NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Perjamuan Para Serigala

​London selalu punya cara untuk terlihat angkuh, bahkan saat langitnya sedang menangis.

Hujan rintik-rintik membasahi aspal Mayfair, memantulkan lampu-lampu toko barang antik yang harganya bisa memberi makan satu desa di Kalimantan selama setahun.

​Di sebuah penthouse rahasia yang menghadap langsung ke arah The Shard, Elena Adiguna berdiri di depan cermin besar.

Ia tidak lagi memakai sepatu bot penuh lumpur atau jaket taktis yang compang-camping.

Ia mengenakan gaun haute couture berwarna merah darah yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.

Di lehernya melingkar kalung berlian hitam—sebuah simbol duka sekaligus ancaman.

​"Kau terlihat seperti malaikat maut yang baru saja pulang dari belanja di Paris," suara Reza terdengar dari belakang.

​Elena menoleh.

Reza tampak sangat asing namun sangat memikat dalam setelan tuksedo bespoke buatan penjahit terbaik di Savile Row.

Di balik jasnya yang rapi, Elena tahu ada sebuah pistol semi-otomatis super tipis yang terselip dengan aman.

​"Ini adalah panggung mereka, Rez. Kita harus bermain dengan aturan mereka sebelum kita membakar panggungnya," ujar Elena sambil memoleskan lipstik merah gelap.

​"Dante sudah masuk ke sistem?" tanya Elena.

​"Dia sudah ada di dalam van laundry di bawah gedung. Paman Han menjaga perimeter. Sir Alistair sudah mengirimkan undangan elektroniknya. Malam ini, di The Obsidian Club, Aeterna mengadakan rapat tahunan mereka."

​Elena menarik napas panjang.

"Ayo kita buat mereka menyesal karena pernah mendengar nama Adiguna."

​The Obsidian Club: Labirin Kekuasaan

​The Obsidian Club bukanlah tempat sembarangan.

Ini adalah tempat di mana perdana menteri berlutut dan para CEO memohon ampunan.

Pintunya tidak punya papan nama, hanya sebuah kode biometrik yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di planet ini.

​Saat Elena dan Reza melangkah masuk, suasana berubah menjadi sunyi selama beberapa detik.

Tatapan mata dari orang-orang paling berkuasa di dunia tertuju pada mereka.

Elena berjalan dengan kepala tegak, dagu terangkat, seolah-olah ia adalah pemilik sah dari seluruh ruangan itu.

​"Elena Adiguna," sebuah suara tua yang lembut menyapa.

​Sir Alistair berdiri di dekat bar, memegang gelas kristal berisi scotch tua.

Ia tampak jauh lebih kecil dan rapuh dibandingkan di layar monitor tempo hari, tapi matanya... mata itu adalah mata seekor predator yang sudah kenyang dengan ribuan korban.

​"Sir Alistair," Elena memberikan senyum yang tidak sampai ke mata.

"Terima kasih atas 'kembang api'-nya di Kalimantan. Sangat... berkesan."

​Alistair tertawa pelan.

"Hanya sebuah salam perkenalan, Manisku. Mari, teman-temanku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan 'Subjek 01' yang legendaris."

​Meja Bundar Para Penguasa

​Elena dibawa ke sebuah ruangan bawah tanah yang dilapisi dinding kedap suara dan anti-sadap.

Di sana duduk sepuluh orang.

Mereka adalah wajah-wajah yang sering muncul di majalah Forbes, namun dengan aura yang jauh lebih gelap.

Ada pangeran dari Timur Tengah, raja media dari Amerika, dan seorang wanita tua yang menguasai jalur logistik dunia.

​"Duduklah, Elena," ujar seorang pria dengan aksen Rusia yang kental.

"Kami sedang mendiskusikan apa yang harus kami lakukan padamu. Menghancurkan aset kami adalah dosa besar, tapi memiliki DNA-mu adalah berkah bagi kemanusiaan."

​"Kemenuasiaan atau dompet kalian?" sindir Elena sambil duduk dengan santai, menyilangkan kakinya.

​Reza berdiri di belakangnya, tangannya bersedekap, matanya memindai setiap sudut ruangan.

Ia melihat tiga pengawal bersenjata yang bersembunyi di balik pilar-pilar marmer.

​"Jangan kasar begitu, Elena," Alistair menimpali.

"Kami ingin menawarkan sebuah kemitraan. Kembalikan data riset 'Protokol Lazarus' yang kau curi, dan kami akan memberikanmu kursi di dewan ini. Kau akan punya kekebalan hukum, kekayaan tak terbatas, dan... ibumu akan hidup selamanya dalam kenyamanan."

​Elena terdiam sejenak.

Ia melirik ke arah anting-antingnya, yang sebenarnya adalah mikrofon komunikasi langsung dengan Dante.

​"El, gue butuh tiga menit lagi buat nembus firewall mereka. Tahan mereka!" suara Dante berbisik sangat pelan di telinganya.

​"Kemitraan, ya?" Elena mengulangi kata itu dengan nada mengejek.

"Seperti kemitraan yang kalian berikan pada ayahku? Sampai dia berakhir jadi gila dan meledak di tengah laut?"

​"Ayahmu adalah orang yang penuh ambisi tapi kurang kecerdasan," sahut sang pangeran Timur Tengah.

"Kau berbeda. Kau punya api yang sama dengan Adiwangsa."

​Sianida Digital

​Elena berdiri, berjalan mengelilingi meja bundar itu.

Ia menyentuh bahu salah satu anggota dewan, seorang pria tua yang menguasai industri farmasi.

​"Kalian tahu apa yang lucu?" Elena berhenti tepat di belakang Sir Alistair.

"Kalian merasa begitu aman di sini karena kalian pikir dunia ini milik kalian. Kalian pikir satelit Icarus adalah senjata terhebat kalian."

​Elena mencondongkan tubuhnya ke telinga Alistair.

"Tapi senjata terhebat di dunia ini bukanlah laser dari langit. Tapi rahasia."

​"El! MASUK! Gue udah dapet akses ke 'The Vault' mereka!" teriak Dante di telinga Elena.

​Tiba-tiba, layar-layar besar di ruangan itu—yang tadinya menampilkan harga saham dan data genetik—berubah menjadi merah.

Muncul ribuan dokumen, video, dan rekaman suara.

​"Apa ini?!" Alistair berdiri, wajahnya memerah.

​"Ini adalah sejarah dosa kalian," ujar Elena dengan suara tenang namun mematikan.

"Video pangeran yang mendanai kudeta berdarah, catatan farmasi tentang virus yang sengaja dilepaskan untuk menaikkan harga vaksin, dan daftar suap untuk setiap hakim agung di lima benua."

​Pangeran Timur Tengah itu mencoba meraih ponselnya, tapi tangannya gemetar. "Hapus itu! Sekarang!"

​"Sudah terlambat," Elena tersenyum miring.

"Dante sudah mengatur timer. Dalam sepuluh menit, data ini akan dikirimkan ke setiap kantor berita, setiap jaksa, dan setiap platform media sosial di seluruh dunia. Kecuali..."

​Tarian Maut di Obsidian

​"Kecuali apa?!" teriak sang raja media.

​"Kecuali kalian membubarkan Aeterna malam ini juga. Serahkan semua aset riset genetik kalian ke publik, dan berikan akses penuh kepada WHO untuk audit total," tuntut Elena.

​Alistair tertawa, tawa yang terdengar sangat getir.

"Kau pikir kau bisa mengancam kami di kandang kami sendiri? Penjaga! Bereskan mereka!"

​Tiga pengawal di balik pilar bergerak cepat, tapi Reza lebih cepat.

Ia menarik pistolnya dan melepaskan dua tembakan presisi yang menjatuhkan dua penjaga dalam hitungan detik.

Elena merunduk, mengambil sebilah pisau dari balik gaunnya, dan melemparkannya tepat ke arah penjaga ketiga yang mencoba membidik Reza.

​Ruangan itu menjadi kekacauan total.

Para anggota dewan yang tadinya sombong kini merangkak di bawah meja seperti tikus ketakutan.

​"EL! KITA HARUS KELUAR! MEREKA MENGAKTIFKAN LOCKDOWN!" teriak Reza.

​Elena meraih kerah baju Sir Alistair. "Matikan lockdown-nya, Alistair!"

​"Aku lebih baik mati daripada membiarkanmu menang, Elena!" Alistair mencoba menusuk Elena dengan pulpen beracun yang ia sembunyikan di saku jasnya.

​Elena menangkap pergelangan tangan Alistair, memelintirnya hingga terdengar suara tulang patah, dan menendang pria tua itu hingga tersungkur.

​"Ayo, Rez!"

​Pelarian dari Labirin

​Mereka berlari menembus lorong-lorong The Obsidian Club.

Suara sirene keamanan meraung-raung.

Dante berhasil membukakan pintu keluar darurat di bagian dapur.

​"Dante! Status data!" teriak Elena sambil melompati meja dapur yang penuh dengan piring pecah.

​"Data terkirim 80%! Mereka mencoba melakukan serangan balik, tapi Paman Han udah pasang router pengacak di sekitar gedung!"

​Mereka keluar ke gang sempit di belakang gedung, di mana hujan masih turun deras.

Sebuah van hitam meluncur cepat dan berhenti di depan mereka.

Paman Han ada di balik kemudi.

​"MASUK!" teriak Paman Han.

​Saat pintu van tertutup, sebuah ledakan kecil terdengar dari dalam The Obsidian Club.

Bukan ledakan bom, tapi ledakan sistem listrik yang dihancurkan Dante untuk menghapus jejak pelarian mereka.

​Runtuhnya Langit

​Di dalam van, Elena mengatur napasnya.

Gaun merahnya kini robek di bagian paha dan berlumuran debu, tapi ia merasa sangat hidup.

Ia melihat ke arah layar laptop Dante.

​UPLOAD COMPLETE. GLOBAL BROADCAST ACTIVE.

​"Selesai," bisik Dante, tangannya masih gemetar. "Dunia nggak akan pernah sama lagi besok pagi."

​Elena menyandarkan kepalanya di bahu Reza.

Ia melihat ke luar jendela van, menatap gedung-gedung London yang masih terlihat angkuh.

Namun, ia tahu bahwa di dalam gedung-gedung itu, kepanikan sedang melanda.

Para serigala sedang saling menggigit untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.

​"Ini baru permulaan, kan?" tanya Reza pelan.

​"Ya," Elena menatap tangannya.

"Aeterna mungkin runtuh, tapi kekuasaan tidak pernah benar-benar hilang. Dia hanya berpindah tangan. Dan kita harus memastikan bahwa tangan itu bukan lagi tangan orang-orang gila."

​Paman Han melirik dari kaca spion.

"Nona, ada pesan masuk ke ponsel pribadi Anda. Dari nomor yang tidak dikenal."

​Elena mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat masuk:

"Selamat atas kemenanganmu, Elena. Tapi ingat, setiap kali satu matahari terbenam, akan ada bulan yang muncul di sisi lain. Sampai jumpa di bayang-bayang."

​Pesan itu ditandatangani dengan inisial: S.

​"S?" bisik Elena. "Sarah? Tidak mungkin..."

​"Atau mungkin... Siska?" gumam Reza, wajahnya menegang.

​Elena mematikan ponselnya. Ia menatap kegelapan malam London.

Ia tahu, babak baru baru saja dimulai.

Tapi kali ini, ia tidak lagi sendirian.

Ia memiliki tim, ia memiliki cinta, dan ia memiliki jati dirinya yang paling sejati.

​"Paman Han," panggil Elena.

​"Ya, Nona?"

​"Bawa kita ke bandara. Kita pulang."

​"Ke Kalimantan?"

​"Bukan. Kita kembali ke Merapi. Aku ingin melihat apakah lili-liliku sudah mulai tumbuh kembali di atas abu."

​Van hitam itu menghilang di antara keramaian London, membawa seorang wanita yang telah meruntuhkan dunia lama untuk memberikan kesempatan bagi dunia yang baru.

Elena Adiguna bukan lagi Sang Nyonya yang Terbuang.

Ia adalah Badai yang akhirnya menemukan pusat ketenangannya.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!