Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setiap Detik
DORRR!!! DORRR!!!
Tiba-tiba suara letusan senapan memecah udara! Dari arah atas, muncul helikopter lain yang tiba-tiba menyerang dan melepaskan tembakan ke arah mereka!
Pilot helikopter Langit sigap mengendalikan kendaraan, menjauhkan badan pesawat sambil memerintahkan pasukan untuk membalas tembakan demi pertahanan.
Langit secepat kilat menarik tangan gadis itu, membawanya berlari mencari perlindungan di balik bebatuan yang aman. Gadis itu menggigil ketakutan, tubuhnya gemetar hebat. Melihat itu, Langit langsung memeluknya sangat erat, melindunginya dengan seluruh tubuhnya.
"Aku di sini, Sayang... jangan takut," bisiknya lembut di telinga kekasihnya, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu cepat.
Dari arah berlawanan tiba-tiba muncul dua helikopter bantuan yang melesat cepat! Tanpa ragu, mereka langsung ikut menyerang, melepaskan rentetan tembakan tepat ke sasaran.
DORRR!!! DORRR!!! TRAAAK!!! TRAAAK!!!
Suara letusan senjata bergemuruh memecah keheningan malam. Peluru saling sambar melintas di udara, percikan api berterbangan di mana-mana. Langit yang tadinya gelap kini berubah menjadi medan pertempuran yang mencekam, penuh dengan suara tembakan yang tak henti-henti. Perang peluru pun pecah tepat di atas kepala mereka!
Pertempuran sengit itu akhirnya dimenangkan oleh kedua helikopter bantuan tersebut. Serangan mereka begitu cepat dan presisi, membuat helikopter musuh terpaksa mundur dan kabur kalah telak.
Keadaan kembali hening dan aman. Namun, di dalam hati Langit timbul tanda tanya besar. Siapa gerangan yang datang menolong mereka di saat kritis seperti ini?
Belum sempat ia berpikir panjang, salah satu helikopter penyelamat itu perlahan mendekat dan menurunkan tangga daruratnya.
Terlihat sosok seorang wanita bersiap untuk turun. Langit dan Gadis menahan napas, menunggu siapa sosok misterius itu. Namun, wanita itu tidak benar-benar melangkah turun. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menampakkan diri sejenak.
Wajahnya tertutup masker, hanya terlihat lekuk matanya yang indah yang tampak tersenyum ramah dan tenang ke arah mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu perlahan mengangkat tangannya, melambai pelan seolah ingin berpamitan.
Sesaat setelah itu, kedua helikopter itu memutar baling-balingnya kembali, perlahan naik tinggi dan menghilang begitu saja ke dalam kegelapan malam, meninggalkan teka-teki yang besar di benak Langit.
Gadis itu masih terasa lemas dan bersandar erat dalam pelukan Langit. Saat pria itu mencoba menuntunnya berjalan menaiki tangga helikopter, ia justru menggeleng pelan.
Kening Langit terangkat sedikit, wajahnya penuh tanda tanya.
"Kakiku... lemas sekali, Langit," bisik gadis itu lirih, suaranya terdengar sangat lemah.
Mendengar itu, Langit tersenyum hangat dan mengangguk paham. Ia tidak memaksanya berjalan.
Dengan sigap, Langit mengangkat tangannya memberi isyarat kepada sang pilot agar menurunkan badan helikopter hingga menyentuh tanah.
Begitu pesawat mendarat dengan stabil, tanpa membuang waktu Langit langsung menyelonongkan satu tangannya di bawah lutut kekasihnya dan tangan lainnya memeluk punggungnya. Dengan mudah ia menggendong tubuh mungil dan lemah itu ke dalam pelukannya.
Langkahnya pasti menuju pintu kabin, ia memasukkan gadis itu dengan hati-hati ke dalam helikopter.
Akhirnya, semua bahaya telah berlalu. Mereka semua selamat, dan kini perjalanan pulang menuju keselamatan pun dimulai.
Sebelumnya...
"Gawat, Bos! Ada helikopter tak dikenal yang melaju kencang menuju titik koordinat yang sama dengan kita!" lapor sang pilot dengan nada panik.
Wajah Anin tampak serius, matanya menatap tajam ke arah layar monitor.
"Jangan biarkan mereka mendekat! Gagalkan rencananya sekarang juga! Lindungi mereka berdua dengan segala cara!" perintah Anin tegas tanpa ragu sedikitpun.
Ya, dialah Anin. Dialah pahlawan di balik layar yang datang menolong Langit dan Gadis di saat kritis. Ia sudah berjanji dalam hatinya. selagi sehat dan bisa berdiri, ia akan melindungi Putri nya meski harus melawan ayahnya sendiri.
****
Di dalam kamar pribadi Langit yang didominasi perpaduan warna mewah antara emas keemasan dan abu-abu, suasana terasa begitu hening dan tenang.
Gadis masih terbaring lemah di atas ranjang besar. Kedua tangannya terpasang selang infus yang menancap rapi, cairan penolong terus mengalir menyuplai nutrisi ke dalam tubuhnya yang sedang lemah.
Menurut hasil pemeriksaan dokter, kondisi kekasihnya cukup mengkhawatirkan. Ia mengalami dehidrasi parah dan kelelahan ekstrem, ditambah dengan tekanan mental yang luar biasa akibat kejadian mengerikan yang menimpanya selama seminggu terakhir.
Dokter menegaskan, begitu Gadis sadar nanti, ia harus menjalani bedrest total beristirahat total tanpa melakukan aktivitas berat sama sekali agar tubuh dan mentalnya bisa pulih sepenuhnya.
Langit duduk tegak di sisi ranjang, matanya tak pernah lepas memandang wajah pucat sang kekasih. Ia menunggu dengan setia, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.
Pria itu bahkan memerintahkan Charlie untuk memindahkan seluruh tumpukan pekerjaan dan berkas kantor langsung ke rumah.
Ia tidak ingin melewatkan sedetik pun. Ia ingin selalu ada di sana, siap sedia setiap saat.
Ia ingin menjadi orang pertama yang terlihat oleh mata indah Gadis saat gadis itu membuka kelopak matanya dan sadar nanti.