NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Awal Kelas 3 SMA

"Aku menatap langit kelas tiga, berharap ada warna baru di masa remajaku, tanpa tahu bahwa warna yang datang adalah abu-abu kelabu yang akan membuatku menangis dalam diam." (Buku Harian Keyla, Halaman 1)

Udara pagi di pertengahan bulan Juli terasa lebih sejuk dari biasanya. Daun-daun mahoni di pelataran sekolah berguguran, tertiup angin tipis yang membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Aku, Keyla, berdiri sejenak di depan gerbang SMA kebanggaan kota, menarik napas panjang. Kelas tiga. Tahun terakhir masa putih abu-abu. Harusnya ada debar antusias, tapi entah mengapa perasaanku hanya diselimuti ketenangan yang perlahan terasa kosong.

Aku membenarkan letak tas punggungku. Mengusap rok abu-abu yang sedikit terlipat. Beberapa siswa laki-laki yang lewat sempat menoleh, melemparkan senyum curi-curi pandang, namun aku hanya menunduk sopan sambil mempercepat langkah. Orang-orang bilang aku menawan, dengan mata bulat yang kata mereka memancarkan keluguan. Namun bagiku, aku hanyalah Keyla. Gadis biasa yang terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman.

"Keylaaaa!!"

Sebuah lengkingan suara yang sangat kukenal membelah kebisingan koridor. Aku belum sempat menoleh ketika sebuah pelukan erat menabrakku dari belakang, membuatku hampir terhuyung ke depan.

"Ya ampun, Bella! Lepas, aku sesak napas!" protesku sambil tertawa, berusaha melepaskan lilitan tangan gadis mungil dengan rambut sebahu yang diikat rapi itu.

Bella terkikik geli, melepaskan pelukannya lalu menepuk bahuku keras. "Gila ya, libur panjang lo makin cantik aja, Key! Sumpah, tadi gue liat si Riko anak IPS 2 matanya mau copot ngeliatin lo jalan dari gerbang." Bella, dengan segala kecerewetannya yang tak pernah habis, selalu berhasil menghidupkan suasana. Hatinya memang gampang hinggap dari satu cowok ke cowok lain, tapi keceriaannya adalah energi bagiku.

"Lebay deh, Bel. Riko kan emang matanya gitu ke semua cewek," sahut sebuah suara lain dari arah kantin.

Lidya berjalan menghampiri kami dengan langkah santai. Tangannya memegang sekantong keripik kentang ukuran besar, mulutnya sibuk mengunyah. Meski hobinya makan dan ngemil tidak kenal waktu, anehnya Lidya tetap memiliki tubuh yang langsing semampai. Wajahnya cantik dengan rahang tegas, jenis kecantikan yang elegan dan sedikit judes bagi mereka yang tidak mengenalnya. Tapi bagiku, dia adalah benteng pertahanan yang paling setia kawan.

"Mau?" Lidya menyodorkan keripik itu ke depan wajahku dan Bella bergantian.

"Nggak, makasih. Gue lagi diet kalori pagi ini," tolak Bella dengan gaya dramatis, mengibaskan tangannya.

"Diet apaan, kemaren gue liat lo makan mi ayam dua mangkok di warkop depan," sindir Lidya santai, membuatku tak kuasa menahan tawa.

"Itu kan kemarin, Lid! Hari ini beda!" rengek Bella.

Aku tersenyum hangat melihat interaksi mereka. Namun, mataku mencari satu sosok lagi. "Siska mana? Belum berangkat?" tanyaku.

"Udah kok. Tadi gue liat dia udah anteng di dalem kelas. Biasa, lagi baca buku tebelnya itu," jawab Lidya sambil menjilat sisa bumbu keripik di jarinya. "Yuk lah masuk, ntar keburu bel."

Kami bertiga berjalan menyusuri koridor menuju kelas XII-IPA 1. Saat melangkah masuk ke dalam kelas yang sudah lumayan riuh, pandanganku langsung menangkap sosok Siska. Gadis berkacamata tebal itu duduk di bangku barisan kedua dari depan. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian pipinya yang sedikit tirus. Tidak banyak tingkah, ia terlihat sangat serius membalik halaman novel klasik di tangannya.

"Pagi, Siska," sapaku seraya menarik kursi tepat di sebelahnya. Lidya dan Bella mengambil posisi di bangku belakang kami.

Siska mendongak, menjeda bacaannya. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang selalu terlihat tulus, pemalu, dan menenangkan. "Pagi, Key. Pagi, Bel, Lid."

"Gila lo Sis, baru hari pertama udah bacaan berat aja. Nggak pusing apa otak lo?" celoteh Bella dari belakang, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga dagunya bertumpu pada sandaran kursi Siska.

Siska hanya tertawa kecil, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Cuma ngisi waktu luang kok, Bel. Daripada bengong dengerin gosip kamu yang nggak ada habisnya."

"Yeaaah, dibilangin! Gosip itu vitamin buat masa muda, tau!" balas Bella tak mau kalah.

Aku ikut tertawa, mengeluarkan tempat pensil dan buku catatan kosong dari dalam tas. Suasana kelas begitu hidup. Suara tawa, bantingan buku, gesekan meja, dan obrolan tentang liburan bersahut-sahutan. Aku merasa aman di sini. Dikelilingi tiga sahabat yang menemanku sejak masa SMP. Lidya yang selalu melindungiku, Bella yang membuatku tertawa, dan Siska yang selalu mendengarkan keluh kesahku dengan sabar. Setidaknya, itulah yang kuyakini saat ini.

Tetapi waktu selalu punya cara kejam untuk menunjukkan bahwa apa yang terlihat tenang di permukaan, bisa jadi menyimpan badai yang mematikan di dasarnya. (Buku Harian Keyla, Halaman 2)

Bel tanda masuk akhirnya berbunyi nyaring, memutus segala keributan. Siswa-siswa yang tadinya bergerombol di luar perlahan berhamburan masuk ke kelas. Guru belum datang, tapi suasana sedikit lebih terkendali.

Tepat saat aku sedang menoleh ke belakang untuk merespons candaan Lidya tentang guru sejarah kita yang konon galak, pintu kelas terbuka lagi.

Bukan guru yang masuk. Melainkan seorang siswa laki-laki.

Seketika, entah mengapa, udara di sekitarku terasa membeku. Suara obrolan Bella memudar, tergantikan oleh detak jantungku sendiri yang tiba-tiba bergemuruh tanpa alasan yang jelas.

Laki-laki itu melangkah masuk dengan gaya yang begitu santai, namun memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia tak pernah peduli pada cermin. Seragamnya tidak dimasukkan dengan rapi, namun tidak terlihat berandal, hanya... lelah. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, namun yang paling menyita duniaku adalah sepasang matanya.

Mata itu tajam, gelap, dan sangat kosong. Seperti malam tanpa bintang, seperti gunung es yang tak tersentuh hangatnya mentari.

Langkahnya pelan, menyusuri lorong antar meja. Tepat saat ia melewati barisanku, pandangannya yang sedingin es itu secara tak sengaja bertaut dengan mataku.

Hanya sedetik. Bahkan mungkin kurang dari itu.

Namun sedetik itu cukup untuk membuat duniaku porak-poranda.

Ia memalingkan wajahnya sedetik kemudian, tanpa ekspresi, tanpa minat sedikit pun, seolah keberadaanku tidak lebih dari sebutir debu di udara. Ia terus berjalan dan menjatuhkan tubuhnya di bangku kosong paling sudut, di barisan paling belakang. Jauh dari keramaian, jauh dari siapa pun.

Aku masih terpaku. Napasku tertahan di dada. Tanganku yang memegang pulpen tiba-tiba terasa lemas.

"Hari itu, untuk pertama kalinya aku merasakan dadaku sesak oleh tatapan seseorang. Sakit, tapi anehnya, aku tak ingin mengalihkan pandanganku." (Buku Harian Keyla, Halaman 2)

"Key? Woi, Keyla!"

Sebuah tepukan di bahu membuatku tersentak kaget. Pulpen di tanganku terlepas dan menggelinding di atas meja. Aku menoleh dengan gelagapan, mendapati Bella sedang menatapku dengan kening berkerut.

"Lo ngelamun? Ngeliatin apaan sih?" tanya Bella penasaran, lalu kepalanya ikut menoleh mengikuti arah pandanganku tadi. Mata Bella menyipit saat melihat sosok di pojok kelas. "Oh... lo ngeliatin si kulkas berjalan itu?"

"K-kulkas berjalan?" ulangku gugup, berusaha menyembunyikan getar di suaraku.

"Itu loh, si Rendi," sahut Lidya sambil mengunyah permen karet. "Anak kelas XI-IPA 3 tahun lalu. Katanya pinter sih, tapi ansos parah. Nggak pernah senyum, nggak pernah ngomong kalau nggak ditanya. Dingin banget kayak mayat hidup. Denger-denger sih dia miskin, makanya minder gaul sama kita."

"Hush, Lid, mulut lo!" tegur Siska pelan. Siska menoleh padaku, menatapku dari balik kacamatanya dengan sorot mata yang sulit kuartikan. "Kamu nggak papa, Key? Kok muka kamu pucet gitu?"

"Eh? N-nggak papa kok. Cuma... kurang tidur aja semalem," aku berbohong. Aku memaksakan senyum kecil, kembali menghadap ke depan meja.

Namun sialnya, pikiranku tidak mau diajak bekerja sama. Sosok Rendi, mata gelapnya, dan raut wajahnya yang seolah menyimpan ribuan kepedihan itu terus berputar-putar di kepalaku. Mengapa ia terlihat begitu hampa? Mengapa tatapannya menyiratkan luka yang begitu dalam hingga aku bisa merasakannya merembes ke pori-poriku?

Sepanjang jam pelajaran pertama yang diisi oleh guru Biologi, aku tak bisa berkonsentrasi. Aku mencatat materi di papan tulis, tapi mataku beberapa kali secara refleks mencuri pandang ke sudut belakang kelas.

Ia tidak mencatat. Rendi hanya duduk bersandar, menatap kosong ke luar jendela. Ada gurat kelelahan yang luar biasa di wajahnya. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat samar, menandakan malam-malam yang mungkin tak pernah ia lewati dengan tidur nyenyak. Di saat teman-teman laki-laki lain di kelas ini terlihat ceria, penuh tawa, dan bebas dari beban dunia, Rendi terlihat seperti sedang memikul batu karang sendirian.

Tiba-tiba, ia menoleh kembali ke arah depan kelas. Dan sekali lagi, tatapan kami tak sengaja beradu.

Aku tersentak dan buru-buru menunduk, pura-pura menulis dengan panik. Wajahku terasa panas, jantungku berdegup kencang seperti sedang ketahuan mencuri. Tanganku gemetar pelan hingga tulisan di bukuku menjadi berantakan.

Aku tak tahu apakah ia menyadari bahwa aku terus memperhatikannya. Tapi satu hal yang pasti, dinding es tebal yang mengelilinginya seolah memperingatkanku untuk tidak mendekat. Ia adalah bahaya. Ia adalah kesedihan yang tak bisa kusentuh.

"Keyla, coba kamu bacakan paragraf kedua di halaman 15."

Suara bariton Pak Heru, guru Biologi, membuyarkan lamunanku seketika. Aku tergeragap, buru-buru membuka buku paket yang sedari tadi hanya tergeletak manis di atas meja.

"B-baik, Pak," jawabku terbata. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku membaca teks tersebut dengan suara yang tidak stabil.

Bella menyenggol kursiku dari belakang. "Lo kenapa sih hari ini, Key? Aneh banget," bisiknya pelan agar tak terdengar guru.

Siska menoleh lagi padaku, dan entah mengapa, senyum tipisnya kali ini membuatku merasa seperti ada yang salah. "Mungkin Keyla lagi jatuh cinta pada pandangan pertama, Bel," bisik Siska pelan, nyaris seperti embusan angin.

Aku terdiam. Kata-kata Siska membeku di udara, menyusup ke telingaku dan menetap di hatiku.

Jatuh cinta? Pada pandangan pertama? Pada laki-laki sedingin bongkahan es yang tak sedikit pun memedulikan keberadaanku?

Aku ingin menyangkalnya. Aku ingin tertawa dan mengatakan bahwa Siska sedang melantur. Aku hanyalah Keyla yang lugu, yang hidupnya tenang dan lurus-lurus saja. Tidak mungkin aku jatuh pada pesona pria seangkuh Rendi. Tidak mungkin aku menjatuhkan hatiku pada jurang tak berdasar.

Namun, saat pelajaran usai dan bel istirahat berbunyi, mataku kembali mengkhianatiku. Rendi bangkit dari kursinya. Ia tidak membawa bekal, tidak juga bergabung dengan anak laki-laki lain yang berhamburan ke kantin. Ia hanya merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang ribuan yang sudah lecek, dan berjalan keluar kelas dengan langkah gontai dan kepala tertunduk.

Melihat punggungnya yang menjauh, seolah perlahan ditelan oleh keramaian koridor, ada rasa perih yang tiba-tiba menyayat dadaku. Rasa perih yang tak beralasan, namun begitu nyata hingga membuat napasku tercekat. Air mata tanpa sadar menggenang di pelupuk mataku. Aku buru-buru mengedipkannya sebelum jatuh, sebelum ada yang melihat kebodohanku.

"Hari itu, jarum jam di kelas tiga SMA berdetak menandai dimulainya sebuah kisah. Kisah di mana aku dengan bodohnya menyerahkan hatiku secara utuh pada seseorang yang bahkan tak sudi menatapnya. Inilah awal mula kehancuranku, Rendi." (Buku Harian Keyla, Halaman 5)

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!