Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMINTAAN
Arkan yang menyusul dari belakang hanya bisa mengangkat tangan, tanda menyerah, dia tahu jika Lyra sudah dalam mode keras kepala seperti ini, tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Princess? Kenapa keluar? Kembali ke ranjangmu sekarang," ucap Tuan Jerome dengan nada memerintah namun tetap lembut.
Lyra berhenti tepat di depan paman-pamannya, tidak menunduk, menatap Tuan Jerome dengan mata tajamnya.
"Paman Jerome, jangan berbohong padaku. Di mana Daddy?" tanya Lyra, dingin.
Tuan Jerome terdiam sejenak, bertukar pandang dengan Tuan Steven.
"Daddy mu ada urusan mendesak di pelabuhan, Ly. Dia akan segera kembali," jawab Tuan Steven mencoba menenangkan suasana.
"Pelabuhan? Di jam seperti ini? Dan kenapa Paman Steven serta Paman Jerome berjaga di depan pintuku seperti sedang menjaga tahanan kelas kakap?" tanya Lyra, mendengus sinis.
Kenzo dan Kenzie hanya bisa saling lirik, mereka tahu adik sepupu mereka ini cerdas, tapi mereka tidak menyangka Lyra akan menyadari situasi secepat ini.
"Lyra, ini demi keamanan mu," ucap Kenzo, mencoba membujuk.
"Keamanan dari siapa? Dari pria bernama Xavier itu?" tanya Lyra telak, membuat semua orang membeku seketika.
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Nyonya Arin menutup mulutnya dengan tangan, bahkan dia hampir saja jatuh jika tidak segera ditangkap oleh Arkan.
"Dari mana kamu tahu nama itu, Lyra?" tanya Tuan Jerome, suaranya kini berubah rendah dan serius.
Lyra tidak menjawab, justru dia berjalan melewati paman-pamannya menuju tangga.
"Aku tahu Daddy sedang menemui pria itu. Dan aku tidak akan membiarkan Daddy menghadapinya sendirian jika itu ada hubungannya denganku," ucap Lyra, dingin.
"Lyra! Berhenti!" teriak Tuan Steven, suaranya menggelegar di seluruh rumah.
Namun Lyra tetap melangkah, dia menuruni tangga dengan anggun namun penuh tekad.
Di ruang tengah, dia melihat Oliver yang sedang membantu Kakek Bastian berjalan.
"Kakek," sapa Lyra singkat tanpa menghentikan langkahnya.
"Lyra? Mau ke mana kamu, Nak?" tanya Kakek Bastian heran melihat cucu kesayangannya itu.
"Kakek, tolong suruh Paman-paman ini menyingkir, aku mau menyusul Daddy," ucap Lyra sambil menoleh ke belakang, ke arah Tuan Steven dan Tuan Jerome yang sudah turun menyusulnya.
"Jangan gila, Lyra! Kamu masih sakit!" bentak Arkan yang mulai frustrasi.
Lyra berbalik badan sepenuhnya, menatap mereka semua dengan pandangan meremehkan.
"Sakit? Aku merasa lebih hidup dari sebelumnya. Dan jika kalian tidak memberitahuku di mana dermaga pribadi itu, aku akan mencarinya sendiri," ucap Lyra dingin.
Hah....
Tuan Jerome menghela napas, dia menyadari bahwa darah Wijaya di dalam diri Lyra sedang bergejolak hebat. Lyra bukan gadis lemah yang bisa dikurung di dalam kamar saat badai datang.
"Kenzo, Kenzie! Siapkan mobil," perintah Tuan Jerome tiba-tiba.
"Pa? Apa maksudnya?" tanya Arkan kaget.
"Jika kita tidak membawanya ke sana, dia akan nekat pergi sendiri dengan taksi atau mencuri mobil. Lebih baik dia di bawah pengawasan kita," jawab Tuan Jerome tegas.
"Terima kasih, Paman Jerome," ucap Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat dingin.
"Tapi ingat, Ly, kamu tidak boleh keluar dari mobil tanpa izin Paman. Mengerti?" ancam Tuan Steven sambil menunjuk keponakannya itu.
Lyra hanya mengangguk singkat, lalu berjalan menuju pintu utama.
Di balik sikap tangguhnya, Lyra merasakan tarikan kuat di dadanya, seolah-olah ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan, sesuatu yang terasa sangat akrab sekaligus berbahaya.
"Xavier Valerius... siapa sebenarnya kamu?" batin Lyra sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Mobil-mobil mewah keluarga Wijaya pun melesat keluar dari gerbang besar, mengarah menuju dermaga tempat pertemuan paling menentukan akan terjadi.
Lyra duduk di kursi belakang diapit oleh Kenzo dan Kenzie, matanya menatap tajam ke jalanan, siap menghadapi apa pun yang menantinya di sana.
Sementara itu Tuan Thomas baru sampai di dermaga pribadi milik keluarga Valerius, tempat itu sangat sunyi, hanya terdengar suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang kayu.
Di ujung dermaga, berdiri sesosok pria jangkung dengan jas hitam yang sangat rapi. Angin laut memainkan rambutnya, namun pria itu tetap bergeming seperti patung.
Xavier Valerius.
Tuan Thomas melangkah mendekat, langkah sepatunya beradu dengan kayu dermaga, menciptakan gema yang mencekam.
"Kau datang tepat waktu, Thomas Wijaya," ucap Xavier tanpa membalikkan badan. Suaranya rendah, tenang, namun sangat menekan.
"Apa maumu, Xavier?! Berhenti mengganggu putriku! Dia tidak tahu apa-apa, dia hanya gadis biasa!" bentak Tuan Thomas, emosinya sudah di ujung tanduk.
Xavier perlahan membalikkan tubuhnya, wajahnya yang sangat tampan namun dingin itu menatap Tuan Thomas dengan tatapan datar, mata kelabu nya berkilat keperakan di bawah sinar matahari yang mulai terik.
"Gadis biasa?" ulang Xavier terkekeh sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke matanya.
"Kau membohongi dirimu sendiri selama belasan tahun, Thomas, kau tahu siapa dia sebenarnya. Tubuh manusianya mungkin putrimu, tapi jiwanya, jiwanya adalah milik ku," lanjut Xavier, tersenyum miring.
"Cukup! Jangan bicara omong kosong soal jiwa!" seru Tuan Thomas, suaranya bergetar.
"Secara hukum dan darah, dia adalah Lyra Clarissa Wijaya. Putri kandungku dan Arin!" lanjut Tuan Thomas, mengepalkan tangannya kuat.
Xavier melangkah maju satu langkah, tekanan udaranya mendadak terasa sangat berat, membuat Tuan Thomas secara insting ingin mundur.
"Darah? Kau pikir darah manusia bisa mengikat jiwa suci selamanya?" tanya Xavier dingin.
"Kemarin dia drop, itu bukan karena penyakit, tapi itu karena raganya menolak kebohongan yang kau tanamkan, dia mulai mengenaliku," lanjut Xavier, menatap tajam pada Tuan Thomas.
"Itu karena kamu memicunya! Kalau kamu tidak muncul, dia akan baik-baik saja!" jawab Tuan Thomas sengit.
"Aku adalah takdirnya, semakin kamu menjauhkannya dariku, semakin hancur raganya. Kau ingin dia hidup, bukan? Maka berikan dia padaku sebelum jiwanya merusak tubuh manusianya sendiri," ucap Xavier, dingin.
Tuan Thomas mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya memerah.
"Aku lebih baik mati daripada memberikan putriku pada monster sepertimu," jawab Tuan Thomas, geram.
Xavier menatap Tuan Thomas dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau ayah yang baik, Thomas. Tapi kau egois," ucap Xavier pelan.
"Lihatlah dia pagi ini, dia mencium aromaku, bukan? Dia mencari ku meskipun otaknya tidak ingat. Jiwanya meronta ingin pulang," lanjut Xavier, menatap tajam Tuan Thomas.
"Diam! Dia tidak akan pernah pergi bersamamu!" bentak Tuan Thomas.
"Dia tidak akan pergi kemana-mana, berikan dia pada ku, akan aku pastikan dia akan tetap ada di sini bersama mu," ucap Xavier, dingin.
"Apa maksud mu?" tanya Tuan Thomas, mengepal kan tangan kuat.
"Tiga hari lagi aku akan menikahi nya," jawab Xavier, tenang.
"Apa! Kau gila!" ucap Tuan Thomas, membelalakkan matanya.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,