PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Jeritan Mawar Kecil di Tengah Badai
Udara di halaman Panti Asuhan Gema Harapan seolah membeku, terperangkap dalam ketegangan yang sanggup meremukkan tulang. Di satu sisi, berdiri enam pilar kekuatan kekaisaran—Xander, Julian, Pangeran Riski, Yanuar, Liandra, dan Arga—yang memancarkan aura kehancuran. Di sisi lain, Baron Malvin Sandro yang gemetar hebat, terjepit di antara harga diri yang sekarat dan maut yang menganga. Namun, di tengah-tengah bentrokan energi raksasa itu, sebuah gerakan kecil memecah segalanya.
Lily, gadis kecil dengan tubuh yang nyaris tak memiliki daging, melangkah maju.
Langkah kakinya yang telanjang menghantam tanah berdebu dengan getaran yang tak terduga. Ia melewati Ibu Sarah yang mencoba menggapai ujung bajunya, melewati garis perlindungan yang tak terlihat, hingga ia berdiri tepat di antara moncong senjata para ksatria dan keangkuhan sang Baron.
"BERHENTI!"
Suara itu kecil, serak karena terlalu banyak menghirup debu dan udara dingin, namun getarannya sanggup membungkam desis pedang yang hendak ditarik dari sarungnya. Lily berdiri tegak, meski kakinya gemetar hebat hingga lututnya saling beradu. Matanya yang besar, yang biasanya sayu penuh kesedihan, kini menyala dengan api yang murni—api dari seseorang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan.
"Berhenti... aku mohon, berhentilah!" teriak Lily lagi, kali ini dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya yang kusam. Ia menunjuk ke arah bangunan panti yang reyot di belakangnya. "Kenapa kalian begitu ingin menghancurkan rumah kami? Apa salah kami kepada kalian? Kami hanya ingin tidur tanpa kehujanan, kami hanya ingin makan meski hanya kerak roti... kenapa tempat sekecil ini pun ingin kalian ambil?"
Baron Malvin mendesis, mencoba menutupi ketakutannya dengan kemarahan pada seorang anak kecil. "Menjauh kau, bocah sialan! Tanah ini milik kekaisaran, dan aku pemegang izinnya! Tempat sampah ini hanya merusak pemandangan resor mewahku!"
Lily menggeleng kuat-kuat. Ia menggenggam medali perak di dadanya—pemberian Martha—dengan sangat erat hingga kukunya memutih.
"Tempat sampah? Bagi Anda ini tempat sampah, tapi bagi kami, ini adalah satu-satunya tempat di mana kami dipanggil dengan nama kami, bukan dengan sebutan 'pengemis'!" Lily terisak, dadanya naik turun dengan sesak. "Di sini... Kak Martha dulu memelukku setiap malam saat Ibu dan Ayah pergi. Di pilar kayu itu, ada guratan tinggi badan kami setiap tahunnya. Di bawah pohon sakura itu, Kakak berjanji akan menjemput ku dengan senyuman, bukan dengan abu dari rumah yang terbakar!"
Flashback: Fragmen Kasih Sayang di Balik Lumpur
Dalam ingatan Lily yang paling dalam, panti asuhan ini bukan sekadar bangunan batu dan kayu lapuk. Ia ingat sepuluh tahun lalu, saat hujan badai melanda Desa Grier, Martha yang masih remaja memeluknya di pojok ruangan yang bocor. Martha memberikan satu-satunya mantel goni yang ia punya untuk membungkus tubuh Lily yang menggigil kena demam.
"Lily, jangan takut pada petir," bisik Martha saat itu, meskipun bibirnya sendiri biru karena kedinginan. "Suara petir itu cuma tanda kalau langit lagi rindu sama bumi. Sama seperti Kakak, suatu saat kalau Kakak harus pergi kerja jauh ke kediaman Duke, Kakak akan selalu rindu padamu. Panti ini akan menjagamu sampai Kakak punya cukup uang untuk membelikan mu kasur yang empuk."
Martha rela bekerja membersihkan kotoran kuda ksatria tetangga hanya agar bisa membelikan Lily sepotong roti manis di hari ulang tahunnya. Panti Gema Harapan adalah saksi bisu di mana setiap koin yang Martha kumpulkan diletakkan di tangan Ibu Sarah dengan satu pesan: "Tolong, jangan biarkan Lily lupa caranya tersenyum." Bagian dinding di dekat dapur panti masih menyimpan bekas jelaga dari api kecil yang mereka buat bersama untuk menghangatkan tangan. Tempat ini adalah wadah dari setiap tetes keringat pengabdian seorang kakak yang kini sedang bersujud di ibu kota demi keselamatan adiknya.
"Jika tempat ini rata dengan tanah," suara Lily kembali terdengar, kini lebih tenang namun penuh kepedihan yang menyayat hati, "maka Kakakku tidak akan punya jalan pulang. Dia akan mencari adiknya di tengah reruntuhan, dan dia akan mengira aku sudah mati. Jika Anda ingin membakar rumah ini, bakarlah aku bersamanya! Karena aku tidak mau hidup di dunia yang tidak punya tempat untuk kepulangan Kakakku!"
Ibu Sarah jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu mendengar perkataan Lily. Para warga desa yang selama ini hanya menonton dari kejauhan karena takut pada Baron Malvin, perlahan-lahan keluar dari rumah mereka. Para ibu rumah tangga, petani yang tangannya kasar, hingga orang tua renta, mereka semua berdiri di belakang Lily. Keberanian murni seorang anak kecil telah meruntuhkan tembok ketakutan mereka.
"Benar kata Lily!" teriak seorang warga. "Baron Malvin, kami sudah diam saat Anda menaikkan pajak, tapi kami tidak akan diam saat Anda menyentuh panti asuhan ini! Ini adalah jantung desa kami!"
Suasana yang tadinya penuh dengan aura haus darah militer, kini berubah menjadi drama kemanusiaan yang sangat menyentuh. Hati siapa pun yang memiliki perasaan pasti akan bergetar melihat sosok mungil Lily berdiri sebagai perisai bagi puluhan anak yatim di belakangnya.
Xander, yang tadinya berdiri tegak sebagai mesin pembunuh yang dingin, merasakan sesuatu yang asing berdenyut di dadanya. Genggamannya pada gagang pedang perlahan mengendur. Ia menatap Lily—gadis yang sangat mirip dengan Martha, pelayan yang selama ini ia abaikan. Ia melihat kerapuhan yang sama dengan Rosalind, namun dengan kekuatan batin yang sanggup menggetarkan pilar kekaisaran.
Tiba-tiba, wajah Xander yang kaku mulai melunak. Matanya yang tajam kini memancarkan sinar kemanusiaan yang jarang terlihat. Ia melihat bayangan Rosalind dalam diri Lily—bayangan seseorang yang selama ini ia biarkan menderita dalam kesepian.
Xander menoleh ke arah Julian. Mereka saling berpandangan dalam keheningan yang dalam. Melalui kontak mata itu, mereka seolah berbagi satu kesadaran yang sama yang baru saja meledak di dalam batin mereka.
[Batin Xander:]
"Bener kata adiknya... Rosalind tidak berbohong sedikit pun. Suara batin yang dia kirimkan padaku bukan sekadar informasi intelijen, tapi sebuah jeritan keadilan. Lihat anak ini... dia siap mati demi sebuah janji kepulangan. Bagaimana bisa aku begitu buta selama ini? Aku menyebut diriku pelindung kekaisaran, tapi aku membiarkan penderitaan sejelas ini terjadi di bawah wilayah kekuasaanku sendiri. Rosalind... kau benar-benar telah membuka mataku yang tertutup debu kesombongan."
[Batin Julian:]
"Aku selalu mengira Rosalind itu cuma gadis bar-bar yang hobi ghibah lewat frekuensi batin. Tapi sekarang aku sadar, setiap hujatan yang dia lempar ke kepala kita adalah kebenaran yang jujur. Dia ingin kita menyelamatkan keindahan yang tersisa dari dunia yang kotor ini. Lily ini... dia adalah alasan kenapa klan Wiraatmadja harus tetap berdiri. Bukan untuk kekuasaan, tapi untuk melindungi mawar yang enggan gugur ini. Rosalind, kau benar-benar jenius yang menyebalkan, tapi aku berhutang budi padamu."
Pangeran Riski Pratama melangkah maju, namun kali ini bukan untuk menghunuskan pedang. Ia meletakkan tangannya di bahu Xander, memberikan dukungan moral yang kuat. "Xander, biarkan hukum kekaisaran yang bekerja, tapi biarkan pedangmu yang memberikan keadilan bagi air mata anak ini."
Xander mengangguk. Ia melangkah maju perlahan, mendekati Lily. Ia melepaskan mantel hitamnya yang mewah, lalu menyampaikannya ke bahu Lily yang gemetar karena kedinginan. Mantel itu terlalu besar untuk tubuh kecil Lily, menenggelamkannya dalam kehangatan bulu domba dan aroma cendana yang maskulin.
"Jangan takut lagi, Lily," ucap Xander, suaranya kini tidak lagi datar, melainkan berat oleh janji yang tulus. "Aku adalah Xander Wiraatmadja. Aku datang atas perintah adikku, Rosalind, dan atas nama perlindungan Kakakmu, Martha. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu batu pun dari rumah ini yang akan jatuh. Dan pohon sakura ini... aku sendiri yang akan memastikan dia mekar dengan indah saat Kakakmu sampai di sini."
Xander kemudian berdiri tegak, berbalik ke arah Baron Malvin dengan tatapan yang kini bukan lagi dingin, melainkan penuh dengan penghinaan yang mematikan.
"Baron Malvin Sandro," suara Xander menggelegar, namun terkontrol. "Kau telah mendengar jeritan anak ini. Kau telah melihat air mata rakyatmu. Atas nama kekuasaan Duke Wiraatmadja dan dekrit Pangeran Mahkota yang ada di sini... kau secara resmi dicabut dari gelar bangsawanmu dan seluruh asetmu disita untuk biaya perbaikan panti asuhan ini dan kesejahteraan Desa Grier!"
****Baron Malvin pucat pasi, lidahnya kelu. "T-tapi... prosedur hukum—"
"HUKUM ADALAH APA YANG AKU KATAKAN SAAT INI!" bentak Xander, auranya meledak hingga membuat kuda-kuda tentara bayaran Baron meringkik ketakutan. "Ksatria! Tangkap dia! Seret dia ke penjara Desa Grier, biarkan dia tidur di atas lantai tanah yang dingin seperti yang dia rencanakan untuk anak-anak ini!"
Para warga desa bersorak sorai. Anak-anak panti berhamburan keluar, memeluk Lily dan Ibu Sarah. Suasana haru biru menyelimuti halaman yang tadinya mencekam. Lily memegangi mantel besar Xander, menghirup aroma keamanan yang selama ini ia rindukan.
Yanuar Mahesa mendekat, menghapus air mata di sudut matanya yang biasanya jenaka. "Sialan... mataku kemasukan debu Utara. Anak itu hebat banget."
Liandra Dirgantara mengangguk, ia sudah mulai mencatat inventaris barang-barang milik Baron yang bisa segera dialihkan untuk kebutuhan panti. Arga Wicaksana menghela napas lega, meskipun ia masih lemas, ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari momen ini.
Di ujung cakrawala, matahari akhirnya tenggelam, namun cahaya harapan di Panti Asuhan Gema Harapan justru bersinar paling terang. Xander menatap pohon sakura yang meranggas itu sekali lagi. Di dalam batinnya, ia berbisik kepada adiknya yang berada jauh di kediaman Duke.
"Rosalind... misi selesai. Mawar kecilmu aman. Dan kau benar, adikku... dunia ini memang lebih indah saat kita berhenti bersikap dingin dan mulai mendengarkan jeritan hati yang terabaikan."