NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Iblis Berwajah Dewa

Dua orang gadis cantik berjalan dengan anggun mendekat ke arah Dewi Kembang Sore. Satu berpakaian serba kuning dan satunya berpakaian banyak hijau muda nya. Yang berbaju kuning adalah Rara Kuning, si bungsu putri dari Dewi Kembang Sore. Sedangkan yang berpakaian hijau muda adalah Rara Lembayung kakaknya.

Secara umum, keduanya adalah kembang Padepokan Gunung Kemukus karena keduanya adalah perawan tercantik dari tempat itu. Sama-sama cantik, sama-sama baik dan sama-sama memiliki ilmu beladiri tangguh karena keduanya menguasai ilmu silat Perisai Putri Gunung yang diajarkan langsung oleh ibu mereka. Selain itu keduanya juga menerima ilmu turunan berupa Ajian Tapak Peri Kahyangan dan Ilmu Pedang Peri Surga yang menjadi ilmu andalan dari Padepokan Gunung Kemukus.

"Ada apa biyung?

Beberapa hari ini aku melihat biyung sering menatap ke arah jalan raya itu. Apakah biyung sedang menunggu kedatangan seseorang? "

Pertanyaan Rara Lembayung membuat Dewi Kembang Sore tersadar dari lamunan nya dan segera menoleh ke arah dua putri nya itu. Seulas senyuman tercipta pada wajah ayu perempuan yang masih nampak seperti gadis muda ini.

"Kau memang yang paling mengerti ibu, Lembayung... "

Dewi Kembang Sore menghela nafas panjang sebelum melanjutkan omongan nya.

"Beberapa hari yang lalu saat biyung sedang semedi di sanggar pamujan, biyung mendapat wangsit dari dewa. Dalam wangsit itu, beliau mengatakan bahwa jodoh untuk putri ku sebentar lagi akan melewati tempat ini. Aku tidak tahu siapa putri ku yang dimaksud tetapi siapapun yang mendapatkan jodoh, aku tidak keberatan karena kalian berdua sudah cukup umur untuk menikah.

Oleh karena itu, beberapa hari ini biyung terus saja memandang ke arah jalan besar di depan sana, berharap akan jodoh untuk kalian muncul di sana.."

Rara Kuning dan Rara Lembayung saling pandang mendengar jawaban dari ibu mereka, tak menyangka jika ternyata inilah yang menjadi beban pikiran ibu mereka yang sudah membesarkan mereka seorang diri sejak ayah mereka, sang perwira Negeri Kembang Jenar, Tumenggung Wibisana tewas dalam pertempuran melawan Gerombolan Gagak Manoreh.

Dewi Kembang Sore memilih untuk meninggalkan Kota Kembang Jenar demi merawat dua buah hatinya dengan tenang tanpa terganggu oleh hiruk-pikuk kehidupan politik Kota Kembang Jenar yang sarat dengan perebutan kekuasaan.

"Lantas, apa yang harus kami lakukan biyung?

Jujur saja, Kuning masih ingin menemani biyung di padepokan ini. Kuning masih belum ingin bersuami...", Rara Kuning ikut bersuara.

" Rara Kuning anak ku...

Semua orang harus menjalani kodratnya jika sudah waktunya. Kau ini adalah umat Sanghyang Wisnu yang wajib menjalankan kodrat mu sebagai seorang perempuan. Yakni menikah dan meneruskan keturunan. Jangan sampai karena rasa bakti mu menghalangi kewajiban mu. Camkan itu baik-baik.

Urusan jodoh kalian ini, tidak perlu kalian khawatirkan. Biarkan semuanya mengalir apa adanya. Sekarang aku tugaskan kalian berdua untuk pergi ke pasar besar Watak Gemolong. Besok belilah beberapa kebutuhan kita sehari hari. Ajak juga beberapa murid untuk menjadi teman perjalanan ", perintah Dewi Kembang Sore yang membuat Rara Kuning dan Rara Lembayung menganggukkan kepala.

" Baik biyung... ", jawab kedua gadis cantik itu bersamaan.

*****

Sementara itu, perjalanan Pangeran Mapanji Wijaya nyaris tidak ada masalah. Setelah meninggalkan Wanua Joho dan menyeberangi Sungai Wulayu, rombongan itu menyusuri sisi utara Sungai Wulayu ke arah barat lewat jalur besar yang biasa digunakan sebagai lalu lintas perdagangan darat.

Namun yang tidak disadari oleh mereka, perjalanan mereka ke arah barat sudah menarik perhatian para pimpinan Negeri Lwaram. Lewat mata-mata yang di sebar sepanjang perjalanan, para penguasa Negeri Bawahan Lwaram mengetahui seberapa kekuatan para pengawal pribadi yang mengikuti perjalanan Pangeran Mapanji Wijaya ke Kalingga.

Seorang lelaki tua dengan kumis dan janggut memutih dengan pakaian bangsawan terlihat menajamkan penglihatannya membaca larikan kata-kata yang tertera diatas kain putih. Terlihat jelas ini biasanya adalah surat rahasia yang dikirim lewat merpati.

"Jadi sebentar lagi Pangeran Mapanji Wijaya akan sampai di Gemolong ya?

Hemmmmmmmmmm.... ", lelaki Sepuh ini mengerutkan keningnya seolah-olah sedang berpikir keras.

" Mohon ampun Gusti Patih Narasoma...

Apa tidak terlalu berbahaya jika kita mencelakai Pangeran Mapanji Wijaya di wilayah kita? Bukankah ini sama dengan mencari perkara pada Sri Lokapala? ", ucap seorang lelaki berusia antara 4 dasawarsa dengan pakaian perwira khas Negeri Lwaram.

Ya, dua orang yang sedang duduk berhadap-hadapan itu adalah Rakryan Patih Narasoma, warangka praja Lwaram. Sedangkan di depannya adalah Senopati Bagaskara, pimpinan prajurit Lwaram yang mengepalai sekitar sepuluh ribu orang prajurit.

Seperti yang umum diketahui, Lwaram tidak pernah benar-benar tunduk pada Medang. Beberapa kali mereka memberontak terhadap kekuasaan Medang meskipun berhasil dikalahkan. Kekalahan mereka yang terakhir adalah pada masa pemerintahan Adipati Aji Wirapati yang terbunuh di Sungai Wulayu. Patih Narasoma adalah paman jauh Adipati Aji Wirapati dan menyimpan dendam kepada pemerintah Kerajaan Medang. Tetapi dengan kekuatan Lwaram yang sekarang, jelas bukan tandingan prajurit Medang. Apalagi setelah pemberontakan yang terakhir, Pangeran Panji Rawit alias Sri Lokapala mengawasi dengan ketat segala sesuatu yang terjadi di Lwaram. Ini menyebabkan Rakryan Patih Narasoma tak berani bertindak gegabah.

"Kau memang benar, Senopati Bagaskara.

Jika Medang menyerbu Lwaram sekarang, bisa dipastikan bahwa kita hanya akan menjadi mangsa di ujung senjata mereka. Tetapi dendam ini tidak bisa ku diamkan begitu saja tanpa tindakan apa-apa. Jika tidak bisa melawan Watugaluh secara terang-terangan, kita bisa meminjam tangan orang lain untuk bertindak ", jawab Rakryan Patih Narasoma yang membuat Senopati Bagaskara mengernyit kening.

" Maksud Gusti Patih? "

"Dua Iblis Berwajah Dewa... ", seringai lebar terukir jelas di wajah Patih Narasoma. Seketika Senopati Bagaskara mengerti apa maksud dari ucapan sang warangka praja Lwaram ini.

" Oh hamba tahu..

Gusti Patih ingin menggunakan tangan mereka untuk membunuh Pangeran Mapanji Wijaya bukan? Rencana cerdas, Gusti Patih. Dengan begitu kita bisa membunuh putra Sri Lokapala itu tanpa menimbulkan gejolak politik dengan Watugaluh", sahut Senopati Bagaskara yang membuat Patih Narasoma tersenyum senang.

"Hari ini juga kirim utusan ke sarang mereka. Esok hari, minta mereka mencegat rombongan Pangeran Mapanji Wijaya di perbatasan dengan Kembang Jenar.. ", perintah Patih Narasoma yang membuat Senopati Bagaskara segera menghormat.

"Sendiko dawuh Gusti Patih.. "

Setelah terpaksa harus berhenti dan bermalam di Padukuhan Gesi karena rusaknya roda kereta kuda, keesokan paginya rombongan Pangeran Mapanji Wijaya melanjutkan perjalanan ke arah barat. Menurut Ratri dan Nararya Candrawulan, kali ini tujuan mereka adalah Watak Gemolong yang merupakan wilayah perbatasan antara Lwaram dan Kembang Jenar.

Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari penuh, rombongan Pangeran Mapanji Wijaya akhirnya sampai di tapal batas kota kecil Watak Gemolong. Baru saja sampai di tugu baru bertuliskan huruf Jawa Kuno Ga, sebuah pemandangan yang membuat risih terlihat.

Beberapa orang gadis nampak terkapar seperti baru saja di hajar. Sedangkan dua orang lelaki berparas tampan nampak sedang mendekati 2 gadis muda yang sedang ketakutan karena salah seorang diantaranya sudah menderita luka dalam.

Pangeran Mapanji Wijaya yang kesal karena perjalanannya terganggu, langsung keluar dari kereta kuda dan melihat nya.

"Heh kalian dua bajingan mesum!

Apa yang sedang kalian berdua lakukan hah?! Cepat minggir, jangan halangi jalan ku!! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya yang langsung membuat dua orang berparas tampan itu segera menoleh ke arah rombongan Pangeran Mapanji Wijaya.

Salah satu dari mereka langsung mendesis geram,

" Kau cari mati..!! "

1
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
biasa aja dong kagetnya nanti @🐼𝒫𝒶𝓃𝒹𝒶𝓃𝒲𝒶𝓃𝑔𝒾 🏡s⃝ᴿ lagi bobok keberisikan 😅
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Idrus Salam
Ajian yang dahsyat tentu perlu penyelarasan dengan kesiapan tubuh pengguna dan naluri dalam penggunaannya perlu dilatih.
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!