Ayah Aura melepaskan cengkeramannya, berjalan mondar-mandir. “Cukup! Itu terlalu berbahaya! Itu urusan tentara dan arkeolog. Bukan urusanmu!”

“Aku tahu ini berbahaya ayah. Tapi ini juga untuk kebaikan semuanya bukan,”Aura berdiri, air matanya menetes. “Jika Ayah menganggapku masih anak kecil yang harus dijaga, Ayah salah. Aku sudah melihat hal-hal yang tidak Ayah bayangkan selama aku koma!”

Ayah Aura berhenti bergerak. Ia melihat bukan lagi gadis yang lemah, melainkan seorang pejuang dengan api di matanya. Ia melihat tekad yang begitu besar hingga melampaui rasa takutnya akan kematian. Ia ingat bagaimana Aura selalu berjuang untuk Anila.

Ayahnya mendesah panjang, kekalahan menyelimuti wajahnya. Ia duduk kembali, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Baiklah, Nak… baiklah,” katanya, suaranya pelan dan penuh kesedihan. “Aku mengizinkanmu.”

Aura terdiam, kaget. Ia tidak menyangka ayahnya akan menyerah begitu saja.

Ayahnya mengangkat kepala, matanya merah. “Tapi ada syaratnya. Kau tidak boleh bergerak tanpa izin dari Harun atau para tentara. Kau harus mendengarkan setiap perintah mereka. Janji padaku, Aura. Janji demi nyawamu.”

Aura berjalan cepat ke arah ayahnya, memeluknya erat. “Aku janji, Ayah. Aku janji akan kembali. Terima kasih.”

Di pelukan ayahnya, ia merasakan ketakutan ayahnya, namun juga rasa bangga yang tersembunyi. Kegelapan Asaarmata telah memanggil, dan ia akan menjawabnya.

Malam itu, di bawah cahaya rembulan tipis, Aura kembali ke tenda dengan izin ayahnya. Ia memberitahu Harun dan Kieran.

Harun menatapnya lama, lalu mengangguk. “Kami akan mengandalkanmu, Aura. Kita tidak akan meremehkan Asaarmata lagi.”

Misi kini jelas: mereka akan memasuki makam kuno tingkat kedua, sebuah labirin yang dirancang untuk membunuh dan mengumpulkan ‘darah murni’. Penemuan lima putra Raja Armaan Ash terutama Asaarmata, si pemburu keabadian telah mengubah ekspedisi mereka dari penggalian sejarah menjadi pertaruhan hidup dan mati.

“Persiapkan tim medis dan pembersih setelah museum pameran,” perintah Harun. “Besok pagi, kita masuk ke lantai dua. Kita akan memburu Asaarmata dan menyelamatkan mereka yang hilang.”

Aura menatap peta, tangannya mengepal. Di suatu tempat di bawah tanah Lembah Anila, warisan kekejaman dari Asaarmata menunggu.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Herwanti: terima kasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!